Bena

Bena
BAB 15E


__ADS_3

"Kalian itu anak baik. Ngapain harus berantem segala? Masih inget, kan, sudah kelas akhir?" Bu Ida masih mengintrogasi Kak Syden dan Kak Lesham. Mereka berdua duduk tepat di depan Bu Ida. Sementara aku duduk di samping Kak Lesham. Tadinya mau di tengah-tengah mereka biar tidak baku hantam lagi. Tetapi Kak Lesham sudah lebih dulu duduk di tengah.


Bu Ida menggeleng tak percaya. Kedua anak yang diintrogasinya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Aku jadi bingung caranya agar bisa lolos dari sini. Masalahnya itu aku tidak tahu masalah mereka apa. Aku hanya ingin memisahkan mereka. Tapi yang ada malah ikut terseret ke dalam urusan mereka. Ya, meskipun ada hubungannya dengan aku. Namun, tidak diajak juga untuk sidang sedang Bu Ida begini.


Friska sudah tidak ada disini. Setibanya dia disini untuk mengantar hasil fotocopy-an, Bu Ida langsung mempersilahkannya kembali ke kelas. Tidak ada toleransi untuk tidak mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas kecuali yang sedang bermasalah seperti Kak Syden dan Kak Lesham. Alhasil, kini aku tidak punya teman lain. Sendirian tanpa tahu apa yang harus dilakukan.


"Nadisha." Bu Ida beralih padaku karena tak mendapat jawaban dari Kak Lesham maupun Kak Syden.


Aku mendongak dengan ragu. Harus ku jawab apa nanti jika Bu Ida bertanya yang macam-macam? Semakin bingung rasanya. "Iya, Bu?"


"Kamu tadi yang misahin mereka, kan?"


Aku mengangguk.


"Kamu tahu mereka ini punya masalah apa?"


Aku menggeleng.


Lantas Bu Ida diam sembari mengangguk-angguk. Beliau seperti orang yang sedang menimbang-nimbang keputusannya. Di sisi lain aku cukup lega. Untungnya Bu Ida hanya bertanya seperti itu. Otomatis aku bisa dengan mudah menjawabnya. Coba saja bila pertanyaannya tidak seperti itu. Mungkin aku sudah dalam ambang kebingungan sekarang.


"Oke, kamu boleh kembali ke kelas," ujar Bu Ida kepadaku.


Sebelum Bu Ida berubah pikiran, akupun bergegas bangkit. Pamit dengan Bu Ida dan langsung keluar dari ruangan ini secepat mungkin. Bu Ida itu perempuan. Aku hanya takut jika sewaktu-waktu keputusannya berubah lagi kalau aku tidak melakukannya.


Namun, aku tidak sebodoh biasanya. Kali ini aku tidak langsung kembali ke kelas. Aku masih penasaran dengan hukuman yang akan Bu Ida berikan kepada mereka. Sejujurnya, aku khawatir. Bayangkan saja. Di STANDAR ini jarang sekali ada anak yang berkelahi. Banyak, sih, sebenarnya jika dihitung. Tetapi kebanyakan di luar sekolah berkelahinya. Tidak di dalam sekolah seperti ini.


Pintu ruangan BK terbuat dari kaca yang diberi korden kecil. Masih ada sela bagiku untuk mengintip.


"Apa benar jika kamu yang memulai perkelahian, Sham?" tanya Bu Ida pada Kak Lesham.


"Iya, Bu."


"Apa benar sebelumnya kalian sudah berantem di sekolah?"

__ADS_1


"Benar, Bu." Mereka berdua menjawab bersamaan.


Bu Ida mengangguk-angguk. "Ada masalah apa antara kalian berdua?"


"Pribadi, Bu," jawab Kak Syden cepat. Bahkan Kak Lesham terlihat memalingkan wajahnya.


"Baik. Ibu sudah mengerti. Ujian tinggal enam bulan lagi. Lesham," ucap Bu Ida yang dibalas Kak Lesham dengan tatapan. Entah itu tatapan baik atau buruk aku tidak bisa melihatnya dari sini. "Saya tahu, Bu," balas Kak Lesham.


"Kamu Ibu skors selama lima bulan."


Kak Lesham tampak biasa saja. Dia tidak bereaksi apa-apa. Hanya anggukan yang ku lihat dari sini.


