
Kresek merah yang besar telah dibawa oleh Kak Lesham ke dalam rumah. Aku hanya membawa yang tersisa saja. Kak Lesham sudah lebih dulu masuk meninggalkan aku di luar. Dia sangat bersemangat sekali untuk membantu Mamaku memasak. Seumur hidupnya dia tidak pernah membantu ibunya memasak. Tadi dia sempat bercerita sedikit tentang kehidupannya denganku.
Kak Lesham anak tunggal. Sejak kecil dia tinggal sendirian. Hanya ada pembantu saja yang mengurusnya. Menyiapkan makannya setiap hari. Kak Lesham juga diantar ke sekolah saat kecil oleh pembantunya. Orangtuanya terlalu sibuk sampai tidak ada waktu untuknya. Bahkan orangtuanya tidak pernah tinggal di rumah hampir setahun.
Sejak Kak Lesham memasuki masa SMP, pembantunya itu dipecat. Kini hanya ada dirinya sendiri di rumah. Kak Lesham juga tidak tahu mengapa pembantunya dipecat oleh orangtuanya. Tapi hal itu cukup membuatnya semakin muak untuk tinggal di rumah. Berhubung rumah Kak Lesham bersebelahan dengan Kak Vante, makanya dia sering menginap di rumahnya Kak Vante.
Hidup Kak Lesham memang terpenuhi semuanya. Dia ingin apapun bisa didapatkannya. Namun, rasa kekeluargaan sepertinya sangat dia inginkan. Aku bisa merasakan hal itu. Kak Lesham senang sekali mampir ke rumahku setelah pulang sekolah. Ia kadang bercanda gurau dengan Papa ketika Papa sudah pulang awal. Kadang juga mengobrol dengan Mama.
Setelah aku mendengar cerita singkat tentang hidupnya, aku jadi memakluminya. Wajar bila Kak Lesham berusaha untuk langsung akrab dengan orang lain. Mungkin ia ingin disenangi orang lain. Aku berharap semoga nantinya orangtua Kak Lesham mulai menyadari kekeliruannya.
"Nad, ayo!" seru Kak Lesham yang datang menghampiriku sambil berlari.
Aku pun menutup bagasi mobil dan mengangkat semua barang belanjaan meskipun terasa agak berat. Kak Lesham langsung mengambil alih semuanya. "Biar gue aja," katanya.
Aku tersenyum. Semakin hari rasanya aku semakin terpikat dengan perilakunya. Ah, aku ini bicara apa!
Kami pun berjalan menuju ke dapur. Aku tak banyak berkata. Sepanjang jalan aku hanya diam. Begitupun dengan Kak Lesham. Dia tumben sekali tidak menerocos seperti biasanya.
Ketika aku tiba di ruang makan, aku melihat Kak Syden yang sedang duduk berhadapan dengan Papa. Mendadak aku langsung berhenti melangkah. Menatap orang yang tiba-tiba datang tanpa memberitahu. Dia menoleh kepadaku dan Kak Lesham. Sementara Kak Lesham berlalu begitu saja menuju ke dapur.
Aku berjalan menghampiri mereka. Papa sedang tersenyum ke arahku. Sedangkan Kak Syden masih tanpa ekspresi. Sebenarnya niat dia datang untuk apa? Aku rasa tidak memiliki janji dengannya hari ini. Urusanku dengannya juga hanya untuk hari Selasa saja.
"Syden nyariin kamu," kata Papa sewaktu aku baru meletakkan tubuhku di kursi. Aku pun refleks melirik Kak Syden sekilas. Lalu kembali tersenyum kepada Papa. "Iya, Pa."
Papa bangkit. "Kalau kamu nggak sibuk ikut kita aja makan bareng nanti, Den." Papa mengajak Kak Syden makan bersama tanpa ku duga.
"Boleh, Om."
"Ya, sudah. Om tinggal dulu, ya."
"Iya, Om."
Aku menghela napas panjang seraya meletakkan kepalaku di atas meja. Sejenak aku memejamkan mataku.
