
Parkiran sore ini terlihat sepi. Limabelas menit yang lalu anak-anak STANDAR sudah berhamburan pulang dengan tergesa-gesa karena mendung. Berhubung banyak yang membawa motor, makanya jadi berdesak-desakan di parkiran. Mereka pikir, setiap mendung pasti akan hujan. Mereka takut kehujanan.
Padahal setiap mendung hadir, hujan tak selalu mengikutinya. Kadang mendung hanya sebatas datang untuk menghiasi langit agar tak cerah selalu. Seperti kehidupan yang kadang lancar, kadang juga mengalami kemacetan. Banyak lika-liku yang mengulum senyum dan juga memunculkan tangisan.
Aku saja masih santai-santai di depan perpustakaan sembari menunggu parkiran sepi. Banyak siswa-siswi yang berlalu lalang di depanku. Aku hanya malas saja berdesakan di parkiran. Makanya aku memilih untuk tetap di depan kelas sambil menunggu Kak Lesham yang tadi izin mau ke ruang guru sebentar.
"Nggak pulang?"
Aku tersentak dengan pertanyaan itu. Jantungku seperti berhenti seperkian detik. Dengan perlahan aku menoleh ke sumber suara. Dimana suara itu sangat ku kenali. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lupa suara itu. Bahkan aku belum memiliki niat untuk melupakan suara yang satu ini.
"Kok diem?" Dia---Kak Nehan, kembali bertanya kepadaku.
Aku cukup tertegun melihatnya. Wah! Penampilannya sudah berbeda sekarang. Rambutnya semakin rapi. Terlihat sangat dewasa. Apalagi dia memakai kemeja yang dibalut dengan dasi. Semakin ganteng. Padahal baru beberapa bulan, eh, sudah lama sih. Tapi penampilannya membuatku jadi merasa speechless.
Sayangnya, Kak Nehan sudah milik seseorang. Kak Inggrid. Sangat disayangkan. Percuma aku memujinya. Dia juga sudah menjadi milik orang lain. Namun, tetap saja aku tidak bisa biasa saja saat bertemu dengannya. Selalu saja aku gugup seperti ini. Salah tingkah. Perasaan aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi sekali bertemu langsung menjadi es batu.
Ingat! Milik orang lain. Oke? Lupakan soal perasaan itu. Jangan harap punya kesempatan lagi.
"Kak Nehan ngapain ke sini?" Aku mengalihkan pembicaraan saking gugupnya.
Ini bukan gugup karena suka. Serius. Ini gugup karena aku bingung harus bersikap bagaimana. Soalnya aku sangat trauma dengan Kak Nehan. Dulu saat pertama kali aku menyapa setelah dua tahun berpisah, dia malah bersikap dingin kepadaku. Tetapi pertemuan keduaku dengannya dia cukup ramah. Dipertemuan ketiga, dia menganggapku seolah aku tidak ada. Entah kebalik antara kedua dan ketiga aku juga lupa. Yang ku ingat, sikapnya kepadaku selalu berubah setiap kami bertemu lagi.
Sekarang aku bertemu dengannya lagi. Akan memperlakukan aku seperti apa nanti ini?
"Ada urusan kecil."
Aku mengangguk-angguk. Jika nanti Kak Nehan ramah kepadaku, itu menyenangkan. Aku tidak perlu berpikir harus bersikap bagaimana. Tapi jika dia bersikap dingin atau bisa jadi ketus, aku harus meresponnya seperti apa? Masa iya dipertemuanku dengannya seperkian kali aku terus yang selalu merasa terpojok? Boleh dong sekali-kali Kak Nehan yang aku pojokkan.
"Kamu apa kabar?" Kak Nehan tersenyum kepadaku.
Oke, ini artinya dia tidak akan bersikap dingin, cuek, ataupun ketus.
"Baik, kok. Kakak sendiri gimana?"
"Sangat baik," jawabnya.
