Bena

Bena
BAB 10B


__ADS_3

Kangen gue nggak? Kalau kangen datang ke gudang sekolah aja.


Pesan itu membuatku membulatkan mata selebar mungkin. Baru kemarin dan tadi malam aku memikirkan tentangnya, kini dia sudah mengirim pesan lagi kepadaku setelah sekian lama. Aku hanya membaca pesan itu. Aku sama sekali tidak ingin membalasnya. Untuk apa aku membalas bila sekarang aku bisa langsung menemuinya.


Dengan senang, aku melangkahkan kakiku menuju ke gudang sekolah. Tempat di mana aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak ku lihat kemarin. Mataku jadi tidak suci lagi sekarang.


Kebetulan Friska sedang tidak bersamaku sekarang. Aku jadi bebas untuk datang ke gudang sekolah.


Sesampainya di sana, aku melihat Kak Lesham sedang bermain gitar di bawah pohon yang rindang. Dia berhenti memainkan gitarnya setelah aku tiba. Ia mendongakkan kepalanya dan menatapku sambil menyunggikan senyumannya yang sangat membuatku tersindir tiba-tiba. Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa tersindir tanpa alasan yang jelas. Mungkin karena ini memang seperti kebiasaanku dengannya sejak dulu. Tuh, kan. Aku jadi merindukan masa-masa dulu.


Kak Lesham masih duduk di bawah pohon. Ia tak berniat untuk bangun dan menghampiriku. Jadi dengan terpaksa aku yang menghampirinya. Kak Lesham juga sedang sendiri di sini tanpa ditemani siapapun. Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk banyak bertanya.


"Lo kangen beneran sama gue?" tanyanya tiba-tiba.


Aku berhenti melangkah. Menatapnya datar seolah aku tidak suka dengan apa yang barusan ia katakan. Padahal aku tidak mempermasalahkan pertanyaan itu sebetulnya. "Ada yang mau gue tanyain sama lo, Kak. Ini jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Gue..., gue butuh jawaban sekarang," ucapku mengalihkan pertanyaannya.


Kak Lesham lantas tertawa. "Gue udah nebak." Dia meletakkan gitarnya di sampingnya. Ia lantas berdiri dan mendekat kepadaku. "Apa lo nyariin gue cuma buat nanya-nanya aja? Nggak ada hal lain begitu?"


"Kalau gue bilang kangen, apa Kakak bermasalah?"


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Tergantung, lo kangennya sama siapa. Sama gue atau sama pacar lo, Vante." Dia benar-benar pandai memainkan kata-katanya.


Aku memejamkan mataku sejenak lantas membukanya kembali sambil mengembuskan napasku. "Gue bukannya jadiin Kak Lesham sebagai sumber jawaban gue. Tapi, dari sekian banyak orang cuma Kak Lesham yang bisa gue percaya."


Dia hanya mengangguk saja.


"Kak Lesham pacaran sama Kak Raden?"


"Kenapa begitu?"


"Nggak apa-apa."


"Lo cemburu?"


"Nggak, kok." Aku mengelak dengan cepat. Seperti apa yang telah aku tebak semalam. Pasti Kak Lesham akan mengira bila aku cemburu. Lagipula aku kan hanya bertanya. Tapi kenapa kesannya seperti orang yang tidak terima bila pacarnya bersama cewek lain? Aku kan hanya adik kelasnya. Hanya itu. Tidak lebih.


Aku juga tidak berharap yang lebih.


"Percuma lo nanya ke gue, Nad. Jawaban yang lo dapat nggak bakal bisa berkembang," katanya tiba-tiba. Kenapa begitu? Bahkan aku belum bertanya sesuatu yang penting. Yang ku tanyakan barusan itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan saja. Tapi ya memang lumayan penting karena aku ingin tahu mengenainya dan Kak Raden.


Aku tersenyum. Aku harus bisa mengatur diriku sendiri agar tak emosi nantinya. "Gue percaya kalau Kakak bakal ngasih gue jawaban yang baru," ujarku semangat.


"Kenapa lo begitu yakin?"


"Karena gue percaya."

__ADS_1


Kak Lesham membentuk bulan sabit pada bibirnya. Tiba-tiba dia merasa senang dengan ucapanku. Aneh. "Percaya nggak akan selalu membawa lo pada sebuah hasil yang memuaskan."


____


Buruk.


Itulah yang bisa ku katakan sekarang.


