Bena

Bena
BAB 7D


__ADS_3

"Gue udah bilang nggak mau ya nggak mau! Jangan dipaksa! Bilangin ke Mama Kakak untuk nggak repot-repot urusin gue. Urusin aja diri Mama Kakak sendiri! Nggak usah lapor ke gue kalau Mama Kakak itu sakit atau sehat! Gue udah muak, Kak! Olimpiade ini juga bakal jadi olimpiade terakhir gue di STANDAR. Kakak inget, ya! Kalau dari awal gue tahu kalau partner olimpiade gue ini Kakak, gue nggak bakalan mau! Jangan harap semua kebersamaan kita selama ini itu murni tulus. Karena kenyataannya murni nggak. Dan Kakak jangan berusaha nemuin gue dan maksa gue lagi untuk pulang! Jangan juga telepon gue lagi kalau nggak mau ponsel yang Kakak kasih ini gue banting!" teriak Zelo di ruangan olimpiade.


Aku yang semula hanya berdiri di depan ruang itu langsung melangkah masuk ke dalam. Ku temui Zelo yang sedang menangis di pojok ruangan sambil memegang ponselnya. Ku kira tadi dia sedang bersama orang lain. Ternyata tadi hanya sebuah teleponan saja. Tapi, kira-kira dia sedang teleponan dengan siapa sampai marah-marah seperti tadi.


"Zel, kenapa?" tanyaku sambil merentangkan tanganku untuk memeluknya. Namun Zelo malah menepis lengan tanganku.


"Nggak usah sok baik ke gue! Gue nggak butuh lo! Keluar sana! Jangan ganggu gue!"


"Lo kenapa, sih? Lo ada masalah? Cerita sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu, Zel."


Zelo mengusap air matanya lantas tertawa kepadaku. Tangannya mendorong bahuku dengan keras hingga tubuhku terbentur dengan meja. "Bantu apa? Doa? Munafik lo! Nggak usah akting lagi di depan gue! Gue udah muak sama tingkah lo! Mulai hari ini, persahabatan kita putus! Nggak usah nyari-nyari gue lagi! Minggir!" Zelo kembali mendorongku.


Aku langsung bangun dan memeluknya dari belakang. "Lo kenapa sebenarnya? Jangan putusin tali persahabatan kita begitu aja. kita temenan udah lama lho. Bukan baru setahun dua tahun. Tapi udah limabelas tahun, Zel. Tolong jangan begini, dong. Gue salah apa sama lo? Bilang ke gue, Zel. Tapi tolong jangan tinggalin gue. Gue mohon." Air mataku tanpa sengaja ikut mengalir.


"Lo nggak tahu salah lo apa? Hah! Udah munafik, nggak tahu salah lagi. Nyebelin ya lo emang!" Zelo melepas pelukanku.


"Katanya sahabat, ke mana aja lo selama ini waktu gue lagi banyak masalah? Hah?! Jawab! Oh, iya. Nggak bisa jawab, ya? Iyalah. Lo kan lagi pedekate sama cowok-cowok lo itu. Punya sahabat baru lagi. Ah, memang ya, buah itu jatuh nggak jauh dari pohonnya. Lo dan nyokap lo sama-sama busuk!"


"Zelo! Lo nggak apa-apa ngatain gue yang nggak-nggak! Tapi jangan bawa-bawa nyokap gue!"


"Apa? Nyokap lo emang *******, kan?"


Tanganku langsung refleks menampar pipi kiri Zelo. Ucapannya sungguh keterlaluan sekali. Aku tidak bisa menoleransinya lagi.


"Lo udah kelewat batas," kataku masih tersedu-sedu.


"Kenapa? Lo mau jadi ******* juga? Oh, iya. Udah otewe, sih."


"Cukup! Kita selesai sampai di sini," seketika aku langsung pergi meninggalkan Zelo. Kata-katanya sungguh jahat. Mengapa dia mengatakan itu?