Tentu saja sangat baik. Semuanya terpenuhi. Termasuk memiliki pacar yang hampir mendekati sempurna. Kepintaran otaknya. Memiliki kesibukan yang menyenangkan. Sudah masuk dalam fase perkuliahan yang memiliki banyak pengetahuan baru. Mengenal orang baru. Dan juga memiliki teman baru. Semuanya baru dan terlihat membahagiakan untuknya.
"Kak Inggrid gimana?" tanyaku.
__ADS_1
Dia sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Tak bertahan lama dan dia kembali menyeimbangkan raut wajahnya seperti semula. "Dia baik." Jawaban yang sangat singkat, padat, dan jelas.
"Oh."
Kami saling diam. Kak Nehan masih berdiri di sampingku. Dia juga ikut diam. Suasana menjadi sangat canggung. Tidak ada topik untuk mengobrol. Akupun juga bingung harus mengatakan apa. Ingin menyuruh pergi, tetapi tidak sopan. Jika dia tidak segera pergi yang ada aku akan mati kutu di sini. Berdiri dengan seseorang tanpa obrolan.
Tiba-tiba Kak Lesham datang dan langsung merangkul Kak Nehan dengan sedikit berjinjit. Wajar, sih. Kak Nehan memiliki tinggi badan yang terbilang paling tinggi dibandingkan dengan anak Stigma yang lain. Sedangkan Kak Lesham termasuk yang paling pendek. Jadi, sudah bisa membayangkan, kan, jika seseorang yang pendek merangkul yang tinggi.
"Sendirian aja, Bang? Apa kabar lo?" tanya Kak Lesham.
"Baik."
"Pertanyaan yang awal dong dijawab."
"Kepo banget."
Kak Nehan melepas rangkulan itu. Mungkin dia sedikit merasa risi dengan rangkulan itu. Saat aku melihat Kak Lesham merangkul Kak Nehan, ekspresi wajah Kak Nehan tak terlihat sedang bahagia. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu. Walaupun belum ada setahun. Tetapi sudah cukup lama. Cukup banyak waktu yang tersimpan untuk menimbun perasaan rindu.
"Sama Inggrid," kata Kak Nehan menjawab Kak Lesham dengan ogah-ogahan. Oh, Kak Inggrid juga datang. Ternyata dengan pacarnya. Ku kira Kak Nehan datang ke sini sendirian. Sejujurnya aku ingin bertemu dengan Kak Inggrid. Ingin melihat perubahannya. Namun, aku harus segera pulang sebelum Mama marah karena pulang terlambat. Lagi pula Kak Lesham juga harus ku antar ke rumah sakit juga. Check up dengan kondisinya yang menurun sejak tadi pagi.
Aku langsung berpindah posisi di samping Kak Lesham. Mata Kak Nehan mengikutiku saat aku bergerak menjauh darinya. Lalu aku menepuk lengan Kak Lesham pelan. Mengingatkannya agar segera pergi ke rumah sakit. Supaya aku tidak berada di sini terus dengan pikiran yang negatif.
"Ayo, Kak," ajakku setengah berbisik.
Ada apa dengan Kak Nehan?
Apa aku punya masalah dengannya?
____
Aku masih mengekori Kak Lesham sampai ke parkiran. Masih diam tanpa percakapan hingga akhirnya aku memiliki niat untuk mengatakan sesuatu yang sudah aku putuskan semalam. Yang sudah aku pikirkan secara matang. Tentunya semua yang sudah aku rencanakan semalam memang harus aku lakukan sekarang.
Sama seperti dengan Kak Syden kemarin. Jika dengan Kak Syden aku keluar dari Stig Cooking untuk menjauh darinya. Agar Kak Syden dapat membuka mata atas kehadiran Kak Tavis di sampingnya. Kak Tavis yang selalu ada untuknya. Sementara aku ini hanya pengganggu. Sebatas kemiripanku yang sangat persis dengan Panditha tidak harus menjadikan Kak Syden menutup mata tentang Kak Tavis.
