Bena

Bena
BAB 3D


__ADS_3

Kini berbalikan. Tadi aku yang mengekori Zelo, sekarang Zelo yang mengekoriku ke kantin. Aku masih tidak percaya dengan Kak Lesham. Aku harus banyak belajar agar aku bisa memahami semua ucapannya. Baik secara langsung maupun lewat pesan. Meskipun aku memiliki rasa penasaran yang tinggi kepada Kak Lesham tetap saja aku masih menyukai Kak Nehan. SEKALI LAGI HANYA KAK NEHAN!


Sudah berminggu-minggu aku sekolah, tapi baru sekali saja aku bertemu dengan Kak Nehan. Sungguh. Dia susah sekali untuk dicari. Aku sudah keliling sekolah setiap istrahat kedua untuk bertemu dengannya. Tetapi tetap saja aku tidak menemukannya. Sebenarnya dia ke mana sih kalau istirahat kedua?


Biasanya tipe cowok seperti Kak Nehan itu selalu berada di perpustakaan. Menurutku begitu. Bayangkan saja kepintarannya itu. Tapi, semua itu tidak menyambung. Sama sekali tidak ada hubungannya. Buktinya Kak Nehan tidak aku temukan di tempat-tempat seperti itu.


"Nad! Baca dulu kek ini," Zelo memberikan kertas tadi kepadaku. Setibanya di kantin kami langsung duduk di tempat yang sama seperti biasanya. Yaitu paling ujung agar tidak terlalu dekat dengan cowok-cowok. Aku membaca kertas yang Zelo berikan sambil duduk. Sedangkan Zelo langsung memesankanku makanan dan minuman yang juga seperti biasanya.


Tak butuh waktu yang lama, Zelo datang menghampiriku dengan membawa dua buah jus. Yang jus buah naga untuk Zelo sendiri. Sementara aku jus jambu merah. Seperti biasa, makanannya akan menyusul nanti.


"Lo belum cerita ke gue soal Kak Lesham, Nad."


Zelo menyeruput jus buah naganya dengan dua sedotan sekaligus. Aku melipat kertas itu lalu ku tunjukan padanya. "Makasih, ya, buat ini."


"Itu nggak penting. Yang penting itu tadi, Nad." Zelo masih bersikukuh. Aku memasukkan lipatan kertas itu ke saku seragamku. "Gue udah cerita soal itu ke lo. Tapi lo-nya aja yang bilang kalau khayalan gue ketinggian."


"Sori, deh, sori. Ceritain lagi, ya. Please," pintanya kepadaku.


Aku menyeruput jus jambuku lantas berkata. "Kapan-kapan aja, ya? Gue lagi males ngomong banyak hari ini."


"Bilang aja nggak mau! Gitu aja susah!" Zelo mulai beramarah. Setiap kali Zelo mulai emosi aku tidak sanggup untuk menolak kemauannyaa. Tetapi jujur. Aku sudah lelah jika harus menuruti semua yang dia mau. Oke. Aku tidak boleh ikut beremosi. Aku harus tenang. Rilex. Aku pasti bisa tenang.


Zelo membuang sedotannya. Dia memalingkan wajahnya dariku sambil mengercutkan bibirnya. Aku tidak bisa melihatnya seperti itu. Tapi aku juga sedang malas. Oke. Satu-satunya cara yaitu menolaknya dengan halus. Aku harus mencoba menolak sambil membuat suasana hatinya membaik.

__ADS_1


Aku memegang lengan tangannya. "Kapan sih gue pernah menolak apa yang lo mau, Ze? Tolong, ya? Kali ini aja. Biarin gue nggak nuruti apa yang lo mau. Boleh, kan? Gue janji gue akan cerita ke lo. Tapi nggak sekarang. Nggak apa-apa, kan? Jangan marah, dong."


"Halah! Tinggal bilang nggak apa susahnya, sih? Lo pikir gue anak kecil sampai lo ngomong kayak gitu?" Bukannya Zelo mengerti maksudku, dia malah semakin salah tangkap dengan ucapanku. Aku harus berbicara dengannya seperti apa sekarang. Biasa saja salah. Sudah halus juga salah. Apalagi kalau kasar. Yang ada malah murka jadinya.


Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya.


"Sekali aja, hargai apa yang gue mau, Ze."


"Mau dihargai berapa? Seratus atau duaratus ribu?"


"Zelo! Gue nggak serendah itu, ya."


"Mikir, dong! Seratus ribu itu nggak rendah. Masa gitu aja nggak tahu." Zelo semakin marah. Begitupun dengan aku. Nadisha, ingat cerita Mama tentang Zelo. Aku menarik napasku lalu mengembuskannya. "Iya, iya, maaf. Tapi serius kok, Ze. Gue nggak akan lupa buat cerita ke lo. Kalaupun gue lupa, tolonglah ingetin gue. Ya?"


