Bena

Bena
BAB 6E


__ADS_3

Ku rasa tidak semua apa yang aku pikirkan akan selalu benar. Lagipula aku ini juga bukan seorang peramal. Tentu saja yang ada dibayanganku, pikiranku, semuanya belum tentu benar. Walaupun terkadang ada saja yang tanpa ku duga tibanya selalu benar. Namun, aku sekarang telah malas. Aku malas jika harus bertebak-tebakan dengan alur takdir. Aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkan apapun kecuali itu memang sangat penting untuk dipikir. Lagian, tidak ada gunanya juga aku bermain tebakan dengan alur. Jika memang hari itu aku sedang tidak mendapat keberuntungan, akhirnya aku juga gagal.


Mungkin kalian berpikiran yang sama denganku mengenai Kak Savalas. Yang ku pikir dia akan kesal dan menceramahiku lagi. Dan ujungnya aku akan banyak mendapat larangan baru. Namun, semuanya hanya bayangkan belaka. Tidak ada yang benar. Semua yang aku pikirkan seratus persen berkebalikan dengan realitanya. Ekspetasiku memang terlalu tinggi hingga akhirnya aku berujung jatuh.


Entah mengapa bila tadinya aku mendapat banyak larangan aku lebih suka. Tapi ternyata, semuanya tidak sesuai dengan bayangan. Dengan tiba-tiba Kak Savalas malah menyuruhku untuk menerima Kak Vante sebagai pacarku dan menjalaninya sesuai dengan yang semestinya. Bahkan dia sama sekali tidak marah. Sikapnya biasa saja.


Bukankah itu aneh?


Aku dibiarkan berpacaran dengan Kak Vante yang notabene-nya aku sama sekali tak mengenal dirinya dari dalam. Padahal jika aku hanya berteman dengan Kak Jin yang memang sudah sangat baik dan ramah saja tidak boleh. Bukannya Kak Jin itu jauh lebih mendingan daripada Kak Vante, ya?


Aku bahkan tak tahu apa-apa mengenai Kak Vante kecuali sifatnya yang menyebalkan itu. Selain itu dia sering sekali melakukan pelanggaran di sekolah sampai berujung dengan hukuman yang beraneka ragam. Kak Vante yang dari luarnya terlihat bad boy. Itulah yang aku tahu. Tapi aku belum tahu Kak Vante dari dalamnya.


Masih dalam keadaan yang sama seperti di luar ataukah akan lebih baik?


"Kakak serius nyuruh gue nerima pengakuan Kak Vante yang seenak jidat itu?" tanyaku masih belum percaya. Lagipula aku juga belum pernah berpacaran sebelumnya. Apa jadinya jika aku berpacaran dengan Kak Vante? Memiliki rasa tertarik saja tidak. Yang ada malah rasa jengkel.


"Memang kenapa?"


Ya, Tuhan! Aku kan yang bertanya tadinya. Seharusnya dia menjawabku dengan pernyataan. Bukannya malah balik bertanya kepadaku. Semuanya akan jadi rumit rasanya jika Kak Savalas tidak langsung menjawabnya. "Aneh aja gitu, Kak. Biasanya Kakak 'kan marah. Nggak suka. Lah ini kenapa gue malah didukung coba?"


Kak Savalas malah terkekeh.


Memang ada yang lucu, ya?


Ku rasa tidak ada.


Dasar! Kak Savalas selera humornya sangat rendah. Apa-apa langsung tertawa. Padahal aku tidak sedang melawak. Diapun juga begitu. Selalu saja membuatku mengangkat alis karena keheranan. Sebenarnya ada apa dengannya? Aku yang sebagai adiknya saja seperti tidak tahu apa-apa.


"Hidup itu sesekali butuh pengalaman," ucapnya santai seolah dia sedang di pantai. Aku yang mendengar perkataannya langsung mengangkat satu alisku ke atas. Aku sama sekali tidak paham. "Salah satunya pengalaman pacaran," katanya berlanjut.

__ADS_1


"Kak. Ini serius? Gue nggak harus nolak begitu?"


"Kejutan takdir nggak usah ditolak. Nggak baik nolak rezeki. Jalanin aja apa yang udah ada. Kalau akhirnya masih sama, ya udah selesai."


