Bena

Bena
BAB 7A


__ADS_3

"Nadisha! Bangun, Nak!" Mama tiba-tiba masuk ke kamarku dan langsung menggoyang-goyangkan tubuhku. Ku kira ini masih pagi. Jarum jam di kamarku saja baru menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Itu artinya ini masih sangat pagi. Aku juga sudah sholat subuh tadi, tigapuluh menit sebelumnya. Semalam Kak Savalas juga tidak mengajakku untuk berangkat pagi ke rumah Bibi.


Lalu sebenarnya ada apa?


"Masih pagi banget, Ma. Aku masih ngantuk," keluhku masih dalam keadaan menutup mata. Seraya aku kembali menaikkan selimut yang tadi sempat ditarik oleh Mama. "Bangun, Nadisha! Itu di luar ada tamu. Nyariin kamu," kata Mama mengejutkan.


Mataku seketika langsung terbuka dengan lebar.


Siapa yang bertamu sepagi ini?


Mencariku pula.


Aku tidak sedang dalam masalah, bukan?


Akupun mengucek mataku segera. "Siapa, Ma?" tanyaku. Lantas Mama duduk di sampingku. "Udah. Nggak usah banyak nanya. Katanya dia udah janjian sama kamu buat jogging. Buruan samperin, Nak," suruh Mama menepuk-nepuk tubuhku.


Jogging?


Janjian?


Siapa?


Tanpa banyak bertanya lagi, akupun bangkit segera. Ketika aku hendak melangkah keluar kamar untuk menemui tamu yang katanya mencariku, si Mama malah menarik piyamaku. Akupun berhenti melangkah dan membalikkan tubuhku.


"Apa lagi, Ma?"


"Ganti baju dulu baru keluar. Itu muka dicuci dulu. Jangan lupa sikat gigi biar nggak bau mulut," ucap Mama, lebih tepatnya menyuruhku untuk bersiap-siap yang lebih baik.


Aku menyengir segera sambil memposisikan tangan seperti ketika aku berhormat pada bendera merah putih. "Siap, Bos!"


"Ya, udah. Mama pergi dulu kalau gitu."


"Yes, Bos!"


"Siapa sih tamunya? Bikin repot aja. Nggak tahu kali, ya, waktu bertamu yang tepat? Heran," gerutuku sambil membuka lemari untuk mencari baju yang tepat. Sesekali aku menguap. Jika wajahku belum terkena air, aku masih mengantuk rasanya.


Sekitar lima menit berlalu, aku akhirnya selesai juga. Cukup lama memang jika hanya sekadar berganti baju dan cuci muka. Tapi bagaimana lagi, namanya juga sedang mengantuk. Wajar saja.

__ADS_1


Setelah dari kamar mandi, aku langsung bergegas menghampiri tamu itu. Ku langkahkan kakiku dengan lunglai.


"Tumben udah bangun, rapi pula. Mau ngapain lo?" tanya Kak Savalas yang tiba-tiba sudah ada di belakangku. Aku pun membalikkan badanku sambil menghela napas jengah. "Ya, mana gue tahu. Kata Mama ada tamu yang nyariin gue," jawabku.


Kak Savalas mengernyit. "Lo punya teman emang nggak ada yang benar, ya? Masa jam segini bertamu. Lain kali kasih tahu yang bener," katanya lantas pergi meninggalkanku.


Seketika aku langsung berjalan lagi untuk menemui tamu itu.


Sesampainya di ruang tamu, aku langsung menghampirinya. Ku lihat, dia sedang memakai jaket. Dan dia sedang menyengir kepadaku. Jangan tanya aku tahu dia atau tidak. Karena tentu saja aku mengetahuinya. Dia yang kemarin sangat menyebalkan datang lagi. Di waktu yang tidak tepat pula. Dulu ibunya mengidam apa, sih? Kok anaknya seperti ini. Tidak tahu waktu.


"Nggak cantik, tapi dandannya lama," ucapnya sambil menyambutku. Dia masih menatapku lekat-lekat.


Aku menghampirinya dengan malas.


"Hak gue, kan?" tanyaku.


"Ya, memang hak lo. Tapi gue ini kewajiban lo," katanya sambil menyengir kuda. Tidak ada yang lucu. Aku lantas memutar bola mataku jengah.


"Jangan malah duduk. Ayo bangun!"


Dia seketika bangun dari duduknya dan segera menarik lengan tanganku. Aku tak sanggup menolak. Kekuatannya jauh lebih besar dariku. "Kak! Lo nggak paham caranya hidup, ya?" tanyaku lagi.


