Bena

Bena
BAB 18B


__ADS_3

"Bisa bicara sebentar?" Aku berdiri di depan Jastin sambil menyunggingkan senyum. Aku tidak tahu mengapa aku jadi sesopan ini kepadanya. Tapi yang pasti, aku harus belajar memperlakukannya dengan sopan supaya sikap tidak warasnya itu hilang ketika kami sedang mengobrol.


Jastin yang sejak tadi sedang mengaduk-aduk mie-nya langsung mendongak, menatapku penuh pertanyaan. "Tumben izin segala. Lo pikir gue ketua OSIS sampai harus minta izin buat ngomong? Oh, ayolah. Gue ini cowok popular di sekolah ini. Nggak usah modus dengan minta izin begitu. Udah nggak zaman."


Sumpah. Aku nggak ngerti dengan pemikirannya. Memang benar ya jika menghadapi Jastin itu sulit. Mau dengan bersikap biasa saja atau memperlakukannya dengan sopan tidak ada bedanya. Selalu menghasilkan sesuatu yang sama. Entahlah. Kadang aku juga gergetan sendiri jika harus menghadapinya.


"Lo punya hubungan sama Sohee?" Aku pun langsung ke poinnya. Percuma juga jika aku tidak segera menyelesaikan perdebatan ini. Aku enggan memiliki urusan dengan Sohee si anak Seesaw, apalagi jika harus mendapat masalah dengannya. Masalahnya pun juga perihal cowok. Aku sangat enggan.


"Lo pikir?" Dia balik bertanya. Ya, mana ku tahu? Aku ini bukan dirinya. Aku juga bukan paranormal yang bisa tahu dengan sendirinya.


Pada akhirnya aku lelah berdiri. Aku pun duduk di depannya yang kebetulan dia juga sedang sendirian. "Pacar lo, mungkin?" tebakku. Aku ragu jika jawabanku benar.


"Gue nggak nganggap pacar sih. Tapi mungkin aja dia yang nganggap gue pacarnya. Wajarlah. Dia suka sama gue," jawabnya dengan bersemangat. Ternyata bukan cuma anak-anak STANDAR yang tahu tentang perasaan Sohee. Nyatanya yang disukai Sohee pun mengetahui fakta itu. Mungkin jika aku jadi Sohee, pasti akan sangat malu. Bagaimana tidak? Satu sekolah sampai sang gebetan tahu soal perasaannya tapi tidak terbalas. Terlalu menyakitkan.


Aku mengedikkan kedua bahuku. "Kalau lo sendiri gimana?"


"Gue? Gimana apanya?"


"Perasaan lo ke Sohee."


"B aja. Lo kenapa nanya sampai segitunya? Cemburu, ya?"


Aku membelalakkan mataku. Apa katanya? Cemburu? Mana ada coba. Tapi, ya, sesuka Jastin tak apa. Aku tahu bahwa otaknya tidak begitu lurus. Jadi ku biarkan saja dia berbicara sesuka hati. Lagipula dalam kehidupannya tidak ada kata serius. Aku tidak perlu mengkhawatirkan tentangnya lagi.


"Mana ada," elakku. Berbicara seperti ini membuatku enggan saja. Seharusnya aku tidak datang kesini.


Jastin menoel lenganku. Aku merasa risih dengan tindakannya.


"Apaan, sih."


"Kencan, yuk!" ajaknya tiba-tiba. Aku terkejut dengannya. Lebih baik Jastin otaknya tidak normal saja daripada sikapnya semengejutkan ini. Serius. Aku semakin takut untuk dekat-dekat dengannya. Apalagi hari ini Friska tidak masuk juga. Jadinya Jastin duduk di sebelahku. Sudah aku tolak. Bahkan sampai mendorong kursinya. Namun tetap saja gagal. Dia tetap bersikukuh untuk duduk di sebelahku. Menjengkelkan.

__ADS_1


Aku menempelkan telapak tanganku di keningnya. "Nggak panas. Tapi kelakuan lo makin hari makin nakutin, ya," ungkapku.


"Emang kenapa sih kalau kita kencan?" Dia memegang tanganku. Menempelkan pipi kirinya di tanganku seolah-olah tanganku ini adalah sebuah bantal. Enak di dia-nya. Aku menarik tanganku, tetapi Jastin semakin memegangnya dengan erat. Ingin sekali aku berteriak memberitahunya bahwa ini tempat umum. Sekolah. Jika ada yang lihat pasti bermasalah.


