
"Yakin nggak mau pulang bareng gue, Nad?"
Friska masih setia untuk membujukku agar mau pulang bersamanya. Tapi aku dalam keadaan benar-benar tidak bisa sekarang. Aku harus menemui Kak Vante sekarang. Aku juga tidak bisa menundanya. Bila aku menundanya, aku rasa aku akan kehilangan sebuah fakta terbaru lagi. Entah mengapa. Akhir-akhir ini aku memang sering merasa begitu.
"Kapan-kapan aja, deh, ya. Gue ada acara sekarang," tolakku sambil tersenyum. Tentu saja senyumanku ini mengandung pemaksaan di dalamnya. "Acara apa, sih? Nadishaa. Ini tuh kesempatan yang bagus tahu. Kakak gue bakal pulang malam dan orangtua gue lagi keluar kota. Kita bisa seneng-seneng nanti," ujarnya sambil memohon.
Ya, astagaaa.
Tidak enak hati bila aku menolaknya. Tapi aku juga tidak bisa menerima ajakannya.
"Nyusul nggak apa, kan?" tanyaku.
"Ih masa nyusul, sih?"
"Daripada nggak sama sekali."
"Ah, ya udah, deh. Tapi beneran nyusul, ya? Awas bohong!" peringatnya dengan tajam. "Gue pulang duluan kalau gitu. Awas kalau sampai nggak dateng," tuturnya mengingatkan.
Aku hanya mengangguk saja.
Friska langsung pergi setelah aku mengangguk. Namun aku tidak langsung ikut pergi juga. Aku menunggu sampai sekolah sedikit lebih sepi daripada sekarang. Aku hanya mengatur suasana saja agar aku tidak begitu malu dengan apa yang akan Kak Vante lakukan. Bila sikapnya saja dalam mengirim pesan kepadaku sudah agak aneh, pasti nanti dia juga akan berkelakuan aneh pula. Setidaknya aku harus waspada sekarang.
"Yakin nggak mau mutusin Vante?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang menghalangi jalanku. Dia lagi. Bila aku tak mencarinya saja dia selalu datang menemuiku. Giliran dicari saja tak pernah ketemu. Memang dasar. Maunya apa, sih? Setiap ditanya juga jawabannya selalu rumit. Tak langsung to-the-point. Dan ujungnya aku sendiri yang mencari arti dari setiap ucapannya untuk pertanyaanku. Terkadang aku juga jengkel untuk bertemu dengannya. Kadang pula, aku sangat antusias untuk bertemu dengannya.
Aku tak meresponnya. Tanganku menepis tubuh Kak Lesham yang semula menghalangi jalanku. Aku melangkah begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya. Lagipula aku juga tidak paham. Kukira percuma bila aku menjawabnya. Akhir-akhirnya juga aku pula yang bingung. Bukan Kak Lesham. Jika aku puas dengan jawaban Kak Lesham yang langsung pada intinya tanpa perlu memiliki arti, aku tidak akan mengabaikannya seperti ini.
Kak Lesham menarik lengan tanganku hingga membuatku berhenti berjalan. Terpaksa aku harus membalikkan badanku.
Aku menatapnya dengan malas. "Apa sih, Kak?"
"Kalau lo marah, nggak jadi deh."
Tuh, kan! Aku bilang juga apa. Selalu saja membuatku bingung dengan ucapannya. Lama-lama aku harus menguras energiku saja untuk menghadapinya. Kak Lesham memang menyebalkan akhir-akhir ini. Untung ganteng. Kalau tidak sudah aku usir jauh-jauh.
"Siapa yang marah?" Aku balik bertanya.
"Kalau nggak marah kenapa nyuekin gue?" Kak Lesham menyeriangiku. Aku semakin jengkel melihatnya seperti itu. "Lagi puasa," jawabku asal.
"Oh," responnya sangat singkat.
"Maksud Kakak ngasih kertas tadi apa? Dan kenapa gue harus mutusin Kak Vante? Kakak cemburu? Kakak suka sama gue?" Aduh! Ini mulut memang tidak bisa direm. Sangat memalukan sekali. Ku harap Kak Lesham melupakan ucapanku barusan. Aku sungguh malu untuk menatap matanya sekarang. Dengan segera aku mengalihkan pandanganku ketika aku melihat Kak Lesham tersenyum. Aku tidak bisa melihatnya seperti itu. Terlalu manis.
__ADS_1
Kak Lesham menarik wajahku agar menatap matanya. Dia masih tersenyum sampai sekarang. Jika aku terserang penyakit diabetes apa dia mau tanggung jawab?
Dia sangat manis.
Aih, kenapa aku terus memujinya?
Bodoh.