"Kalau nggak paham, gue nggak bakal hidup sampai sekarang."


"Astagaaa, maksud gue bukan ituuuu."


"Ya, apa, pacar? Ngomong yang jelas, dong."


"Pacar, pacar! Gue bukan pacar lo, ya, Kak! Jangan ngaku-ngaku, deh! Malu-maluin aja. Lain kali kalau mau nge-prank jangan ke gue. Gue itu males ngeladeninnya, Kak," jawabku agak ketus. Sementara Kak Vante malah berhenti melangkah, ia langsung memposisikanku di depannya. Kedua tangannya memegang bahuku. Tanpa sengaja, mata kami saling berpandangan. "Kapan gue pernah bilang kalau gue nggak serius? Apa ada yang bilang? Siapa? Jujur sama gue."


Aku menggeleng.


Memang tidak ada, kan?


Lantas Kak Vante melepas kedua tangannya yang semula memegang bahuku. Ia seraya berjongkok di depanku. Tangan kanannya memegang tangan kananku pula. Sungguh. Kelakuannya membuatku malu saja. Beruntung keadaan di sekitar masih sepi. Jadi aku tidak terlalu malu. Setidaknya rasa malu-ku berkurang.


"Gue memang suka main-main, tapi untuk kali ini gue serius. Kasih gue satu kesempatan untuk membuktikan kalau gue ini serius sama lo, Nad."

__ADS_1


____


Pada akhirnya aku menurut kepada Mama dan Kak Vante sambil menyimpan rasa jengkel yang mendalam di hatiku. Antara Mama yang tetap membiarkan aku pergi. Bahkan Mama yang semangat supaya aku cepat keluar rumah. Lalu Kak Vante yang datang pagi-pagi seperti ingin membangunkan orang untuk sahur saja.


Aku berjalan. "Kakak kalau mau lari, lari aja. Gue mau jalan," ujarku membuka suara.


Kak Vante hanya menoleh sambil terkekeh. Dia menggeleng pelan sesaat. "Jalan bareng aja kalau gitu," katanya.


"Jalan? Ke mana?" Aku bingung.


"Ke pelaminan dong."


Seketika aku langsung menjitak keningnya kasar. Karena saking gergetnya aku sampai refleks untuk menjitak keningnya yang terbilang cukup tinggi itu. Mengeluarkan tenaga saja.


"Yeeu, gue beneran tahu." Kak Vante masih sempat menyengir. Aku heran. Dia terbuat dari apa sih? Kenapa aneh sekali?


"Gue nggak. Amit-amit, deh!" Aku mengelus dada sejenak lantas pergi meninggalkan Kak Vante untuk duduk di kursi yang ada di ujung. Kak Vante masih mengikutiku. "Pacar! Tungguin dong!" teriaknya tak tahu malu.


Sebenarnya aku mimpi apa, sih? Kenapa aku bisa bertemu dengan orang seperti dia. Sudah aneh. Tukang memaksa lagi. Suka berlaku seenaknya. Entah kepadaku atau kepada yang lain. Tapi satu terkecuali. Kak Vante terlihat sangat baik ketika berhadapan dengan Mama. Bermuka dua.


"Habis ini sarapan dulu, yuk!" ajak Kak Vante.


"Gue sarapan di rumah aja, Kak. Gue nggak biasa sarapan di luar."


"Makanya dicoba dulu, ya, Pacar?" Tuh, kan! Kak Vante suka memaksa. Belum lagi jika tidak keturutan. Pasti dia akan melakukan apapun yang ujungnya akan membuatku malu. Sekarang tepat. Di taman. Ada begitu banyak orang. Cocok sekali jika dia akan membuatku malu.


Aku menatapnya jengah. "Kak, please...."


"Oke! Nanti pulangnya gue anter kok. Lanjut jalan yuk? Atau mau gue gendong? Gue pesenin taksi? Atau gue panggilin odong-odong?" tanyanya berbondong.


Sudah ku duga. Tidak di sekolah atau di manapun Kak Vante akan selalu membuatku jengah sendiri dengan perkataaannya itu.


"Gendong aja ya lebih enak," ujarnya lagi.


"Eh, nggak!" tolakku mentah-mentah. "Gue masih bisa jalan kok," tambahku.


"Ke pelaminan sekalian yuk?"

__ADS_1


Bunuh orang dosa nggak, sih sebenarnya? Tanganku sudah gemas sendiri.


__ADS_2