
Sejak tadi, ponselku terus saja bergetar. Aku sampai jengah mendengarnya. Sudah ku duga siapa yang terus saja mengirimkan pesan kepadaku. Tapi sekarang aku sedang tidak ingin membaca pesan-pesan itu. Kepalaku masih pusing. Aku masih berada di UKS. Friska sudah memintakan izin untukku agar tetap di UKS. Aku tak tahu alasan apa yang sudah Friska buat. Namun, aku sangat berterima kasih kepadanya. Tanpa dia, mungkin aku akan semakin bingung.
Kedatangan Friska tadi, ternyata membuat Kak Syden langsung pergi. Tapi aku tidak tahu Kak Syden pergi lewat mana. Aku tidak mengetahuinya.
Belum juga aku meminta saran. Belum juga aku bertanya banyak tentang Stigma. Tapi dia sudah pergi. Aku tak tahu apakah Kak Syden akan menjawab pertanyaanku atau tidak jika itu perihal Stigma. Karena dengan Kak Lesham, aku tak mendapatkan info apapun. Dengan Kak Jin, ku rasa bukan hal yang benar. Berurusan dengannya selalu membuatku gugup. Bila Kak Vante, yang ada malah sampai di mana-mana nanti.
Di satu sisi aku juga memikirkan perihal Zelo. Ucapannya membuatku sakit hati. Tapi, aku juga tidak boleh egois. Aku mempunyai tanggung jawab untuk tidak membuatnya sedih. Mama sendiri yang sering mengingatkan aku akan hal itu. Sekarang hatiku sudah sedikit tenang rasanya. Walaupun di pikiranku, semua kejadian tadi terus melayang-layang kembali.
Andai aku tahu siapa kakaknya Zelo, mungkin aku bisa meminta bantuannya untuk memperbaiki hubunganku dengan Zelo. Sayang. Aku tidak mengetahui hal-hal tentang Zelo lebih jauh.
Ketika aku ingin mematikan ponselku, notifikasi pesan yang sejak tadi masuk terlihat sangat jelas. Tanpa sengaja aku membaca notifikasi itu. Ah, bodohnya aku tadi tidak sempat mematikan data selulerku.
Kak Vante mengirimkan 42 pesan.
Aku mengembuskan napasku pelan. Meskipun pesan yang dikirmkannya sangat banyak, tapi jujur, aku sedang tidak ingin membukanya. Walaupun sejujurnya aku penasaran dengan pesan yang dia kirimkan, namun aku tak peduli sekarang. Nanti yang ada aku akan bertambah emosi jika aku membukanya.
Kak Vante mengirimkan 51 pesan.
Benar-benar, ya! Baru aku lihat sebentar, dia sudah mengirimkanku Sembilan pesan lagi. Tidak lelah apa dia mengetiknya?
Atau jangan-jangan dia hanya mengirim pesan huruf A sampai Z. Atau bisa juga angka 1 sampai limapuluh satu.
Terserah dia, terserah.
"Di sini lo rupanya?"
Aku mendongakkan kepalaku. Menatap lurus ke depan.
"Kalau di-chat bales kenapa, sih? Setidaknya hargai pacar sendiri."
"Kak Vante ngapain di sini?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku bukannya tidak menghargai orang lain. Aku sedang tidak ingin melakukan apapun. Makanya, daripada hanya ku baca saja pesannya lebih baik tidak ku buka dulu. Meskipun aku membukanya nanti, atau entahlah kapan. Tapi aku akan selalu membalasnya. Aku tidak pernah membiarkan pesan yang masuk tanpa ku balas. Pasti akan ku balas, meskipun tidak secepat mungkin.
Kak Vante tiba-tiba langsung duduk di depanku. "Lo udah makan?" tanyanya ikut-ikut mengalihkan topik.
"Jangan ngalihin pembicaraan deh, Kak! Kakak itu ngapain di sini?" Aku meletakkan ponselku di sampingku sembari menatap Kak Vante lagi.
