Bena

Bena
BAB 14A


__ADS_3

Perlahan langkahku mulai berhenti. Aku sudah masuk ke dapur. Mataku memperhatikan semua penjuru dapur. Tidak ada Mama di sini.


"Mama di mana, Kak?" tanyaku pada Kak Lesham yang masih duduk di tempat yang sama.


"Di luar."


"Katanya manggil gue," ujarku bingung. Sementara Kak Lesham langsung tertawa kecil. "Bercanda biar lo nggak lama sama dia," jawabnya.


Aku langsung duduk di sampingnya. "Nggak lucu tahu, Kak!" cetusku. "Ya, udah. Gue balik lagi kalau gitu."


"Eeeh." Kak Lesham menahanku. Aku menatapnya sebal.


"Apa lagi?"


"Mau banget ya lama-lama sama dia?"


Aku memutar bola mataku jengah. "Gue cuma bantuin Kak Syden aja. Kasian, Kak. Daging yang harus dicuci banyak," jelasku.


"Tapi perlu banget pakai aku-kamu?"


"Kak Syden yang minta, Kak. Katanya nggak sopan kalau pakai lo-gue." Aku kembali menjelaskannya.


Kak Lesham masih tidak puas. "Terus kenapa sama gue masih pakai lo-gue?"


"Kakak mau gue---"


"Nggak, nggak usah. Lo di sini aja. Biar gue yang bantu Bang Syden." Kak Lesham langsung pergi tanpa menunggu persetujuanku.


Aku merasa Kak Lesham terlalu berlebihan. Tapi tetap saja aku senang melihatnya bertingkah seperti itu. Segitunya sampai Kak Lesham tidak ingin aku tinggal sendirian.


___


Waktu berlalu dengan cepat. Masakan Mama sudah matang. Akupun kembali menuju ke ruang makan setelah tadi aku sempat menghabiskan waktuku bersama Kak Lesham dan Kak Syden untuk menonton sebuah film. Ternyata memang tidak mudah membuat Kak Lesham dan Kak Syden menjadi sependapat.


Jenis film yang mereka sukai juga berbeda. Aku sulit menyatukannya. Akhirnya aku memilih untuk menonton film kesukaanku saja daripada harus melihat kedua cowok itu terus beradu mulut. Mengurus dua cowok ini jauh lebih susah daripada aku berurusan dengan Kak Savalas. Serius. Aku merasa letih sendiri menghadapinya.


"Tante masakannya enak ya?" Kak Lesham membuka pembicaraan.


Mama terkekeh. "Ah, kamu bisa aja mujinya."


"Oh, iya. Kalian berdua seumuran ya?" tanya Papa pada Kak Lesham dan Kak Syden. Entah dari mana Papa mengetahui soal itu. Aku bahkan tidak sempat menceritakannya kepada Papa.


"Iya, Om." Kak Lesham dan Kak Syden menjawab bersama dengan kompak. Lantas keduanya saling bertatapan.


Aku ingin tertawa melihatnya.


"Kalian nggak ada niat untuk pacarin anak saya, kan?" Kali ini Papa langsung to-the-point. Aku membelalak karena pertanyaannya. "Nanya apa sih, Pa."

__ADS_1


"Iya tuh si Papa langsung to the point aja. Jangan bikin anak orang jantungan, Pa." Mama ikut membelaku.


Papa masih kekeh. "Biar nggak salah paham, Ma. Sekalian aja Papa tahu niat aslinya."


"Iya, Om. Nggak apa kok," balas Kak Lesham. "Niat sih ada, Om. Usahanya masih proses."


"Uhuk, uhuk," aku terbatuk mendengar jawabannya. "Minum dulu, Nad." Kata Mama. Segelas air minum Kak Lesham berikan kepadaku dengan senyuman yang tak pernah berubah. Aku segera melogoknya sampai tinggal setengah.


Perkataan Kak Lesham masih tergiang di pikiranku. Yang benar saja. Tidak mungkin Kak Lesham memiliki niat untuk memacariku. Ini hanya gurauannya saja. Seharusnya aku tidak seserius ini menanggapinya sampai membuatku terbatuk. Lagipula Kak Lesham juga sering bercanda dengan ucapannya. Jadi aku tidak harus meresponnya dengan serius.


"Oke," Papa mengangguk-angguk. Lantas menunjuk Kak Syden. "Kalau kamu?"


"Nggak ada, Om."


Aku senang mendengarnya. Setidaknya jika Kak Syden tidak memiliki niat untuk menjadikanku pacar itu sudah lebih baik. Karena memang hanya Kak Tavis yang berhak mendapatkan hati Kak Syden. Secara Kak Tavis berada lebih tinggi dariku.


"Serius?" Papa kembali memastikan.


Kak Syden mengangguk. "Saya serius. Tapi nggak tahu kalau nanti."


