
Sebelum pulang ke rumah aku mendapat secarik kertas dari Damira. Tidak ada nama si pengirimnya. Aneh sekali. Isi pesannya juga tidak jelas. Aku diminta untuk datang ke kafe Sendy Buana yang terletak tidak jauh dari STANDAR. Dengan jalan kaki pun aku bisa mendatangi kafe itu. Tapi masalahnya aku tidak tahu tujuanku datang ke sana untuk menemui siapa.
Seumpama jelas aku akan langsung datang. Dari bayangan saja aku sudah merasa ngeri sendiri. Ya, bayangkan saja aku datang ke kafe Sendy Buana sendirian. Sampainya disana aku berdiri linglung karena tidak tahu harus menemui siapa. Tidak diberitahu pula aku harus datang ke meja nomor berapa. Tidak mungkin sekali jika aku menanyai satu persatu dari meja yang ada.
Daripada bingung sendiri, aku lebih ingin pulang. Akan tetapi aku masih penasaran dengan si pengirim surat ini. Sekolah juga sudah mulai sepi. Penghuninya sudah pada pulang sejak beberapa menit yang lalu. Aku masih disini menunggu Kak Maven menjemputku. Sejak aku memutuskan untuk menjauhi Kak Lesham dulu, aku mulai diantar jemput oleh Kak Maven sampai sekarang.
Ku pikir sedikit merepotkan bagi Kak Maven karena dia juga sering kali ada kuliah sore. Banyak tugas kelompok juga. Tapi, ya, bagaimana lagi. Sudah ku suruh untuk tidak mengantar jemputku lagi namun tidak diindahkan. Kak Maven tetap bersikekeh untuk mengantar jemputku karena sudah terlanjur janji dengan Kak Savalas. Kalau mainnya sudah janji, aku tidak bisa menolak.
"Lama banget, sih," keluhku. Tidak biasa-biasanya Kak Maven terlambat untuk menjemputku. Malahan dia sering datang lebih awal dan menungguku sambil mengobrol dengan Pak Satpam. Kak Maven juga tidak mengabari aku pula jika seandainya dia tidak jadi menjemputku.
Apa harus ku telepon?
Mungkin iya. Aku pun mengeluarkan benda hitam pipih dari saku seragamku. Ketika hendak menggeser layar, sebuah panggilan telepon masuk dari Kak Maven. Aku mengembangkan senyum. Akhirnya yang ditunggu-tunggu memberi kabar.
"Halo, Kak. Kok belum sampai, sih?" tanyaku langsung. Terdengar dengusan dari ujung sana. "Gue ada rapat dadakan. Biasa orang ganteng emang selalu sibuk," ujarnya.
"Ya, udah lanjutin aja. Gue bisa pulang sendiri kok."
"Eh, jangan!"
"Kenapa? Kan Kakak lagi ada rapat. Masa iya gue harus nungguin sampai rapatnya selesai?"
"Ini udah mau kelar. Tunggu sebentar. Lagian juga masih sore. Oke?"
Tiba-tiba sambungan telepon langsung terputus begitu saja. Padahal aku belum mengiakannya. Ya, sudah. Daripada nanti Kak Maven datang ke sini tanpa ada kehadiranku lebih baik aku menemui orang yang mengirim surat kepadaku. Selain untuk memenuhi rasa penasaranku, aku juga tidak akan bosan untuk menunggu Kak Maven datang.
Aku menghela napas panjang. Lantas melangkahkan kaki menuju ke kafe Sendy Buana. Aku tidak ingin membayangkan bagaimana linglungnya nanti saat sudah tiba disana. Lagipula jika surat itu beneran serius pasti nanti akan ada orang yang mencariku. Jadi aku tidak perlu serisau ini. Seandainya aku tidak menemukan orangnya juga tinggal balik lagi ke STANDAR sembari menunggu Kak Maven.
Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di depan kafe Sendy Buana. Kafe itu terlihat sangat ramai. Jika begini bisakah aku menemukan si pengirim surat?