"Kalau nggak mau dialihin jangan ngalihin. Jawab dulu pertanyaan gue. Udah makan belum?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku.
"Ya, udah. Ayo ke kantin," ajaknya.
"Gue nggak laper, Kak."
Kak Vante berdiri. Dia berdecak pinggang sambil menyunggingkan senyumnya. Aku tak tahu maksud dari raut wajahnya. Tapi firasatku mengatakan jika semua arti yang tidak ku ketahui itu menuju kepada hal yang negatif. Entahlah. Ini hanya perasaanku saja. Semoga saja salah.
"Lo ikut gue ke kantin, atau kantinnya gue bawa ke sini?"
Sudah ku duga.
_____
"Jangan bikin gue malu dong, Kak," tuturku memelas. Pasalnya benar dengan apa yang aku pikirkan tadi. Kak Vante pasti akan melakukan hal yang aneh-aneh. "Ini gimana, sih?" tanyaku bingung.
Di kantin STANDAR terdiri dari enam warung. Hampir semuanya berkelas. Untuk kantin nomor satu dan dua hanya untuk anak kelas sepuluh. Kalau kantin nomor tiga dan empat biasanya untuk kelas sebelas. Kalau untuk kelas duabelas itu bebas mau di kantin nomor berapa aja. Sesuka hati mereka. Semua itu layaknya memang sudah tradisi dari sana. Meskipun begitu, tidak ada yang berani ke kantin nomor lima dan enam kecuali anak-anak kelas duabelas, anak-anak nakal, dan juga anak-anak yang popular. Jika itu begitu ya biasanya hanya mereka yang bisa menjalin hubungan baik dengan kelas duabelas.
Dan sekarang, semua warung yang ada di kantin STANDAR itu serasa pindah di depanku. Satu per satu perwakilan dari masing-masing kantin berkumpul di UKS sambil membawa buku catatan dan menu. Tidak lupa dengan bolpoinnya sekalian. Siapa lagi yang berani melakukan hal ini jika bukan Kak Vante. Dia orang yang popular. Dia juga tak takut dengan apapun rasanya. Dan tak lupa..., dia juga senang membuat orang lain malu karena kelakuannya.
Padahal tadi aku sudah menolaknya mentah-mentah. Tapi memang dasar Kak Vante-nya yang keras kepala. Dia malah membawa penjualnya ke hadapanku sekarang. Benar-benar membuatku tambah kebingungan.
Aku menggaruk tengkukku. Bingung. Jika aku hanya memesan pada satu penjual warung, otomatis yang lainnya kasihan. Sudah jauh-jauh datang ke UKS tapi tidak ada pemasukan. Aku tidak tega melihatnya. Sungguh. Jika aku memesan di enam warung, ku rasa akan mubazir. Tingkat makanku tidak sebanyak itu. Apalagi Kak Syden sudah tidak ada di sini. Akan ku bagi dengan siapa nanti?
Friska?
Ah, ku rasa jika hanya Friska rasanya masih tetap terbuang.
"Mbak, menunya apa aja bilang. Siapa tahu dia belum kenal menu yang Mbak-mbak sekalian sediain," ujar Kak Vante lagi.
"Siap, Mas!" ujar enam penjual serempak.
Salah satu dari enam orang itu maju selangkah sambil tersenyum lebar kepadaku. Dia dari kantin nomor satu. Aku sering jajan di sana. Kalau tidak salah namanya Mbak Sanah. Orangnya agak gemuk memang. "Mbak Nadisha kan sudah sering jajan di tempat saya. Pasti udah tahu dong menu apa aja yang saya jual. Jadi, Mbak mau pesan apa?" tanyanya padaku.
Aku meringis.
"Nama saya Mbak Lola, dari kantin nomor dua. Saya itu biasanya jual bakso, cireng, seblak, geprek, dan lain-lain. Pokoknya saya itu jual jajanan yang lagi hitz sekarang. Mbak Nadisha harus nyobain jamur krispy saya. Dijamin ueennaaaak bangeettt! Semlohay rasanya. Mantep!" ujar Mbak Lola sambil mengacungkan jempolnya. Aku tidak berbicara. Aku masih benar-benar bingung.
