Bena

Bena
BAB 10D


__ADS_3

Karena permintaannya Kak Vante, akhirnya aku harus pulang dengan Kak Lesham.


Aku tak bisa menolak bila sudah dipaksa sama si tukang memaksa. Namun, aku juga agak tak enak hati untuk pulang bersama Kak Lesham. Entah karena apa aku juga tidak tahu. Sebelum aku pulang bersama Kak Lesham, Friska sempat mengirimiku pesan untuk tidak datang ke rumahnya karena Kakaknya tak jadi pulang malam karena ingin bermain PS bersama teman-temannya di rumah. Karena itu Friska tak mengizinkan aku datang ke rumahnya. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak tahu wajah Kakaknya. Tapi aku juga beruntung bila aku tak harus datang ke rumah Friska. Itu artinya aku bisa istirahat di rumah untuk semua ini.


Selama perjalanan, aku sama sekali tidak berbicara dengan Kak Lesham. Jika dia tidak mengajakku berbicara, aku tidak akan memulainya. Aku masih kesal dengan tadi. Wajar saja karena sikapnya yang menyebalkan itu.


"Nggak ada yang mau ditanyain, nih?" tawarnya. Aku masih menatap lurus ke depan. "Mumpung gue free untuk jawab apa yang lo tanyain. Kan jarang lo dapet kesempatan kayak gini," tambahnya.


Aku menoleh ke samping. Kak Lesham juga tak menatapku. Ia masih fokus menyetir mobilnya.


"Gue udah tahu maksud kertas yang Kakak kasih tadi pagi," kataku. Kak Lesham hanya merespon dengan tawaan kecil. Sudah biasa Kak Lesham seperti itu. Aku sudah hampir terbiasa dengan sikapnya yang ini. Namun, terkadang aku juga mengagumi sikap yang satu itu. dia terlihat tak pernah marah karena selalu tersenyum dan tertawa. Tapi juga terkadang menyebalkan karena bila sedang membicarakan hal yang serius malah terkesan seperti bercanda. Itu yang aku tidak suka.


"Bagus, deh."


"Semua ini ulah anak Stigma, kan?"


"Nggak ada hubungannya kali."


"Kalau nggak ada, kenapa Kakak tahu kalau Kak Vante bakal mutusin gue?" Aku bersedekap dada sambil menggertakkan gigiku. Kak Lesham hanya mendengus. "Gue sahabatnya. Wajar kalau tahu, kan?" Kebiasaan. Dia selalu balik bertanya kepadaku.


Tapi jawabannya ini masuk akal.


Aku tak bisa lagi membawa Stigma.


"Terus, kenapa kemarin anak Stigma ngomongin hubungan gue dan Kak Vante di ruang Stig Cooking?" tanyaku keceplosan. Aku benar-benar tidak bisa mengerem mulutku sendiri. Refleks aku langsung menutup bibirku dengan kedua tanganku. Sungguh, aku merutuki diriku sendiri di dalam hati. Akhir-akhir ini aku memang sering keceplosan begini.


Kak Lesham menoleh kepadaku. "Lo nguping, ya?" Dia bertanya dengan senyuman menindasnya itu.


"Kalau iya kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Ya, udah. Jawab, Kak! Katanya mau ngasih jawaban."


"Ya, kan udah gue jawab. Nggak ada hubungannya. Cuma ngomongin aja emang nggak boleh? Bukan cuma anak cewek aja yang suka ngegosip, anak cowok juga." Kak Lesham memandang ke depan. Aku hanya bisa mendengus. Memang iya aku mendapat jawaban. Tapi ujungnya juga selalu sama. Aku selalu bingung. Padahal jika Kak Lesham ingin jujur akan terasa lebih baik. Aku juga tidak perlu menggunakan pikiranku untuk berpikir mengenai arti dari ucapannya.


Diputus oleh Kak Vante?