"Toilet di mana?" Aku kembali membuka mataku dan mendongak. Kak Syden melihatku dengan datar. Akupun menunjuk dapur. "Dekat dapur, Kak."
Kak Syden langsung berdiri meninggalkanku sendiri. Dia berjalan menuju ke toilet. Aku kembali menghela napas ketika dia sudah pergi. Sebelum kembali lagi, aku bergegas menyusulnya. Namun aku akan belok ke dapur. Lebih baik aku kerepotan membantu Mama daripada harus berurusan dengan Kak Syden.
"Mana lagi yang harus saya potong, Tan?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu dari dapur, aku berhenti melangkah. Itu suara Kak Lesham. Karena penasaran, aku pun mengintip apa yang Kak Lesham dan Mama lakukan dari ambang pintu. Aku melihat Mama sedang menggoreng sesuatu. Yang pasti aku belum mengetahuinya karena tak bisa ku lihat. Sedangkan Kak Lesham sedang memotong sayuran menjadi kecil-kecil.
Mama mematikan kompornya dan langsung menghampiri Kak Lesham. Mama mengambil seikat sayuran.
"Ini, nih. Waah, kamu pintar juga ya motongnya," ujar Mama sambil menyodorkan seikat bayam kepada Kak Lesham.
Kak Lesham hanya mengembangkan senyum sambil meneruskan potongannya. "Kebiasaan, Tan," jawabnya.
Mama masih setia berdiri di samping Kak Lesham dengan penuh penasaran.
"Kebiasaan bantuin Mama kamu di rumah, ya?" tanya Mama.
"Nggak, Tan. Dari dulu saya nggak pernah tinggal sama orangtua saya. Jadi kapanpun saya mau makan ya saya latihan masak. Mau enak atau nggak yang penting makan," jelas Kak Lesham. Mama yang mendengar itu langsung menarik kursi dan mendudukinya. "Loh, memangnya nggak dikasih uang untuk beli makanan?"
Mamaku memang selalu penasaran. Sepenasaran itu sampai rela duduk agar lebih mendengar cerita Kak Lesham dengan jelas.
"Dikasih kok. Cuma saya bosan beli, Tan. Sesekali mau nyobain masakan sendiri."
"Oh. Memang orangtua kamu kenapa? Kok nggak pernah tinggal sama kamu?"
"Kerja, Tan." Kak Lesham memasukkan semua hasil potongannya ke dalam mangkuk. Lantas menoleh kepada Mama. "Bawangnya perlu saya kupasin nggak, Tan?"
Aku masih mengintip mereka. Tak lama lenganku ditarik oleh Kak Syden yang entah sejak kapan sudah datang di sampingku, lalu menarikku masuk ke dapur. Sontak aku menjadi kaku. Begitupun dengan Kak Lesham. Dia mendongak saat aku datang dengan Kak Syden. Tidak seperti biasanya, kali ini Kak Lesham tidak tersenyum sama sekali.
Kak Lesham menunduk kembali sambil meneruskan pekerjaannya. Dia bahkan tak menyapaku sama sekali. Atau mungkin mengajakku untuk membantunya. Setidaknya berkata apalah yang dapat membuatku kabur dari Kak Syden.
"Eh, Syden." Mama menyambut Kak Syden. "Yang ngajarin Nadisha masak, kan?" tanya Mama yang dibalas anggukan oleh Kak Syden.
Mama mengulum senyum. "Waah ada master, nih. Bantuin Tante, dong. Biar masakan Tante makin enak," ucap Mama senang.
Kak Syden melepas genggaman tangannya di lenganku. Perlahan dia mulai menjauh dariku. Kak Syden menghampiri Mama yang berada di belakang Kak Syden. Sementara aku masih mematung. Dengan ragu aku pun mendekat kepada Kak Lesham. Menarik kursi yang ada di sampingnya.
Ketika aku hendak duduk di samping Kak Lesham, tangannya menghalangiku. Aku mengerjap bingung. Dia bahkan tidak memperbolehkanku untuk duduk di sampingnya. Apa Kak Lesham sedang marah kepadaku? Aku kan tidak melakukan kesalahan. Aku hanya---atau mungkin karena Kak Syden menarikku masuk ke dapur? Kak Lesham tidak menyukainya.
