
Pernyataan Kak Vante barusan membuat Zelo terdiam sejenak. Aku sedikit senang. Bukan. Aku senang. Kak Vante masih berpihak padaku. Setidaknya aku masih dibela. Tapi ada yang menyisitku kali ini. Bukan perkataan Zelo yang kasar. Atau apa hal lainnya. Kali ini berbeda. Zelo menatapku masam. Sangat muak melihatku. Aku sebenarnya ingin minta maaf. Ingin semua ini selesai. Lagi, lagi, keinginanku hanya menjadi keinginan belaka. Zelo enggan berbaikan denganku sepertinya.
Aku ingin kembali seperti dulu. Tidak masalah aku tidak mengenal Kak Vante atau yang lainnya. Seperti Kak Lesham, Kak Syden, Jastin dan Kak Nehan. Aku tidak butuh mereka. Sejujurnya, Zelo jauh lebih berharga daripada mereka semua. Aku tidak mempedulikan lagi perlakuannya yang kurang menyenangkan. Akan ku maklumi lagi jika seandainya kami berbaikan hari ini.
"Oh, pacarnya. Gue kirain targetnya," ucap Zelo disengaja. Namun, aku tidak tahu maksud dari semua ini. Tatapan Zelo kepada Kak Vante terlihat meremehkan. Seolah dia tahu semua hal tentang Kak Vante. Bahkan, Zelo terlihat senang sekarang. Senyuman tercetak di wajahnya cukup lama. Sekarang, aku yang merasa tak tahu apapun. Saat keduanya saling menatap dengan titik yang sama, aku bahkan sama sekali tak tahu apa yang mereka maksud. Apa aku memang tidak mengetahui apapun? Seburuk itu.
Kak Vante ikut tersenyum. Aku melihat sangat jelas bahwa senyum dua orang ini sangat meremehkan satu sama lain. Seperti ada sesuati diantara mereka yang tidak ku tahu.
"Nggak usah banyak omong. Lo nggak punya hak untuk itu," ujar Kak Vante seperti mengancam. "Terkecuali kalau lo mau si Han kenapa-napa."
Zelo tak merasa tersindir ataupun tersakiti oleh perkataan Kak Vante. Ia bahkan terlihat biasa saja. Zelo memajukan tubuhnya satu langkah lebih dekat dengan Kak Vante. Aku tidak tahu harus bagaimana. Haruskah aku memisahkan keduanya sekarang, ataukah aku hanya diam sambil memperhatikan mereka? Namun, seluruh anggota tubuhku seakan berjanjian untuk tidak melakukan apapun. Mulutku saja masih tertutup sampai sekarang. Aku juga tak memiliki sesuatu untuk dikatakan.
"Basi, Kak."
Kak Vante langsung mengernyit seketika.
Namun, Zelo masih tak terdiam. Dia kembali melangkah lebih dekat dengan Kak Vante. Sementara Kak Vante hanya diam sama sepertiku. Tapi genggaman tangannya tak lepas denganku. Zelo masih maju dan maju. Jarak tubuhnya dengan Kak Vante sangat dekat sekarang. Hampir tak ada jarak diantara keduanya. Seperkian detik, aku masih mengawasinya. Maksudku, mengawasi mereka berdua.
Zelo menoleh kepadaku, ia lantas tersenyum. Lalu kedua tangannya memegang bahu Kak Vante. Tubuhnya yang lebih pendek dariku itu terlihat tinggi sekarang. Dia berjinjit. Melihat itu, jantungku seolah sudah berhenti. Aku tidak sedang salah lihat sekarang. Apalagi jarak kami yang bisa terbilang sangat dekat. Aku..., melihat Zelo mencium bibir Kak Vante di depan mataku sendiri. Tangan Kak Vante yang semula menggenggam tanganku perlahan lepas. Jujur, itu menyebalkan.
Desiran angin seolah sedang mengejekku.
Aku melihat pacarku berciuman dengan cewek lain di depan mataku. Meskipun aku tidak memiliki rasa, namun melihat itu cukup membuatku marah. Setidaknya aku punya hak untuk marah. Bayangkan saja, aku sebagai pacarnya tak pernah melakukan hal memalukan seperti itu. Ya, aku tidak berharap untuk melakukan itu. Tapi, setidaknya mereka harus bisa menghargaiku. Aku seakan tak lagi dianggap. Dan yang lebih menjengkelkan, Kak Vante sama sekali tak menolaknya. Itu yang membuatku marah.
