
Aku terus meyakinkan diriku bahwa aku harus menjaga image. Aku tidak boleh kelihatan bodoh.
"Maaf, Kak. Gue nggak sengaja," ucapku lancar. Meskipun sebelumnya sempat aku latih di dalam hati hingga lancar seperti itu. Kau tahu? Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu dengannya. Dan sekarang akhirnya kami bertemu kembali. Aku merasa agak canggung. Ketahuilah, dia sudah banyak berubah sekarang. Boleh aku katakan bahwa dia semakin ganteng dan keren. Model rambutnya tidak pernah berubah dari dulu. Apalagi aroma parfumnya. Aku masih ingat betul ketika waktu SMP dia juga memakai parfum yang sedang ku hirup sekarang.
Kak Nehan, aku rindu!
Iya, orang yang telah ku tabrak adalah Kak Nehan. Orang yang ku sukai sejak SMP sampai sekarang.
Kak Nehan menatap sekelilingnya kemudian menatap mataku dan berkata. "Ya," jawaban yang sangat singkat.
Aku tidak peduli jika dia menjawab singkat.
Mendengar dia berbicara saja rasanya aku ingin pingsan. Sumpah! Kenapa aku jadi senorak ini, sih?
Ingat, Nadisha! Ingat!
Aku masih terdiam dan menatap Kak Nehan. Dia hendak pergi tetapi aku memegang lengannya agar ia tidak jadi pergi. Kak Nehan mengernyit. "Lepas," ucapnya.
Aku melepas lengannya sambil mengercutkan bibirku. "Jangan pergi dulu, Kak. Gue mau nanya sesuatu. Kak Nehan masih ingat gue, nggak?"
"Nggak."
Kak Nehan langsung pergi setelah menjawan pertanyaanku. Seakan-akan dia hanya menjawab dengan seenaknya tanpa berpikir. Apa Kak Nehan sudah lupa denganku?
Atau memang sengaja melupakanku?
Pertemuan pertama setelah dua tahun tidak bertemu memberikan kesan yang buruk bagiku. Aku sangat kecewa.
Tapi....
Tidak, mungkin saja Kak Nehan hanya pura-pura melupakanku. Anggap saja begitu. Jadi aku harus semangat untuk mengejar cintanya. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika aku berusaha, kan?
Ya, meskipun aku kelihatan bodoh seperti kata Kakak datar.
Tuh, kan! Gara-gara bermasalah dengannya, aku jadi selalu mengingat kata-katanya setiap saat.
Kakak datar bermulut pedas.
_____
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah sudah berakhir kemarin. Sekarang aku sudah resmi menjadi siswi STANDAR. Tetapi sayang. Baru menjadi siswi yang resmi, aku sudah harus terlambat seperti ini. Kak Savalas sengaja tidak membangunankan dan dia berangkat lebih dulu. Sementara Mama, ia sepertinya sekongkol dengan Kak Savalas. Sama-sama tidak mau membangunkanku karena ingin melatih aku bangun pagi. Kalau Papa? Ah, aku tidak mungkin meminta bantuan papa. Ia sudah harus berangkat kerja pagi-pagi.
__ADS_1
Dan ku pikir itu sangat menyusahkan bila aku tetap ingin meminta bantuan.
Akhirnya aku sampai di sekolah pukul tujuh lebih duapuluh lima menit. Sebelum berangkat sekolah Mama memberikan sebuah surat. Kata Mama, aku bisa masuk sekolah dengan memberikan surat itu kepada guru. Aku bahkan tidak tahu surat apa yang Mama berikan kepadaku. Asal aku bisa masuk sekolah, aku tidak terlalu penasaran dengan isi suratnya.
Aku menunjukkan kepada Pak Satpam surat yang bawa. Dia memperbolehkan aku masuk. Ketika sampai di lapangan yang berada di tengah-tengah sekolah, aku berhenti sejenak. Melihat seorang cowok yang sedang dihukum oleh Ibu guru. Mungkin di sama terlambat sepertiku. Tapi bedanya aku membawa surat yang bisa membuatku terbebas dari hukuman. Sementara dia..., tak ada yang bisa menolongnya. Ku kira begitu.
"Apa lo liat-liat?!" ujarnya berintonasi tinggi sambil mengangkat dagunya. Dia menatapku dari atas sampai bawah.
Aku refleks menggeleng.
