Bena

Bena
BAB 13B


__ADS_3

"Gue temenin ke Stig Cooking, ya? Kan udah janji mau antar jemput. Jadi berangkat pulang harus bareng," katanya saat berjalan beriringan denganku di koridor.


Setelah bel pulang dibunyikan semua murid langsung berhamburan pulang. Sementara Kak Lesham sudah lebih dulu menungguku di luar kelas.


"Tapi nanti bisa aja gue lama," ujarku.


Bila berurusan dengan Kak Syden, aku tidak yakin bila semuanya akan selesai dengan cepat. Apalagi Kak Syden orang yang rumit sekaligus menjengkelkan. Akan banyak hal yang salah denganku nanti ini. Tanpa ku sadari, dia sudah dapat meneliti semua hal yang membuatku harus lebih lama berurusan dengannya.


Jika karena tidak janji dengan Kak Jin, pasti aku sudah keluar. Tapi sekarang masalahnya janji itu masih berlaku. Aku tidak bisa mengingkarinya. Jika Mama? Mudah. Aku bisa bilang jika aku sudah tidak nyaman karena yang mengajarnya ketus. Atau mungkin bisa dengan alasan lain.


"Selama apa sih sama nunggu lo putus sama Vante?" tanya Kak Lesham.


"Jangan bahas itu, deh, Kak."


"Iya, sori."


Aku tidak ingin mengingat dulu lagi. Sekarang ya sekarang. Aku tidak petlu mengingat hal yang dulu, kan?


Masalah Kak Tavis sudah tidak ku pedulikan. Aku tidak menemuinya di koridor kelas duabelas. Aku juga tidak menceritakannya kepada Kak Lesham. Tidak penting. Lagipula aku sudah pernah dilabrak oleh Kak Raden. Ku rasa yang dulu sudah cukup. Aku tidak mau Kak Tavis juga melakukan hal sama denganku.


Kak Tavis menyukai Kak Syden. Itu berarti sudah pasti urusan Kak Tavis denganku hanya untuk menegurku saja. Sama seperti yang Kak Raden lakukan padaku waktu itu. Cukup. Aku tidak ingin mengulangi. Aku harus melupakan saja.


"Gue tunggu di luar," kata Kak Lesham sewaktu kami sampai di depan ruang Stig Cooking. Dia langsung duduk di kursi yang ada di sampingnya. Tak banyak kata lagi yang ingin dia ucapkan. Aku semakin penasaran saja.


Memang selain anggota Stig Cooking tidak boleh masuk apa?


"Kenapa nggak ikut aja, Kak? Kak Syden kan teman Kakak juga." Aku mencari alasan agar dia mau masuk ke dalam bersamaku. Jika Kak Lesham mau menemaniku pasti urusanku dengan Kak Syden akan selesai dengan cepat. Namun, Kak Lesham malah menggeleng. "Nggak sopan. Gue tunggu di sini aja. Semangat, ya!" tuturnya tetap kekeh tidak mau masuk.


Aku tidak bisa memaksa. Dia mengembangkan senyum kepadaku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman. "Gue masuk dulu, ya, Kak." Aku langsung membuka pintu dan masuk.


___


Di dalam ruangan yang luas ini ternyata sudah ada banyak siswi yang datang. Mungkin aku menjadi satu-satunya yang terlambat. Padahal aku langsung datang ke sini setelah pulang. Ini memang mereka yang terlalu datang cepat, bukannya sspertiku yang datang sesuai waktu.


Aku memperhatikan sekelilingku. Banyak sorot mata yang tidak menyukaiku. Aku tidak tahu pasti apa mereka yang ku anggap tidak suka memang tidak menyukai beneran atau tidak. Tapi hatiku hanya mengatakan bahwa mereka tidak mengharapkan kedatanganku.


Aku menghela napas. Tidak lagi memperhatikan. Lantas aku melihat meja yang biasanya digunakan untuk mengajar. Kak Syden juga belum datang. Ternyata memang mereka yang terlalu bersemangat.


"Nadisha, ya?"


"Yang mantannya Kak Vante, bukan?"


"Yang deket sama semua anak Stigma, kan?"


"Sekarang pedekate sama Kak Lesham."

__ADS_1


"Kemarin Kak Syden juga nyariin dia."


"Tadi Kak Tavis nyariin dia juga. Mau ngelabrak paling. Kak Syden kan gebetannya Kak Tavis."


"Kak Tavis cinta banget sama Kak Syden lagi. Nyari cowok yang masih free dong!"


"Jangan jadi orang ketiga."


Aku meneguk ludahku sendiri dengan kasar. Mereka langsung menyerbuku dengan banyak pertanyaan dan pernyataan yang tidak mengenakkan hati. Aku tahu mengapa baru sekarang mereka berbicara seperti ini kepada. Sekarang aku sendirian. Tidak ada satupun anak Stigma yang berada di sampingku. Makanya banyak yang berani mengutarakan ketidaksukaannya kepadaku.