"Maksudnya?"


"Perasaan kan bisa berubah dengan sendirinya. Sekarang saya memang nggak ada niat. Tapi saya nggak tahu gimana kedepannya."


"Terus niat Kakak ke sini mau apa?" tanyaku yang baru sempat ku tanyakan. Tadi saat mencuci daging aku lupa bertanya.


"Oh."


"Gimana?" Kak Syden masih belum puas.


Aku menggaruk rambutku. Bingung harus menjawab apa. "Harus aku banget ya, Kak? Memang nggak ada orang lain?"


"Cuma rumah lo yang gue tahu."


Wajar, sih. Dulu Kak Syden pernah mengantarku pulang. Makanya Kak Syden tahu rumahku. Alasan yang Kak Syden berikan cukup logis dan aku tidak bisa menolaknya. Aku tak punya alasan lain lagi. Ini juga tanggal merah, aku tidak memiliki tugas. Friska juga tumben tidak menghubungiku hari ini.


"Temenin aja, Nad. Udah jauh-jauh ke sini loh," saran Mama.


Aku menatap Papa. "Papa izinin."


Lalu, aku menatap Kak Lesham. Kebetulan dia duduk di depanku. Dia mengangguk pelan sambil menyunggikan senyum. Seolah dia ingin berkata; nggak apa pergi aja.


Mungkin seperti itu.


"Ya, oke. Habis ini aku bantu, Kak." Akhirnya aku tidak punya pilihan untuk menolak.


"Ini Lesham nggak apa-apa Nadisha-nya pergi sama Syden?" goda Mama sambil menyenggol lenganku. Aku menggigit bibir bawahku, canggung. "Kak Lesham tadi cuma bercanda kali, Ma. Nggak usah dianggap serius. Iya kan, Kak?"

__ADS_1


"Iya."


____


"Memang nggak apa ini aku keluar sama Kak Syden?"


"Emang kenapa?" Dia balik bertanya.


"Nggak, maksudnya tuh, engg---kan ada Kak Tavis. Kenapa nggak minta tolong sama dia aja?"


"Gue suka sama lo."


Aku terbelalak. Apa yang tadi Kak Syden katakan? Aku tidak salah dengar, bukan? Dia bilang bahwa dia menyukaiku.


"Maksudnya gue suka nyusahin lo," ralat Kak Syden segera.


Oh, ternyata hanya itu. Memang harusnya aku sudah sadar akan hal itu. Sejak dulu kan memang Kak Syden suka sekali membuatku susah. Jadi aku tidak harus berpikir yang jauh. Sama seperti tadi, saat makan bersama Kak Lesham juga. Aku harus menganggap semuanya bercanda.


Kini, aku hanya mengekori Kak Syden mengelilingi toko peralatan masak yang terletak tak jauh dari sekolah. Sudah ku bilang bahwa aku tidak paham tentang hal yang berhubungan dengan memasak. Makanya aku hanya mengikuti seperti ini saja.


"Mau cari apa Mas, Mbak?" tanya petugas toko yang tiba-tiba datang menghampiri kami.


Kak Syden menggumam sebentar sambil memperhatikan sekelilingnya. "Ada oven?" tanyanya.


"Ada, Mas. Di sebelah sana. Mari saya antar," si Mbak petugas berjalan lebih dulu. Kak Syden melihatku sejenak. "Tunggu di sini aja," tuturnya.


"Aku disuruh nunggu?"


"Daripada capek ngikutin gue."


Aku berpikir sejenak. Ada benarnya juga yang Kak Syden bilang. Jika aku terus mengekorinya tanpa tujuan yang jelas aku malah akan lelah sendiri. Lebih baik aku menunggunya di sini saja. Lagipula aku bisa bermain ponsel sembari menunggu Kak Syden selesai belanja.


"Oke."


Kak Syden langsung menyusul si Mbak tadi. Akupun mencari tempat duduk. Mataku memperhatikan sekelilingku. Aku membulatkan mataku lebar setelah menyadari apa yang ku lihat. Aku tidak menemukan kursi.


Orang yang ku lihat itu tak sengaja menyadariku. Dia menyipitkan matanya untuk melihatku. Lalu melangkah maju menghampiriku. Sepertinya dia ingat siapa aku. Bukan. Sepertinya dia penasaran dengan apa yang aku lakukan di sini.


"Nadisha. Lo ngapain di sini?" tanyanya sesuai dugaan.


"Belanja, Kak."


Dia melihat sekitarku lalu kembali menatap manik mataku. "Sendiri?"


"Nggak."


"VANTE WOII! CEPETAN! HUJAN, NIH!" teriak seseorang dari luar.

__ADS_1


"Sialan," umpatnya jengkel. "Gue balik dulu ya. Jaga diri, Nad."


__ADS_2