
Kak Tavis melemparkan senyum kepadaku ketika aku baru tiba di depan toilet. Dia sudah berada di ambang pintu toilet. Ku pikir Kak Tavis akan marah atau jengkel kepadaku soal tadi siang. Ternyata tidak. Dia masih mau tersenyum kepadaku. "Jadi pulang bareng Lesham, kan?" tanyanya.
"Iya, Kak." Aku mengangguk dengan canggung.
Sudah ku bilang jika Kak Tavis baik. Enggan marah pula. Salah sekali bila Kak Syden menyia-nyiakan cewek sebaik ini demi menggangguku setiap hari. Lagi pula ada apa dengan Kak Syden sekarang ini. Dia selalu mendapatkan kesalahanku dengan mudah sampai membuatku hampir tak percaya. Dengan keahliannya yang seperti itu, harusnya dia tahu. Apa yang sedang dilakukannya saat ini salah. Menyia-nyiakan Kak Tavis bukan hal yang seharusnya dia pilih.
"Nadisha pacaran nggak sama Lesham?"
Pacaran?
Ku rasa bukan hanya aku saja yang merasa seperti itu. Orang lain juga. Bahkan aku sering kali berpikir bahwa aku dan Kak Lesham seperti orang yang berpacaran. Antar jemput setiap hari. Kak Lesham berbincang-bincang dengan Mama dan Papa. Mudah sekali akrab pula. Secara kan, hal seperti itu tidak mudah dilakukan dalam sekali percobaan.
Tapi aku tidak ingin berharap banyak. Semakin sering aku bertemu dengan Kak Lesham, melihat senyumnya, pesan yang dikirimkannya setiap hari. Aku menyukainya. Aku merasa nyaman dengan keadaanku yang sekarang. Ya, walaupun terkadang pesannya memiliki banyak tebakan. Namun, aku lebih memilih untuk membaca pesannya saja tanpa membalas agar aku tidak pusing memikirkan jawaban akan tebakannya.
Sama seperti hubunganku dengan Kak Savalas, layaknya aku dengan Kak Lesham lebih pantas memiliki hubungan seperti itu. Adik kakak meskipun berbeda orangtua. Aku menyukai Kak Lesham. Jujur. Rasa itu mulai ada akhir-akhir ini. Tapi, kemungkinan rasa ini salah. Rasa ini bukan rasa seperti seseorang ingin memilikinya. Menjadikan pacar contohnya. Ini hanya rasa sayang antara adik kakak. Iya, aku harus menganggapnya seperti itu.
Sampai kapanpun, selamanya, aku hanya teman, adik, dan keluarga untuk Kak Lesham. Tidak ada kata pacar diantara aku dengannya. Kak Lesham bukan gebetanku. Hanya kakak. Sebatas seperti itu. Aku tidak ingin berharap lebih yang akhirnya malah membuatku patah hati. Apalagi aku masih ingat perihal Kak Lesham dan Kak Raden yang pergi ke kafe berdua. Cerita itu masih ada di pikiranku sampai sekarang.
Sebab itu, mungkin Kak Lesham hanya menganggapku adik. Dia punya gadis lain yang dijadikannya sebagai pasangan. Hanya saja aku belum tahu siapa sosok gadisnya. Aku berharap bukan Kak Raden. Tidak untuk Kak Lesham saja. Untuk semua anak Stigma dan Kakakku, semoga saja tidak ada yang memiliki hubungan lebih dengan Kak Raden. Jangan.
"Kok diem?" Kak Tavis melambai-lambaikan tangannya di depanku. "Beneran pacaran, ya? Ciee. Nggak usah malu kali ngakunya," godanya.
Bila jujur, aku jadi takut. Mengingat soal tadi siang. Jika aku jawab 'tidak' pasti Kak Tavis akan berpikir bahwa aku memiliki hubungan dengan Kak Syden. Kesalahpahaman itu akan berlanjut jika aku jujur. Tapi jika aku bilang 'iya' itu sama saja dengan berbohong. Namun, Kak Tavis tidak akan berpikir macam-macam setelahnya. Kemungkinan dia jadi merasa lega. Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan daripada harus bingung menjawab yang bagaimana.
"Kak Tavis nggak marah soal tadi?" Aku menggigit bibirku yang bawah. Canggung sekali rasanya.
"Kenapa harus marah?"
"Kan tadi...."
"Syden ngomong begitu karena ngira lo itu Panditha. Cinta pertamanya dulu. Tapi lo tetap Nadisha, bukan Panditha. Syden pasti akan segera sadar tentang itu. Cuma belum tepat aja waktunya," jelas Kak Tavis.
__ADS_1
Oh, jadi Panditha itu cinta pertamanya Kak Syden. Tapi mengapa Kak Vante pernah membawa nama itu?
Apa anak Stigma juga menyukai gadis itu?
"Panditha mirip sama lo. Mirip banget." Kak Tavis menyenderkan tubuhnya ke tembok sambil bersedekap dada. Akupun memperhatikannya lebih detail. "Bedanya dia nggak kalem kayak lo. Pecicilan banget. Itu yang bikin cowok-cowok suka sama dia."
"Terus kenapa Kak Syden nggak ngejar Panditha? Kenapa harus ganggu aku? Apa karena mirip?" Aku mengajukan banyak pertanyaan berturut-turut.
Kak Tavis masih menatap lurus ke depan. Sejenak dia menghela napas. Lalu menoleh, menatap mataku. "Sebenarnya gue nggak bisa cerita soal ini sama lo. Tapi lama kelamaan lo juga bakal tahu. Mau gue sembunyiin atau nggak juga ujungnya lo tahu. Sama aja," tutur Kak Tavis.
