Bena

Bena
BAB 17C


__ADS_3

A/N: Ini itu flashback ke part 16D ya


______


Jastin mengembuskan napasnya perlahan. Lantas menoleh kepadaku sambil menggaruk tengkuknya. Tatapannya mulai serius denganku. "Mereka semua ngincer lo," katanya.


"Ngincer apaan, sih?"


"Mereka semua itu ngedeketin lo cuma karena lo mirip sama Panditha."


"Iya, gue tahu."


"Terus ikhlas gitu dijadiin bahan permainan?"


"Permainan?"


"Nggak sadar, ya?" Jastin memastikan.


Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku mengerutkan kening seraya mengalihkan pandangan ke arah lain. Permainan? Aku bahkan tidak sampai berpikir ke sana. Rasanya aneh saja jika tiba-tiba ada kata permainan dalam kehidupanku yang hampir dipenuhi dengan anak Stigma. Apalagi aku pernah berpacaran dengan salah satunya. Walaupun hubunganku tidak bertahan lama waktu itu. Wajar juga karena aku menjalin hubungan itu dengan pasrah tanpa ada perasaan ikhlas didalamnya.


Namun, jika dipikir pelan-pelan mungkin perkataan Jastin ada benarnya. Ya, mana mungkin mereka semua berusaha dekat denganku jika tidak ada maksud tertentu. Setiap ada asap pasti ada apinya. Nggak mungkin tiba-tiba datang asap tanpa ada penyebabnya. Oh, mungkin kejadian yang selama ini ku alami memang bukan murni karena takdir. Bisa saja semuanya sudah diatur sesuai permainan yang mereka tentukan.


Lagipula tanpa adanya permainan itu mana ada orang yang tiba-tiba datang di hidupmu, sebelum berkenalan atau hanya sekadar menyapa, bahkan sudah mengetahui identitasmu. Mulai dari nama sampai ke nama panjang, kelas berapa, sikapnya bagaimana, dan yang tak kalah penting adalah mengetahui nomor telepon dan alamat rumah dengan sendirinya. Beberapa dari anak Stigma belum tahu alamat rumahku memang, tapi beberapanya lagi sudah tahu. Bahkan sebelum aku memberitahu.


Mungkin atau nggak, namun aku mulai merasakan keganjalan yang ada pada anak Stigma. Semua ini murni sudah diatur. Mana mungkin semua ini terjadi tanpa diatur bila mana hal-hal yang aneh saja mereka tahu. Seperti dugaanku dulu saat pertama kali masuk STANDAR, seakan informasi tentangku sudah dicari tahu sebelum aku masuk STANDAR dan sengaja disebarluaskan untuk anak-anak Stigma. Itulah mengapa banyak yang langsung mengenalku tanpa perlu kenalan.


Nyatanya Jastin seratus persen benar. Aku baru menyadarinya sekarang. Setelah satu kata 'permainan' itu muncul dari bibirnya, aku mulai sadar tentang semuanya yang terlihat aneh bagiku. Permainan. Semua ini permainan. Pertanyaanku sekarang; apa tujuan permainan ini? Jika untuk memacariku, bukankah Kak Vante sudah menjadi pemenangnya karena sudah pernah menjadi pacarku? Lantas, mengapa sekarang anak-anak Stigma masih setia mendekatiku jika sudah ada pemenangnya?


Ah! Ku rasa tujuannya bukan untuk menjadi pacarku. Pasti ada tujuan terselubung. Buktinya Kak Vante sudah menjadi pemenang tetapi permainan ini masih dilanjutkan.


"Gue boleh tahu tujuannya?" tanyaku memecah keheningan beberapa saat yang lalu dengan menatap kembali bola mata Jastin. Ia terlihat kaget awalnya, namun tak berselang lama karena kemudian dia tersenyum. Aku masih belum tahu apa arti senyumnya yang sekarang. Entah itu senyum yang ingin memberitahu jawaban atau senyum jahil yang biasa Kak Lesham lakukan untuk tidak memberi jawaban.


Jastin mengembangkan kedua pipinya. Lalu mengempeskannya lagi. Kurang kerjaan, sih. "Kenapa lo harus tahu?" tanyanya.


"Gue kepo. Manusiawi, kan? Habisnya lo sendiri yang bikin gue kepo."


"Ih, mana ada? Gue cuma memberitahu, bukan memberi kepo," bebernya. Aku menatapnya tajam. Jadi orang sukanya membuatku jengkel saja.

__ADS_1


Aku memukul lengannya pelan. "Udah terlanjur cerita. Mubazir kalau nggak diselesaian sampai ke akar-akarnya," ujarku.


"Apaan dah akar segala."


"Jawab aja kenapa, sih? Dosa lho bikin anak orang penasaran," lontarku.


"Gue nggak bisa ngasih tahu tujuannya. Di larang keras karena udah di sumpah juga. Gue masih takut masuk neraka. Jadi sori to say aja, nih, nggak bisa."


Lama-lama dia membuatku ingin makan orang saja. Oke! Sabar.


"Terus apa yang lo tahu?"


"Cara nyelesaiannya lah. Kan udah dibilang dari tadi." Dia mendecak ikut-ikutan kesal denganku. Salah dia sendiri juga dari tadi ngomongnya nggak langsung ke poinnya malah muter-muter dulu. Seandainya dia ngomong secara detail, mungkin aku tidak akan banyak bertanya lagi kepadanya.


