
Keanehan keenam;
"Oh," Kak Savalas masih terus berjalan. "Ya, udah, kalau Mama yang nyuruh. Tapi tetap. Jangan dekat-dekat sama dia," lanjutnya dengan nada penuh penekanan.
"Memang kenapa, sih? Kak Jin baik kok. Dia ramah. Gue lihat dia orangnya fine-fine aja. Jadi, nggak apa-apa kan kalau gue temenan sama dia?"
Kak Savalas berhenti berjalan. Dia menghela napasnya panjang. Aku yang semula ada di sampingnya pun ikut berhenti. Seketika Kak Savalas dengan perlahan menatapku jengah. Seolah dia sudah lelah untuk mengatakan sesuatu kepadaku. "Waktu itu gue 'kan udah pernah bilang sama lo. Jangan sekali-kali mau kalau diajak kenalan sama cowok. Apalagi temenan. Lo lupa apa pura-pura lupa, sih, Sha? Mau dia baik atau nggak, Kakak nggak peduli. Sekali bilang nggak ya nggak. Lo bisa nggak sih nurutin gue sekali aja? Kakak itu sayang sama lo, Sha. Kakak nggak mau lo jadi korban kayak Panditha---eh. Maksud Kakak..., eng---"
Sebentar.
Aku ingat. Aku pernah mendengar nama Panditha dari mulut Kak Vante. Iya. Aku ingat! Lalu mengapa Kak Savalas juga menyebut nama itu?
Sebenarnya dia siapa?
Aku jadi penasaran.
"Panditha? Siapa dia, Kak? Korban apa yang Kakak maksud?" tanyaku lantang. Tentu saja aku cukup terkejut dengan nama itu. Nama itu rasanya tak pernah ku dengar di STANDAR. Aku juga tak merasa jika dia itu familiar.
Kak Savalas terlihat was-was. "Apa, sih? Kakak juga nggak tahu dia siapa. Pokoknya, dia itu pernah masuk TV gara-gara dilecehin sama teman cowoknya. Kakak nggak mau lo begitu juga. Jadi, tolong ngertiin Kakak, Sha."
Keanehan ketujuh;
"Kak Vante ngaku-ngaku kalau gue ini pacarnya, di depan Mama pula," ucapku sambil menunduk. Aku malu. Tapi aku juga sedikit kesal karena ujungnya aku mengingat kejadian saat Kak Vante mengakuiku sebagai pacarnya. Dia memang seenak jidatnya saja jika berbicara. Tak pernah memikirkan orang lain.
Kak Savalas tak menoleh kepadaku sedikit pun. Tapi tidak ada tanda-tanda jika dia akan marah. Aku rasa dia tidak marah. Mungkin, hanya jengkel saja.
"Ya, udah. Jalanin aja," katanya semudah itu.
"Lagipula percuma nolak. Vante orangnya suka maksa."
"Kakak kenal?"
"Stigma siapa yang nggak kenal?"
__ADS_1
Keanehan kedelapan;
"Eh, sejak kapan kalian saling kenal?" tanya orang itu. Lebih tepatnya Kak Lesham yang sedang berdiri di depan Supermarket sambil ditemani tiga orang. Yang satu Kak Syden, Kak Jin, dan yang satunya Kak Nehan.
"Sejak bayi lah," jawabku. Tumben 'kan aku seberani ini. Mungkin karena yang bertanya Kak Lesham. Jadi aku merasa seakan dia hanya teman sepantaraku saja. "Kakak-adik, begitu?" kini bergantian, Kak Jin yang bertanya. Akupun mengangguk.
Sementara Kak Savalas masih diam.
Aneh.
Dia ini kenapa?
"Benar-benar mirip," Kak Nehan ikut menimbrung. Sumpah! Suaranya sudah lama tak ku dengar. Sekalinya aku mendengar, hatiku langsung terasa adem. Nadisha yang norak memang.
Kak Lesham kembali bersuara. "Kok gue nggak sadar, ya?"
Kak Lesham menatapku dan Kak Savalas lekat-lekat.
Sementara Kak Syden yang sejak tadi masih diam langsung maju selangkah ke depan Kak Savalas. Kak Syden menepuk bahu Kak Savalas. Seketika kedua mata cowok itu saling bertatapan dengan sendirinya. Sebelum berbicara, Kak Syden menyunggingkan senyum tak ikhlasnya.
