Bena

Bena
BAB 21C


__ADS_3

"Welcome, Puteri Cantik. Silahkan masuk," ucap Kak Lesham sembari mendorong pintunya sampai terbuka. Aku tersenyum kaku padanya. Sesaat setelah pintu rumahnya terbuka, aku diam seribu bahasa. Sama sekali tak mampu berkata-kata. Kak Lesham menarikku masuk ke dalam.


Pertanyaanku satu; ini rumah apa istana?


Mewah sekali.


Tapi sayang. Semewah, semegah, seluas, sebagus, dan seapapun rumah itu terlihat luar biasa akan tampak menyedihkan jika tak dihuni. Rumah Kak Lesham bagus. Tetapi hubungan keluarganya dengan ayah dan ibunya tidak sebagus itu. Terkadang, pandangan mengatakan Tuhan itu sangat adil. Tidak ada kata tak adil untuk-Nya.


Buktinya.


Ada orang hidup dengan bergelimang harta. Rumah mewah. Hidup yang terjamin. Tetapi, ada masalah keluarga yang tak terselesaikan. Namun, ada orang hidup dengan biasa saja. Sampai kadang kesulitan untuk mencari makan. Tapi, hubungan keluarganya tetap harmonis. Adil. Anak broken home rata-rata hidupnya tercukupi. Sedangkan anak biasa, kadang untuk jajan saja masih dipikir-pikir.


Ya adil memang.


Tetapi juga menyedihkan juga.


"Den Lesham udah pulang, toh?" Seorang wanita paru baya datang menghampiriku dengan Kak Lesham. Wajahnya terlihat ceria. Senyum sumringah memenuhi wajahnya. Ia datang dengan tergopoh-gopoh sambil menjinjing rok panjang yang dikenakannya.


Kak Lesham ikut tersenyum. "Udah, Bude," katanya.


Aku bangga dengannya. Meskipun masalah intern-nya nggak sedikit, tetapi dia masih bisa seramah itu. Dia pandai menutupi masalahnya. Bahkan sebelum dia cerita kepadaku, aku sama sekali tak pernah terpikir bahwa Kak Lesham masuk dalam golongan anak broken home. Senyumnya yang menyinari wajahnya setiap hari pun tak pernah terlihat palsu. Senyumnya menenangkan. Akan tetapi, kenapa masalahnya begitu berat untuk didengarkan.


"Pacarnya, ya, Den?" tanya si Bude sambil menunjukku. Sontak akupun menggeleng. Cukup malu dianggap pacarnya Kak Lesham oleh si Bude. Apalagi ini pertama kalinya aku bertemu dengan Bude-nya Kak Lesham. "Cantik," imbuh sang Bude.


"Makasih, Bude." Aku tersenyum malu-malu.


"Doain aja biar jodoh, Bude." Kak Lesham membuatku mengerutkan kening. Ternyata dia sadar dengan apa yang aku lakukan. "Ini pertemuan tak disengaja. Sama sekali nggak direncanakan kok."


Aku mengangguk, pelan. "Iya," ujarku. Hanya itu yang bisa kukatakan.


"Aduh, kalo jodoh juga nggak apa toh. Ayu lan mbarik, serasi." Bude yang ada didepanku masih senyum-senyum tak keruan. "Oh, iya. Bude sama Bi Tari mau ijin pulang, ya, Den. Tapi Pakde Suro bakal tetep disini," kata Bude.

__ADS_1


"Iya-iya, boleh kok, Bude."


Lalu Bude-nya Kak Lesham buru-buru pergi setelah melempar senyum pada kami.


"Duduk," ujarnya dan aku menurut saja. Lalu Kak Lesham pergi menuju ke dapur. Lama hingga membuatku memperhatikan sekelilingnya. Memang benar ya, punya rumah mewah, megah, dan luas tak memastikan bahwa orang itu bahagia. Nyatanya, rumah Kak Lesham ini sepi sekali seperti tidak ada kehidupan di rumah ini. Berbanding terbalik denganku. Semua ini membuatku sangat-sangat bersyukur atas apa yang telah ku dapatkan. Orangtuaku dekat denganku. Aku bahagia. Rumah kecilku terisi oleh kehidupan.


Mataku terhenti pada sebuah gambar. Aku mengernyit. Apa itu sebuah lukisan atau memang foto? Aku penasaran. Berhubung Kak Lesham belum juga muncul, akupun bangkit, berjalan perlahan mendekat pada gambar itu. Tanganku memegang gambar itu yang tidak dilapisi apapun seperti figura. Ini lukisan. Bukan sebuah foto. Tapi, ini lukisan siapa dan siapa dua orang yang digambar itu?


