
Sesuai janjiku dengan Kak Vante, akupun menemuinya sore ini. Kak Maven entah kenapa sudah tidak mengantar jemputku. Tidak bilang pula kepadaku. Dia juga tidak memberiku kabar. Seakan-akan semua ini sudah direncakan supaya aku benar-benar tidak ada yang mengganggu. Ah! Tapi sepertinya aku terlalu berlebihan jika berpikiran seperti itu.
"Gue pikir lo nggak bakal datang."
"Pikiran konyol."
Dia tertawa kecil, lantas mengodeku dengan memiringkan kepalanya. "Duduk."
"Waktu gue nggak banyak, Kak. Bisa langsung aja?"
"Mulai dari mana?" Kak Vante balik bertanya. "Terserah Kakak," kataku.
"Kalau lo nggak mancing pertanyaan, gue bingung harus mulai dari mana."
"Oke, oke."
Ternyata ribet juga membiarkannya menjelaskan semuanya. Apalagi harus aku dulu yang mulai bertanya sehingga dia bisa menjelaskan. Aku juga nggak tahu mana yang awal dan yang akhir. Semua pertanyaan yang ada di otakku adalah acakan yang nggak jelas itu bagian awal atau bagian akhir. Padahal kan aku menyuruhnya untuk menjelaskan secara urut supaya aku paham sepaham-pahamnya.
"Apa Stigma ngejar gue karena gue mirip sama Panditha? Eh, maksud gue..., apa karena permainan?" Entah mengapa aku spontan bertanya tentang itu. Berhubung aku ingat, dan tiba-tiba langsung terucap begitu saja. Aku juga tidak yakin bila---lupakan. Aku bingung juga.
Kak Vante menatap lurus ke depan tanpa berniat menoleh padaku. Tak lama dia mengembuskan napasnya yang terdengar di telingaku karena jarak duduk kami berdua terbilang cukup dekat. Aku bahkan dapat mencium aroma parfumnya. Apalagi hari ini Kak Vante memakai kemeja motif bunga dan daun dengan warna asli putih dipadu dengan celana jogger hitam. Dia kelihatan lebih dewasa dengan gaya itu meskipun bajunya berbunga-bunga, tetapi dia tetap ganteng. Astaga, Nadisha! Kenapa malah memujinya coba? Jaga mata. Tolong kondisikan dan kontrol dirimu dengan pesonanya ini.
"Apa Jastin yang bilang begitu?" Kak Vante bukannya menjelaskan malah balik bertanya lagi padaku. Tebakannya sudah benar. Memang Jastin yang memberitahuku. Lalu? Semuanya sudah ku ketahui dari satu pihak. Kini aku ingin dengar penjelasan dari pihak lain supaya aku tidak salah mengartikan.
Aku meneguk ludahku, lalu menoleh kepadanya. Tanpa ku duga dia juga menoleh padaku tepat disaat itu mata kami saling bertatapan. Aku langsung lupa hendak mengatakan apa setelah ditatap seperti itu. Tatapannya itu sihir yang membuatku sulit mengontrol diriku. Aku pun segera mengalihkan pandanganku dan kembali fokus. Ini serius. Harus segera diselesaikan lalu pulang ke rumah. Dengan lupa begini, yang ada aku malah memperlama berduaan dengan Kak Vante. Mungkin keenakan di dia dan ini merupakan kerugian untukku.
"Thata itu seperti bidadari. Kenapa gue bilang begitu? Karena dia mampu membuat cowok di sekitarnya itu tertarik sama dia. Entah kebetulan atau nggak, semua anak Stigma suka sama dia. Kita berdelapan nggak ada yang mau ngalah dan berpikir normal." Kak Vante menjeda ceritanya sejenak, lalu kembali melanjutkannya. "Saat itu juga kita, Stigma, saling berjuang buat dapetin Thata. Kata 'teman' udah nggak ada lagi di mata kita. Seperti yang gue bilang di awal, Thata adalah bidadari, dia nggak mau kita berantem cuma karena dia."
"Lalu?" Aku memperhatikannya bercerita tentang masa lalu itu. Yang seharusnya tidak ku ungkit kembali.
__ADS_1
"Thata kabur dari rumah. Saat itu juga keluarganya lagi nggak benar."
"Maksud Kakak?"
"Ibunya kerja di tempat malam dan jarang banget pulang. Ayah sama Ibunya udah cerai. Thata terpaksa ikut Ibunya karena Ayahnya nggak mau menerima dia. Padahal Thata sayang banget sama Ayahnya. Gue tahu, dengan keadaan keluarga yang kacau kayak gitu, ditambah dia kepikiran soal anak Stigma, pasti keadaannya benar-benar nggak baik."
Tentu saja. Aku setuju dengan itu. Pekerjaan Ibunya sebagai wanita malam itu adalah ujian berat bagi Panditha dimana dia pasti akan diejek oleh orang-orang di sekitarnya. Panditha juga pasti rindu dengan kasih sayang seorang Ibu seperti yang Mama lakukan padaku. Dibuatkan makan, diperhatikan, diajak mengobrol, juga bersenang-senang bersama. Aku tahu betapa sakitnya jika seseorang tidak memiliki kasih sayang.