"Jangan aneh-aneh," perintahku.


"Aneh gimana? Wajar kan kalau gue ngajak kencan pacar gue sendiri?"


Aku tidak mengerti. "Maksud lo?"


"Kemarin kan lo udah bilang sama Vante kalau gue ini pacar lo. Jadi sekarang kita pacaran, kan?"


Sudah tahu? Secepat ini ternyata informasinya yang diketahuinya.


"Cuma pura-pura kok."


"Mau pura-pura atau nggak, gue mau kita kencan nanti malam. Titik. Nggak ada Vante-vante segala."


Jastin diam sejenak. Lantas kembali menatapku. "Malming aja gimana? Oke. Gue jemput jam tujuh. Nggak usah dandan segala. Lo udah cantik tanpa make-up. Lagian gue nggak butuh kecantikan lo juga, sih. Kalau dijual juga nggak laku."


"Gue ada acara. Nggak bisa."


"Bullshit."


"Ih, beneran."


"Mau lo ada atau nggak, gue tetap bakal jemput lo. Sekalipun lo nggak ada di rumah, gue bakal nyari lo sampai ketemu."


"Terserah lo."


Pada akhirnya aku tidak bisa mengelak. Anak ini memang menyebalkan. Untung ganteng. Setidaknya dengan bersamanya aku bisa sedikit cuci mata. Eh, memperhatikan wajah Jastin seperti ini kayak mirip seseorang. Siapa, ya? Aku rasa wajah Jastin seperti memiliki kemiripan dengan Kak Jin. Ah, iya. Aku selalu mengingat Kak Jin saat melihat wajah Jastin. Maksudnya jika aku memperhatikannya dari dekat.

__ADS_1


"Kak Jin siapa-nya lo?" tanyaku.


Jastin memejamkan matanya. Meskipun aku bertanya kepadanya, dia tetap enggan membuka mata. "Abang gue," jawabnya.


"Abang di Stigma, ya? Oh, iya juga sih. Kak Jin emang paling tua disana. Pantes aja kalau dianggap sebagai Abang," celutukku. Memang benar begitu sepertinya. Di antara banyaknya anak Stigma memang Kak Jin yang paling tua.


"Sok tahu banget, sih. Dia itu Abang gue beneran. Bukan Abang-abangan kayak yang lo maksud, Nanad."


"Kandung?" Aku terperanjat.


"Hm."


Pantas saja ada kemiripan meskipun sedikit. Ternyata mereka saudara kandung. Aku bahkan baru tahu sekarang setelah hampir tiga tahun mengenal mereka. Lucu sekali. Tapi, melihat keduanya seperti sesuatu yang kebalik. Sikap Jastin dan Kak Jin berbeda seratus delapan puluh derajat. Antara menyenangkan dan menjengkelkan.


Tiba-tiba aku terfokuskan pada tanganku yang masih dipegang dan dijadikan tumpuan pipinya Jastin. Ya, ampun! Anak ini benar-benar.


"Lepasin tangan gue, Jastin. Ini di kantin tahu," suruhku lagi.


"Tahu kok kalau ini di kantin."


"Makanya lepasin."


"Nggak mau, gue udah nyaman begini." Dia malah memejamkan matanya. Aku hanya bisa menghela napas jengah sembari melirik ke kanan dan kiri. Siapa tahu ada yang sedang memperhatikan kami. Beruntungnya di kantin ini Jastin tidak memilih tempat di tengah. Lumayan aman untuk tidak dipertontonkan.


"JASTIN GUEEE!!!"


Teriakan menggelora itu terdengar nyaring di telingaku. Aku segera menoleh ke sumber suara. Betapa jengahnya aku saat melihat siapa yang barusan mengeluarkan suara senyaring itu. Dia lagi, dia lagi. Dunia ini sangat sempit sekali. Masalah yang aku dapatkan pun selalu saja berhubungan dengannya akhir-akhir ini. Andai saja aku bisa menghilang. Mungkin aku akan melakukannya sekarang.


Jastin mendongakkan kepalanya, melepaskan genggaman tangannya padaku. Dia juga memperhatikan siapa yang datang. Tak lama, Jastin mengembangkan senyum kepada seseorang yang baru saja tiba.


"Eh, Sayang." Suara itu tidak lain tidak bukan berasal dari Jastin. Aku menatapnya meminta penjelasan.

__ADS_1


__ADS_2