
Pagi ini, di hari Minggu yang cerah, tiba-tiba Friska datang ke rumahku. Aku yang baru bangun tidur langsung terkejut melihatnya berdiri sambil menyengir padaku. Ini masih pukul enam pagi. Masih pagi sekali untuknya datang bertamu. Lama-lama kelakuan Friska mirip sekali dengan Kak Vante. Datang tak diundang. Pulang pun tak diantar.
Lagi.
Aku teringat dia.
Susah sekali melupakannya. Heran. Dia tak berjasa untuk hidupku, tetapi melupakannya pun tak mudah. Menyebalkan sekali berada di keadaan seperti ini. Ditambah lagi, Friska datang kesini. Setiap melihat wajah Friska, aku langsung ingin marah. Aku kesal, aku jengkel. Tapi percuma. Aku cuma bisa memendamnya dalam-dalam. Aku yang penakut, takut mengecewakan orang, takut menyakiti orang, ya begini. Pasrah.
"Prawan kok baru bangun," celutuknya. Lalu beranjak dari tempat berdirinya menuju ke tepi kamar. Dia menarik kordenku. Membuka jendela, hingga sinar matahari perlahan masuk ke dalam ruangan ini. Friska mengembuskan napasnya, sejenak dia seperti merasakan hawa yang tenang dengan terpapar sinar matahari pagi. Hawanya memang sejuk. Dingin juga. Tetapi menenangkan.
Aku masih berada di atas tempat tidur. Tak berpindah posisi. Mengucek mataku sebentar, lantas memejamkannya lagi. Aku hendak bangun tapi tiba-tiba malas. Memang mau apa? Hari Minggu ini aku sama sekali tak mempunyai kegiatan. Lebih baik aku tidur saja dan bangun nanti di jam duabelas siang.
Tapi keinginanku itu terhenti sesaat setelah Friska menatapku, lalu dia berjalan mendekat kepadaku. Menyuruhku geser sedikit supaya dia dapat duduk di sampingku. Akupun menurut, walaupun pandanganku kini sudah beralih darinya. Aku diam. Enggan berbicara. Dia juga ikut memasukkan kakinya di selimutku. Menata bantalku yang semula ku tumpuk, ditata menjadi sejajar.
Friska menepuk bahuku, menyuruhku untuk berbaring. Sekali lagi, aku menurut. Aku berbaring dengan diam. Setelah aku berbaring, dia juga ikut berbaring. Hening. Tak ada suara. Cukup lama hingga pada akhirnya Friska membuka suara. "Eumm, Nad...." Aku hanya menoleh. Memberi isyarat seperti mengatakan 'ada apa?' padanya. Yah, sepertinya seenggan ini aku tak mau bicara.
"Soal tadi malam, eum, gue...," Oh. Ternyata masalah semalam? Aku memang menunggu dia menjelaskannya padaku.
Friska mendengus. "Lo..., nggak marah kan?" tanyanya, penasaran.
Kalau gue marah gimana?
Tapi ****---no way! Tidak mungkin aku mengatakan yang sejujurnya. Nanti dikira aku belum move on. Masih ada rasa lagi. Ya walaupun kenyataannya memang begitu. Aku memiliki rasa. Aku menyukainya. Aku merasa kehilangan dia. Tetapi, itu cuma aku. Cuma aku yang merasakan semua itu. Tidak dengan Kak Vante. Lalu? Apa yang aku harapkan? Tidak mungkin dia memikirkan perasaanku. Apalagi dia sudah dekat dengan Friska.
Aku tidak serendah itu sampai menghancurkan kebahagiaan orang lain. Meski egoku selalu bilang 'nggak apa-apa, karena itu hak kamu. Hak sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan'. Selalu begitu. Tetapi aku menahan.
"Nggak, kok. Ngapain?" Aku pura-pura tak peduli.
"Denger-denger lo pacaran sama Kak Jin, ya?"
Aku tak terkejut lagi. Memang pada dasarnya anak Stigma itu ember. Mulutnya nggak bisa dikontrol. Pasti Kak Vante yang sudah memberi tahu Friska. Memang benar-benar, ya. Kalau satu anak sudah tahu, nanti pasti semua anak STANDAR juga akan tahu. Nggak lama lagi berita itu akan dengan mudah kesebar. Meski anggota Stigma masih ada satu, tetapi tak menutup kemungkinan jika berita itu akan menyebar.
"Iya."
Friska mengangguk-angguk. "Berarti nggak apa dong kalau kita double date?"
WHAT?!!!
Aku melototkan mataku terkejut.
"Sebenarnya hubungan lo sama Kak Vante udah sampai mana, sih? Udah pacaran, ya?" Aku mengalihkan.
"Ya..., gitu deh." Friska tiba-tiba tersenyum. "Doain aja, ya." Dia terlihat antusias sekali. "Dia tuh pacarable banget tahu nggak, sih. Gue klepek-klepek sama dia. Uncch, gumush tahu sama sikapnya. Cowok banget," ceritanya.
"Dia kan emang cowok."
Friska mengercutkan bibirnya. "Iih, nggak gitu maksudnya. Eh, tapi lo beneran nggak apa-apa kalau gue pacaran sama mantan lo?"
"Iya, nggak apa."
"Gue ini nggak nikung lo, ya."
"Iya."
__ADS_1
"Tapi, Nad..., gue mau nanya sesuatu sama lo. Boleh?"