____


UKS.


Hanya ini satu-satunya tempat yang selalu ku tuju saat aku sedang kesal dengan seseorang. Memang tempat mana lagi yang bisa ku tuju. Hanya ini satu-satunya tempat yang jarang sekali dimasuki orang. Aku langsung masuk ke korden dua. Ku pikir di sekelilingku sepi, jadi aku menangis sepuas hati. Pikiranku masih tergiang akan perkataan Zelo yang mengatakan bahwa aku dan Mamaku seorang *******. Sangat di luar dugaan. Padahal dari dulu Mama selalu memberi perhatian yang lebih kepadanya, tapi ini yang dia balas. Aku tak bisa membayangkan lagi jika Mama tahu apa yang telah Zelo katakana padaku barusan.


Dari dulu Mama selalu menyuruhku mengalah dengan Zelo. Mama melarangku untuk menyakiti hati Zelo. Baik lewat perkataan maupun ucapan. Keduanya sama sekali tak diperbolehkan Mama. Bahkan Papa juga ikut mendukungnya. Aku selalu menuruti apa yang Mama suruh. Meskipun terkadang aku merasa lelah jika aku harus mengalah terus menerus darinya. Tapi, aku selalu ingat kata-kata Mama. Karena itu sampai sekarang aku masih bertahan di zona ini. Zona yang isinya hanya membahagiakan Zelo.


Lagipula, aku juga ingin menjadi sahabat yang baik untuknya.


Tapi di saat aku ingin memperkuat hubungan persahabatanku dengannya, dia malah mengatakanku dan Mamaku yang tidak-tidak.


Pedas memang.


"Berisik! Kalau mau nangis itu jangan di UKS. Lo nggak tahu fungsinya ruang UKS, ya?"

__ADS_1


Eh, aku langsung berhenti menangis seketika. Aku pun menoleh ke sampingku. Ternyata ada Kak Syden. Pantas saja aku seperti pernah mendengar suara ini.


"Apa? Lo bodoh banget, sih! Nangis itu percuma, nggak ada gunanya. Dengan nangis beban lo nggak bakal berkurang. Daripada lo mikirin beban lo lewat tangisan, mending lo tidur aja. Siapa tahu Tuhan ngasih jalan lewat mimpi." Kata Kak Syden dengan tangannya yang masih memegang korden pembatas. "Lagian juga udah terlanjur ke UKS. Tidur aja dulu," lanjutnya sambil menutup korden kembali.


Ucapannya barusan langsung membuatku berhenti menangis. Aku membuka korden itu.


"Nggak sopan! Kalau mau buka korden minta izin dulu, pinter!" sarkasnya dengan tajam. Oh, iya. Aku juga lupa. Kak Syden kan selalu mendatangkan masalah. Seharusnya aku tak dengan semudah itu untuk membuka kordennya. Dasar Nadisha! Ceroboh.


Aku menyengir. "Eh, maaf-maaf, Kak. Nggak sengaja," jawabku.


"Nggak sengaja, nggak sengaja. Lain kali itu otak dipakai buat mikir. Jangan cuma ke pakai buat bendung masalah."


Sekali lagi aku hanya meringis.


Namun, Kak Syden malah menarik kordennya lagi. Aku pun menghentikannya. "Tunggu sebentar, Kak! Aku mau nanya," larangku.


Kak Syden terdiam. Ia lantas memandangiku dengan mengangkat satu alisnya. Pasti di otak Kak Syden sudah banyak sekali hal-hal yang akan dia hubungankan denganku. Dan semuanya akan berujung kepadaku. Apapun yang mengandung kesalahan akan selalu terhubung denganku.


"Nanya apa?"


"Eng---nggak, itu..., Kakak ngapain di sini? Sakit?"


"Memang lo pikir UKS cuma buat orang sakit doang?"


"Ya, enggak. Aku kan hanya bertanya."


Lagi, lagi, jawaban seperti itu yang dikeluarkan.


Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata lagi, tiba-tiba pintu UKS ada yang mendorongnya dengan keras. Korden depanku seketika langsung terbuka dan Friska berlari kencang memelukku.


"Nadishaaa, lo kenapa? Tadi gue nyariin lo tahu. Kata Zelo lo lagi di UKS. Makanya gue datang ke sini. Gue khawatir banget sama lo. Kenapa nggak nemuin gue dulu tadi? Pasti lo habis nemuin Zelo, ya? Makanya dia tahu kalau lo ada di sini. Zelo ngapain lo sampai lo masuk UKS, Nad?" Friska langsung melepaskan pelukannya setelah aku lama terdiam. Aku bingung harus menjawab pertanyaan yang mana dahulu. Setelah melepaskan pelukannya, tangan Friska memegang bahuku. Lantas ia memiringkan kepalanya. "Lo habis nangis, ya? Ayo jujur sama gue! Lo kenapa?!" paksanya sambil menggoyangkan tubuhku.


Ku lirik ke samping, ternyata kordennya sudah ditutup Kak Syden.


Ah, kesempatan untuk bertanya lebih banyak sudah hilang.


Friska menarik wajahku untuk menghadapnya dengan paksa. "Iiihh! Kalau ditanya itu jawab, Nad! Jangan malah melengos," cecarnya masih kesal.


Aku hanya tersenyum singkat.


Aku bingung harus bagaimana mengatakannya kepada Friska. Meskipun dia adalah orang baru, tapi dia selalu ada untukku.


Jika aku tidak menceritakannya sekarang, aku takut jika nanti dia mengetahuinya bukan dari mulutku sendiri melainkan mulut orang lain yang biasanya aka nada tambahan bumbunya.


"Tadi lo ketemu Zelo di mana?" tanyaku.

__ADS_1


Friska tampak seperti berpikir.


"Di koridor kelas duabelas. Memang kenapa?"


"Nggak apa-apa. Dia ngomong apa aja sama lo?"


"Nadisha banyak tanya, ya! Dia nggak ngomong apa-apa, kok. Baru juga gue samperin, mukanya udah ditekuk aja. Pas gue nanya lo ada di mana, dia langsung bilang kalau lo di UKS. Habis itu dia langsung pergi gitu aja. Biasanya kan dia hobi banget nyinyirin gue. Tumben banget tadi nggak. Ini itu sebenarnya ada apa, sih? Kok gue nggak tahu apa-apa. Cerita dong sama gue," pintanya sambil memanyunkan bibirnya ke depan.


Aku menghela napasku panjang.


Aku..., sebenarnya malu untuk menceritakan ini.


Tapi di sisi lain, aku butuh saran.


Tadinya aku ingin meminta saran kepada Kak Syden tapi malah keburu Friska datang. Dan Kak Syden juga sudah menutup lagi kordennya. Entahlah, tadi yang ada di otakku hanyalah sebuah saran. Ku kira dari ucapan Kak Syden yang serba ceplas-ceplos malah membuatku semakin ingin mendapat saran darinya. Meskipun ucapannya kadang menyakitkan, tetapi memang benar bila itu adanya.


Oke, lupakan soal Kak Syden.


Yang ada sekarang hanya Friska.


Fokuslah dengan Friska.


"Gue juga nggak tahu Zelo itu kenapa. Tadinya gue emang nyari dia. Gue mau nanya soal hasil olimpiade-nya. Lo kan tahu, gue udah lama nggak ketemu Zelo. Makanya gue tadi nyamperin dia di ruang olimpiade. Pas gue nyamperin ke dalam, dia malah marah-marah sama gue. Dia bilang kalau persahabatan kami cuma sampai di sini aja. Dia juga bilang kalau gue ini sok baik sama dia. Padahal gue sama sekali nggak punya maksud apa-apa kok. Gue sahabatan sama dia tulus. Lagipula gue sama Zelo sahabatan juga udah belasan tahun. Nggak mungkin kan kalau semuanya berakhir semudah ini?" tanyaku sambil menjeda ceritaku. Sementara Friska hanya mengangguk saja untuk meresponku.


