
Tempat ini adalah tempat yang tak pernah ku duga sebelumnya. Kak Lesham membawaku ke sebuah tempat yang sangat indah. Ini jauh dari bayanganku. Aku pikir tadi aku hanya akan diajak ke kafe atau hanya sekadar ke taman saja. Namun, melihat keadaan di sekitarku sekarang, aku merasakan kehangatan yang mulai menghangatkan tubuhku. Aku melangkah maju dan merentangkan kedua tanganku sambil memejamkan mataku.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. Kak Lesham yang semula berada di sampingku langsung menarik lengan tanganku. Dia membawaku duduk tepat di bagian paling depan sehingga aku bisa melihat pemandangan malam kota dari atas. Sebenarnya tempat yang aku dan Kak Lesham bukanlah sebuah kafe yang letaknya berada di atas gedung bertingkat ataupun itu semacamnya. Aku juga tidak tahu sebenarnya ini itu tempat apa.
Akan tetapi aku dapat menyimpulkan jika ini adalah kebun buatan. Tempat ini letaknya di bagian paling atas dari sebuah gedung yang bertingkat. Banyak sekali tanaman yang ditanam di sini. Mereka membuatnya tampak seperti sebuah kafe yang instagramable. Di bagian pinggir diberi pagar dan juga tempat duduk untuk menikmati pemandangan yang sangat indah.
"Gimana? Suka, nggak?"
Aku pun mengangguk. Lalu menoleh sebentar untuk menanyakan sesuatu sebelum aku lupa. "Kak, ini itu benar atau nggak sih kalau gue ngerasa anak-anak Stigma itu ngincer gue?"
Kak Lesham mengangkat satu alisnya. Dia tampak heran dengan pertanyaanku. Namun, aku tidak peduli lagi dengan ekspresi wajahnya. Karena yang aku butuhkan hanyalah jawabannya. Aku pun juga tidak tahu mengapa aku bertanya seperti itu kepadanya. Kalimat itu spontan keluar dari mulutku. Dan aku sudah tidak bisa menariknya kembali.
"Ngincer gimana maksud lo?"
"Ya, gue nggak tahu. Semua itu kan hanya perasaan gue aja. Makanya gue nanya ke lo biar tahu apa yang benar," balasku.
Kak Lesham hanya mengangguk-angguk. "Oh, terus kenapa lo bisa mikir kayak begitu?" tanyanya lagi.
Padahal tujuan awalnya kan aku yang banyak bertanya. Tapi kenapa sekarang malah dia yang bertanya banyak kepadaku? Ah, dasar! Dunia memang sudah terbalik.
"Beberapa hari yang lalu Kak Vante bilang kalau gue mirip sama orang yang namanya Pandhita. Katanya, Kak Nehan yang bilang begitu ke Kak Vante. Otomatis Pandhita-pandhita itu ada hubungannya sama anak Stigma, dong? Dan anehnya, tanpa perkenalan ke gue Kak Jin, Kak Syden, Kak Vante, dan lo..., tahu nama gue. Bahkan semua tentang gue pun kalian tahu. Padahal sebelumnya kita nggak pernah ketemu. Sebenarnya apa sih tujuan kalian?" Semuanya sudah ku lontarkan. Ralat. Tidak semuanya, tetapi baru sebagian. Dan ku harap Kak Lesham tidak membiarkan pertanyaanku ini terabaikan begitu saja karena dia tidak ingin menjawabnya.
Kak Lesham terdiam. Dia tampak sedikit berpikir. Aku tak tahu bila itu berpikir yang sebenarnya atau hanya akting saja. "Inti dari semua itu tujuan, ya?"
Ya, iyalah! Memang apa lagi, Kak! Apa aku harus bertanya sesingkat itu agar dia tidak bertanya kembali kepadaku seolah-olah apa yang aku katakana ini memuat kata-kata yang berlebihan dan mubazir.
"Anak Stigma nggak pernah macam-macam. Lo nggak usah kegeeran kalau lo lagi diincer sama anak Stigma."
Jawaban yang kurang memuaskan.
"Terus kenapa kalian tahu banyak tentang gue?"
"Sebenarnya bukan kita yang tahu banyak tentang lo, tapi memang lo yang nggak tahu apa-apa tentang kita. Pernah dengar istilah tentang itu?" Kak Lesham menggunakan kata-kata yang menyulitkanku lagi. Seketika aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya itu. Lagipula aku sedang malas untuk berpikir. Akan lebih mudah jika dia langsung memberi tahuku saja jawabannya.
