
"Apa?"
"Gue minta tolong..., putusin Kak Jin."
Aku tak habis pikir. Bisa-bisanya dia meminta seperti ini. Aku mana mungkin bisa mengabulkannya. Kak Jin terlihat serius denganku, ah, aku juga sudah berniat untuk mulai menumpahkan rasaku padanya. Dan tiba-tiba? Alasan apa yang bisa ku gunakan untuk memutuskannya. Aku tidak mungkin melakukan itu, kan? Kak Jin juga sudah terlanjur mempercayaiku.
"Ini aneh, Fris. Ada apa, sih? Cerita sama gue. Tolong jujur sama gue." Aku pasrah, berharap semoga Friska mau mengatakan yang sejujurnya padaku. Aku bingung jika harus menduga-duganya sendiri. Dari dulu sampai sekarang, aku selalu terjebak dengan rahasia orang lain. Aku ingin untuk tak tahu, tapi alam semesta tak mendukung keinginanku.
Friska menatapku, memberi jarak antara aku dan dia untuk saling memandang. "Gue pengin banget cerita. T-tapi gue nggak bisa, Nad. Gue janji, iya, janji. Gue bakal ceritain semuanya sama lo setelah lo mutusin Kak Jin. Please," pintanya lesu.
Dia terlihat gelisah. Aku tahu Friska menyembunyikan sesuatu yang besar dariku. Tentu sesuatu itu ada hubungannya denganku. Jika tidak, mungkin Friska tak akan memintaku untuk memutuskan Kak Jin. Kemungkinan besar lainnya, Kak Jin juga masuk dalam sesuatu itu. Aku semakin ingin tahu.
"Apa nggak ada jalan lain selain mutusin Kak Jin?" tanyaku.
Tolong. Aku dulu pernah gagal. Pernah berpacaran dan akhirnya putus. Dulu saat berpacaran aku belum memiliki rasa pada pasanganku. Tetapi saat sudah lepas dariku, rasa itu baru muncul. Ketika orang itu bukan milikku lagi, aku baru memiliki rasa padanya. Kini keadaanku sama seperti dulu. Hanya beda orang saja. Dan aku tidak mau mengalami hal yang sama lagi. Aku tidak mau menyesal untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa?" Friska mengangkat satu alisnya. "Apa lo beneran suka sama Kak Jin?"
Aku mengalihkan pandanganku. "Gue belum bisa jawab iya. Tapi gue juga nggak bisa lepasin dia," jelasku. Lalu kembali menatapnya. "Kenapa harus Kak Jin? Bukannya lo suka sama Kak Vante? Gue bingung sumpah," imbuhku.
"Gue nggak suka sama mereka berdua kok. Hati gue masih buat Kak Savalas," tuturnya.
"Terus kenapa lo bilang lo suka sama Kak Vante? Kenapa lo mau gue putus sama Kak Jin?"
"Raden."
__ADS_1
"Kak Raden maksud lo?"
"Iya."
"Dia kenapa?"
"Iblis!"
Friska memukul batang pohon yang ada di sampingnya. Terlihat emosi dan penuh amarah. Aku kebingungan melihatnya seperti itu. Sampai detik ini pun aku tidak tahu mengenai Kak Raden. Tetapi aku masih ingat dia. Aku juga ingat jika aku pernah dipermalukan olehnya. Aku tidak mengatakan dia jahat. Namun memang Kak Raden sedikit kasar sebagai seorang manusia berjenis perempuan. Meskipun ku akui, dia memang cantik.
"Gue nggak ngerti, Fris. Tolong. Ceritain semuanya. Gue mohon," pintaku seraya mendekat padanya.
Friska menoleh. "Berani janji untuk mutusin Kak Jin setelah gue cerita nggak?"
"Jadi lo lebih milih Kak Jin daripada gue, ya?"
"Nggak gitu, Friska."
"Apa? Pacar jauh lebih penting daripada sahabat, kan? Gue nggak nyangka lo sebucin ini."
"Lo salah paham. Tolong cerita sama gue. Kita cari jalan keluarnya selain itu."
Friska menoleh padaku. "Gue udah nyari jalan keluarnya. Tapi cuma itu yang gue dapet."