"Bu, dia telat juga tuh! Malah lebih lama dari saya," adunya kepada seorang guru yang sedang menghukumnya. Aku mengelak sambil menggeleng. "Nggak, Bu. Saya---" ucapanku terpotong oleh cowok itu. "Halah banyak alasan!"
"Kemari kamu!" perintah guru itu. Akhirnya aku kena juga. Aku menunduk sambil menghampiri mereka. Saat berada di samping Ibu guru, cowok itu kembali berceloteh. "Baru kelas sepuluh udah berani telat. Jago juga nyali lo," katanya entah memuji atau mengejek. Terserah. Aku tidak peduli.
Ibu guru itu bertanya kepadaku. "Kenapa kamu terlambat?"
Aku menyerahkan surat yang ku pegang sebelumnya kepada Ibu guru itu. "Ini, Bu. Baca dulu," kataku.
"Surat apa ini?"
"Saya---eh, Ibu baca aja dulu."
"Diam kamu!"
Aku tersenyum saat cowok itu dibentak dan akhirnya diam. Aku langsung menunduk ketika dia tahu bahwa aku sedang mengawasinya. Dia mendekat kepadaku. "Lo...," katanya menggantung. Dia memperhatikan wajahku. "Nadisha, kan?" tanyanya.
Aku dengan ragu mengangguk.
"Benar kata Bang Nehan. Lo mirip banget sama Panditha."
Apa maksud dari perkataannya?
Kenapa dia membawa nama Kak Nehan?
Dan siapa itu Panditha?
Cowok itu bukannya memberi penjelasan lebih lanjut, dia malah menyeriangiku. "Tapi sayang. Lo lebih buluk dari Panditha, hahaha," lanjutnya kemudian.
Aku geram mendengar perkataannya. Ingin sekali aku menonjok bibirnya itu dengan dua tangan sekaligus. Apa-apaan dia mengatakan bahwa aku lebih buluk dari orang yang bernama Panditha itu. Kenal dengan orangnya saja tidak.
"Kenapa diem? Tersinggung gue bilang buluk? Lah emang kenyataan kok." Ternyata dia tidak bisa diam juga. "Apa perlu gue bawain kaca biar lo ngaca?"
__ADS_1
Aku menoleh.
"Nggak perlu," tolakku.
"Yang ngambek."
"Terserah."
"Ya, sudah. Kamu langsung ke kelas saja," ucap Ibu guru itu dengan senyuman ramah. Wajahnya tampak berubah ketika menatapku. Dan kemudian juga akan berubah lagi lebih tajam jika menatap cowok di depanku ini. Seolah perubahaan raut wajahnya menandakan bahwa guru itu sangat malas menatapnya.
Aku menyalami Ibu guru itu. "Terima kasih, Bu. Permisi."
"Kok dia dibolehin ke kelas sih, Bu? Dia kan telatnya lebih lama daripada saya," adu cowok itu tidak terima dengan perkataan gurunya.
"Udah! Jadi cowok nggak usah kepo, Vante."
"Ish, Ibu mah."
"Sudah! Lakukan hukuman kamu sekarang! Ibu akan ngecek nanti."
"Iya, Ibu guru yang cantik." Orang bernama Vante itu ternyata masih membiarkan matanya untuk melihatku pergi. Selepas Ibu guru yang entah namanya siapa pergi meninggalkan lapangan. Dia kembali berteriak kepadaku. "Eh, lo! Cewek! Bantuin gue kenapa! Sombong amat mentang-mentang nggak dihukum!"
Eh, aku tercengang.
Berhenti melangkahkan kakiku dan membalikkan badan. Menatapnya tidak suka. "Kenal lo aja nggak!" balasku ikut berteriak seakan sedang berada di hutan.
"Gue Kakak kelas lo gue ingetin!"
Aku tak membalas lagi. Aku memilih untuk pergi ke kelas saja daripada mengurusi orang yang tidak ku kenal.
"Nadisha!"
"Apa?"
Lagi, lagi aku berhenti dan cowok itu menghampiriku meskipun hanya beberapa langkah. Setidaknya kami tidak perlu berteriak hanya untuk mengobrol.
"Lo cantik," ucapnya lalu pergi.
Meninggalkan bayangan yang membuatku bingung. Tadi saja menyebutku buluk. Sekarang cantik. Dasar aneh memang.
Aku hanya tertawa pelan di sepanjang lorong mengingat ekspresi cowok itu ketika Ibu guru mengejeknya. Kak Vante. Ternyata, dia lucu juga.
__ADS_1