"Apa?"
Friska terlihat aneh, tak seperti biasanya. Aku jadi penasaran dengan apa yang ingin ditanyakannya padaku. Biasanya juga begitu. Aku memang selalu ingin tahu.
"Kalau seseorang nyium kita, itu artinya dia sayang kita, kan?"
Aku mengernyit. "Lo dicium siapa?" tanyaku was-was. Jangan bilang jika Kak Vante telah menciumnya. Sungguh. Aku tidak terima. Serius. Meskipun aku tidak pernah dicium olehnya, ya aku tidak berharap dia menciumku, tetapi tolong. Jangan lakukan itu pada orang lain. Aku makin jengkel dengernya.
"Ada, deh." Friska terlihat malu-malu.
Friska dekat dengan Kak Vante. Dia juga berharap Kak Vante segera menembaknya. Apa mungkin? Kak Vante orangnya?
Kukira itu benar.
***
"Lo gi*a, ya, Sham? Woy! Dengerin gue ngomong bambang!"
"Heh! Ov udah berjuang mati-matian buat kurusin badan sampai dia masuk rumah sakit. Demi siapa coba? Demi lo! Hargai sedikit dong usahanya."
"Woy, ka*pr*t! Gue belum selesai ngomong!"
"Apa, sih, Bang? Lo nggak perlu peduli banget sama urusin gue."
"Tapi sikap lo nggak manusiawi, bambang!"
"Maksud lo?"
"Gue juga manusia. Gue bukan Tuhan. Dan gue nggak bisa buat orang bahagia terus."
"Jangan bawa-bawa Tuhan, wey."
"Kalau lo suka, samperin. Kalau nggak, tinggalin. Itu prinsip gue."
"Dan lo nggak suka sama Ov?"
"Iya, dan lo juga tahu kalau gue harus ninggalin dia mulai sekarang. So, please, jangan peduli lagi sama privasi gue."
"Sham! Lesham! Mau kemana lo?"
"Pulang."
Aku bersembunyi di balik tembok rumah Kak Maven. Tadi aku disuruh Mama untuk mengantarkan baju milik Tante Muditta, Mamanya Kak Maven. Berhubung tadi aku mendengar keributan, akupun bergegas sembunyi sembari menguping.
Kak Lesham pergi dengan berjalan kaki, keluar dari pagar. Sementara Kak Maven ikut pergi menyusul Kak Lesham dengan menggunakan mobilnya. Aku masih diam di tempat persembunyian. Aku juga tak peduli jika Kak Maven mengikuti Kak Lesham. Niatnya aku datang kesini hanya untuk menemui Ibunya, bukan Kak Maven-nya.
Tapi, tadi kenapa ya?
Aku penasaran juga.
"Hei. Masih suka nguping, ya?" Suara itu..., jangan-jangan. Aku memejamkan mataku, gugup, sembari membalikkan badan dengan pelan-pelan. Lalu aku membuka mataku perlahan. Takut. Takut jika apa yang aku duga memang benar. Dan kenyataannya, setelah membuka mata, aku sadar bahwa ini adalah hari sialku.
__ADS_1
Aku meringis.
Kenapa pertemuan dengannya harus di saat yang tidak tepat?
Dan lewat mana sampai dia bisa kembali tanpa ku ketahui?
Dia memang selalu aneh.
"Kok diem?" Dia tersenyum. Manis. "Mau mampir nggak?" tanyanya lagi.
Mampir?
Kemana?
Ke rumahnya?
"Ru---" Kak Lesham, sudah lebih dulu menyahut. "Iya, tetanggaan sama Bang Maven."
Hah?
Tetanggan? Lalu mengapa Kak Maven mengejarnya dengan mobil?
Kak Lesham menunjuk rumah yang ada di samping rumah Kak Maven. Lebih tepatnya rumah yang ada di belakangku. Tapi tak ada pintu di pagar pembatas. Lalu dari mana Kak Lesham bisa ada di belakangku?
"Tadi bukannya Kak Maven ngejar Kakak?" Aku refleks bertanya itu.
Namun, yang ditanya hanya terkekeh. "Mana ada, nggak mungkin." Dia mengulurkan tangannya padaku. "Jadi gimana? Mau mampir dulu? Mumpung ada orangtua di rumah. Sekalian kenalan."
"Eumm." Aku ragu.
"Nggak kok, bercanda."
"Iya, Kak."
"Tenang aja, di rumah ada Bibi sama Pakde. Ada Bude juga."
"Katanya sendirian?"
Kak Lesham malah terkekeh lagi. Apa-apaan coba? Dulu bilangnya di rumah sendiri. Sekarang malah ada banyak orang di rumahnya.
"Itu sebelum kenal kamu. Setelah kenal kamu, aku nggak sendirian lagi," katanya yang membuatku terbatuk. Eh?
Itu, nggak lagi gombal kan?
Bukan.
Aku, tidak boleh kepedean.
___
Well, aku lama menghilang. Di wp nggak up, disini juga. But, emang bener² sibuk. Maklumin, ya. Dimaafin juga. Oh iya, besok Minggu tanggal 6 September, aku mau Olimpiade. Doain, ya💜 Huhu aku berterimakasih banget yang udah mau nunggu.
Kalian pada umur berapa sih aku kepo. Serius nanya ini.
__ADS_1