Dengan helaan napas, aku pun beranjak masuk ke dalam kafe. Tibanya di dalam aku berdiri sambil mengedarkan pandanganku ke segala arah. Mataku mencari seseorang yang mungkin aku kenal. Aku memicingkan mataku agar dapat melihat satu persatu orang dengan jelas. Sepertinya tidak ada satupun orang yang ku kenal. Semuanya terlihat asing bagiku. Bahkan ada yang baru pertama kali ku lihat.
"Eh!" jeritku cukup nyaring saat bahuku ditepuk seseorang dari belakang. Aku cukup terkejut dengan kontak fisik yang tiba-tiba seperti itu. Aku pun membalikkan badanku mengarah ke orang yang sudah mengagetkanku.
Melihat siapa yang menepuk bahuku itu, seolah aku tidak percaya. "Apa-apaan, sih?" titahku pura-pura kesal.
"Hai Kadal," sapa Kak Vante sambil tersenyum penuh arti kepadaku. Seakan senyuman ini adalah senyuman temu kangen.
Aku meringis kaku, bingung harus merespon apa. Sudah lama tak berinteraksi dengannya aku menjadi sedikit kaku dan canggung jika harus berhadapan dengan Kak Vante. Apalagi ini tempatnya cukup ramai. Bahkan sekali teriak pun aku langsung menjadi pusat perhatian.
"Kakak ngapain disini?" tanyaku.
__ADS_1
"Ikut gue, yuk!" ajak Kak Vante sambil memegang telapak tanganku. Lebih tepatnya menggenggam dengan sengaja. Aku hanya membulatkan mata lebar-lebar. Tidak percaya dengan apa yang Kak Vante lakukan.
Aku masih mematung. Ini Kak Vante yang mengirimiku surat? Atau aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya?
"Mau ke mana?"
"Ke atas. Sebentar doang. Nggak bakal lama, suer." Dia tersenyum berusaha meyakinkanku.
"Nggak lama, ya?"
"Oh, mau lama-lama juga boleh."
"Apa, sih."
"Yuk," putusnya sepihak yang kemudian langsung menarikku menuju ke tangga supaya kami bisa sampai diatas. Selama ditarik oleh Kak Vante otakku belum bekerja. Aku masih mengikutinya saja tanpa protes.
Aku dan Kak Vante tiba di lantai atas. Eh, sunyi dan sepi. Padahal tadi yang lantai bawah ramai sekali sampai aku tidak yakin jika di lantai atas masih terdapat tempat. Selain sepi, di lantai atas ini seperti tidak ada kehidupan. Aku tidak menemukan satu pelayan pun yang lalu-lalang di sekitarku. Seakan di lantai dunia ini telah disewa oleh Kak Vante untuk acara ngedate. Ah! Khayal sekali.
"Sepi banget," ungkapku berkomen supaya Kak Vante ingin menjelaskan maksud dari semua ini.
Kak Vante melepas genggamannya. Ia langsung berdiri di hadapanku sambil tersenyum lebar. Wajahnya perlahan maju mendekat ke wajahku. Jantungku langsung berdebar-debar sewaktu wajah Kak Vante semakin mendekat. Pikiranku sudah kemana-mana. Sontak, aku refleks memejamkan mataku karena takut melihat Kak Vante yang semakin menghapus jarak antara kami.
Kak Vante terkekeh. "Takut dicium, ya?" tanyanya meledek.
Pasti Kak Vante sudah memergokiku tadi. Ah, sial! Kenapa harus tahu segala, sih? Aku kan jadi malu sendiri.
Tiba-tiba seseorang datang sambil membawa kue tar dengan angka lilin tujuh belas yang sudah dinyalakan. Dia tersenyum kepadaku. Kemudian Kak Vante mengambil kue itu dari tangannya dengan paksa. "Make a wish dulu sebelum ditiup. Jangan lupa selipin nama gue didalamnya," tutur Kak Vante.
Aku mengabaikannya dan fokus pada orang yang baru saja datang.
