
Angin malam yang sungguh dingin ini menyeruak masuk ke tubuhku hingga tulang-tulangku rasanya ngilu. Ku kira, jika hanya berjalan keluar kompleks tidak akan sedingin ini. Tapi ternyata..., sungguh dingin. Sejak tadi aku dan Kak Savalas berjalan bersama tanpa satupun topik pembicaraan yang muncul. Sekarang kami malah diam-diaman. Aku ini sebenarnya punya banyak topik untuk dibicarakan. Tapi, mungkin ujung-ujungnya Kak Savalas tidak mau menjawab dan malah mengalihkan topik pembicaraan. Rasanya aku sudah hafal benar akan hal itu.
Tapi sungguh. Aku tidak tahan jika harus berdiam-diaman seperti ini. Aku tiba-tiba teringat akan larangan Kak Savalas untuk tidak mengenal cowok-cowok di STANDAR. Waktu itu, aku dan Kak Savalas juga pernah membicarakan hal itu. Namun ujung-ujungnya hanya dibalas dengan perkataan yang tidak masuk akal. Aku masih ingat betul apa yang dia katakan. Aku telah membuka jurang. Intinya begitu. Iya. Aku telah membuka jurang yang aku sendiri bahkan tak tahu apa itu yang dimaksud dengan jurang.
"Kak," panggilku.
Seketika Kak Savalas menoleh kepadaku. "Apa?"
"Kakak kenal sama Kak Jin?"
Kak Savalas kembali menoleh kepadaku. Seakan-akan dia telah mengatakan untuk tidak membahas hal-hal yang berhubungan dengan cowok-cowok di STANDAR. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur. Daripada ku hentikan, akan lebih baik jika aku lanjutkan.
"Ngapain lo nanya soal dia?" Kak Savalas bertanya balik kepadaku. Benar kan, apa yang telah aku pikirkan tadi. Dia memang sedang tidak mau untuk membahas hal ini. "Cuma nanya. Kenapa? Nggak boleh juga?" Aku memangku kedua tanganku.
"Nggak penting juga," jawab Kak Savalas tanpa menatap mataku.
Dia ini memang benar-benar, ya!
Akupun menghela napas. Oke, tidak masalah. Aku akan tetap memancingnya untuk bebicara lebih banyak daripada ini. Baiklah. Aku akan bersabar. Semua yang sukses membutuhkan usaha. Anggap saja semua ini memang usaha. "Masa Kakak nggak tahu, sih? Kak Jin yang OSIS itu lho. Dia juga ketua Stig Cooking. Ekstrakulikuler yang lagi gue ikutin. Lebih tepatnya Mama yang nyuruh," kataku panjang.
"Oh," Kak Savalas masih terus berjalan. "Ya, udah, kalau Mama yang nyuruh. Tapi tetap. Jangan dekat-dekat sama dia," lanjutnya dengan nada penuh penekanan.
"Memang kenapa, sih? Kak Jin baik kok. Dia ramah. Gue lihat dia orangnya fine-fine aja. Jadi, nggak apa-apa kan kalau gue temenan sama dia?"
Kak Savalas berhenti berjalan. Dia menghela napasnya panjang. Aku yang semula ada di sampingnya pun ikut berhenti. Seketika Kak Savalas dengan perlahan menatapku jengah. Seolah dia sudah lelah untuk mengatakan sesuatu kepadaku. "Waktu itu gue 'kan udah pernah bilang sama lo. Jangan sekali-kali mau kalau diajak kenalan sama cowok. Apalagi temenan. Lo lupa apa pura-pura lupa, sih, Sha? Mau dia baik atau nggak, Kakak nggak peduli. Sekali bilang nggak ya nggak. Lo bisa nggak sih nurutin gue sekali aja? Kakak itu sayang sama lo, Sha. Kakak nggak mau lo jadi korban kayak Panditha---eh. Maksud Kakak..., eng---"
Sebentar.
Aku ingat. Aku pernah mendengar nama Panditha dari mulut Kak Vante. Iya. Aku ingat! Lalu mengapa Kak Savalas juga menyebut nama itu?
__ADS_1
Sebenarnya dia siapa?
Aku jadi penasaran.
"Panditha? Siapa dia, Kak? Korban apa yang Kakak maksud?" tanyaku lantang. Tentu saja aku cukup terkejut dengan nama itu. Nama itu rasanya tak pernah ku dengar di STANDAR. Aku juga tak merasa jika dia itu familiar.
