Bena

Bena
BAB 4B


__ADS_3

Aku menyesal untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan bertahan lama berada di dekat Kak Syden. Cowok itu sungguh kasar dan menyebalkan. Bagaimana bisa dia mempermainkan aku. Kalaupun aku tahu bila jadinya akan seperti ini, aku tidak akan mungkin mau datang ke sana. Buang-buang waktu saja. Walaupun aku memiliki kegabutan yang banyak, tetapi aku juga sibuk.


Aku keluar dari ruang Stig Cooking dengan emosi penuh. Darahku mungkin sudah tinggi sekarang. Selepas Kak Syden mengatakan bila ia juga tak tahu kenapa aku ada di sana, aku langsung pergi meninggalkannya tanpa pamit. Aku memang sudah sangat kesal. Sudah tidak bisa lagi menahan emosiku. Daripada aku marah-marah dengannya dan nanti dia akan memarahiku kembali, lebih baik aku pergi dari hadapannya. Dan dengan teganya dia tidak menyusulku. Seandainya dia menyusulku, mungkin aku akan biasa saja setelah ini.


Tapi, bahkan dia saja tidak kepikiran untuk mengantarku pulang. Memang tidak bertanggung jawab. Apalagi sebentar lagi akan magrib. Pasti Mama akan memarahiku jika tidak kunjung sampai di rumah. Jika aku menghubungi Kak Savalas pasti akan lama sampainya. Tidak ada jalan lain selain naik angkutan umum agar sampai di rumah dengan cepat.


Ketika aku sampai di gerbang sekolah, aku berhenti. Melihat keadaan jalan raya yang besar. Tidak ada satupun angkutan umum yang tidak penuh. Semua yang lewat di depanku penuh.


Rasa jengkel semakin bertambah. Aku langsung menendang bola yang tidak tahu sejak kapan bola itu ada di samping kananku. Aku menendangnya seenakku saja ke dalam sekolah. Lagipula juga tidak ada siapa-siapa yang akan menjadi korban sasaran bolaku. Dengan semangat aku menendangnya sekeras mungkin sambil mengeluarkan emosiku. Tanpa ku ketahui, bolaku mengenai wajah seseorang.


"KADAL!! MUKA GUE!!!"


Teriakan menggelegar itu langsung membuatku terpaku. Aku membulatkan mataku untuk melihat dengan jelas siapa yang mejadi korban bolaku. Betapa terkejutnya aku. Dengan buru-buru aku langsung berlari menghampirinya.


"Aduh, maaf, Kak. Gue nggak sengaja, sumpah," ujarku memohon ampun. Ku lihat wajahnya lebam setengah di bagian kiri. Dia masih meringis sambil memegang wajahnya.


"Oh, jadi lo kadalnya, Nadisha?"


"*****! Sakit g****k! Lo bisa ngompres nggak, sih?!"


"B-Bisa kok, Kak. Lagian juga udah bener. Kak Vante-nya aja yang sensitif." Aku ikut mengomel. Lagipula, sejak tadi dia terus saja mengomentariku. Yang inilah. Yang itulah. Padahal kan yang penting itu aku bisa mengompresnya supaya cepat sembuh. Kalaupun dia ingin tidak dikompres olehku, harusnya tadi dia langsung pulang saja. Tidak usah mengantarku pulang segala. Aku juga bisa pulang sendiri.


Kak Vante memutar bola matanya jengah. "Iya, gue sensitif dan lo agresif jadi cewek." Aku hanya diam. Keinginanku untuk menjawab ucapannya ku urungkan. Dia ini spesies yang hampir sama dengan Kak Syden. Banyak mengomentari urusan orang. Padahal dia sendiri juga banyak salah. Memang di ruma tidak pernah mengapa apa sampai jadi seperti itu.


"Oh, iya. Lo ngapain jam segitu masih di sekolah?" tanyanya.


Aku rasa sekarang aku tahu perbedaannya Kak Syden dan Kak Vante. Kalau Kak Syden tidak suka memulai pembicaraan sederhana. Dia juga lebih menyukai keheningan daripada harus mengobrol yang tidak penting dengan orang lain. Ya, walaupun hanya sekadar basa-basi saja. Tapi, kalau Kak Vante itu sifatnya juga hampir sama dengan Kak Syden. Sama-sama suka asal ngomong tanpa disaring. Bedanya, Kak Vante suka banyak ngomong dan lebih ke cerewet.


Aku memeras handuk kecil yang ku pakai untuk mengompres. "Habis kumpul ekstrakulikuler masak." Aku melirik Kak Vante sesaat. Namun langsung ku alihkan sebelum dia sadar bila aku memperhatikannya.