Aku tidak memiliki beban karena itu. Tapi rasanya agak begitu canggung. Ya, walaupun aku dulunya menjalin hubungan hanya main-main saja. Tidak ada sisi seriusnya, tetap saja. Aku merasa tidak enak bila bertemu dengannya lagi. Apalagi setelah aku melihat mata Kak Vante tadi. Bila dugaanku benar. Hatinya, dan perilakunya berkata lain. Itu yang bisa ku baca dari matanya.


Sekarang aku hanya bingung.

__ADS_1


Bagaimana menjelaskan semua ini ke Mama? Sedangkan Mama sendiri ingin aku dan Kak Vante sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Rasanya aku akan tidak enak hati bila harus menceritakannya ke Mama. Apalagi Mama sudah menyukai Kak Vante. Susah kan membuat seseorang itu disukai oleh orangtua orang lain? Ya intinya begitu.


Jika aku sudah putus. Itu artinya Kak Vante tidak akan menelepon Mama untuk menanyakan soal aku lagi. Satu dua kalinya ku rasa tidak bermasalah. Tapi nanti, Mama juga akan menanyakan hal itu kepadaku. Dan saat itulah aku akan berada pada ambang kebingungan yang sangat tinggi. Akan selalu ada jiwa-jiwa yang mengajakku untuk berbohong agar Mama tetap senang. Namun, ada pula yang mengajakku untuk jujur saja walaupun menyakitkan. Tentu, semuanya hanya tergantung pada diriku.


Seberapa kuatnya aku jujur.


Mobil Kak Lesham berhenti di depan rumahku. Dia langsung menoleh kepadaku tanpa meninggalkan senyumannya. "Nggak usah kesel sama gue, nanti kalau lo suka susah." Kata Kak Lesham dengan pede.


Aku menjulurkan lidahku.


"Geer banget," gumamku.


"Tenang aja, Nad. Gue nggak akan pergi kayak Vante. Gue masih ada di sini..., untuk lo. Asal jangan buat gue terpaksa melanggar aturan, agar gue nggak ikut pergi juga."


Mataku memicing.


"Nggak usah dipikirin. Sana masuk ke rumah. Jangan diem di mobil gue terus. Gue nanti kesenengan," ujarnya sambil terkekeh.


Aku menatapnya tak suka. "Ini juga mau keluar. Nggak usah diusir juga kali, Kak."


"Iya, sama-sama."


Cowok ini benar-benar menyebalkan. Ku pikir sikapnya Kakak datar itu menular kepada Kak Lesham. Buktinya sekarang Kak Lesham jadi lebih menyebalkan daripada dulu.


"Gue emang ganteng, Nad. Tapi nggak usah bengongin gue juga kali. Kalau masih kangen, mau nggak jalan-jalan? Nanti malam jam tujuh gue jemput." Tawarannya itu membuatku mengembangkan senyuman baru.


Kenapa?


____


"Mama serius? Mama nggak lagi bohongin Nadisha kan, Ma? Masa iya Zelo pindah ke Jerman sih, Ma? Kok dia nggak bilang sama Nadisha. Nggak pamitan juga lagi," gerutuku di depan Mama. Baru saja aku menginjakkan kaki di rumah dan Mama sudah memberiku kabar yang tidak enak.


Mama memelukku. "Zelo-nya nggak sempet, Nadisha. Dia juga pasti pengin banget pamitan sama Nadisha. Tapi jam terbangnya tadi itu mepet banget. Jadi Zelo cuma nitip salam buat Nadisha. Udah, ah. Jangan cengeng. Pasti Zelo ngabarin kamu lagi nanti. Tunggu aja," ujar Mama menenagkanku.


Apa Zelo benar-benar marah kepadaku?


Dia bahkan sampai meninggalkanku. Bukan lagi beda kota ataupun beda provinsi. Sekarang sudah beda Negara. Padahal masalah kemarin saja belum selesai. Kukira semua itu hanya kesalahpahaman saja. Namun Zelo saja yang tak mau mendengarkanku.