Aku masih diam. Bingung harus mengatakan apa. Otakku masih banyak mencerna perkataan Kak Tavis. Sepertinya memang Stigma dan Seesaw saling memiliki hubungan kerja sama yang baik. Buktinya mereka saling menyembunyikan informasi yang sama. Informasi yang sangat ku butuhkan untuk memenuhi rasa penasaranku ini.
"Oh, ya. Apa gue boleh nanya sesuatu sama lo?" Tiba-tiba Kak Tavis meminta izin untuk bertanya kepadaku.
Seakan apa yang akan ditanyakannya ini termasuk dalam pertanyaan yang penting. Aku jadi merasa sedikit gugup. Jangan-jangan Kak Tavis akan bertanya lagi soal Kak Lesham yang tadi sempat ku alihkan. Sungguh, aku khawatir sekarang. Aku harus menjawab apa jika Kak Tavis bertanya soal itu.
"B-boleh," jawabku cemas.
Dia malah tersenyum, menatapku tanpa henti. "Lo punya perasaan sama Lesham?" tanya Kak Tavis mengejutkan aku.
"Maksud Kak Tavis apa, ya?"
"Perasaan suka. Atau mungkin memang kalian udah pacaran beneran, ya?"
"Nggak kok, Kak. Aku nggak punya hubungan lebih sama Kak Lesham. Cuma teman aja," balasku cepat sebelum aku salah menjawab.
Kak Tavis mengernyit. "Oh, tapi lo punya perasaan lebih sama dia, kan?"
Sekali lagi aku menggeleng. Aku hanya sebatas teman dengan Kak Lesham. Tidak akan lebih sampai kapanpun. Ya, walaupun rasanya sedikit sakit jika aku mengakui seperti itu. Seolah hatiku tidak setuju dengan apa yang barusan ku katakan. Seakan hatiku menolak semua yang ku pikirkan dan ku ungkapkan.
"Aku nggak punya perasaan itu."
__ADS_1
"Yakin?"
"Memang nggak ada. Sebenarnya tujuan Kak Tavis nanya ini apa, sih? Kak Tavis jangan khawatir soal Kak Syden. Meskipun aku nggak ada hubungan apapun sama Kak Lesham, aku juga nggak punya perasaan lebih sama Kak Syden. Kakak harus percaya sama aku," jelasku panjang karena saking khawatirnya. Serius. Aku sudah bilang berkali-kali jika berurusan dengan sesama gadis akan serumit ini dibanding dengan beda jenis.
Tetapi, Kak Tavis malah tertawa setelah mendengar penuturanku. Serius. Aku tidak sedang bercanda soal itu.
"Gue nggak takut soal Syden, Nad." Kak Tavis masih tertawa. Sekarang gantian aku yang mengernyit bingung. "Terus?" tanyaku.
"Kalau lo nggak suka sama Lesham...," ujar Kak Tavis menggantung sambil menatapku. "Tolong ya, kasih jarak antara lo dan dia. Gue minta tolong banget sama lo," lanjutnya.
Aku masih tidak mengerti. Apa tujuannya berbicara seperti ini?
"Emang kenapa?"
"Sepupu gue suka sama Lesham. Udah lama, sih." Kak Tavis menghela napasnya. "Semenjak Lesham nolongin dia dan dia mutusin buat homeschooling. Seminggu tiga kali pasti Lesham datang ke rumahnya. Nemuin dia, menghibur dia. Sampai akhirnya dia benar-benar punya semangat untuk berubah. Saking sukanya dia sama Lesham, sampai-sampai dia diet. Lo pasti nggak nyangka kalau gue kasih lihat fotonya after and before. Tahun depan dia juga mutusin untuk lanjut di sini. Dia udah nggak mau homeschooling lagi."
"Ovdiar, ya?" tanyaku. Entah kenapa nama itu tiba-tiba muncul dibenakku. Sepertinya nama itu dekat dengan Kak Tavis. Tapi aku tidak cukup ingat.
Kak Tavis cukup terkejut dengan pertanyaanku. Dia sampai menganga. "Lo tahu?"
"Sekadar tahu nama aja, sih."
"Oh. Ov udah banyak banget berubah. Karena itu, kalau lo nggak punya perasaan lebih tolong sedikit jaga jarak, ya? Gue nggak mau Ov sakit hati. Gue suka Ov yang sekarang. Sering banget senyum. Gue nggak mau senyum itu hilang karena masalah cowok," ucap Kak Tavis yang berhasil membuatku terpojok.
Dengan kata lain, Kak Tavis menyuruhku untuk menjauh dari Kak Lesham. Seharusnya aku biasa saja jika seandainya aku tidak memiliki perasaan itu. Tapi entah mengapa, aku merasa tidak bisa melakukan itu. Aku masih nyaman di zona ini. Keluar begitu saja, sepertinya belum bisa ku lakukan. Tapi aku juga tak bisa egois. Aku tahu sedikit tentang Ovdiar. Dan sekarang, aku harus mengalah dengannya. Senyuman milik Ovdiar sulit dibuat. Aku tidak bisa menghilangkan begitu saja.
Kak Tavis langsung memelukku sewaktu aku diam. "Gue minta tolong banget sama lo, Nad. Jaga jarak sama Lesham, ya?"
"Aku nggak janji, Kak."
"Nggak apa. Tapi gue yakin kalau lo nggak bakal mengecewakan gue."
__ADS_1
Jika orang lain percaya kepadaku, apa aku bisa untuk melunturkan kepercayaannya itu?
Ku rasa tidak.