
Yang berbicara denganku sebelum masuk kelas tadi Jastin bukan, sih?
Ya, ampun!
Serius sekali sampai aku merinding. Padahal sudah jelas jika dulu aku berpacaran dengan Kak Vante juga tanpa perasaan. Ku pikir anak Stigma juga mengetahui tentang itu.
"Lo kenapa?"
"Kak Maven ngapain ke sini?" Aku cukup terkejut mendapati Kak Maven yang sedang berdiri di sampingku. Padahal ini belum waktunya pulang. Masih ada sekitar tiga jam lagi baru waktunya pulang. Kak Maven juga datang sambil menggendong tasnya. Kemungkinan dia baru saja dari kampus.
Kak Maven mendekat padaku, lalu membisikkan sesuatu. "Gue mau ngajak lo bolos," jawabnya.
Sontak aku refleks memukul lengan tangannya. Aneh-aneh saja. Aku mana mau diajak begitu. Enak di Kak Maven-nya nggak bakal kena hukuman. Sedangkan aku? Aku masih anak sekolahan. Pasti aku akan mendapat hukuman. Kalau niatnya datang hanya untuk menghampiriku begini lebih baik tidak usah dijemput segala.
"Bang Jin pulang lho. Yakin nggak mau ketemu?"
"Nggak, makasih."
Untuk apa juga aku menemui Kak Jin. Tidak ada urusannya lagi denganku. Kehidupannya yang sekarang sudah lepas dariku. Sudah lebih baik daripada yang dulu. Aku juga tidak memiliki urusan dengannya. Hubungan pun sudah tidak ada sepertinya. Tapi..., aku tiba-tiba teringat dengan kemeja yang Kak Jin berikan padaku dulu. Kemeja kesayangannya. Nyatanya, aku belum sepenuhnya lepas darinya.
Barang berharganya masih ada padaku. Bahkan gelang jam couple yang ku berikan pada Kak Jin masih ku simpan dengan baik di laci meja belajarku. Enggan ku pakai ke sekolah. Takutnya nanti rusak, lecet, atau bahkan bisa sampai hilang. Aku tidak mau hal itu terjadi. Sungguh berlebihan sekali diriku ini. Padahal harga gelang jamnya pun juga tidak seberapa.
"Seriusan? Ah, masa sih nggak mau." Kak Maven masih setia menggodaku. Aku jadi semakin ragu.
"Jadi alasan Kak Maven kesini mau ngajakin gue bolos cuma buat ketemu sama Kak Jin?"
Kak Maven menggeleng. "Suudzon banget sama gue."
__ADS_1
"Ya, terus?"
"Gue mau ngajakin lo ke rumahnya Bang Jin besok Minggu. Mumpung weekend juga," ujarnya sambil tersenyum padaku. Aku tahu senyumnya itu adalah senyum mengejek. Dia tahu sekali jika tawarannya barusan sulit untuk ku tolak.
Ke rumah Kak Jin? Itu masalahnya. Jika aku kesana itu artinya aku juga akan bertemu dengan Jastin. Aku masih enggan bertemu dengannya lagi. Untungnya tadi setelah berbicara serius padaku dia langsung bolos. Aku juga tidak tahu kemana dia pergi, tapi aku bisa bernapas lega karena aku tidak bertatap muka dengannya.
Selain dengan Kak Jin dan Jastin, mungkin aku juga akan bertemu dengan anak Stigma yang lain. Itu sungguh mungkin terjadi. Apalagi hari Minggu. Semua orang libur di hari itu. Aku memang sangat menantikan waktu untuk bertemu dengan Kak Vante di taman Palazon. Tapi aku juga cukup gugup jika harus bertemu dengan Kak Vante dahulu di rumah Kak Jin. Belum nanti ada Kak Lesham juga.
Aku takut perasaanku pada Kak Lesham sulit menghilang. Melihat senyumnya saja sudah seperti menyihir. Apa yang harus ku lakukan nanti jika bertemu dengannya? Aku akan mati kutu beneran jika nekat datang kesana. Selain Kak Lesham, pasti Kak Syden juga ada. Aku trauma melihatnya. Sejak insiden pertengkaran dulu itu, aku takut terjadi lagi.
Sudah ku putuskan untuk menjauh dari Kak Lesham dan Kak Syden. Apa jadinya jika nanti aku bertemu dengan dua orang itu sekaligus?