Nyatanya hatiku mengatakan hal yang benar. Mereka tidak menyukaiku.


"Aku nggak suka Kak Syden. Kak Lesham juga cuma temanku." Aku menjelaskan dengan bimbang. Tak lama akupun bergegas duduk di ujung sana. Memilih meninggalkan mereka yang banyak berkomentar tentang aku.


"BOHONG!!"


Aku membalikkan badan. Ada perwakilan dari mereka yang mengejarku. Dia terlihat sangat marah. Aku tidak melakukan kesalahan kepadanya. Semua ini hanya salah paham. Sebatas itu saja.


"Tahu apa kamu tentang aku sampai bisa bilang kalau aku bohong?" tanyaku ikut emosi. Dulu aku boleh diam dan penurut. Tapi semakin bertambah usia aku jadi semakin berani. Bahkan aku berani membiarkan Kak Tavis menungguku. Tidak sopan memang. Namun, semua ini agar Kak Tavis dan aku tidak bertengkar.


"Gue nggak perlu tahu tentang lo untuk bilang bohong atau nggak! Hidup lo nggak begitu penting untuk diketahui orang! Bahkan kehadiran lo itu udah bikin mata gue sakit tahu, nggak!" Dia---entah aku tidak tahu siapa namanya. Tapi yang jelas perkataannya sungguh jahat.


"Sohee! Jangan bikin ribut di sini!" teriak salah satu dari mereka. Orang yang bernama Sohee itu menoleh, begitupun dengan aku.


"Sohee ingeett!"


Sohee, ya?


Dia anggota termuda Seesaw, kan?


Ternyata tidak semua anak Seesaw baik. Nyatanya Sohee juga sama menyebalkannya dengan Kak Raden. Mereka berasal dari geng yang sama. Sikapnya pun sebelas duabelas. Sekarang Kak Inggrid yang ku anggap baik sudah lulus. Mungkin kini Seesaw hanya terisi oleh orang-orang yang menyebalkan seperti ini.


"Kamu anak Seesaw, kan?" Kini aku yang bertanya.


Sohee tersenyum lebar kepadaku. "Kenapa? Masalah?" tanyanya balik.


"Nggak, kamu cantik."


Dia langsung diam setelah aku mengatakan itu.


____


Aku menjadi satu-satunya orang yang keluar dari Stig Cooking.


"Setiap Rabu nggak usah suruh Lesham nunggu," ucap Kak Syden.

__ADS_1


Aku mengernyit bingung. "Emang kenapa?" tanyaku.


"Biar gue yang anter lo pulang."


"Tap---"


"Nggak usah bantah."


Lantas dia pergi ke belakang. Kak Syden memasukkan semua bukunya ke dalam tas. Aku jadi tidak enak hati seperti ini.


"Aku pulang, Kak." Aku segera pamit. Tapi Kak Syden tidak meresponku. Bahkan dia seolah tidak mendengar apa yang telah aku katakan barusan. Sengaja mungkin. Aku kan tidak penting untuk direspon olehnya.


Perlahan aku berjalan menuju keluar. Dengan mengembuskan napas, aku langsung menghampiri Kak Lesham. Aku mengerjapkan mataku berulang kali sambil mematung di tempat. Tidak hanya Kak Lesham saja yang menungguku. Tapi ada satu orang lagi.


"Kenapa nggak nemui gue di koridor? Lupa, ya?" tanyanya.


Bukan lupa. Tapi aku memang sengaja menghindarinya.


"Minta waktu sebentar ya. Nggak bakal lama," katanya. Lalu Kak Tavis menoleh kepada Kak Lesham. "Berdua ya, Sham."


Kak Lesham langsung paham dengan maksud Kak Tavis. Dia bangkit dan bergegas pergi menuju ke parkiran. Meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Ke sana, yuk!" ajak Kak Tavis sambil menunjuk lurus ke depan.


Aku mengangguk dan mengikutinya saja ingin membawaku ke mana. Mau kabur juga sudah tidak bisa.


"Ada yang mau gue tanyain sama lo, Nad." Kak Tavis kembali membuka suara setelah duduk. "Apa, Kak?"


Kak Tavis sempat mengigit bibir bagian bawahnya. "Lo beneran Nadisha, kan?"


Pertanyaan macam apa ini?


Aku pikir Kak Tavis akan marah kepadaku. Ternyata dia hanya bertanya kepadaku.


"Maksud Kak Tavis gimana, ya?"


"Ya, nggak. Lo mirip sama Panditha."


"Aku sering dengar nama Panditha. Tapi aku nggak tahu dia siapa. Boleh minta Kakak untuk jelasin?"


"Jelasin, ya? Kapan-kapan deh, Nad. Gue ada urusan lain. Gue pergi, ya."


Aneh.


Kak Tavis langsung pergi seperti Kak Lesham saat aku bertanya hal yang sepertinya berhubungan dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2