"Zelo nggak nitipin apa gitu selain salam?"


"Kamu tuh, ya!"

__ADS_1


"Ma...," ucapku menggantung. "Kalau seandainya aku putus sama Kak Vante gimana?"


Mama semula mengernyit. Namun langsung bersikap biasa saja setelahnya. Mama bahkan tertawa kecil sambil mengelus puncak rambutku. "Kenapa nanya gitu? Ada masalah?" tanya Mama mulai mengintrogasi.


Aku menggeleng.


"Ya nggak apa-apa. Itu berarti kalian belum jodoh."


Jawaban Mama membuatku tersenyum. Kemudian Mama pergi dan akupun bergegas ke kamar.


"Sha," panggil Kak Savalas yang semula masih fokus pada televisinya. Tapi sekarang dia malah mengabaikan acara televisi yang sedang ditontonnya. Kak Savalas bangkit dari tempat duduknya dan menghampiriku di anak tangga. "Kenapa, Kak?"


Kak Savalas memberiku sebuah surat entah dari siapa atau memang dia yang membuatnya. Surat itu terlihat tak asing bagiku. Aku mengambilnya dari tangan Kak Savalas dan bertanya. "Dari siapa?"


Kak Savalas mengedikkan kedua bahunya. Aku tidak yakin bila Kak Savalas tidak tahu siapa pengirimnya. Namun aku tak memaksanya untuk menjawab. Lagipula di dalamnya juga pasti terdapat nama pengirimnya. Kalaupun tidak ada, nanti aku akan bertanya lagi kepada Kak Savalas. Melihatnya menatapku seperti itu, seakan Kak Savalas memiliki sesuatu yang mungkin akan dibagikan kepadaku. Atau malah dia yang ingin tahu urusanku. Hari-hari biasanya juga seperti itu. kak Savalas yang selalu ingin tahu. Tapi aku yang tidak diperbolehkan untuk tahu. Tidak adil memang.


"Lo putus sama Vante?" Kak Savalas menahanku untuk pergi. Aku menoleh kepadanya lagi ketika aku sudah berjalan selangkah darinya. "Udah tahu ngapain nanya," balasku datar.


Kak Savalas memegang tanganku. "Maafin gue ya, Sha."


"Maaf untuk apa?"


"Karena gue udah nyuruh lo pacaran sama Vante. Padahal gue udah tahu kalau hubungan kalian nggak bakal berlangsung lama," jelasnya begitu saja. "Kenapa Kakak bisa tahu? Apa hubungan Kakak sama Kak Vante? Apa Nadisha nggak punya hak untuk tahu?" tanyaku berbondong.


Kak Savalas hanya tersenyum kepadaku.


"Cuma teman," jawabnya.


"Nggak percaya."


"Terserah."


Seketika aku memanyunkan bibirku ke depan. Baru saja tadi baik, sekarang sudah membuatku jengkel saja. Lalu Kak Savalas tak berkata banyak lagi kepadaku. Dia malah pergi begitu saja. Aku hanya diam sambil mengembuskan napasku dengan panjang. Semuanya membuatku lelah. Akupun masuk ke kamarku dengan segera. Ku kunci pintu kamar agar Kak Savalas atau Mama tidak masuk begitu saja ketika aku sedang membaca surat ini.


Siapa yang mengirim surat ini?


Rasanya bukan Kak Vante ataupun Kak Lesham. Siapapun itu, aku berharap semoga nanti aku bisa menemuinya.


Sejenak, aku melepas semuanya.


Memejamkan mataku bersama dengan kenangan dahulu. Semua yang masih menjadi misteri dan belum ku temukan jawabannya. Semua yang selalu tergiang di kepalaku. Semuanya yang selalu membuatku bingung harus melakukan apa. Dan semuanya yang membuatku tertarik untuk mengetahuinya.

__ADS_1


Suatu saat nanti, aku akan terbangun bersamasemua jawaban yang telah ku tunggu hari ini.


__ADS_2