Kak Nehan juga mungkin ikut. Itu namanya aku nekat masuk ke lubang singa sendirian.
"Nggak Kak, nggak bisa. Gue titip salam aja," tolakku. Setelah ku pikir-pikir memang aku akan tertekan jika datang ke rumah Kak Jin. Jika aku masih bisa menghindar lebih baik aku menghindar saja daripada harus bertemu dengan mereka.
"Nggak asyik mainnya titip doang."
"Huuu nggak asyik, ah!"
"Lebih nggak asyik kalau gue ketemu sama mereka semua. Bermasalah nanti. Lo tahu itu kan, Kak?" Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Takut bila ada yang menguping.
"I know."
Setelah ku yakinkan jika tidak ada yang memperhatikan kami, akhirnya aku kembali menatap Kak Maven. "Mm, apa Kak Syden sama Kak Lesham udah baikan?"
"Udah, sih, udah. Cuma...," jawaban Kak Maven menggantung. Dia tampak menyembunyikan sesuatu. Lantas dia tersenyum kembali. Aku dapat melihatnya bahwa senyum yang dia tunjukan itu bukan lah senyum asli. Lebih seperti senyum penutup sesuatu. Mungkin dia menyembunyikan sesuatu tentang Kak Syden dan Kak Lesham.
__ADS_1
Kak Maven menepuk bahuku pelan dengan menyengir. "Mereka baik. Udah, sih. Nggak usah bahas mereka. Mending bahas kelanjutan hubungan kita aja gimana?" tanyanya.
"Hubungan apaan, sih. Eh, serius deh Kak. Gue masih penasaran sama mereka. Lo nggak benar-benar jujur kan?"
"Tuh, kan. Suudzon lagi. Kurang apa gue ini sampai lo gituin terus, Nad?"
Aku menatapnya jijik. "Kak, ini sekolah loh. Bisa jaga image sedikit, kan." Kemudian dia tersenyum lagi. Aku tidak tahu kenapa dia jadi lebih sering tersenyum. Padahal aku tidak mengharapkan hal itu terjadi. Hanya saja, kini aku kembali memikirkan Stigma. Memikirkan Stigma saja sudah membuatku kesusahan meneguk ludah, apalagi jika bertemu dengan mereka. Tak bisa dibayangkan.
"Jadi hubungan kita gimana? Katanya lo pacaran sama Jastin. Beneran nggak, sih?" Kak Maven mengalihkan topik yang berhasil membuatku melolotkan mataku. Sebenarnya sudah berapa orang sih yang mengetahui tentang itu sebelum aku dan Jastin benar-benar sepakat. Ini antara Kak Vante yang mulutnya tipis sama Jastin yang suka berkoar-koar.
"Kakak kata siapa?"
"Cieee kepo."
"Kalau nggak mau jawab gue juga nggak mau jawab. Adil, kan?"
Dia mendengus. "Iya, Sayangku cintaku dijawab kok. Sebenarnya nggak ada yang cerita soal itu, sih. Cuma kemarin Vante nanya itu ke Jastin. Dikiranya lewat pribadi, eh nggak tahunya malah ke grup. Mati sudahlah riwayat Jastin habis itu kena pertanyaan berbondong dari yang lain," jelasnya.
"Terus Jastin jawab gimana?"
"Dia mah ****. Masa dijawab iya pacar gue, kenapa? Kalah start sama yang muda? habis itu dia keluar dari grup. ****** lah dia langsung didatengin rumahnya sama si Lesham malam itu juga."
Kak Lesham?
"A-apa tadi? Kak Lesham nyamperin Jastin? Ngapain?" Aku langsung membondong pertanyaan pada Kak Maven saking penasarannya. Gimana nggak? Ini Kak Lesham lho. Yang notabene-nya itu sudah melupakanku dari lama. Bukan juga, sih. Lebih tepatnya aku yang menganggapnya sudah melupakanku.
"Ya baku hantam lah. Ya kali main di kamar," balas Kak Maven jengkel.
__ADS_1
Aku mengernyit. Jastin keadaannya masih baik-baik aja tadi. Tidak ada lebam sama sekali.
"Tapi Jastin nggak kenapa-kenapa tuh," tuturku. Dia bahkan masih baik-baik saja. Saking baiknya sampai tidak waras. Lalu Kak Maven tertawa. "Luarnya sih masih aman. Lo nggak tahu dalamnya udah jadi kayak apa. Mungkin udah nggak perjaka lagi."