Bena

Bena
BAB 20B


__ADS_3

"Kok malah kesini sih, Kak? Katanya mau ke Mall. Ini rumah siapa?" tanyaku beruntun ketika Kak Vante membawaku ke sebuah rumah yang letaknya berada di kompleks Anyar. Aku dulu pernah datang kesini. Tidak begitu sering karena aku hanya datang untuk mengunjungi Kak Savalas yang tinggal bersama Tante Ovia saat aku SMP. Itupun terhitung sudah lama sekali. Sekarang pun Tante Ovia sudah pindah keluar kota bersama suaminya. Katanya hanya pindah sementara waktu sampai suaminya kembali kesini.


Aku semakin kesal dan bingung. Kak Vante ini masih memdiamkan aku. Sejak berada di mobil tadi---ah, iya, tumben sekali kan hari ini dia menjemputku menggunakan mobil, biasanya juga dengan motor kesayangannya itu. Entah mengapa aku jadi merasa canggung dan kaku berada di mobilnya. Aku malah merasa yang mengemudikan mobilnya itu Kak Lesham. Ya aku terlalu sering naik di mobilnya Kak Lesham, makanya sampai berpikiran seperti itu.


Aneh sekali kan Kak Vante itu mendadak jadi orang yang pendiam dan nggak mau ngomong sepatah katapun untuk memecah keheningan. Pasalnya dia selalu mencairkan suasana. Apa kata-kataku untuk membuatnya jauh padaku terlalu kasar? Atau dia mudah sekali sensitif? Tetapi, masa iya hanya karena itu dia menjadi seperti ini? Ku rasa tidak sepenuhnya dengan itu. Tapi jika bukan karena kata-kataku, lalu karena apa? Kesalahanku yang mana yang sampai membuatnya sakit hati?


"Kak..., gue minta maaf," ujarku memberanikan diri membuka obrolan diantara kami. "Gue minta maaf kalau omongan gue terlalu kasar," tambahku.


Ya memang aku mau minta maaf perihal apa jika aku saja belum tahu kesalahanku yang mana? Bukannya aku nggak sadar diri. Namun aku benar-benar tidak menemukan kesalahanku. Maksudku hal yang membuatnya menjadi begini. Tetapi dengan diamnya Kak Vante seperti ini aku malah semakin mengkhawatirkannya. Aku takut dia sedang tidak baik-baik saja. Atau mungkin dia memiliki masalah.


Kak Vante tidak menggubris permintaan maafku itu. Dia berhenti melangkah ketika kami memasuki ruang tamu dari rumah yang aku juga tidak tahu milik siapa. Rumahnya lumayan besar. Dia masih diam, bahkan sama sekali tidak bergerak sampai aku yang berada di belakangnya dapat mendengar deru napasnya itu. Semakin aku ikut diam, aku semakin merasakan aroma parfumnya yang tidak sama seperti hari biasanya. Sepertinya dia menggunakan parfum jenis baru.


"Aku beneran minta maaf, Kak." Karena lama tidak mendapat respon olehnya, akupun terpaksa menggunakan 'aku-kamu' dengannya. Dan sesuai dugaan, dia merespon ucapanku. "Oh."


Oh saja?


Semarah itukah dia padaku?


"Kakak marah sama gue? Apa bisa Kakak jelasin mana yang bikin Kakak marah?" Ini aku seperti sedang mengorek-ngorek informasi. Ya bagaimana lagi? Situasinya sedang berada pada ambang yang menakutkan. Bingung lho aku jadinya. Perkataanku yang mana begitu yang membuatnya marah padaku. Setelah ku ingat-ingat, aku malah semakin bingung sendiri.


Dia tetap diam.


Ngomong dong, Kak! Seenggaknya satu kalimat yang bikin aku paham.


Aku mendengus. Sepertinya aku tetap tidak bisa membuatnya berbicara. "Apapun itu, gue minta ma----" Tiba-tiba seseorang datang, mengacaukan ucapanku yang belum sempat ku selesaikan. Dia merentangkan kedua tangannya sambil menghampiriku dengan berseru heboh. "BEBEBCUU DAH DATENGGGG!!!" Lalu ia menoleh ke Kak Vante. "Kerja bagus, my beloved Van Zeyengggg," ucapnya.


Selepas Kak Maven yang tiba-tiba nongol itu mendekatiku, Kak Vante segera pergi menjauh dariku dan Kak Maven, tanpa berniat menoleh sedikit pun padaku. Sekadar melirik pun tidak. Sepertinya marahnya padaku tidak sesederhana yang ku kira. Padahal aku sudah meminta maaf berulang kali. Namun hasilnya pun masih sama. Tidak ada yang memuaskan.


"Yuk, masuk," ajak Kak Maven sambil merangkulku.


"Ini rumah siapa, sih? Ada acara apa? Kok Kak Vante langsung pergi begitu aja?" Aku memperhatikan sekelilingku.


Kak Maven tertawa. "Masa lupa sama yang gue kasih tahu waktu itu? Hm?"


Waktu itu?


"Lo kenapa?"

__ADS_1


"Kak Maven ngapain ke sini?" Aku cukup terkejut mendapati Kak Maven yang sedang berdiri di sampingku. Padahal ini belum waktunya pulang. Masih ada sekitar tiga jam lagi baru waktunya pulang. Kak Maven juga datang sambil menggendong tasnya. Kemungkinan dia baru saja dari kampus.


Kak Maven mendekat padaku, lalu membisikkan sesuatu. "Gue mau ngajak lo bolos," jawabnya.