"Stig Cooking nggak sampai sesore itu kali pulangnya."


Aku tertawa kecil.


"Iya. Tadi itu ada kendala sedikit, Kak."


Apaan? Kendala tadi itu bukan hanya sedikit tapi banyak dan besar. Mulutku ini memang tidak sejalan dengan hati.


"Itu salah lo sendiri. Ngapain lo milih berurusan sama Kak Syden." Kak Vante sudah sedikit membaik keadaan wajahnya. Dia mulai bertanya padaku. Eh, tapi tunggu. Kenapa Kak Vante memanggil Kak Syden dengan sebutan 'Kak'? Bukankah mereka sederajat?


"Bukannya Kak Vante sederajat sama Kak Syden, ya? Kok manggilnya pakai embel-embel?"

__ADS_1


Aku ini memang banyak bertanya. Tadi juga, selama perjalanan dibonceng Kak Vante kami sama sekali tidak berbicara. Aku sibuk mengirim pesan kepada Zelo untuk menanyakan semua tentang Kak Syden. Dan balasan pesan yang Zelo kirim melebihi ekspetasiku. Dia bahkan sampai memberiku alamat rumah, hal yang disukai dan tidak disukai. Namun, yang ku herankan dia tidak memberiku nomor ponselnya Kak Syden.


Oh, iya. Waktu Zelo tahu bila aku sering dikirim pesan oleh Kak Lesham, dia sangat histeris. Padahal hanya karena aku memiliki nomor ponsel Kak Lesham saja. Kukira tak ada yang menarik.


Tapi setelah ku tanyakan padanya tadi, ternyata ada satu fakta lagi yang ku ketahui. Anak-anak STANDAR tidak ada yang memiliki nomor ponsel dari salah satu anggota Stigma. Karena itu, Zelo sangat terkejut ketika tahu tentang Kak Lesham. Tapi, semakin ke sini aku semakin tidak tahu apa-apa tentang Stigma. Namun banyak sekali pertanyaan yang menumpuk di benakku.


"Meskipun gue sederajat kelasnya sama Kak Syden bukan berarti umur kita sama, kan? Lo juga kenapa nggak mikir sampai ke sana coba?" Kak Vante menyudutkanku.


Aku hanya bisa menyengir.


Tiba-tiba Mama datang membawakan kami jus dan cemilan. Dia duduk di samping Kak Vante sambil meletakkan apa yang Mama bawa ke meja. "Diminum, ya. Maafin anak Tante ini yang ceroboh."


Kak Vante tersenyum sambil mengangguk. "Iya nggak apa-apa, Tan. Makasih lho, Tan, udah repot-repot begini."


"Nggak kok. Oh, iya. Tadi, nama kamu siapa?"


"Vante Kim Taehyung, Tan."


"Keren ya namanya. Kamu siapanya Nadisha, Van?"


"Saya pacarnya, Tan."


"BUKAAN!!" teriakku refleks. Kak Vante ini memang mengejutkan saja. Tadi di sekolah mengejutkanku karena dia jadi korban tendangan bolaku. Sekarang, aku terkejut karena ucapannya yang memang tidak disaring itu.


"Nggak apa-apa, Nad. Mama dukung kamu, kok. Asal status pacaran kalian nggak ngebuat kamu lupa belajar. Lagipula jarang-jarang kan kamu bawa cowok ke rumah. Eh, Mama ralat. Kamu kan ngak pernah bawa cowok ke rumah, bukan jarang." Mama tersenyum. Aku tahu dibalik senyumannya itu pasti ada ledekan untukku. Kalau Mama sudah menyimpulkan seperti itu, pasti nanti Kak Savalas dan Papa juga akan tahu seperti itu dari Mama.


"Tapi bukan pacar Nadisha, Ma."


"Kok nggak diakuin, sih? Kan Mama kamu udah ngebolehin," ujar Kak Vante seenaknya. Seketika aku langsung menoyor kepalanya. "Iiihh, nggak usah ngaku-ngaku, deh!" ketusku.


Mama malah tertawa kecil. "Ya, udah. Kalian lanjutin pacarannya. Tante ke dalam dulu ya, Van."


"Siap, Tante. Makasih, ya."


Aduh!


Belum juga aku membenarkan apa yang Mama pikirkan, dia sudah lebih dulu pergi.


"Kak Vante!"


"Iya, sayang."

__ADS_1


"Sayang-sayang! Memang sejak kapan sih Kakak itu nembak gue?" Dalam keadaan seperti ini aku yang emosi. Ya, semua itu karena aku selalu suka menduga dan menebak. Apalagi biasanya dugaanku selalu benar. Walaupun tidak semuanya memang benar. Tapi ada lah beberapa.