Sejak aku berada di gudang untuk menemui Kak Lesham dan bertanya banyak hal, ia malah memberikanku secarik kertas dan kabur begitu saja. Itulah alasannya kenapa dia bilang bila aku tidak akan pernah mendapat jawaban yang baru. Ya karena dia kabur dan tak mau menjawab.


Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah, isi dari secarik kertas yang diberikannya.


PUTUSIN VANTE.


Begitulah isinya. Kak Lesham benar-benar tidak sehat. Ku pikir begitu. Tulisan ceker ayamnya setidaknya bisa ku baca. Namun, aku masih belum mengerti kenapa dia menulis itu dan memberikannya kepadaku. Apa ini ada hubungannya dengan diskusi di ruang Stig Cooking yang melibatkan aku, Kak Vante, dan Zelo? Atau, semua ini sudah direncanakan oleh mereka? Mana yang harus ku percaya.


Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku seragamku. Aku tidak peduli. Mungkin Kak Lesham hanya main-main saja. Karena hobinya memang begitu. Aku akan menganggapnya sebuah bercandaan saja. Bila ku pikir nantinya hanya akan membuatku semakin pusing saja. Lebih baik aku melupakannya.


Akupun bergegas menuju ke kelas sebelum aku terlambat masuk.


Ketika aku hendak masuk kelas, tiba-tiba ponselku berdering. Ada satu pesan masuk dari Kak Vante. Pulang sekolah gue tunggu di gerbang.


Alisku langsung terangkat satu ke atas. Tumben sekali Kak Vante mengirim pesan hanya untuk bertemu denganku. Biasanya dia juga langsung menemuiku, kan?


"Nadisha!! Lo ke mana aja, sih? Akhir-akhir ini lo sering ngilang perasaan," ujar Friska yang tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Bingung harus mengatakan apa. "Masuk, yuk." Aku menarik lengannya untuk masuk ke dalam kelas.


Beberapa minggu yang lalu, aku sudah tak sebangku lagi dengan Zelo. Pasalnya Zelo sering sekali tak masuk kelas karena dia sedang belajar untuk Olimpiade. Dan sekarang, aku tidak tahu apakah Zelo masih mau menerimaku lagi atau tidak. Setelah aku masuk, Zelo tak terlihat sama sekali. Apa dia tidak masuk hari ini atau memang dia akan terlambat nanti? Akan ku pikir nanti saja. Sekarang tidak apa bila aku bersama Friska dahulu. Nanti bila Zelo sudah datang, barulah aku pindah.


"Nggak ke mana-mana. Cuma keliling aja," jawabku membual.


Friska memukul meja dengan telapak tangannya cukup keras. Dia langsung menoleh kepadaku. Menatap mataku dengan tajam. Kali ini dia sedang tidak main-main.


"Nadisha nggak pandai bohong, ya."


Akupun refleks menggaruk rambutku yang jelas tak gatal. Sudah aku duga. Tingkat penasarannya jauh lebih tinggi dariku memang. Itulah sebabnya ia selalu mengetahui kabar-kabar baru di STANDAR. Aku juga tak heran mengapa aku nyaman berteman dengannya. Mungkin salah satu alasannya karena kami berdua memiliki satu kesamaan, yaitu rasa penasaran yang tinggi. Bedanya, aku tak begitu tipe orang yang antusias dan cerewet. Hanya dalam keadaan tertentu aku begitu. Tapi kalau Friska. Bisa ku bilang dia adalah kebalikanku. Sangat bawel. Cerewet. Intinya yang berisik-berisik itu dia.


Dan ku kira, kisah percintaanya dengan pacarnya cukup hangat. Seperti tidak ada apa-apa. Bahkan akhir-akhir ini Friska terlihat jarang sekali kencan dengan pacarnya. Meskipun begitu, tidak pernah aku melihat ada sebuah cekcok atau apalah itu di dalam hubungannya dengan Gensa. Aku melihat mereka seperti pasangan biasa pada umumnya. Berbeda dengan aku.


Bahkan aku sama sekali tidak terlihat sebagai pasangan kekasih dengan Kak Vante. Malah setelah ku lihat-lihat kami malah seperti pasangan adik-kakak saja.


"Tadi gue ketemuan sama Kak Lesham di gudang belakang. Niatnya gue mau nanya banyak hal sama dia. Tapi Kak Lesham malah ngasih gue secarik kertas dan pergi begitu aja." Ceritaku. Rasanya sedikit tidak enak bila aku tidak menceritakan ini kepadanya. Nanti dia malah berpikir bila aku sudah tak mau percaya lagi padanya. Padahal yang asli bukan seperti itu. Aku hanya malu saja menceritakannya. Makanya aku lebih memilih untuk diam saja.


