
Aku seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Sejak mendengar nama Panditha, aku sudah mulai kesal dengannya. Pemilik nama Panditha itu telah membuatku terseret dalam kehidupan anak Stigma. Aku sempat jengkel dan tidak suka dengannya. Rasanya, sekarang terbalik. Aku merasa keterlaluan. Selama ini aku salah. Panditha sudah meninggal. Itu alasannya yang menjadikan aku sebagai penggantinya karena mirip dengannya.
"Masih penasaran?" Aku mengangguk saat mendengarnya bertanya begitu. "Temui gue sebulan lagi di taman Palazon. Hari Minggu jam sembilan pagi. Oke?"
Aku mengangkat satu alisku. Sedikit kecewa juga. Kenapa harus sebulan lagi? Besok kan bisa. Kenapa harus ditunda-tunda? Sesuatu yang ditunda kan tidak baik. "Kenapa nggak besok aja?" tawarku.
"Gue sibuk. Kalau mau jawaban, ya, harus nunggu. Kalau nggak mau nunggu, ya, nikah aja langsung sama gue," celutuknya dengan tawanya sendiri.
"Nggak kuliah, nggak kerja, tapi ngaku sibuk," cibirku. Lagipula Kak Vante sibuk apa sebagai pengangguran? Dia mengacak-acak rambutku seenak jidat. Ku biarkan saja lah. Sekali-kali. "Pengangguran zaman now itu sibuk. Ada meeting sana-sini. Kadal sabar, ya, nungguin calon pacar sebulan lagi."
Tidak ada pilihan. Anggap saja sebulan itu singkat. Pasti aku akan menemui waktu itu secepatnya. Aku pun mengangguk kepadanya tanpa menjawab sepatah kata. Angin sore yang hendak ke malam mulai menyeruak masuk ke dalam tubuhku. Hawa dingin perlahan seperti berdatangan.
"Udah mau malam."
"Emang kenapa kalau malam?"
"Anak cewek nggak baik keluyuran malam-malam. Masih pakai seragam lagi. Gue anter pulang mau?"
"Kakak kenapa jadi perhatian? Dulu nggak begini," tanyaku masih heran. Sejak dulu Kak Vante selalu membuatku jengkel. Menjadi sosok menyebalkan yang mampu menaikkan amarahku karena ulahnya. Meskipun kadang juga membuatku tersenyum dengan perhatian yang menyebalkan darinya. Tapi jujur. Dia nggak pernah ngomong selembut ini. Biasanya kalau mengajak ataupun menawari nggak pernah minta pertimbanganku. Dia langsung jawab sendiri. Tapi sekarang? Dia berubah.
"Masa iya?" Dia terkekeh. "Dulu juga perhatian kok. Eum---tapi suka kan?"
Aku mengembangkan senyum. Entah karena apa. Seakan pertanyaan Kak Vante membuatku refleks mengulum senyum.
"Iya perhatian. Tapi nggak selembut ini. Ada acara apa, sih, kok berubah segala?"
"Nggak ada acara apapun."
"Oh, ya? Terus kenapa?"
"Cuma karena satu alasan."
"Apa?"
"Gue nggak mau kehilangan lo untuk yang kedua kalinya," terang Kak Vante.
__ADS_1
Aku seperti baru tertimpa batu dari atas. Tubuhku tiba-tiba kaku bak patung. Aku mengerjapkan mataku berulang kali sembari memperhatikannya. Dia tampak bahagia setelah mengatakan itu. Kak Vante modus banget, sih! Suka bikin anak orang baper. Giliran udah terlanjur baper malah ditinggalin. Tega memang.
"Puitis banget."
"Nggak lagi baca puisi ini."
"Iya, tahu."
"Oke, deh. Sekarang mau nggak mau pokoknya gue yang nganter lo pulang." Kak Vante langsung memaksa. "Soalnya gue udah lama nggak ketemu Mama mertua. Jadi kangen."
"Ngomong apa, sih!"
"Iya, iya, yang masih malu," ledeknya.
"Nggak."
"Ayo gue anter," ajak Kak Vante lagi.
Aku baru ingat sekarang. Kak Maven kan sudah bilang jika akan menjemputku sore ini. Aduh! Kenapa aku bisa lupa, sih? Ini tadi aku sudah berapa lama berada di Kafe Sendy Buana sampai lupa waktu? Kalau Kak Maven belum datang menjemputku nggak masalah. Tapi kalau sudah datang bisa panjang urusannya. Dia pasti akan mengomel layaknya emak-emak yang capek nunggu tukang sayur lewat.
"Kenapa?" Kak Vante mengagetkanku. Nampaknya dia memperhatikanku sejak tadi. Di mulai dari merogoh dan menyalakan ponselku namun berujung gagal. Aku sendiri juga lupa tidak membawa charger ponsel ke sekolah. Karena biasanya juga tidak kepakai. Makanya sering ku tinggalkan di rumah. Seandainya di sekolah butuh pasti aku akan meminjam milik Friska.
Anak yang satu ini memang gemar membawa barang ke sekolah. Mulai dari charger ponsel, power bank, tongsis---sering dipakai kalau lagi jam kosong, tripod, kacamata bulat, kaca, blush on, lip balm, sunbclok, sama yang nggak kalah penting adalah kamera. Sering banget dia menggunakan kameranya untuk memotret catatan guru di papan tulis supaya nggak capek-capek nyalin, terkadang digunakan untuk memotret cowok-cowok ganteng yang dilihatnya.