"Kertas tadi, ya? Nggak ada maksud apa-apa, sih. Tapi sebagian pertanyaan lo tadi jawabannya iya." Katanya santai dan tenang. "Tadi pagi lo bilang kalau lo percaya sama gue, kan?" Akupun mengangguk.
Kak Lesham mengacak-acak puncak rambutku. Entah kenapa aku senang diperlakukan seperti itu. Rasanya enggan untuk marah. "Ada baiknya lo mutusin Vante sekarang. Itupun kalau lo masih percaya sama gue, Nadisha."
Aku mengernyit mendengarnya.
"Udah sore. Gue pulang dulu kalau gitu."
"Eh, jangan pulang dulu, Kak!" sergahku dengan menahan tasnya. "Jelasin dulu maksud omongan Kakak," lanjutku, memaksa.
Kak Lesham hanya menyunggingkan senyumannya. Ia memperlihatkanku gelang jamnya. Terlihat jarumnya menunjukkan pukul setengah lima sore. Sudah cukup sore. Pasti Kak Vante sudah menungguku di gerbang. Tentunya keadaan sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa anak yang masih di STANDAR untuk melaksanakan kegiatan ekstrakulikulernya.
"Kalau masih siang, gue pasti mau jelasin." Cowok ini tetap tersenyum. Rasanya tanpa senyuman itu bukanlah dia. Aku melepaskan tas Kak Lesham yang semula ku pegang. Dengan begitu, Kak Lesham dengan seenaknya melangkah menjauh dariku. Aku juga tak menahannya lagi. Kubiarkan dia pergi.
Tanpa berlama-lama, akupun bergegas menyusul Kak Vante yang sudah berada di gerbang. Mungkin.
"Oh, udah dateng." Kata Kak Vante begitu aku sampai di hadapannya. Dia terlihat sedikit berbeda.
Aku celingukan mencari apapun itu yang sekiranya ada di sekitar kami. Tapi aku tak menemukan apapun. "Motor Kakak ke mana? Kok nggak ada," tanyaku langsung.
"Ada, di parkiran."
Lalu kenapa tidak dibawa?
Tidakkah dia mengantarkan aku pulang?
Biasanya kan begitu.
"Kenapa ditinggal?"
"Motor gue nggak penting. Sekarang, apa ada yang mau lo omongin ke gue?" Kak Vante balik bertanya dengan lagak yang semakin membuatku mengernyit keheranan.
"Ngomong apa?"
__ADS_1
"Kalau nggak ada, biar gue yang ngomong."
"Ya, udah. Tinggal ngomong juga."
"Kita putus sekarang," katanya halus. Aku membulatkan mataku lebar-lebar. Ini serius? Kak Vante minta putus denganku? Kenapa tiba-tiba? Apa karena pembahasan di ruang Stig Cooking kemarin? Dan apa ini arti dari kertas yang Kak Lesham berikan?
Aku mengembangkan senyumku. Menahan semua emosiku dibalik senyuman ini. Aku tidak ingin Kak Vante merasa bila aku sedih mendengar perkatannya barusan. Nanti dia akan senang melihatnya. Atau malah sebaliknya. Dia akan khawatir denganku. Aku harus terlihat biasa saja seolah tidak ada apa-apa. Kamu bisa Nadisha. Aku bisa. Kak Vante masih terus menatapku. Daripada aku berlama-lama dengannya, akhirnya akupun mengalah untuk membalas tatapannya itu.
Kulihat di matanya, Kak Vante tidak mengatakan sesuatu ini sesuai dengan hatinya.
"Udah? Cuma itu aja, kan?"
Kak Vante menggeleng.
"Terus?"
"Don't forget me and i'm sorry. But, I hope we can meet again in future," ujarnya datar. Aku merasa bila Kak Vante benar-benar berbeda sekarang. Dia tak biasanya tanpa berekspresi seperti ini.
Bila aku jujur, perkataannya cukup menyentuh hatiku.
Tapi aku tak boleh terbawa perasaan.
Tidak!
"Apaan, sih? Lebay deh pakai Bahasa Inggris segala," celutukku berusaha bergurau. Tapi Kak Vante sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Masih tetap sama.
Ada apa dengannya?
"Nad," panggilnya.
"Apa?"
"Maaf."
"Hah?" Aku mengangkat satu alisku karena heran. Kak Vante ini memang tidak sehat sekarang. Tapi ya sudah. Aku tidak akan memasukkannya ke dalam hati. Semuanya hanya bercanda.
Kak Vante masih menatap mataku. "Gue nggak bisa anter lo pulang. Sama Lesham nggak apa-apa, kan?"
"Nggak usah. Gue bisa pulang sendiri."
"Untuk yang terakhir jangan nolak."
__ADS_1
Apa maksudnya yang terakhir?