Keanehan kesembilan;
"Jadi gimana respon anak-anak setelah tahu alasan gue? Si Syden pasti marah banget ya sama gue?" tanya Kak Savalas. Memang alasan apa? Ehm, apa ada hubungannya dengan kejadian di Supermarket berminggu-minggu yang lalu?
Ketika Syden memaki Kak Savalas.
Katanya hanya latihan drama.
Lalu kenapa diungkit?
Kak Vante hanya tertawa kecil. Seakan semua yang dibicarakan tidak begitu penting baginya. "Tebakan lo udah pasti bener, Bang. Gila, sih. Gue juga kaget pas tahu alasan lo. Tapi, gue rasa ketakutan lo nggak berguna deh, Bang. Setelah insiden Panditha dulu, kita-kita udah nggak seegois yang lo pikir. Semuanya berubah setelah insiden itu." Kata Kak vante begitu saja. Tunggu, sampai titik ini aku belum paham.
"Gue bukannya nggak percaya lagi sama kalian. Gue cuma nggak mau Nadisha kenapa-napa. Dia satu-satunya adik gue. Seharusnya kalian nggak melakukan hal ini lagi, kan? Katanya udah berubah. Tapi permainan ini masih dilakukan. Gimana, sih?" Kak Savalas meminta penjelasan. Semakin rumit saja setelah namaku masuk dalam pembicaraan mereka. Seakan aku ini memang benar-benar dalam bahaya. Astaga, aku semakin penasaran. Sebenarnya ada apa?
__ADS_1
"Ini bukan permainan, Bang. Yang kali ini serius."
Kak Savalas terkekeh. "Bukannya dulu juga begini? Nanti ujungnya juga buruk, kan? Gue akan tetap berada di zona ini sampai kalian berhenti melakukan ini." Kak Vante menghela napasnya. Ia menggaruk rambutnya yang ku pikir tidak gatal. "Percuma Abang ada di zona ini. Nggak ada gunanya. Bentar lagi Abang ujian. Habis itu lulus. Nggak akan ada lagi yang jagain Nadisha di sekolah. Kecuali kalau Abang masuk lagi dan nyuruh kita-kita untuk jagain dia," saran Kak Vante.
"Lo harusnya udah tahu gimana prinsip gue, Van. Gue nggak akan masuk lagi kalau gue udah keluar." Kak Savalas mengembuskan napasnya. Sebenarnya ini pembicaraan apa, sih? Kenapa rumit sekali?
"Selow kali, Bang. Gue yang akan jagain Nadisha. Secara kan gue pacarnya," ujar Kak Vante dengan pede. Aku rasanya ingin menimpuk manusia itu dengan apapun yang bisa digunakan untuk menghantam orang. Ucapannya bebas sekali. Apa tidak malu melakukan hal itu? Aku saja yang mendengarnya terganggu. "Meskipun lo pacarnya sekarang, tapi nggak menutup kemungkinan jika sebulan lagi kalian bakal jadi mantan. Sampai sekarang gue masih diem aja kalian ngedeketin Nadisha. Tapi kalau kalian melangkah lebih maju, gue juga akan bertindak. Sampaikan salam gue untuk yang lain," ucap Kak Savalas mengakhiri.
Mantan?
Kenapa bisa Kak Savalas menyimpulkan hal itu?
Keanehan kesepuluh;
"Lo putus sama Vante?" Kak Savalas menahanku untuk pergi. Aku menoleh kepadanya lagi ketika aku sudah berjalan selangkah darinya. "Udah tahu ngapain nanya," balasku datar.
Kak Savalas memegang tanganku. "Maafin gue ya, Sha."
"Maaf untuk apa?"
"Karena gue udah nyuruh lo pacaran sama Vante. Padahal gue udah tahu kalau hubungan kalian nggak bakal berlangsung lama," jelasnya begitu saja. "Kenapa Kakak bisa tahu? Apa hubungan Kakak sama Kak Vante? Apa Nadisha nggak punya hak untuk tahu?" tanyaku berbondong.
Kak Savalas hanya tersenyum kepadaku.
"Cuma teman," jawabnya.
"Nggak percaya."
"Terserah."
Itu semua adalah keanehan yang bisa membantu isi pesan dari Kak Vante tadi menjadi benar.
Kak Savalas, anggota Stigma yang telah keluar.
__ADS_1
_____
Sampai disini ada yg penasaran sama kisahnya Panditha gak sih?