Kini, berbeda dengan Kak Lesham. Sudah ku putuskan jika aku mengalah. Perasaanku kepada Kak Lesham hanya sebatas perasaan sebagai seorang adik ke kakak. Jadi, tidak masalah jika aku membiarkan Ovdiar memiliki kesempatan untuk dekat dengan Kak Lesham. Lagi pula jika Kak Lesham memiliki perasaan yang lebih kepadaku tidak mungkin jika sampai sekarang dia diam saja. Tidak pernah bertindak lebih.
Semua itu sudah benar bahwa perasaan Kak Lesham hanya sebatas adik-kakak. Aku saja yang menganggapnya berlebihan. Terlalu jauh untuk diharapkan. Kak Lesham terlalu sering menjadikan perhatian dan perasaannya sebagai bahan bercandaan denganku sampai aku salah mengerti saat meresponnya. Tapi tidak masalah. Yang penting sekarang aku sudah menyadarinya. Itu lebih dari cukup.
"Kak Lesham," panggilku.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Mulai sekarang nggak usah antar jemput gue lagi, ya."
Dia yang ku panggil hanya mengernyit sambil menatapku.
"Sebentar lagi Kakak ujian. Fokus sama sekolah Kakak," jawabku sebelum dia kembali bertanya.
Aku ingat dengan permintaan Kak Tavis. Sebenarnya sulit untuk melakukan apa yang diminta ini. Tapi aku tak punya pilihan. Jika aku tak melakukannya, dia pasti akan sangat kecewa padaku. Ternyata berurusan dengan orang baik jauh lebih sulit daripada dengan orang jahat.
"Lo nggak ganggu gue, kok."
"Ya nggak apa. Biar Kak Lesham makin fokus sama belajarnya. Oke?" Aku berusaha meyakinkannya meskipun rasanya ada yang sakit. "Gue kan juga harus belajar mandiri. Nanti kalau Kak Lesham lulus nggak ada lagi yang antar jemput. Jadi gue harus latihan mandiri," alibiku menipu.
"Setelah lulus gue kuliah di deket STANDAR. Gue masih bisa antar jemput lo."
"Mau sampai kapan gue bergantung sama Kakak? Udah, deh. Jangan mikirin gue terus. Nanti kalau suka gue yang ribet," ujarku untuk membuatnya tertawa.
Kak Lesham terkekeh sambil mengacak-acak puncak rambutku. "Gue udah suka sama lo," katanya.
Bercanda lagi, kan?
Pakai perasaan pula. Ini yang membuatku jadi salah paham. Berpikir bahwa apa yang diungkapkannya serius. Padahal ini hanya bercanda.
"Nggak lucu," cibirku.
"Gue serius, Nadisha."
"Udah, ah. Pokoknya begitu aja ya, Kak. Mulai besok nggak usah jemput gue lagi," putusku langsung.
"Permintaan tiba-tiba lo sedikit aneh, sih. Tapi nggak apa-apa. Gue bisa ngerti, kok." Kak Lesham mengembangkan senyum. "Asal gue masih boleh main ke rumah lo, gue setuju."
"Boleh, sih. Asal nggak setiap hari mainnya," tuturku.
"Emang kenapa?"
"Belajar! Udah mau ujian, tuh."
"Iya, doain juga ya."
__ADS_1
"Pasti."
Akhirnya dia menerima juga. Jika begini kan aku senang. Kak Lesham jadi lebih punya banyak waktu untuk bertemu Ovdiar. Dia tidak perlu susah-susah untuk menungguku saat ekskul dan juga tidak perlu banyak mengobrol dengan Mama atau Papa. Waktunya akan bertambah banyak untuk Ovdiar. Semakin banyak waktu bertemu mereka akan semakin dekat.