Bena

Bena
BAB 20C


__ADS_3

Kak Jin membawaku ke sebuah ruangan khusus. Terletak di lantai paling atas. Rumah yang ku masuki ini terdiri dari tiga lantai. Kebetulan rumah yang tidak seberapa ini menggunakan lift. Aku jadi tidak perlu untuk naik tangga menuju ke lantai tiga. Sepertinya pemilik rumah ini benar-benar beruang banyak. Tidak heran jika ada lift pribadi. Bahkan di setiap ruangannya pun memiliki kesan berbeda karena terdapat hiasan-hiasan yang tidak akan sama dengan ruang lainnya.


"Kak Jin tahu kemana Kak Vante pergi tadi?" Aku berjalan mensejajarinya.


"Oh, dia?" Aku mengangguk. "Katanya mau jemput seseorang," jawab Kak Jin.


Menjemput siapa?


Tapi ya biarkan saja. Aku tidak perlu sepenasaran itu. Lagipula tidak penting juga.


"Lama nggak ketemu kamu makin cantik, ya." Entah itu pujian atau pernyataan, tetapi ungkapan Kak Jin cukup membuatku ingin terbang. Terbilang memang sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Kami pun saling lost kontak. Ini adalah kali pertama kami berinteraksi setelah lama berpisah.


Aku tidak cukup berani menjawab ungkapan itu. Jujur saja. Jantungku kembali berdebar-debar jika berada di dekatnya. Ku kira setelah lama tidak bertemu, aku tidak akan merasa gugup seperti ini. Tetapi nyatanya tidak berubah. Aku masih terus gugup.


"Kenapa diam aja?" Kak Jin berhenti melangkah, dia menatapku was-was. Mungkin pikirnya aku sedang tidak sehat. Tapi memang benar jika jantungku sekarang tidak sehat. Nggak berenti berdebar kencang apalagi saat Kak Jin menatapku sedekat ini.


"Ah, nggak apa-apa kok." Aku segera mengalihkan pandanganku. Kedua tanganku meremas ujung rokku. "Kak Jin kuliah dimana sih? Maksudnya di kota mana?" tanyaku.


"Nggak jauh. Yogjakarta," balas Kak Jin. Wait. Setelah dua tahun ini aku baru tahu dimana Kak Jin kuliah. Dulu Kak Savalas tidak memberitahuku dan aku juga tidak bertanya kepada siapapun.


"Di UGM, ya?"


"Kenapa begitu?"


"Kak Jin kan pintar."


"Lebih ke beruntung aja, sih."


"Merendah untuk meroket."


"Seriusan, Dek." Kak Jin tertawa karena aku mengetahui motifnya. "Nanti kamu mau kuliah dimana? Nggak ada niat buat ikut Kakak aja?"


Ini aku nggak salah dengar kan jika Kak Jin memakai 'aku-kamu' sejak tadi? Kok kesannya aku ini seperti adiknya, ya. Ya, memang iya sebenarnya. Aku ini mengharapkan apa, sih?


"Otak sama keberuntungan aku nggak nyampe, Kak."


"Mau Kakak bantu?"


"Apa, sih. Nggak usah, Kak."


Aku merasakan ada yang berbeda dengan Kak Jin. Entah memang beneran berubah atau karena dia menggunakan 'aku-kamu' denganku dan aku belum terbiasa dengan itu.


Kak Jin memegang telapak tanganku, lalu menariknya, berjalan kembali. Aku hanya mengikutinya saja tanpa protes. Hingga tak lama kami sampai ke sebuah ruangan yang berada paling pojok. Seperti yang ku bilang tadi. Pasti ini adalah ruangan khusus. Kak Jin membuka pintu ruang itu tanpa mengetuknya. Dia bahkan langsung mengajakku masuk ketika pintunya mulai terbuka.

__ADS_1


"Eh, Jin balik lagi nih."


"Sssttt, ada Jin."


"Akhirnya comeback."


"Eh, eh, sama siapa tuh dia?"


"Kayak kenal."


"Sama."


Aku mendengar berbagai suara ketika masuk ke ruang itu. Kak Jin menutup pintunya kembali. Lalu mataku mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Sesuai dugaan. Aku satu ruangan dengan tujuh anak Stigma. Mereka semua menatapku sambil tersenyum. Melihat itu, aku kesulitan meneguk ludahku sendiri.


Jastin yang semula duduk di atas meja langsung turun, dia bergegas mendekat padaku sambil berkacak pinggang. "Pacar gue ini. Jangan dipegang-pegang, huusst, jauh-jauh!"


Kak Jin spontan melepas genggamannya. Aku menoleh padanya. "Sori, Dek," katanya.


Aku mengangguk kaku.


"Sana gih, Jin. Gue mau ngomong dulu sama Nanad," usir Jastin pada Kak Jin. Anak itu memang tidak ada sopan-sopannya dengan Kakak sendiri. Tidak heran jika banyak orang yang nggak nyangka jika mereka itu saudaraan. Orang kelakuannya saja seperti ini. Sama sekali tidak mencerminkan hubungan seorang adik-kakak.


"Jangan takut, Dek." Hanya itu kalimat yang Kak Jin katakan padaku sebelum pergi. Kalimat itu..., dua tahun yang lalu dia juga mengatakan seperti itu. Sama persis. Ternyata dia masih ingat. Aku senang mengetahuinya.