Lukisannya sedikit abstrak. Tetapi aku masih bisa melihat titik poin dari lukisan ini. Ada gambar dua orang. Satu laki-laki dan satu perempuan. Namun wajah keduanya terlihat sangat jelas seperti sebuah jepretan kamera hingga membuatku salah menduga. Sosok laki-laki dalam lukisan ini adalah Kak Lesham. Lalu..., siapa sosok perempuannya? Aku belum pernah melihat perempuan ini.


Apa aku mengenalnya?


Perempuan itu cantik. Imut. Manis. Memiliki lesung pipi dan gigi kelinci. Berponi dengan rambut lurus. Ah! Aku sebagai seorang perempuan saja mengaguminya. Apalagi dengan yang lawan jenis. Perempuan ini tak mirip dengan Kak Lesham. Tidak mungkin jika adiknya. Kak Lesham kan anak tunggal yang kesepian.


Lalu dia siapa?


Aku penasaran sekali.


"Lo ngapain? Kepo ya sama lukisan itu?" Pertanyaan Kak Lesham sangat sesuai dengan pikiranku.


Aku berjalan mendekat, menghampirinya yang ternyata sedang membuatkanku jus? Atau ini sirup? Ya intinya sejak tadi dia membuatkanku minuman dan membawa beberapa camilan.


"Itu lukisan siapa? Bagus banget," pujiku. Orang yang berada dalam lukisannya pun juga bagus. Keduanya terlihat serasi.


Kak Lesham berjalan menuju ke lukisan itu. Dia berjinjit mengambil lukisannya lalu membawanya ke depan. Aku tak mengerti. Akupun membuntutinya menuju keluar. Kak Lesham membuang lukisan itu di tempat sampah. Kemudian dia mengeluarkan korek api dari saku celananya. Aku berdiri di sampingnya. Kak Lesham menyalakan korek itu lalu dibuang begitu saja diatas lukisan itu hingga api pun menghanguskan lukisan itu dengan perlahan.


"Kak?" Tetapi Kak Lesham tak meresponku sama sekali. Dia hanya mengulum senyum.


Kami diam. Memperhatikan api itu yang mulai membakar bagian lukisan. Aku tidak tahu mengapa Kak Lesham membakar lukisan itu. Padahal kan lukisannya bagus. Sayang sekali. Jika lukisan itu dijual pasti akan menghasilkan harga yang bombastis. Ah, apa orang kaya tak pernah memikirkan itu? Seandainya Kak Lesham tak menyukai lukisan itu, maka berikanlah padaku. Jiwa miskinku meronta-ronta saat memikirkan tentang uang.


"Lukisan itu nggak seharusnya ada," ujar Kak Lesham setelah sebagian dari lukisan telah hangus menjadi abu. "Kesalahan gue adalah menyimpan lukisan itu," lanjutnya masih dengan memperhatikan lukisan itu.

__ADS_1


"Memang kenapa?" tanyaku.


Kak Lesham menoleh. "Tahu nggak? Sekecil apapun perlakuan cowok ke cewek, bisa menjadi harapan yang besar bagi sang cewek. Misalnya, gue sering senyum ke seseorang. Padahal pribadi gue emang kayak gitu. Gue suka senyum ke semua orang. Nggak cuma sama seseorang itu. Tapi seseorang itu malah nganggapnya dia spesial di mata gue."


Ini bukan lagi menyindir aku, kan?


Soalnya aku merasa.


"Cuma contoh, Nad." Tiba-tiba Kak Lesham menambahkan.


Aku hanya bisa menyengir.


"Kalau senyum gue ke lo sih emang ada maksud terselubung."


"Hah? Maksudnya?"


"Jangan pura-pura nggak ngerti."


"Hehe, ya, emang nggak ngerti."


Kak Lesham membuang muka. Ya jika ditanya yang sejujurnya aku paham. Tapi mana mungkin aku mengakuinya didepannya.


"Terus?"


"Apanya?"


"Soal itu." Aku menunjuk lukisan yang hanya tersisa oleh abu.


Kak Lesham mendengus. "Lukisan itu dari Ov. Dia berharap gue adalah masa depannya. Sedangkan gue...," Kak Lesham mendekat padaku. "Gue berharapnya lo itu masa depan gue, serius," katanya. "Mau sampai kapan kayak gini terus?"


Aku, aku tidak punya jawaban.

__ADS_1


__ADS_2