Bena

Bena
BAB 10A


__ADS_3

Malam ini, aku kembali terpikir hal-hal siang tadi.


Di sekolah.


Tiba-tiba ponselku bordering. Ada sebuah pesan masuk dari Friska. Akupun langsung membukanya tanpa berpikir panjang.


Lo kemana aja, tukang bolos?


Aku tersenyum. Memang aku baru kali ini membolos di jam pelajaran Matematika. Sebelumnya aku tidak memiliki keberanian sama sekali. Tapi karena rasa ingin tahuku aku jadi tidak masuk di jam pelajarannya Bu Ida. Tidak izin pula. Suatu kebodohan yang ku lakukan hanya untuk sesuatu yang tidak begitu penting sebenarnya. Namun bagaimana lagi. Aku terlanjur penasaran.


Aku sedang malas untuk mengetik sebuah balasan. Setelah membaca pesannya, aku langsung meneleponnya. Tak harus menunggu lama, Friska dengan cepat langsung mengangkat panggilanku.


"Halooo! Kemajuan ya lo. Udah berani bolos siapa yang ngajarin? Gue nggak, yaaa." Belum juga aku menyapanya, dia sudah lebih dulu berbicara. "Fris, menurut lo..., Kak Vante serius nggak sih sama gue?" tanyaku mengganti topik.


Sebenarnya, kabar mengenai aku dan Kak Vante sudah tersebar dengan sendirinya di STANDAR. Aku bahkan tak sempat membicarakan ini dengan Friska sebelumnya. Tapi dengan rasa penasarannya itu dia akhirnya tahu. Setelah kabar itu tersebar, banyak sekali yang menjauh dariku karena Kak Vante memilihku daripada yang lain. Padahal masih ada yang lebih dariku. Namun, ada pula yang dekat denganku agar mereka bisa mendekati anggota Stigma yang lain.


"Menurut lo sendiri gimana?" tanyanya berbalik. Aku hanya ingin sebuah jawaban. Bukan pertanyaan lagi.


"Gue nggak punya jawabannya."


"Ish, gimana, sih! Kan lo yang ngejalanin."


"Lo tahu nggak sih kenapa gue tadi bolos?"


"Ya, karena itu gue nge-chat lo dari tadiiii."


"Gue dapat satu fakta yang nggak pernah gue bayangin sebelumnya, Fris." Terdengar suara tawa di ujung sana. Mungkin, dia tertawa karena aku sebelumnya tak pernah mendapat berita selain dari dia dan Zelo. Biasanya memang sebaliknya. Aku yang selalu diberi tahu, bukan memberi tahu. Dengan begini kesannya sedikti aneh bagiku. Sebelum Friska cerewet lagi, aku langsung melanjutkan ucapanku. "Percaya nggak kalau Kak Nehan itu kakaknya Zelo?"


Friska menjerit. "WHAT?! YANG BENER LO?"


"Heem, gue denger dari mulut Kak Nehan sendiri."


"OMG!! Ah, masa iya siihhh?"


"Akan lebih baik kalau lo nggak teriak," ujarku memperingatkan. Suaranya ketika berteriak cukup membuatku sakit kepala.


"Hehe, sori-sori. Kelepasan. Itu refleks namanya," tuturnya mengelak. "Eh, tapi masa iya sih? Tapi kok nggak ada interaksi lebih ya diantara mereka berdua?"


Interaksi lebih?

__ADS_1


Sebentar, sepertinya aku mengingat sesuatu lagi sekarang.


Dulu, ketika aku sedang menemui Zelo di ruang Olimpiade dia sedang menelepon seseorang. Maksudku sedang marah-marah dengan orang yang meneleponnya.


"*Gue udah bilang nggak mau ya nggak mau! Jangan dipaksa! Bilangin ke Mama Kakak untuk nggak repot-repot urusin gue. Urusin aja diri Mama Kakak sendiri! Nggak usah lapor ke gue kalau Mama Kakak itu sakit atau sehat! Gue udah muak, Kak! Olimpiade ini juga bakal jadi olimpiade terakhir gue di STANDAR. Kakak inget, ya! Kalau dari awal gue tahu kalau partner olimpiade gue ini Kakak, gue nggak bakalan mau! Jangan harap semua kebersamaan kita selama ini itu murni tulus. Karena kenyataannya murni nggak. Dan Kakak jangan berusaha nemuin gue dan maksa gue lagi untuk pulang! Jangan juga telepon gue lagi kalau nggak mau ponsel yang Kakak kasih ini gue banting!" teriak Zelo di ruangan olimpiade.


Aku yang semula hanya berdiri di depan ruang itu langsung melangkah masuk ke dalam. Ku temui Zelo yang sedang menangis di pojok ruangan sambil memegang ponselnya. Ku kira tadi dia sedang bersama orang lain. Ternyata tadi hanya sebuah teleponan saja. Tapi, kira-kira dia sedang teleponan dengan siapa sampai marah-marah seperti tadi.


"Zel, kenapa?" tanyaku sambil merentangkan tanganku untuk memeluknya. Namun Zelo malah menepis lengan tanganku.


"Nggak usah sok baik ke gue! Gue nggak butuh lo! Keluar sana! Jangan ganggu gue*!"