"Apa, sih."


Dia malah terkekeh. "Semua anak Stigma tahunya lo itu masih pacar gue. Jadi selama acara ini lo harus dekat-dekat sama gue. Oke?"


"Kan udah selesai, Jastin."


"Itu sih tergantung lo. Kalau lo mau ditembak sama mereka lagi, ya, terserah." Kata-katanya seperti mengancam. Aku jadi bingung harus membantah bagaimana. Lagipula ada benarnya juga Jastin ini. Jika aku diketahui sebagai pacar Jastin, pasti tidak akan ada yang mau menembakku lagi. Eh, tapi ini kesannya aku pede banget gitu lho kalau mau ditembak lagi.


"Jadi?"


"Terserah, deh."


"Nah, begitu dong."


Jastin langsung menarikku mendekati mereka---Kak Syden, Kak Lesham, dan Kak Nehan---yang masih menatapku sejak tadi. Kak Jin lebih fokus pada ponselnya sembari menunggu kedatangan Kak Vante dan Kak Maven mungkin. Ketahuilah aku ini disini sebagai cewek sendiri. Bagaimana nggak gugup lagi? Setidaknya aku harus bawa Friska kesini supaya tidak sendirian.


"Nadisha ikut juga? Kenapa nggak bilang? Tadi kan bisa gue jemput," ucap Kak Tavis yang tiba-tiba datang dari belakangku. Jastin melepas pegangannya. "Gue tunggu disana," katanya. Lantas dia pergi meninggalkan aku bersama Kak Tavis. Aku menoleh padanya, tetapi dia sudah lebih dulu memelukku. "Kangen banget gue tuh," akunya padaku.


"Aku juga, Kak."

__ADS_1


"Lo kesini sama siapa? Dijemput Vante, ya? Cieee balikan, nih?"


"Iya dijemput, tapi nggak balikan kok."


"Gue doain biar cepat comeback, deh." Kak Tavis kegirangan sendiri. "Nanti jangan lupa traktirannya," imbuhnya.


Aku hanya bisa tersenyum padanya. Lagian aku juga nggak tahu harus berkata apa.


"Eh, sini yuk, Nad." Kak Tavis menarikku. "Kita ngobrol-ngobrol dulu," ujarnya sambil membawaku melewati Kak Syden, Kak Lesham, Kak Nehan, Kak Jin, dan juga Jastin yang sudah menatapku nyalang. Aku tak menghiraukan tatapan mereka. Kini fokusku lebih kepada Kak Tavis yang membawaku ke balkon.


Dia menyuruhku duduk disampingnya, lalu dia menyodorkan segelas jus jeruk padaku.


"Gue pikir tuh mereka mau bikin pesta tahu, nggak. Soalnya jarang-jarang gue diajak," tutur Kak Tavis bercerita tanpa ku minta. Dia mengupas buah apel yang ada di depannya. Tentu fokusnya masih pada buah apel itu. Tetapi pikirannya dan perkataannya selalu fokus padaku.


Aku meneguk jus jeruk itu. "Kak Tavis gimana sama Kak Syden?"


"Baik kok." Dia hanya menjawab singkat.


"Udah pacaran?"


Kak Tavis tertawa padaku saat mendengar kata pacaran. "Belum, sih. Tapi seenggaknya hubungan gue sama dia udah membaik. Dia udah mulai menyadari kehadiran gue. Dia juga sering datang ke rumah gue buat ketemu Mama gue. Walaupun bukan untuk ketemu gue, tapi gue seneng banget dia balik lagi kayak dulu," ceritanya.


"Kak Syden kayaknya dekat banget sama keluarga Kak Tavis, ya?"


"Nggak, kok. Cuma sama Mama aja." Kak Tavis mengembuskan napasnya sejenak. Kegiatan mengupasnya pun berhenti. Dia menengok padaku sambil tersenyum. "Dulu kami tetanggaan. Mama sering banget kasih perhatian ke Syden. Karena itu Syden udah nganggap Mama gue sebagai Mamanya juga. Sejak kecil Syden anak broken home. Ibunya udah nggak ada sejak dia lahir. Ayahnya selalu nyalahin dia karena kehadirannya membuat Ibunya pergi. Nggak heran kalau akhirnya Syden dibiarin sendiri di rumah dari kecil tanpa asisten rumah tangga. Dia emang terlihat dingin, ketus, galak. Tapi itu cuma caranya melampiaskan rasa kacau dalam dirinya."


"Oh."


"Mmm gue minta maaf, ya, Nad, kalau selama ini Syden selalu buat lo nggak nyaman." Kak Tavis benar-benar membuatku speecless. Jika begini serius deh. Kak Syden bakal rugi kalau nggak menerima cintanya Kak Tavis. Dia baik banget masa.


"Nggak apa-apa, Kak. Santai aja. Aku nggak masukin ke hati kok."


"Syukur, deh. Gue seneng dengernya."


"Iya, Kak."


Aku baru tahu, sosok yang terlihat ketus pun ternyata memiliki beban yang lebih berat dariku.


______


Happy Reading!


BAB selanjutnya mau kapan?

__ADS_1


__ADS_2