Sontak aku refleks memukul lengan tangannya. Aneh-aneh saja. Aku mana mau diajak begitu. Enak di Kak Maven-nya nggak bakal kena hukuman. Sedangkan aku? Aku masih anak sekolahan. Pasti aku akan mendapat hukuman. Kalau niatnya datang hanya untuk menghampiriku begini lebih baik tidak usah dijemput segala.


"Bang Jin pulang lho. Yakin nggak mau ketemu?"


"Nggak, makasih."


Untuk apa juga aku menemui Kak Jin. Tidak ada urusannya lagi denganku. Kehidupannya yang sekarang sudah lepas dariku. Sudah lebih baik daripada yang dulu. Aku juga tidak memiliki urusan dengannya. Hubungan pun sudah tidak ada sepertinya. Tapi..., aku tiba-tiba teringat dengan kemeja yang Kak Jin berikan padaku dulu. Kemeja kesayangannya. Nyatanya, aku belum sepenuhnya lepas darinya.


Barang berharganya masih ada padaku. Bahkan gelang jam couple yang ku berikan pada Kak Jin masih ku simpan dengan baik di laci meja belajarku. Enggan ku pakai ke sekolah. Takutnya nanti rusak, lecet, atau bahkan bisa sampai hilang. Aku tidak mau hal itu terjadi. Sungguh berlebihan sekali diriku ini. Padahal harga gelang jamnya pun juga tidak seberapa.


"Seriusan? Ah, masa sih nggak mau." Kak Maven masih setia menggodaku. Aku jadi semakin ragu.


"Jadi alasan Kak Maven kesini mau ngajakin gue bolos cuma buat ketemu sama Kak Jin?"


Kak Maven menggeleng. "Suudzon banget sama gue."


"Ya, terus?"


Ternyata yang itu. Aku baru mengingatnya sekarang.


"G-ggue pulang aja ya, Kak?" Tiba-tiba aku mengurungkan niatku ini. Serius deh. Aku tidak yakin untuk bertemu ketujuh anak Stigma secara langsung dan bersamaan. Jantungku ini tidak bisa diajak kompromi. Sejak aku tahu ini dimana, aku langsung gugup. Akan bagaimana sikapku nanti di depan mereka? Aku tak bisa membayangkannya.


Kak Maven menahanku. "Eeeh, kok pulang? Vante kan udah susah-susah ajak lo kesini. Masa belum say hello udah mau pulang aja. Itu nggak sopan namanya," titahnya menasehatiku. Dia sama sekali tidak mengerti posisiku. "Kak Vante nggak bilang tuh. Dia njebak gue tahu, Kak. Dia bilangnya mau ngajak jalan-jalan. Bukan kesini," jelasku.


"Wooooww, jadi lo nganggapnya mau diajak ngedate begitu???" Kak Maven berseru semangat di hadapanku.


"Nggak gitu," sangkalku. "Cuma jalan-jalan biasa doang. Jangan ngomong yang aneh-aneh deh, Kak."


"Masa? Nggak percaya Abang tuh."


"Serius."


"Nggak mungkin, deh." Dia masih tetap mengelak. Tidak mau menerima pernyataanku.

__ADS_1


Akupun nenghela napasku sembari menatapnya jengah. Lalu aku teringat Kak Vante. "Kak Vante itu ada masalah nggak, sih, Kak?" tanyaku.


"Bentar-bentar, ini lo nggak lagi berharap dia ketimpa masalah, kan?"


"Ya nggak dong." Ini bagaimana cara menjelaskannya coba jika Kak Maven nggak ngerti-ngerti. Sabar. "Dia kelihatan beda dari biasanya," tambahku berasalan.


Kak Maven tampak berpikir. "Ah, nggak kok. Lo aja yang ngerasa begitu. Efek lama nggak ketemu."


"Kak Maven emang nggak pernah paham, deh."


"Gue pintar kok."


Kalau memang pintar, tidak mungkin dia sulit mengerti maksud perkataanku. Ternyata bertanya kepadanya percuma. Loading-nya suka lama. Tidak paham-paham. Aku jadi kesal sendiri. Aku juga, sudah tahu Kak Maven begitu masih aja ditanyain.


"Nadisha udah datang? Masuk, Dek." Adalah perkataan sekaligus ajakan Kak Jin yang tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari aku dan Kak Maven.


Aku mengode Kak Maven dengan alis dan mataku. Maksudku, aku harus bagaimana. Eh, Kak Maven malah mendorongku ke hadapan Kak Jin lebih dekat. Untungnya tidak menabrak tubuh jangkungnya itu. Jantungku sudah berdebar sejak tadi. Perlahan, aku memberanikan diri sambil menggigit bibir bawahku. Aku mulai mendongak kepadanya. Mataku tertuju pada senyumannya. "Hai, apa kabar?" tanyanya. Aku gugup sekali. "B-bbaik, Kak." Ucapanku jadi terbata-bata.


"Izin beli kacang, Bang!" Kak Maven bersuara lagi.


"Jangan lama," peringat Kak Jin.


"Nggak kok. Paling cuma dua jam."


"Awas aja."


"Hehehe bercanda Abangku yang paling handsome in the world."


Tak lama, Kak Maven sudah menghilang dalam sekejap. Tatapan Kak Jin sudah kembali padaku.


"Ayo," katanya mengajak.


Dengan ragu, aku mengangguk lantas mengikutinya masuk lebih dalam.


____


Bisa dicek ada ceritanya Panditha diwork sebelah

__ADS_1


15 KOMEN, LANGSUNG UP?


Have a nice day!


__ADS_2