"Semakin lo naik kelas, lo semakin nggak tahu apa-apa. Karena keadaannya udah berbeda. Udah nggak kayak dulu. Di keadaan yang berbeda ini lo bakal menemukan sesuatu baru yang nggak lo tahu."
Aku terdiam sambil mencerna kata-katanya.
Memang begitu, ya?
Kak Lesham yang duduk di sampingku tiba-tiba memegang tanganku. Aku langsung menoleh seketika karena terkejut. "Kalau seumpama gue suka sama lo gimana?"
__ADS_1
"M---maksudnya?" Aku terbelalak mendengar ucapannya itu. Yang benar saja. Tadi sore Kak Vante. Sekarang Kak Lesham. Lalu, nanti atau besok siapa lagi?
"Ya, respon lo ke gue gimana?"
Aku tak tahu harus menjawab apa. Namun, tidak mungkin bila aku terkejut dengan perkataan Kak Lesham. Anggap saja itu hanya sebuah candaan. Iya, aku memang harus menganggapnya seperti itu.
Jangan sampai aku baper hanya gara-gara itu.
____
Kata Gensa Adiftya Prawijaya, si ketua kelas, hari ini Bu Dina tidak masuk dan juga tidak memberikan tugas. Aku juga tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi yang pasti, sejak duapuluh menit yang lalu tidak ada tanda-tanda bahwa Bu Dina akan masuk kelas. Semua murid sudah menyibukkan diri terkecuali aku. Jangan tanya dimana Zelo sekarang. Dia bahkan sudah lupa tentang aku. Dia sudah bergabung dengan anak laki-laki di belakang untuk bermain game bersama. Dan hanya Zelo satu-satunya anak perempuan yang ada di sana.
Aku bingung harus melakukan apa.
Jujur saja, aku tidak senang jika diberi jam kosong. Salah satu faktornya karena aku tidak memiliki teman lain selain Zelo. Ralat. Maksudnya, aku tidak mudah bergaul meskipun dengan teman sekelasku. Karena itulah aku lebih memilih untuk diam saja.
"Lo Nadisha Radka, kan?" tanya seseorang tiba-tiba kepadaku. Dia menunjukku dengan salah satu jarinya. Aku yang awalnya hendak tidur pun langsung mengurungkan niatku. "I, iya. Kenapa, ya?"
Cewek itu langsung duduk di depanku. Kebetulan bangkunya sedang kosong. Dia menyengir kepadaku. "Oh, iya. Nama gue Friska Amaddha Mesylin. Lo cukup panggil gue Friska aja." Dia mengenalkan dirinya sendiri tanpa ku minta.
Aku sedikit terkejut dengannya.
"Sejak hari pertama sekolah di sini, gue sering lihat lo sendirian. Lo memang nggak punya teman, ya? Eh, eng—maksud gue bukan begitu, maksud gue tuh, lo...," dia menghentikan ucapannya. Aku sama sekali tidak memotong ataupun menyahutnya. Namun, dari yang kulihat sepertinya dia tidak enak hati untuk berbicara apa adanya padaku. Padahal aku sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu. "Lo---kenapa nggak pernah bergaul sama mereka? Padahal kan teman sekelas. Apa lo emang nggak mudah bergaul, ya?"
Belum juga aku menjawab satu pertanyaannya, dia sudah bertanya lagi. Cara berbicaranya pun cepat. Seperti sebuah kendaraan yang tidak memiliki rem.
"Iya, gue emang susah akrab sama orang baru. Oh, iya. Lo kenapa nyamperin gue? Ada perlu?"
Friska menggeleng.
"Temenan sama gue, yuk!"
Aku mengangkat satu alisku bingung. Sementara Friska menaikturunkan kedua alisnya itu. "Nadisha! Sebenernya tuh gue udah lama banget pengen ngajak lo temenan dari dulu. Tapi gue bingung gimana ngajaknya. Soalnya lo itu nggak pernah nyapa gue. Padahal kita sering ketemu. Bukan lagi jarang! Tapi sering. Lo-nya aja yang nggak peka. Jadi gimana? Mau nggak?" Friska mengercutkan bibirnya ke depan.
"Lo kenapa pengen banget temenan sama gue?"
Tentu saja aku penasaran dengan Friska. Sebelumnya kami memang sering beradu mata. Bahkan setiap hari kami selalu bertemu. Namun, memang benar apa yang Friska katakan. Aku tak pernah menyapanya setiap kali kami bertemu meskipun aku tahu bila dia teman sekelasku. Aku memang terlalu menutup diri. Harusnya aku menyapanya meski hanya sekadar say hello. Tapi, aku selalu susah melakukan hal itu karena aku memang sudah terbiasa seperti ini. Namanya juga kebiasaan, membutuhkan niat dan usaha jika ingin mengubahnya.