Kejadian itu, apa mungkin dia sedang marah dengan Kak Nehan? Dia memanggilnya dengan sebutan 'Kakak' di telepon. Tidak salah lagi, itu memang benar Kak Nehan yang sedang Zelo marahi. Mungkin, ada masalah keluarga yang membuatnya dan Kak Nehan seperti jaga jarak. Aku juga hampir tak percaya akan kebenaran itu. Tapi bila ku pikir Kak Nehan memang jarang sekali menemui Zelo di sekolah. Bahkan Zelo selalu badmood ketika ia melihat Kak Nehan. Apalagi jika aku selalu berbicara tentang Kak Nehan. Pasti Zelo akan memilih untuk pergi dari hadapanku.


"Woiii, jangan diem-diem bae!" Friska kembali mengagetkanku. Cewek ini benar-benar memiliki kekuatan ekstra untuk mengagetkan orang lain. Suaranya jauh lebih melengking di telepon daripada secara langsung. Aku lebih suka berinteraksi dengan Friska di kehidupan nyata daripada kehidupan dunia maya.


"Fris, lo akhir-akhir ini pernah ketemu sama Kak Lesham, nggak?"


"Kak Lesham? Kenapa topik kita selalu berganti, ya? Satu topik aja belum kelar. Elaahh. Malam ini lo kenapa, dah? Aneh," ujar Friska agak kesal. Itu menurutku. Mungkin bila sekarang aku berada di sampingnya ia akan menerkamku pelan-pelan. Ah! Tapi ya sudahlah. Selama dia tak di sampingku, aku tak perlu mengakhawatirkan hal-hal yang tak seharusnya ku khawatirkan. "Jawab aja pertanyaan yang gue ucapin. Nanti lo juga tahu maksudnya," kataku datar.


"Iyaa, deh."


"Emm, nggak pernah sih. Setahu gue malah Kak Lesham nggak berangkat sekolah. Gue pikir dia cuti. Habis lama banget nggak pernah ketemu dia."


Aku mengangguk-angguk saja. Ku pikir Kak Lesham hanya menghindariku. Ternyata dia menghindari semua orang yang ada di STANDAR. Memangnya ada apa sebenarnya. Oke, aku harus bertemu dengannya besok. Harus. "Tapi...," tambah Friska masih menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa?"


"Gue tadi nggak sengaja lihat Kak Lesham di kafe dekat STANDAR bareng Kak Raden. Menurut lo mereka berdua ada hubungan nggak? Kayak pacar misalnya." Friska masih setia berbicara. Aku hanya mendengarkannya saja.


Terkejut.


Sangat terkejut.


Kak Lesham di kafe bersama Kak Raden. Berdua saja?


Ada yang tidak beres.


Apa iya mereka berdua pacaran?

__ADS_1


Tidak mungkin. Dulu saja Kak Raden selalu marah bila aku bersama Kak Jin. Dia selalu meminta balikan dengan Kak Jin. Semua kejadian itu..., tidak mungkin bila tiba-tiba Kak Raden menjalin hubungan dengan Kak Lesham. Aku sangat tidak percaya. Kak Lesham juga tidak akan menjalin hubungan dengan cewek yang menyebalkan seperti Kak Raden. Sangat tidak mungkin. Ku pikir semua itu akan jadi mungkin bila Kak Raden bermain ilmu di belakang. Ah, iya. Seperti itu.


Beberapa minggu yang lalu Mama pernah bilang kalau Kak Savalas sempat mengajak Kak Raden ke rumah ketika aku sedang tak di rumah. Yang sangat mengejutkan Kak Savalas memperkenalkannya sebagai pacarnya. Begitupun Kak Savalas tak pernah bercerita kepadaku bila ia pernah berpacaran dengan Kak Raden. Faktanya lagi, Kak Raden itu juga mantannya Kak Jin. Apa hanya aku yang berpikir bila Kak Raden itu playgirl?


Aku sangat penasaran.


Apa aku harus bertanya kepada Kak Lesham via chat?


Jangan!


Nanti aku dikira cemburu lagi.


"Serius, deh. Kalau seumpama mereka beneran pacaran, kok gue nggak yakin, ya? Mereka berdua nggak cocok tahu. Dan Kak Lesham juga nggak mungkin suka sama kakak kelas. Dia itu sukanya sama yang unyu-unyu. Dedek gemes gitu," katanya masih berlanjut. Aku mengembuskan napasku. Benar-benar membuatku semakin penasaran. Ada apa dengan Kak Savalas, Kak Lesham, dan juga Kak Raden? "Jangan bilang kayak lo, misalnya." Aku menebak.


Terdengar suara tawa diujung sana. Sudah ku tebak. Pasti ia akan membawa dirinya dalam cerita. "Tahu banget sih lo. Jadi terharu gue," tuturnya dilebih-lebihkan.


"Ya, udah. Gue matiin, ya."


"Eh, tunguuuu!"


"Apa lagi?"


"Maksud lo nanya semua itu ke gue apa?"


"Nggak ada, sih. Cuma pengin tahu aja."


"Waah, kambing lo emang! Didengerin serius juga."


Mendengarnya berbicara seperti itu, aku hanya tersenyum belaka. Tumben. Eh, bukan tumben lagi. Memang jarang sekali Friska menggunakan kata kasar denganku. Baru kali ini. Tapi aku sangat menyukainya. Entah karena apa.


Akupun segera mematikan sambungan telepon sepihak.


Lega rasanya.


Aku mendapat berita baru.


Kini, hanya satu yang ku inginkan. Bertemu dengan Kak Lesham. Aku sudah tidak sabar menunggu hari esok.


Kak Lesham, I'am coming!

__ADS_1


__ADS_2