Kak Savalas terlihat was-was. "Apa, sih? Kakak juga nggak tahu dia siapa. Pokoknya, dia itu pernah masuk TV gara-gara dilecehin sama teman cowoknya. Kakak nggak mau lo begitu juga. Jadi, tolong ngertiin Kakak, Sha."
Cukup masuk akal.
Namun tetap saja. Aku tidak bisa mempercayainya. Aku juga tidak tahu itu benar atau bukan yang telah Kak Savalas katakan. Tapi jujur. Aku masih tidak percaya. Hatiku seakan mengatakan jika ada hal yang sedang Kak Savalas sembunyikan dariku. Seperti waktu pertama kali dia melarangku untuk tidak mau berkenalan dengan teman cowokku. Perasaan dulu, kini muncul lagi. Aku semakin ingin tahu.
"Cuma itu?" Aku memiringkan kepalaku, lalu kembali seperti semula. "Kalau hanya itu nggak usah sebegitunya kali, Kak. Gue udah gede, kok. Gue bisa jaga diri. Lagian gue juga masih punya harga diri. Nggak mungkin kalau gue kayak gitu," jelasku.
Kak Savalas menarik lengan tanganku. Mengajakku berjalan dengan paksa.
"Jadi, gue hanya boleh temenan sama cowok ya cuma Kak Maven, begitu? Ya Tuhan, Kak. Lo serius?"
"Kapan gue bercanda?"
Aku tak menjawab lagi. Percuma. Ujung-ujungnya juga aku yang kena. Bukannya mengurangi larangan atau menambah informasi baru yang ada malah menambah larangan. Harusnya aku berhenti saja untuk bertanya-tanya kepada Kakakku. Memang benar. Menyesal itu tempatnya di belakang. Bukan di depan. Sungguh. Aku telah khilaf.
Tapi..., apa Kak Savalas sudah tahu mengenai Kak Vante yang mengaku sebagai pacarku di depan Mama?
Aku sungguh kepo.
Harusnya dia sudah tahu, bukan?
Kalau dia tahu, seharusnya dia menanyakan tentang kebenaran itu kepadaku. Seperti waktu itu. Kalau dia tidak bertanya kepadaku, apa mungkin Kak Savalas belum tahu?
__ADS_1
Perlukah aku bertanya kepadanya?
Aku rasa iya.
Untuk yang terakhir
"Kalau Kak Vante kenal?"
Lagi, lagi, Kak Savalas menatapku dengan jengah. Mungkin dia sudah ingin menerkamku agar aku tak bertanya lebih banyak lagi padanya. Namun, kukira dia tak setega itu. Aku jadi merasa biasa saja. Meskipun agak sedikit canggung.
"Sepenting apa sih kalau gue kenal atau nggak?" tanyanya.
Aku mengedikkan kedua bahuku. "Tinggal jawab aja kok susahnya minta ampun. Kalau nggak kenal ya udah bilang nggak. Kalau kenal ya bilang iya." Kak Savalas mengembuskan napasnya kasar. Dia ini memang selalu mengegas jika aku selalu membahas cowok-cowok STANDAR. Hingga membuatku semakin penasaran saja.
"Kalau kenal kenapa?"
"Nggak apa-apa, sih. Oh, iya. Mama pernah cerita soal Kak Vante ke Kakak nggak? Yang soal itu, dia---eng..., dia---" Aku bingung harus bagaimana cara untuk mengatakannya. Sungguh, aku saja merasa malu. Padahal hanya sekadar cerita. "Kenapa? Kalau ngomong itu yang jelas, Sha," suruh Kak Savalas membenarkan.
Aku sih inginnya juga begitu.
Agar aku tak terkesan grogi.
Ah, tapi aku dan mulutku susah untuk diajak berkompromi.
"Kak Vante ngaku-ngaku kalau gue ini pacarnya, di depan Mama pula," ucapku sambil menunduk. Aku malu. Tapi aku juga sedikit kesal karena ujungnya aku mengingat kejadian saat Kak Vante mengakuiku sebagai pacarnya. Dia memang seenak jidatnya saja jika berbicara. Tak pernah memikirkan orang lain.
Kak Savalas tak menoleh kepadaku sedikit pun. Tapi tidak ada tanda-tanda jika dia akan marah. Aku rasa dia tidak marah. Mungkin, hanya jengkel saja.
"Ya, udah. Jalanin aja," katanya semudah itu.
__ADS_1