Mudah sekali ya mengucapkan kata selesai?


Menjalankannya yang sulit.


Tapi, benar juga apa yang Kak Savalas bilang. Aku memang belum pernah berpacaran. Karena itu, setidaknya aku harus memiliki pengalaman dalam hal berpacaran. Ya, walaupun rasanya tidak penting. Namun, setidaknya aku pernah melakukannya, bukan?


Apa tidak apa-apa jika aku mencobanya?


Lagipula Mama dan Kak Savalas sudah menyetujuinya.


Soal Papa..., aku pikir itu urusan belakang. Ini kan hanya sekedar pacaran. Tidak begitu penting. Asal tidak merugikan diriku sendiri, ku rasa tidak masalah. Tapi, masalahnya itu hanya ada satu. Perasaanku ke Kak Vante sama sekali tidak ada. Masa iya aku menjalani hubungan tanpa ada rasa.


Lalu bagaimana dengan nasib perjuanganku kepada Kak Nehan?


"Lagipula percuma nolak. Vante orangnya suka maksa."


"Kakak kenal?"


"Stigma siapa yang nggak kenal?"


Oh, iya. Benar juga. Tidak ada yang tidak tahu siapa itu anak Stigma. Mereka cukup popular, bukan?


Aku juga bodoh.


Mengapa aku harus bertanya jika secara garis besar saja semuanya aku sudah mendapatkan jawaban dengan benar.

__ADS_1


"Lagian, Sha. Jadi cewek itu jangan mau mengejar. Lo harus jadi yang dikejar. Biar lo nggak disia-siain begitu aja."


Secara garis besar aku menyimpulkan jika Kak Savalas melarangku untuk mengejar cintaku kepada Kak Nehan. Apa iya aku harus berusaha melupakan Kak Nehan seperti apa yang pernah Zelo katakan padaku? Kak Nehan juga sudah kelas duabelas. Sebentar lagi dia sudah akan jadi anak kuliahan. Yang otomatis akan semakin banyak cewek-cewek yang mengenalnya. Rumornya juga dia balikan dengan mantannya, Kak Inggrid. Kak Savalas juga tak secara terang-terangan ikut melarangku. Aku rasa aku sudah tak punya kesempatan lagi.


"Kakak nggak nge-prank gue 'kan?" Aku membulatkan mataku selebar mungkin. Telingaku juga sudah aku buka lebar-lebar. "Gue nggak suka cari sensasi, ya!" tuturnya, jengkel.


"Ya, habis, aneh," cecarku.


Kak Savalas berdehem. "Kalau gue bilang 'ya udah jalanin' itu artinya gue nggak keberatan sama dia."


"Tapi gue yang keberata---" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba ada seseorang yang menyela ucapanku. Aku dan Kak Savalas dengan refleks menoleh pada orang itu.


"Eh, sejak kapan kalian saling kenal?" tanya orang itu. Lebih tepatnya Kak Lesham yang sedang berdiri di depan Supermarket sambil ditemani tiga orang. Yang satu Kak Syden, Kak Jin, dan yang satunya Kak Nehan.


"Sejak bayi lah," jawabku. Tumben 'kan aku seberani ini. Mungkin karena yang bertanya Kak Lesham. Jadi aku merasa seakan dia hanya teman sepantaraku saja. "Kakak-adik, begitu?" kini bergantian, Kak Jin yang bertanya. Akupun mengangguk.


Sementara Kak Savalas masih diam.


Aneh.


Dia ini kenapa?


"Benar-benar mirip," Kak Nehan ikut menimbrung. Sumpah! Suaranya sudah lama tak ku dengar. Sekalinya aku mendengar, hatiku langsung terasa adem. Nadisha yang norak memang.


Kak Lesham kembali bersuara. "Kok gue nggak sadar, ya?"


Kak Lesham menatapku dan Kak Savalas lekat-lekat.


Sementara Kak Syden yang sejak tadi masih diam langsung maju selangkah ke depan Kak Savalas. Kak Syden menepuk bahu Kak Savalas. Seketika kedua mata cowok itu saling bertatapan dengan sendirinya. Sebelum berbicara, Kak Syden menyunggingkan senyum tak ikhlasnya.

__ADS_1


"Jadi ini alasan lo keluar? Pengecut!"


__ADS_2