"Lo nyarinya sendiri. Sekarang ada gue. Kita cari bareng-bareng. Ya? Bukan karena gue nggak mau mutusin Kak Jin. Tapi lo tahu, kan, hubungan gue ini baru seumur jagung. Mana mungkin gue ngehancurin itu. Jadi tolong, cerita. Kita cari jalan lain," ujarku panjang.
__ADS_1
"Kita ke kafe depan. Yuk," ajaknya tiba-tiba sambil berjalan melewatiku. Aku mengikutinya dari belakang. Aku berdoa, semoga aku bisa mencari jalan keluar yang lain. Aku tidak ingin menyakiti hati Kak Jin. Tetapi juga tidak mau menyakiti Friska dengan tidak mau melakukan apa yang diinginkan. Lagipula, aku belum tahu masalahnya. Aneh jika tiba-tiba aku langsung menyetujui permintaan Friska.
Aku dan Friska memasuki kafe yang letaknya tak begitu jauh dari rumah Friska. Tadi kami berdua naik angkot untuk sampai di kafe ini. Mungkin kalau jalan kakipun bakal sampai. Hanya saja cuaca tidak mendukung. Panas matahari membuat kami berdua tak tahan untuk tetap berjalan kaki. Belum lagi jika ada kendaraan yang lewat. Debu bertebaran disekitar kami.
Friska memilih meja yang paling pojok dekat tumbuh-tumbuhan. Dia memesan beberapa minuman dan cemilan. Aku hanya mengangguk saja saat dia menawarkan pilihan minuman yang ingin dipesan. Dia cerewet sekali. Aku suka melihatnya seperti itu. Lantas, dia kembali diam dan tatapannya fokus kepadaku setelah memesan minuman. Aku meneguk ludahku dengan pelan.
"Ayah ada utang sama Papanya Raden. Jumlahnya nggak sedikit, satu triliun. Berhubung Papanya Raden udah nggak ada, masalah utang itu akhirnya diurus sama Raden. Gue awalnya nggak percaya kalau Ayah bisa utang sebanyak itu. Tapi Raden maksa buat ketemuan untuk ngasih bukti. Gue nggak percaya kalau bukti yang dibawa Raden itu bener. Ayah minjem uang sebanyak itu untuk pengobatan almarhum kakek."
Friska menghela napas, menggenggam kedua tangannya erat. "Raden bilang bakal ngelunasin utang Ayah kalau gue mau ngelakuin apa yang dia mau. Kalau gue nggak mau, Raden ngancam bakal masukin Ayah ke penjara. Raden juga bilang masalah utang dan urusan kita itu hanya gue dan Raden yang boleh tahu. Raden bahkan nggak ngizini orangtua gue tahu. Itu kenapa gue nggak bisa cerita sama lo."
Aku masih diam mendengarkannya bercerita. "Gue minta maaf," ucapku.
Dia tersenyum.
"Raden ngebuat gue jadi robotnya. Semua ini, gue deket sama Kak Vante pun juga dia yang minta. Dia pengin balikan sama Kak Jin. Karena dia tahu lo masih ada rasa sama Kak Vante, dia minta gue untuk manas-manasin lo. Yang bikin gue nggak kuat adalah saat gue harus jadi asistennya tiap hari. Dia memperlakukan gue kayak babu. Disuruh nyapu, ngepel, mijitin dia, bersihin rumahnya yang super gede itu. Gue mau berontak, tapi gue inget Ayah. Gue nggak mau Ayah dimasukin ke penjara."
"Dia juga bakal ngelunasin utang Ayah kalau dia udah berhasil balikan sama Kak Jin. Makanya, gue minta lo untuk mutusin Kak Jin. Lagian lo sukanya sama Kak Vante, kan? Gue pikir nggak apa buat lo mutusin Kak Jin karena nggak ada rasa. Gue bener-bener nggak sanggup untuk mendam ini sendiri. Gue nggak sanggup, Nad, capek," keluhnya sambil menitikkan air mata. Aku bisa membayangkan apa yang dirasakannya. Pasti melelahkan harus bersandiwara dan menjadi babu setiap harinya. Kenapa aku tidak tahu apa yang Friska rasakan dibalik ketawanya selama ini? Sahabat macam apa aku.
Kini, pikiranku berubah lagi setelah mendengar semua cerita dari Friska. Keyakinan hatiku goyah.
"Gue bakal mutusin Kak Jin besok." Aku berharap keputusanku yang otodidak ini adalah keputusan yang benar.
______
Ada yang mau putus nih :(
__ADS_1