Mataku berair.
Zelo lantas melepaskan bibirnya yang semula bersatu dengan bibir Kak Vante. Dia menoleh kepadaku sambil tersenyum. "Ini yang gue mau, Nad. First kiss gue," katanya mengejek.
__ADS_1
Lalu dia kembali menatap Kak Vante. "Gue udah nggak peduli lagi sama dia. Yang gue peduliin cuman lo. Gue ingetin kalau lo lupa."
Kemudian semuanya berakhir.
Zelo langsung pergi begitu saja meninggalkan aku dan Kak Vante. Tadi, dia bilang bila aku putus dengan Kak Vante itu sudah tak berguna lagi. Tapi yang dia lakukan sekarang justru malah semakin membuatku tersakiti daripada harus memutuskannya.
"Udah bel, gue masuk kelas dulu," kataku. Aku mencoba menahan air mataku untuk tidak jatuh. Membuat diri sendiri bersikap biasa saja, seolah tak ada apa-apa. Kak Vante menahan tanganku ketika aku hendak pergi. Dia menatapku dalam-dalam. "Lo marah?" tanyanya.
Tentu saja aku marah!
Harusnya dia sudah tahu tanpa harus ku jawab.
Menyebalkan.
Tapi, aku tak mungkin mengatakan hal itu. Nanti yang ada dia berpikir bila aku memang benar-benar menyukainya.
"Tadi," jawabnya.
Mataku mengarah ke arah lain. Aku sedang tidak ingin menatapnya sekarang meskipun kami saling berhadapan. Melihatnya saja cukup membuatku kesal.
"Geer banget," ucapku. Sedangkan Kak Vante hanya menghela napasnya. "Gue minta maaf, Nad. Gue nggak maksud untuk bu---"
"Ini sekolah. Nggak seharusnya Kakak melakukan itu di sini," selaku memotong pembicaraan. Tidak ada gunanya marah kepadanya. Tidak ada gunanya berbicara banyak padanya. Itu hanya akan membuatku merasa sakit. Lagipula semuanya sudah terjadi. Waktu tak bisa lagi diulang.
"Iya, gue tahu. Tapi---"
"Jangan tahan gue untuk tetap di sini."
__ADS_1
"Nad, jangan marah sama gue. Kan Zelo yang mulai. Kenapa gue yang dimarahin, sih?" adunya seperti anak kecil.
Aku masih tak ingin menatap matanya. "Kenapa harus nyalahin orang lain kalau diri Kakak sendiri juga salah. Kakak punya kesempatan untuk menghindar. Tapi Kakak nggak melakukan itu. Jadi, gue harap Kakak tahu siapa yang salah."
"Iya, iya, gue ngaku gue salah. Habisnya dia langsung nyosor, sih. Gue kan jadi gugup," elaknya.
Tadi saja tingkah lakunya masih seperti anak kelas sebelas pada umumnya. Tapi sekarang, setelah Zelo menciumnya dia malah menjadi kekanak-kanakan. Kak Vante memang punya dua kepribdian. Terkadang aku heran kenapa harus ada kepribadian anak-anak pada dirinya. Itu sangat membuatku jengkel. Saat kepribadian dewasa ada pada dirinya, seolah-olah aku merasa terlindungi. Aku merasa bahwa Kak Vante persis seperti Kak Savalas. Tapi, itu hanya pada saat tertentu.
"Ehm, lo cemburu sama Zelo?" tanyanya.
"Nggak."
"Kenapa nggak jujur aja?"
Aku tersenyum. Lagipula jika aku benar cemburu kepadanya, apa yang akan dilakukan kepadaku? Jika dia tahu aku cemburu seharusnya dia tidak melakukan itu di depanku.
"Kalau lo jujur, gue kan bisa...," lanjutnya menggantung.
Aku menoleh. "Gue masih ada ulangan. Jadi, jangan halangin gue untuk belajar," ujarku sambil menatapnya tajam.
Lalu Kak Vante melepas kedua tangannya yang semula memegang bahuku. Aku langsung pergi begitu saja. Sementara Kak Vante masih terdiam di tempatnya. Aku tidak tahu apakah dia sadar atau tidak. Siapa yang peduli? Harusnya aku tidak peduli.
Dan aku juga tidak seharusnya menjalin hubungan yang tidak jelas ini dengannya.
Hubungan tanpa perasaan.
____
__ADS_1