Aku menggigit bibirku bagian bawah. Sedikit nggak enak buat ngomongnya. "Mmm, tadi tuh gue lagi nungguin Kak Maven di sekolah. Terus datang ke sini biar nggak bosen nunggu dia. Eh, malah lupa waktu begini. Hape gue lowbet juga. Nggak bisa hubungin Kak Maven," ceritaku seadanya.
"Takut Bang Maven ngamuk?" Pertanyaan yang dilontarkan Kak Vante memiliki jawaban yang tidak harus ku jawab. Karena Kak Vante sendiri sudah bisa menebaknya dengan benar. Bukan tentang seberapa galaknya Kak Maven kalau lagi marah. Cuma aku bakal capek dengerin ceramahannya Kak Maven saat marah. Dia tuh udah kayak ustad kalau lagi marah. Kadang kalau lagi benar banget sampai bisa bawa-bawa dalil segala. Kan jadi serem menghadapinya saat marah.
Kak Vante menyodorkan benda pipih berwarna hitam kepadaku. "Telepon pakai hape gue aja. Bilang kalau dianterin gue. Kalau dia marah, salahin aja dia. Kan dia yang lama pake suruh nunggu segala. Memang dia pikir nunggu yang nggak pasti, enak apa."
"Lah, kenapa jadi bucin?" Aku mengambil ponsel milik Kak Vante itu. "Nggak apa, sekalian ngasih lo kode aja." Aku mengabaikan ucapan Kak Vante dan hanya fokus mencari nama Kak Maven di kontak ponsel milik Kak Vante. Lantas aku menghubunginya. Kemudian aku menempelkan benda pipih itu di telinga kananku. Panggilan pertama tidak diangkat. Kedua juga tidak. Yang ketiga..., "halo." Alhamdulillah diangkat.
"Ngapain telepon? Jangan bilang kangen lagi. Udah muak." Belum juga aku mengucapkan satu kata, Kak Maven sudah lebih dulu nerocos. "Kak, ini Nadisha."
"Oooh, lo? Ke mana aja? Ini gue nyariin lo, bebebkuh."
__ADS_1
"Kak Maven pulang aja. Nggak usah nyari Nadisha. Gue pulang bareng Kak Vante."
"Waah balikan nggak ngajak-ngajak. Nggak seru, ih. Masa ditinggal jomblo," titah Kak Maven tidak terima. Ku lihat Kak Vante memberiku kode untuk menyudahi obrolan ini. "Gue cuma mau bilang itu aja. Maaf ya, Kak, sebelumnya. Bye."
Terdengar helaan napas di ujung sana. "Ya udah, deh. Gue baik nih lagi nggak pengin marah. Bye-byee muaaaah lov---" Sambungan pun akhirnya terputus. Aku yang mematikan sepihak sebenarnya. Lalu ke kembalian ponsel itu kepada pemiliknya yang sedari tadi hanya diam tak berhenti melihatku. Bahkan bola matanya sama sekali tidak bergerak. Bisa-bisanya begitu lho memandangiku lama. Aku jadi merasa canggung.
"Ya udah kalau gitu gue anterin. Biasa. Masih naik motor kayak dulu. Motornya masih sama. Perasaan sama yang dibonceng juga. Cuma...," ucapannya tiba-tiba menggantung. Aku semakin ingin tahu kelanjutannya. "Cuma kenapa?" Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Kak Vante merangkulku. "Statusnya udah beda. Dulu pacar, sekarang balik lagi jadi calon pacar."
"Siapa juga yang mau jadi pacar Kak Vante lagi, sih? Udah kapok tahu."
"Gue maksa biar lo mau."
"Tetap nggak bakal mau wlee." Aku menjulurkan lidahku, mengejek. Sementara dia malah tertawa. "Nggak bakal mau nolak, kan, maksudnya?"
"Dih, geer."
"Mau pulang apa lanjut pacaran dulu?"
Seketika, aku dengan sengaja mencubit perutnya sampai membuat Kak Vante menjerit heboh. Cukup lantang dan nyaring tentunya. Perilakunya yang sedikit rada-rada sepertinya masih belum hilang.
"Pacaran apaan? Gue kan udah punya pacar. Lupa, ya?" Aku mengingatkannya tentang Jastin.
"Nggak lupa. Masih inget kok."
"Terus kenapa berani mau jadiin gue pacar Kak Vante lagi?"
"Gue itu dari kecil udah punya bakat menikung. Tenang aja. Sekarang boleh sama Jastin. Tapi nanti nikahnya sama gue," ucapnya mengada-ngada. Dia menepuk-nepuk bahuku. "Vante siap menikung Nadisha dari Jastin! SEMANGAT MENIKUNG 45!!" ungkapnya lantang sambil memasang sikap hormat.
Aku tertawa kecil karena ucapannya. Ya, ampun! Humorku rendah sekali.
"Cih, jangan diketawain. Disemangatin juga dong!" decitnya.
Aku semakin tak bisa menahan tawaku. "Iya, disemangatin Kak."
__ADS_1
"Kalau yang mau ditikung udah ngasih restu, biasanya berhasil," ujarnya dengan mengukir senyum. Dalam hati aku ingin Kak Vante berhasil. Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin melihat senyumnya itu lebih lama kedepannya.