Aku memperhatikannya, dia masih tidak menoleh kepadaku.
"Nad, bantuin gue cuci ini." Kak Syden sudah lebih dulu berbicara sebelum aku mendengar penuturan Kak Lesham. "Nadisha, dipanggil tuh!" ujar Mama.
Tanganku melepas kursi. "Eh, iya Ma."
__ADS_1
"Jangan lama," kata Kak Lesham saat aku hendak pergi. Aku tidak meresponnya. Seketika aku langsung menyusul Kak Syden yang sudah jalan lebih dulu menuju ke belakang rumah.
Aku tidak paham. Kak Lesham tidak membiarkanku bersamanya. Dia malah membiarkan aku berurusan dengan Kak Syden. Masalahnya itu karena ucapan Kak Syden yang menjengkelkan. Aku jadi malas untuk berurusan dengannya.
____
Di belakang rumahku terdapat tempat untuk mencuci pakaian. Tapi berhubung sudah ada mesin cuci, jadi Mama jarang menggunakannya. Sekarang tempat ini Kak Syden gunakan untuk mencuci datang kambing dan ayam. Aku belum pernah mencuci daging sebelumnya.
Makanya sekarang aku hanya akan melakukan apa yang Kak Syden lakukan. Aku tidak tahu akan benar atau tidak. Tapi yang penting aku ikut membantunya daripada tidak sama sekali.
Kak Syden mengambil daging itu dari ember dan segera mencucinya. Aku bingung harus melakukan apa. Caranya mencuci sangat mahir seperti chef yang ku lihat di televisi. Tapi aku sendiri tidak bisa melakukannya. Dengan ragu aku ikut duduk di depannya.
"Gue nggak gigit, nggak usah takut." Kak Syden menatapku datar. Padahal aku berharap sesekali dia tersenyum kepadaku. Sekali saja.
Tanganku menyentuh daging itu. Ya ampun rasanya! Aku ingin berteriak sekarang. Aku merasa sedikit geli. "Kak, aku nggak bisa nyuci daging. Aku--emm, aku geli Kak."
Kak Syden mematikan air kran. Dia meletakkan kembali daging yang telah dicucinya. Tanpa ku duga, Kak Syden berdiri. Cowok ini datang mendekat kepadaku. Lantas berjongkok di sampingku. Dia memegang kedua tanganku. Menggerakkannya perlahan untuk mengambil daging.
Jarakku dengan Kak Syden sedekat ini hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya. Napasnya pun bisa ku rasakan. Aku tidak berani menoleh. Kak Syden masih menggerakkan tanganku untuk mencuci daging. Aku menurut tanpa membantah.
"Anggap aja kayak mainan biar nggak geli," tuturnya di sela-sela kegiatannya menggerakkan tanganku.
Aku meneguk ludahku dengan kasar.
"Nggak usah pikirin baunya. Nanti lo malah kepikiran terus."
Ucapannya tumben sekali tidak menjengkelkan hati. Aku jadi tidak kesal lagi untuk berurusan dengannya sekarang. Tetapi tidak tahu jika nanti.
"Dipanggil nyokap lo, Nad." Suara itu membuatku dan Kak Syden refleks menoleh. Kami melihat Kak Lesham yang berdiri di pintu sambil menatap datar. Kak Syden langsung melepas tangannya dan kembali berdiri.
"Iya, Kak."
Lalu Kak Lesham masuk kembali. Menyisakan kecanggungan antara aku dan Kak Syden. Akupun tak bisa bertahan lama di sini. Dengan cepat aku mencuci tanganku dengan sabun dan segera bangkit. "Aku ke dalam dulu ya, Kak. Makasih ilmunya," ucapku.
"Sama-sama."
Aku cukup terkejut dengan respon Kak Syden. Padahal biasanya dia selalu membiarkanku tanpa merespon. Tadi juga dia perkataannya lembut.
Ada apa dengan Kak Syden?
__ADS_1