Friska menopang kedua pipinya. "Isinya apa?"


"Nih baca," seruku sambil memberikan secarik kertas dari Kak Lesham kepada Friska. Setelahnya aku langsung menidurkan kepalaku di atas meja. Mataku terpejam sejenak. Merasakan kerileksan yang sangat membuatku tenang. Sedetik kemudian mataku kembali terbuka. Aku hanya melihat Friska yang dengan semangat membuka kertas yang telah ku berikan. Sontak dia langsung membulatkan matanya lebar-lebar setelah membaca isi dari kertas itu. Ia menatapku dengan tatapan seolah berkata 'ini maksudnya apa' mungkin. Tapi aku hanya tersenyum saja. Jangankan Friska. Aku saja yang menerima kertas itu juga tidak paham dengan maksudnya.


"Isshhh! Jangan senyum aja, dong!" Friska mengomel tiba-tiba. "Jangan tiduran juga. Masih pagi tahuu. Nanti Bu Ida kira lo lagi hamil lagi," cecarnya bawel membuatku jengah.


Aku bangun.

__ADS_1


"Kak Lesham nyuruh lo putus?" tanyanya pelan. Aku hanya mengangkat kedua bahuku. Siapa yang tahu? "Jangan-jangan Kak Lesham suka lagi sama lo." Friska semangat empat lima.


Aku mendengus kesal. "Siapa yang tahu, sih."


"Please, deh! Seumur-umur gue sekolah, gue nggak pernah direbutin dua cowok begini. Kakak kelas lagi. Jadi...," Friska menggantungkan ucapannya. Dia lantas menggeser bangkunya untuk lebih dekat denganku. Setelah lebih dekat, ia mengedip-ngedipkan matanya. Entah apa maksudnya. Apa dia sedang mengodeku? Atau hanya sedang kelilipan saja.


"Jadi?" tanyaku ragu.


Friska berhenti berkedip. "Jadi lo pilih siapa?"


"Gue nggak pilih siapa-siapa."


"Bohong!" sarkasnya tiba-tiba.


Kalau diajak membahas pelajaran saja sulitnya minta ampun. Giliran diajak membahas hal semacam ini saja seakan gairahnya mulai bermunculan. Dasar anak zaman sekarang memang.


"Pasti Kak Lesham, kan? Secara dia kan lebih baik daripada Kak Vante. Nggak suka maksa lagi orangnya." Entah dia berencana untuk memuji Kak Lesham atau hanya memberiku bumbu saja. "Nggak dua-duanya, Fris," balasku tidak suka.


Friska diam sejenak. Ia lantas berpikir. Seperkian detik kemudian diam menunjukku dengan jari telunjuknya yang membuatku sedikit terkejut. "Kak Jin, ya?" tebaknya sambil terkekeh sendiri.


Ini kenapa malah Kak Jin, sih?


"Kok dia, sih?"


"Soalnya tatapan lo ke Kak Jin itu nggak biasa," jawabnya asal. Dia menghela napasnya sejenak. "Gue juga sempet lihat lo gugup di depan Kak Jin. Bukannya itu dinamakan suka, ya?" Friska mengerling.


Suka?


Ku rasa bukan suka.


Aku hanya mengaguminya belaka.


Tidak lebih.


"Ah, jangan ngarang, deh."


"Siapa yang ngarang? Gue seriusan kok. Tapi ya udahlah, lupain. Sekarang gimana jadinya? Mau mutusin Kak Vante atau nggak?"


"Nggak tahu."


"Kalau menurut gue putus aja, deh."


Aku langsung menatapnya tajam setelah ia mengatakan hal itu. Seenak jidat saja mengatakannya.


Friska lantas menyengir. "Bercanda."


Jadi, aku harus bagaimana sekarang?


Drttt...

__ADS_1


Ponselku berdering lagi, sebuah pesan masuk dan langsung terlihat begitu saja dia notifikasi ponselku tanpa harus ku buka. Aku hanya membacanya dan langsung mematikan ponselku begitu saja. Lagi, lagi, pesan yang masuk darinya terlihat sangat aneh untuk ku baca. Karena sebelumnya Kak Vante tak pernah mengirim pesan seperti ini kepadaku.


Jangan bawa siapa-siapa ke gerbangnya. Cukup berdua aja.


__ADS_2