"Nggak harus ada alasan khusus, kan? Gue cuma pengen temenan sama lo aja kok. Suer, deh! Gue nggak punya niat macam-macam." Friska tersenyum tulus kepadaku. Baru kali ini ada yang mengajakku berteman. Sayang sekali jika aku menolaknya. Lagipula, Friska terlihat baik-baik saja. Aku tidak merasa ada yang aneh ataupun mengganjal pada dirinya.
"Gue juga nggak punya alasan khusus buat nolak tawaran lo, Fris." Aku membalas senyumannya. Seketika dia langsung berdiri dan memelukku. Aku rasa, Friska sedikit aneh. Namun belum tentu yang aneh itu merujuk kepada hal yang buruk, kan?
__ADS_1
Saat ini, hanya satu yang kutahu.
Pelukan Friska terasa hangat. Ketulusan hatinya mengalir pada diriku tanpa ku minta.
"EH, LO NGAPAIN NADISHA, FRIS?!!" teriak Zelo di bagian belakang. Membuat Friska refleks melepaskan pelukannya karena terkejut dengan teriakan Zelo yang nyaring dan terasa melengking di telinga. Zelo yang sedang duduk di tengah-tengah para cowok langsung menatap aku dan Friska tidak suka. Aku sudah tidak heran jika Zelo memang begitu.
"Eh, buseett. Suara lo emas banget, Zel. Kenapa nggak ikut audisi aja, sih, biar kelas kita nggak roboh gara-gara suara lo," ujar Gensa sambil menggelengkan kepalanya, heran. Dengan cepat Zelo langsung menimpuk Gensa yang berada tak jauh darinya dengan sepatunya. Kukira itu cukup keras hingga Gensa meringis. "Sakit, ******! Lo cantik-cantik galak. Pantes aja kalau lo jomlo." Gensa masih mengomentari Zelo tanpa rasa takut.
"Sekali lagi lo ngomentari gue, habis pacar lo!"
"Terserah lo, Zel. Terserah."
Gensa memang sudah memiliki pacar, satu kelas lagi dengannya. Meskipun aku tak begitu akrab dengan teman sekelasku, tapi aku selalu tahu jika ada kabar baru. Semua itu ku tahu dari Zelo. Ya memang siapa lagi yang akan memberitahuku selain dia.
Friska membalas tatapan Zelo sambil berdecak pinggang. "Iiih Zeloo! Jangan godain pacar gue bisa?!"
Zelo menatap Friska jijik. "Siapa yang godain pacar lo, Sprit? Heran, deh. Nggak lo, nggak pacar lo, sama-sama nyebelin."
"Selooo! Nama gue bukan Sprit! Awas aja ya kalau sampai pacar gue demen sama lo!"
"Bodoamat."
Aku hanya bisa memperhatikan Friska dan Zelo. Memang apa yang ku bisa selain hanya menonton? Keduanya sama-sama suka teriak. Aku akan langsung kalah jika berhadapan dengan dua anak ini. Nanti yang ada telingaku langsung bermasalah.
"Nadisha! Gue nggak suka ya kalau lo temenan sama Friska. Pokoknya gue nggak suka!" Zelo masih berbicara dengan teriakan walaupun yang ini lebih lumayan daripada sebelumnya.
Friska kembali tersungut emosi. "Eh, lo siapanya Nadisha sampai ngatur-ngatur dia segala? Orangtuanya juga bukan."
"Terserah gue, dong!"
Aku menghela napasku jengah. Tadi, beberapa menit yang lalu aku senang ada yang mau berteman denganku. Tapi, nampaknya Zelo dan Friska sulit untuk di satukan.
"Zel, Fris. Udah, ya? Suara kalian tuh berisik banget."
"Gimana, sih? Tadi katanya suara gue emas. Kenapa sekarang jadi berisik, sih? Heran gue sama lo pada." Zelo tak terima. Dia langsung bangkit dan menghampiriku. Kalau Zelo sudah bertingkah, mana ada yang berani membantahnya. Nanti yang ada malah tidak selesai-selesai. Karena itu, teman sekelasku lebih memilih diam daripada merespon Zelo yang tidak mau mengalah.
"Dengar, ya, Zel. Gue itu temenannya cuma sama Nadisha. Lo nggak," ucap Friska sambil menunjuk Zelo.
"Lah, emang gue nanya?"
"See---"
__ADS_1
"Ehm, permisi semuanya. Sori ganggu. Nadisha-nya gue pinjam sebentar, ya." Astaga, apa aku punya masalah lagi sekarang?