"Malam itu juga gue dan yang lainnya ngejar Thata karena khawatir dia kenapa-kenapa. Syden juga sempat berantem sama Lesham malam itu. Thata tahu itu dan dia langsung lari nyebrang jalan. Dia lupa nggak nengok kanan-kiri sampai akhirnya dia ketabrak dan nggak ada," cerita Kak Vante. Sangat tragis. Tapi tunggu? Kak Syden sudah sering berantem dengan Kak Lesham? Bahkan sejak dulu saat Panditha masih ada? Benar-benar membuatku terkejut.
"Kak?" Dengan ragu aku memanggilnya yang sontak membuatnya menatapku lembut. Ada sedikit air mata yang menggenang disana, sepertinya dia teringat insiden itu. Pasti Kak Vante juga merasa bersalah dengan kejadian itu. Tapi aku juga nggak bisa menghentikan ini. Salah sendiri mereka mengajakku masuk di lingkarannya dan aku sekarang juga ingin tahu lebih tentang mereka seperti mereka tahu lebih tentang aku.
"Kalau nggak salah dengar tadi Kakak bilang kalian anak Stigma berdelapan? Bukannya kalian bertujuh, ya?" ---sebenarnya aku ingin memastikan tentang ini. Siapa anggota kedelapannya itu karena aku pernah mendengar anak Stigma menyebutkan nama 'Bang Out' yang masih terrahasiakan sampai sekarang. "Siapa nama asli 'Bang Out' itu?"
Kak Vante malah tersenyum kepadaku di saat aku sedang serius.
"Lo bakal kecewa kalau lo tahu siapa dia," katanya seperti memperingatiku.
"Ada syaratnya tapi."
"Apa?"
"Lo harus mau ngedate sama gue weekend nanti. Gimana?" Dia menyunggingkan senyum. Padahal tadi sempat ingin menangis.
"Bukannya Kakak ada acara kumpul sama anak Stigma yang lain?"
"Bisa diatur itu. Jadi gimana?"
Sayang juga jika aku melewatkan kesempatan ini. Tinggal Kak Vante satu-satunya yang bisa memberiku jawaban. Aku tidak mungkin melepaskannya begitu saja. Tapi jika aku setuju, apa kata orang yang mengenalku? Terlebih anak STANDAR. Nanti dikira aku balikan dengan Kak Vante. Namun jika ku pikir-pikir lagi, sayang sekali jika dilewatkan.
__ADS_1
"Oke, setuju."
"Gue jemput jam sembilan."
"Iya, terserah. Jadi siapa Bang Out itu, Kak?"
"Gue kasih tahu nanti aja sebelum pulang."
"Ih, gimana sih. Licik."
"Gue janji," ujarnya tersenyum sambil menunjukkan jari kelingkingnya kepadaku. "Gue lanjut dulu, ya?" Aku mengangguk.
"Setelah kepergian Thata kita semua baikan lagi. Tapi pas Nehan ngasih tahu kita bakal ada orang sama persis sama Thata, kita semua langsung bikin kesepakatan. Dan tiba-tiba Bang Out keluar dari Stigma tanpa alasan yang jelas setelah tahu siapa orang itu. Syden masih dendam banget sama Bang Out karena keluar seenaknya."
"Orang itu gue, ya?"
Kak Vante hanya tersenyum. "Lo satu sekolah sama kita, Stigma, jadi kita bikin urutan. Di kelas sepuluh, sebelas, dan duabelas, semua dibagi siapa aja yang dapet bagian deketin lo sesuai urutan kelasnya lo. Itu semua kita bikin biar nggak kejadian kayak dulu lagi. Tapi Jastin udah nggak mau ngelakuin itu lagi. Dan lo tahu, Nad? Semua jadi kacau dengan tiba-tiba. Kita melakukan sesuatu seenaknya sampai akhirnya Bang Jin nyelesain semua ini. Lo mungkin bisa mikir kalau semua ini permainan, tapi nggak dengan gue. Gue beneran serius sama lo."
"Kak, kita cuma mau bahas pertanyaan gue. Nggak ada masalah perasaan disini," titahku mengingatkannya. Lebih tepatnya aku tidak mau terjerumus dengan kata-katanya lagi.
"Tapi kalau gue beneran mau serius sama lo sesuai dengan ucapan gue waktu di kafe itu gimana? Lo juga udah setuju, kan?"
Aku menggeleng. "Gue salah ngomong waktu itu. Sekarang gue tarik lagi kalau gue nggak setuju Kak Vante serius sama gue." Setelah Kak Syden dengan Kak Lesham yang terjadi dua kali, aku nggak mau Kak Vante dan Jastin juga ikut bertengkar seperti mereka.
Nyatanya, semua yang indah-indah itu memang harus aku akhiri dengan segera.
_____
Mau lanjut sampai berapa episode, nih???
__ADS_1
Atau mau cepet tamat aja?