Perlahan Zelo menoleh kepadaku. "Tapi bener, ya, ceritain lagi."


Memang kehidupan begini, kan? Akan ada saatnya kita susah demi membahagiakan orang lain. Dan itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi kita.


Ada yang penasaran dengan kertas pemberian Zelo kemarin tidak?


Ku harap iya. Kemarin, aku sempat bingung dengan itu anak. Mana mungkin dia memberiku sesuatu yang penting. Tapi ternyata sungguh di luar dugaan. Kertas yang dia berikan untukku itu adalah pengumuman tentang ekstrakulikuler memasak yang ingin aku ikuti. Ralat. Bukan ingin, tetapi karena Mamaku. Iya, itu yang benar.


Sekarang sudah mulai sore. Dipengumuman tadi katanya harus kumpul di aula dulu untuk didaftar siapa saja yang ikut. Tapi entah mengapa sampai sekarang tidak ada satupun orang yang datang ke aula. Hanya aku seorang. Kakakku juga sudah pulang dulu. Nanti dia akan menjemputku lagi setelah aku selesai kumpul.

__ADS_1


Ketika aku hendak beranjak dari aula, tiba-tiba ponselku bergetar. Ada satu pesan masuk kepadaku.


Lo dimana? Katanya mau ikut Stig Cooking?


Ah, iya. Bagaimana dia tahu?


Perkataannya memang benar. Dia bahkan tahu semua tentang aku. Sedangkan aku? Jangan tanya apa yang sudah aku tahu. Aku saja tidak tahu apa-apa tentang Kak Lesham kecuali nama dan kelasnya saja yaitu XI IPS 7. Bahkan nama panjangnya pun aku tak tahu.


Lagi kumpul, Kak


Balasku singkat. Namun tidak benar-benar singkat sebenarnya. Aku tak langsung memasukkan ponselku. Aku lebih memilih menunggu jawaban dari Kak Lesham sebenarnya. Entahlah, sekarang aku suka menunggu balasan pesannya. Semuanya menarik menurutku. Dan aku juga sadar, akhir-akhir ini aku dekat dengan Kak Lesham. Bukannya dengan Kak Nehan sang gebetan malah ke Kak Lesham. Tapi anehnya, aku merasa biasa saja saat Kak Lesham dekat denganku. Bahkan aku juga tidak merasa risih sama sekali. Malah senang.


Kumpul apaan? Kata Kak Jin lo nggak ada.


Aku tercengang saat membacanya. Kenapa ada Kak Jin diajak-ajak, memang apa hubungannya coba? Atau jangan-jangan Kak Jin itu..., dia yang mengajar memasak. Tapi kata Zelo namanya Syden, bukan Jin. Tidak mungkin jika aku salah dengar. Syden menuju ke Jin itu perbedaannya sangat jauh.


Lo dimana?


Belum juga aku jawab. Pesan itu kembali masuk. Ternyata Kak Lesham orangnya tidak sabaran. Dengan segera aku membalas pesannya sebelum dia mengirimkan pesan lagi yang membuatku semakin bingung harus menjawab yang mana dulu. Gue di aula, Kak.


Pinter! Lo nggak tahu kalau kumpulnya ganti ke ruang Stig Cooking? Buruan ke sana.


Aku tercengang untuk kedua kalinya. Sejak kapan gantinya? Mengapa tidak ada pengumuman? Sia-sia aku menunggu sejak tadi di ruang aula bukan?

__ADS_1


Dengan buru-buru aku bangun dan segera menuju ruang Stig Cooking yang berada cukup jauh dari aula. Istilahnya seperti ujung ketemu ujung. Aku harus lari agar sampai di sana dengan tepat. Ah, kenapa aku tidak tahu apa-apa, sih? Jadinya kan begini, aku harus berlari. Pesan Kak Lesham hanya ku baca, aku tak ingin membalasnya sama sekali. Nanti yang ada dia malah mengejekku. Entah mengapa aku sudah menyimpulkan itu dulu. Padahal aku juga tak tahu realitanya seperti apa. Tapi ya sudahlah. Terima kasih Kak Lesham.


Sesampainya di ruang Stig Cooking yang terlihat sepi dan tenang di luarnya, namun di dalamnya tidak. Aku mengembuskan napasku untuk menenangkan diriku sendiri. Kemudian aku mengelap keringatku yang bercucuran dikeningku. Ketika aku baru melangkahkan satu kakiku, aku langsung disambut dengan amarah. "Bodoh! Lo nggak tahu jam, ya? Kalau main-main nggak usah daftar. Menuhin daftar benalu aja."


__ADS_2