"Nggak, Bu. Biar saya aja. Perkelahian ini saya yang mulai." Kak Syden kembali angkat suara. Aku dibuat kaget dengan perkataannya, begitupun dengan Kak Lesham. Dia menoleh pada Kak Syden dengan syok. Sama sepertiku.


Padahal aku tahu jika yang salah memang keduanya. Hanya saja Kak Lesham ikut terpancing. Perkelahian pertama memang Kak Syden yang memulai. Kini perkelahian kedua ganti Kak Lesham. Tentu yang salah adalah keduanya. Mereka sama-sama merespon pancingan itu. Keduanya memiliki kesalahan yang sama dengan besar yang sama. Tidak mungkin jika hukuman hanya diberikan pada satu pihak.


"Bagus jika kamu mau jujur, Syden." Pandangan Bu Ida beralih kepada Kak Lesham. "Hukuman untuk kamu adalah membersihkan perpustakaan selama satu bulan," lanjut beliau.


Akan tetapi Kak Lesham menggeleng. "Nggak, Bu. Saya yang di-skors saja. Lagipula saya yang banyak mukul," katanya.


"Keputusan awal adalah yang benar. Syden yang di-skors," putus Bu Ida pada akhirnya. "Kalian bisa kembali ke kelas."


Kak Syden bangkit lebih dulu. Aku minggir dari pintu agar tidak ditabrak. Dia keluar dari ruangan Bu Ida dengan cepat. Seperti sedang buru-buru. Kak Syden bahkan sama sekali tidak melihatku. Hanya punggungnya yang kian mengecil yang dapat ku lihat. Sementara Kak Lesham baru saja mendorong pintu hingga membuatku terkejut. Saking fokusnya dengan Kak Syden jadi lupa.


Aku meneguk ludahku dengan kasar sembari mengembuskan napas dengan perlahan. Kak Lesham berdiri tegak di sebelahku. Dia tidak langsung pergi seperti Kak Syden. Mungkin melihat kehadiranku disini membuatnya tercengang. Aku masih ada disini sejak tadi. Mengintip. Ya, karena aku sangat penasaran. Wajar.


"Lo...," kata Kak Lesham terpenggal. Dia mengernyit.


"Iya, gue ngintip." Aku jujur.


Dia tidak bersuara lagi. Suka sekali membuatku bingung merangkai kata. Harus ku katakan apa?


"Kak," panggilku.

__ADS_1


"Iya?"


"Kak Syden udah nyelametin Kakak dari hukuman itu. Apa Kakak nggak mau melakukan hal yang sama?" tanyaku refleks tanpa rencana.


Sebelumnya dia mengerutkan kening. Seperti mencerna kembali kata-kataku. Lantas tertawa kecil sambil mengembangkan senyum yang sudah lama tak ku lihat lagi. Tampak tulus tanpa ada paksaan. Aku jadi tidak yakin bila nanti aku masih bisa melihat senyum itu.


"Gue ngerti," ucapnya.


"Hah? Maksudnya?"


"Gue akan menjauh dari lo."


Jantungku seperti terpanah. Sakit. Aku memang ingin dia menjauh dariku. Tapi apa harus secepat ini?


"Gue sayang sama lo, Nad."


"Gue juga, Kak."


"Bukan sebagai adik-kakak."


"Terus?"


"Sebagai teman hidup."


Aku mematung mendengarnya. Dia mengusap puncak rambutku lembut. Aku dapat merasakan ketulusannya itu.


"Tapi sayang," katanya.


"Sayang kenapa?"


"Nggak apa-apa, Sayang."


Jebakan. Masih sempat-sempatnya dia bercanda di saat aku mengajaknya berbicara serius. Kak Lesham menatapku. "Lo terlanjur minta gue untuk menjauh. Padahal gue pengin dekat sama lo. Gue pergi, ya. Jaga diri baik-baik." Kak Lesham berbalik arah. Mulai melangkah menjauh dariku.

__ADS_1


Ini serius? Apa selama ini pemikiranku yang salah? Kak Lesham memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi aku malah mengacaukannya. Jika saja aku percaya dengan Friska. Mungkin kejadiannya tidak akan seburuk ini. Mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur berjanji pada Kak Tavis. Tidak mungkin bila aku mengecewakannya.


Meskipun, pada akhirnya aku sendiri yang kembali tersakiti.


__ADS_2