"Gue nunggu lo nembak gue," jawabnya sambil tersenyum lebar kepadaku tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Kadang apa yang diucapkannya membuat berpikir bahwa dia lebih gesrek sedikit daripada Kak Syden. Walaupun keduanya sama-sama tidak menyenangkan bagiku. Tapi mau bagaimana lagi. Aku sudah masuk ke STANDAR dengan susah payah. Tidak mungkin bila aku keluar semudah itu. Sia-sia usahaku dulu.


Aku meletakkan handuk kecil bekas kompresan Kak Vante itu ke meja. Lalu aku bersedekap dan menatapnya. Meminta penjelasan dari apa yang dia katakana barusan. Harusnya dia sadar itu tanpa aku harus susah-susah mengeluarkan kata dari mulutku.


Tapi, seperkian detik dia sama sekali tidak berbicara. Kak Vante malah asyik-asyik memakan camilan yang Mama letakkan di depannya. Dia sama sekali tidak peka dengan keadaan.


"Di mana-mana itu, cowok yang nembak cewek, Kak. Bukannya cewek nembak cowok. Emang gue apaan nembak cowok duluan," ujarku langsung. Habisnya ku tunggu dia untuk melontarkan sesuatu dia malah diam. Tak sadar pula. Aku kan kesal sendiri jika orang yang ku kode tidak peka-peka juga.


Kak Vante bukannya menjawab pernyataanku, dia malah tertawa kecil sambil menyodorkan keripik kentang itu kepadaku. Aku langsung menggeleng seketika. Bisa tidak sih jangan main-main dulu?


Aku kan serius!


"Denger nggak sih, Kak, kalau gue lagi ngomong barusan?" tanyaku kesal. Dia berhenti tertawa dan langsung menatapku dengan mengangkat satu alisnya ke atas. "Dengan kata lain lo ngatain kalau gue ini budek," jawabnya.


"Bukan begitu. Ya habis dari tadi gue ngomong nggak disahutin."


"Gue lagi makan."


"Emang kalau lagi makan nggak boleh ngomong?"


"Lo pernah TK nggak, sih?"


"Ya, pernahlah. Masa gue lahir-lahir langsung SMA," elakku. Sebenarnya Kak Vante ini mau apa sih? Aku jadi geram sendiri.


Kak Vante tertawa lagi. "Ya, bisa jadi."


"Kak! Kalau ngomong yang jelas kenapa, sih? Nggak ada hubungannya nembak sama gue pernah TK atau nggak." Boleh aku tanyakan tidak, kalau Kak Vante ini berasal dari planet mana. Kalau sedang berbicara dengannya bawaannya kesal melulu. Ini antara dia yang memang menyebalkan atau aku yang mudah tertawa emosi. Entahlah. Tapi ku kira semua ini memang Kak Vante yang menyebalkan. Lagipula aku juga tidak sedang menstruasi. Jadi aku tidak semudah itu untuk emosi. Namun, setelah ku pikir-pikir lagi. Ah, aku ini memang banyak berpikir dan menduga. Tapi kenapa aku tidak pintar-pintar seperti Kak Savalas, sih? Oke, kembali lagi ke topik awal. Setelah hari ini, aku akan berusaha untuk tidak bertemu lagi dengan Kak Vante. Bagiku, sudah cukup Kak Syden saja yang menyebalkan. Jangan ditambah-tambah lagi. Nanti yang ada aku cepat tua.


Kak Vante menggaruk rambutnya yang kukira tidak gatal.


"Ya, terus lo maunya apa?"


"Jelasin ke Mama kalau kita nggak ada hubungan apa-apa."


"Lo kenapa kekeh begitu, sih?"


"Karena Kak Vante ngaku-ngaku. Gue kan nggak pernah Kakak tembak. Jadi nggak ada alasan buat kita punya status lebih dari Kakak-adik kelas, dong." Aku menatap matanya. Jujur saja. Aku tidak pernah menatap mata cowok sedekat ini. Pasti akan ada jarak yang cukup jauh. Semua ini karena aku harus mengompres lukanya. Jadi, mau tidak mau aku harus berada di sampingnya. Dekat pula. Sungguh, ini membuatku grogi sekarang. Mama tolong aku, Ma!


Kak Vante menyeruput jusnya lalu tersenyum kepadaku. Tangannya mengelus-elus puncak rambutku.

__ADS_1


"Ya, udah. Hari ini kita resmi pacaran, kadal."


__ADS_2