"Friska lo...," Aku sedikit tak percaya Friska juga hadir didepanku sekarang. Bahkan dia mengukir senyum. "Selamat ulang tahun, ya, Nadisha-nya Friska. Semoga cepat ditemukan jodohnya terus nikah dan punya anak yang lucu-lucu."
"Ih, doanya kok begitu." Aku menolak. Siapa juga yang mau didoakan seperti itu di saat masih SMA? Tapi tunggu. Ini Friska mau berbicara denganku? Sudah tidak marah?
"Lo udah nggak ngambek lagi, Fris?"
Friska hanya menyengir. "Mana ada. Orang gue cuma bercanda kok. Sori kalau kelewatan. Tapi semua ini idenya Kak Vante, Nad. Kalau mau marah, marah sama Kak Vante aja jangan gue. Disini gue korban soalnya," jelasnya.
"Korban apaan? Gue aja nggak sampai nyentuh lo. Jangan drama, deh."
"Kakak tuh yang drama. Pakai acara maksa gue buat ngerjain Nadisha lagi. Coba aja kalau drama Kakak waktu itu nggak tragis. Gue nggak akan mau melakukan ini," timpal Friska.
__ADS_1
"Dih baperan."
"Namanya juga cewek. Lihat drama cinta nggak terbalas, ya, mewek."
"Lah, kenapa jadi curhat?"
"Kak!" Friska berteriak.
Aku tidak habis pikir. Bercanda tapi sampai bawa masalah orangtua juga? Iya jika cuma mainan. Seumpama ucapan itu doa dan kejadian bagaimana?
"Orangtua lo pakai bercandaan?" tanyaku memastikan.
"Udah dibilang kalau mau marah sama dia aja, nih." Friska menunjuk-nunjuk Kak Vante karena tidak mau disalahkan. Entah ini ide Kak Vante atau Friska, tetapi jika membawa-bawa orangtua terlalu berlebihan.
"Dibahas ntar aja. Sekarang tiup dulu lilinnya. Pamali ngomongin masalah didepan kue tar," cetus Kak Vante.
Aku mengernyit tidak percaya. "Emang iya?"
"Buruan ditiup. Atau mau gue yang bantu tiupin?"
"Jangan sampai, deh, Nad. Nanti lo kena virusnya Kak Vante," saran Friska padaku.
Kak Vante merasa terzalimi. Dia menatap Friska emosi. "Apa yang barusan lo bilang ke calon penghuni surga?"
"Apa, sih. Geer banget."
"Ngomong apa?"
"Nggak ada. Salah denger kali," elak Friska. Kemudian dia menepuk bahuku sambil mengangkat dagunya. "Make a wish dulu, ya," katanya.
Aku mengangguk dan memejankan mataku. Aku berharap semoga orang yang masih berada di sekitarku tidak akan pergi. Aku ingin melihat mereka bahagia dengan adanya aku, bukan malah sebaliknya. Di umur yang ke tujuh belas ini---ulang tahun yang ku lupakan sampai tidak sadar bila sekarang umurku sudah bertambah---aku semakin lebih baik. Tidak ada keinginan yang muluk-muluk. Cukup dengan melihat senyum orang-orang disekitarku itu sudah sangat baik.
Selesai membuat harapan, aku pun membuka mataku. Lalu meniup dua lilin yang berbentuk angka satu dan tujuh. "Makasih, ya." Aku hanya bisa tersenyum senang.
Friska langsung memelukku erat. "Jangan marah, ya? Kan cuma bercanda doang."
Aku mengangguk.
Mana mungkin aku marah? Dulu aku menghadapi Zelo dengan marah hingga akhirnya dia pergi. Jika sekarang aku juga marah, Friska pasti juga akan pergi. Lagipula ini hanya bercanda untuk mengerjaiku. Tak apalah. Aku memakluminya asal tidak diulangi kembali.
"Dada gue lebar, nih. Yakin nggak mau dipeluk juga?" tawar Kak Vante sambil menaikturunkan alisnya dengan senyuman lugunya.
__ADS_1