Aku menghela napas panjang agar diriku ini semakin bersabar menghadapinya. Lalu kembali menatapnya dengan senyuman yang lebar. Mungkin jika kamu melihat senyumku yang sekarang, pasti kamu akan bilang kalau aku ini nggak pantas senyum. Bagaimana tidak? Aku tidak terbiasa tersenyum lama dan lebar. Biasanya hanya singkat, padat, dan nggak jelas. Baru kali ini aku melakukannya dengan lama dan lebar supaya Jastin tidak membuatku jengkel lagi.


"Gimana cara nyelesaiannya?


"Masih pengin tahu?" Jastin balik bertanya. Tanganku sudah mengepal sekarang. Ingin segara ku gunakan untuk menonjok dirinya. "Masih nanya lagi!" jawabku emosi.


Dia malah terkekeh melihatku emosi begini.


"Lo mancing emosi gue tahu."


"Masa, sih?"


"Jangan ngalihin topik, deh."


"Iya, iya, gitu aja ngambek."


Jika aku bisa membunuhnya sekarang, aku akan langsung membunuhnya tanpa ada sisa. Sekalian aku kuliti tubuhnya biar menghilangkan bekas bukti. Lalu dagingnya ku bawang pulang untuk dijadikan sate biar nggak ada orang yang tahu. Tulangnya aku kasihkan ke kebun binatang yang ada anjingnya. Siapa tahu saja suka. Rasanya tanganku ini sudah gemas sekali ingin merobek-robek tubuhnya.


"Ada satu cara," katanya lagi ketika aku masih terdiam meredam amarah. Aku mengangkat wajahku. "Apa?"


Jastin tidak langsung menjawab. Dia menyisir rambutnya dulu dengan sisir yang diambil dari saku celananya. Lalu mengaca di spion motor untuk melihat dirinya sendiri. Aku mengerutkan kening keheranan melihat tingkahnya. Sembari menunggunya selesai menyisir rambut, aku pun beberapa kali menarik dan mengembuskan napas agar emosiku meredam dan tidak jadi membunuh Jastin.


"Nungguin, ya?" godanya sambil menodongku dengan sisir yang dipegangnya. Tidak lupa dengan senyuman jahil itu.

__ADS_1


Aku bersedekap dada. "Kalau nggak mau bilang, ya, udah."


"Eh, iya, iya."


"Apa?"


"Dengan lo jadi pacar gue, semua permainan ini akan selesai," tegasnya.


Kali ini aku yang terkejut. Kenapa dia seyakin itu jika semua ini akan selesai? Dia bahkan tidak mau memberitahuku tentang jawabannya. Andai dia memberitahu, aku pasti akan langsung membuat keputusan. Jika begini kan aku jadi bingung harus bagaimana. Aku sama sekali nggak ngerti kira-kira tujuan dari permainan ini apa.


"Kenapa begitu?" tanyaku.


"Begini aja. Kalau sampai Vante nembak lo, itu berarti omongan gue benar. Lo ada di permainan." Jastin mengatakannya dengan yakin. "Salah satu cara biar selesai, ya, lo jadi pacar gue. Pacar pura-pura juga nggak apa. Asal semua bisa selesai secepatnya," lanjutnya.


"Harus banget jadi pacar lo?"


"Ya, itu kalau lo mau selesai. Kalau nggak mau, ya, udah."


"Lo juga ikut permainan, kan?" Aku memastikan. "Oh! Gue tahu. Lo nyuruh gue buat jadi pacar lo biar lo bisa menang. Iya, kan?"


Jastin menoleh sambil menyeriangiku. "Gue nggak seambisi itu kali. Gue emang ikut permainan. Tapi terpaksa. Gue cuma pengin nyelesaian semuanya," jawabnya.


"Masa?"


"Syden pernah berantem sama Lesham."


"Gue tahu."


"Gue nggak mau kejadian itu terulang lagi. Makanya, gue minta tolong banget sama lo. Kalau Vante sampai nembak lo, bilang ya kalau lo itu punya gue." Jastin berbicara dengan serius. Aku tidak terbiasa dengan keseriusannya seperti ini. Rasanya bukan seorang Jastin yang berbicara di depanku sekarang. Melainkan seperti orang lain.


Tapi..., semua yang Jastin bilang itu masuk akal dan nyambung. Aku juga sama sepertinya tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Apalagi sampai membuat Kak Syden diskors selama lima bulan. Itu cukup menjadi beban yang besar karena sebentar lagi sudah mulai ujian. Aku yang salah. Semua itu terjadi karena sudah direncanakan dan aku masuk dalam rencana mereka sampai membuat mereka saling tidak suka sama lain.


"Sekalian juga biar gue nggak jomblo lagi," imbuhnya tiba-tiba mulai bercanda.


Aku tersenyum. "Tergantung gimana nantinya aja. Kalau beneran Kak Vante bakal nembak gue lagi, ya, gue bakal lakuin sesuai yang lo bilang."


"Yes!" teriak Jastin kesenangan. Tadi saja ngomongnya serius minta ampun. Sekarang kelakuannya sudah berubah seratus delapan puluh derajat jadi nggak serius. Memang lebih pantas tidak serius sebenarnya daripada kayak tadi. Serius sekali sampai aku tak mengalihkan pandanganku kepadanya.

__ADS_1


"Cuma pura-pura, ya!" peringatku.


"Yah, ngeselin." Jastin memasang raut muka kecewa. Sementara aku semakin tergelak oleh tingkahnya.


__ADS_2