Aku kembali mengembuskan napasku. Semua ini terlalu panjang. "Gue udah ngalah tadinya. Gue juga sampai mohon-mohon sama dia untuk nggak memutuskan semua ini. Tapi dia malah ngatain Mama gue *******. Di situ titik rendah gue udah nggak bisa ngerendah. Gue bangkit. Nggak tahunya gue refleks nampar dia waktu dia bilang begitu. Bukannya memperbaiki emosi gue, dia malah ikut ngatain kalau gue ini juga sama kayak Mama gue. Ya, gimana, ya? Namanya juga manusia. Pasti punya titik di mana kita nggak bisa lagi mengontrol amarah. Dan gue langsung keluar dari ruang olimpiade. Gue ngeiain aja waktu dia bilang semuanya selesai sampai di sini. Dan sekarang gue bingung gue harus gimana."


"Kok bisa-bisanya dia ngomong begitu, sih? Makan apa sih dia sebelumnya? Heran. Kok ada ya manusia kayak dia." Friska ikut memanas. Raut wajahnya sudah menggembarkan bagaimana kesalnya dia sekarang. Aku juga tak tahu harus berbuat apa sekarang. "Tapi ya, Nad. Nggak mungkin dia marah-marah tanpa ada alasan, kan? Asap aja muncul kalau ada api. Pasti ada sesuatu yang nggak beres nih," tambahnya.


Aku mengedikkan kedua bahuku.


"Menurut lo, gue harus gimana?" tanyaku.


Friska malah mengernyit, kedua tangannya menengadah kepadaku. "Gimana apanya? Ya, kita tinggal cari tahu aja sesuatunya itu. Meskipun gue suka kesal sama Zelo, tapi ngelihat kalian berantem itu bikin gue tambah kesal tahu nggak."


"Bukan itu, Fris, maksudnya," sergahku.


"Ya, terus apa dong?"


"Gimana langkah gue ke depannya. Minta maaf apa gimana? Gue bingung. Masalahnya itu begini lho. Mama itu sayang banget sama Zelo. Dari kecil Mama selalu ngajarin gue untuk ngalah sama Zelo. Mama nyuruh gue kayak gitu karena dia nggak pengen Zelo sedih. Kalau sekarang gue berantem sama Zelo, nggak lama lagi Mama bakal tahu. Kalau Mama tahu, gue harus ngomong apa? Masa iya ngomong yang sebenarnya ke Mama. Ya, Tuhan, Fris. Perkataan Zelo terlalu kasar untuk Mama ketahui," ceritaku panjang lebar. Aku sungguh pusing sekarang. Aku benar-benar butuh saran.


Friska mengelus punggung tanganku sambil tersenyum. "Untuk sekarang lo nggak bisa minta maaf sama dia. Keadaannya lagi nggak stabil. Zelo butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. Lebih baik lo juga sama begitunya kayak dia. Mending lo tenangin diri lo. Sementara gue bakal cari tahu sesuatu yang Zelo nggak ceritakan ke lo. Oke?"


"Nggak bisa, Fris. Gue ikut lo aja, deh. Masa gue yang punya masalah malah enak-enak di sini. Gue bantu lo aja, ya?" tanyaku meminta persetujuan kepada Friska.


Namun, Friska masih teguh pada pendiriannya. Dia tersenyum kecil sambil menggeleng pelan. "Sekali aja, nurut sama gue."

__ADS_1


"Tapi, Fris. Lo itu---"


"Iya, gue sahabat lo. Makanya, gue mau bantu lo. Tolong jangan halangin gue buat jadi sahabat yang baik, Nadisha." Kata Friska yang seketika membuatku terdiam. Aku membeku karena perkataannya.


__ADS_2