__ADS_1
"Jangan Mbak, jangan makan jamur. Mending makan pecel aja. Ada sayurannya. Pecel saya murah lho, Mbak. Lagi promo, nih. Kemarin saya juga baru launching produk terbaru. Namanya ayam gesrek, Mbak. Waaahh! Baru sehari launching udah laris manis," celutuk satu orang lagi. Aku tak tahu dia siapa.
"Jangan makan ayam gesrek, Mbak. Nanti yang ada otak mbak-nya ikut gesrek lagi. Mending makan bucin aja, Mbak. Dijamin mbak-nya pasti ketagihan," sahut satu orang lagi. Aku juga tak tahu siapa. Aku sama sekali tidak mengenal mereka. "Bucin itu apa, ya?" tanyaku.
Si mbak langsung tertawa kecil. "Oalah. Mbak-nya nggak tahu bucin toh? Padahal lagi booming banget lho, Mbak. Masa nggak tahu, sih?" tanyanya kepadaku.
Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya.
Memang apa yang booming?
Aku tak tahu.
Ku rasa tidak ada menu yang benar.
Semuanya aneh.
"Bucin itu bukannya budak cinta, ya?"
"Bukan, Mbak-nya. Bucin itu bubur micin," jawab si mbak entah asal atau tidak. Namun jawabannya cukup membuatku menggelengkan kepala. Benar-benar aneh. "Suuueddeeep lho, Mbak," tambahnya.
Aku hanya mengangguk-angguk.
"Uwes tha, gantian aku." (Sudah dong, gantian aku) Penjual yang berada pada barisan kelima itu angkat bicara. Suaranya sedikit kental dengan bahasa jawa. Beruntung, aku sedikit bisa memahami bahasa jawa. "Kula iki dodolan macem-macem, Mbak. Yen tak sebutke bakal dawa banget. Mbake pingin maem napa? Mengken kula damelaken. Kabeh pakanan iku kula saged damel. Makane niku, menu kula teng kantin niku jenenge 'apapun ada'. Pripun, Mbake?" tanyanya. (Aku ini jualan macam-macam, Mbak. Kalau aku sebutkan bakal panjang banget. Mbaknya ingin makan apa? Nanti aku buatkan. Semua makanan itu aku bisa membuatnya. Karena itu, menu aku di kantin namanya 'apapun ada'. Bagaimana, Mbaknya?)
Ku kira si embak tadi akan mencampurnya dengan bahasa Indonesia. Ternyata tidak. Aku sedikit kesulitan untuk memahaminya.
"Maksud si Mbak, makanan apapun dia bisa buat. Tergantung lo mau makan apa," Kak Vante ikut menyahut. Pasti dia tadi melihatku kebingungan dengan perkataan si penjual yang kelima ini.
"Menu saya banyak juga, Mbak. Daripada Mbak bingung, lebih baik Mbak baca aja menu saya." Penjual terakhir itu memberikan selembaran kepadaku. Akupun menerimanya, lantas ku baca.
Setelah ku baca, aku hanya bisa diam. Menatap penjual-penjual kantin yang masih berdiri di depanku.
"Lama banget, dah!" Kak Vante bersuara lagi. "Mbak, gue pesen satu makanan dan satu minuman yang paling popular di kantin kalian. Kalau udah, bawa ke sini."
Lah?
Kalau ujung-ujungnya dia sendiri yang pesan kenapa tadi bertanya kepadaku?
__ADS_1
"Oke, Mas!" jawab semua penjual itu berbarengan lagi. Seketika perwakilan dari kantin itu langsung bubar dari hadapanku. Aku menghela napas lega.
"Dan lo...," tangan Kak Vante menunjuk diriku. Aku hanya linglung menatapnya. "Jangan ke mana-mana sebelum makan. Gue tungguin lo di depan. Awas aja kalau sampai lo kabur, gue nggak bakal segan-segan buat cium lo," peringatnya.