Bena

Bena
BAB 2C


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Hari ini sama seperti hari biasanya. Kak Savalas membuatku bangun pagi-pagi sekali sehingga kami berdua sampai sekolah juga sangat pagi. Sebelumnya aku tidak pernah berangkat sepagi ini. Meskipun terkadang aku disuruh oleh teman-temanku untuk berangkat pagi karena piket, aku juga tidak akan berangkat sepagi ini. Entah. Aku tidak tahu apa yang akan Kak Savalas lakukan dengan berangkat sepagi ini. Tidak mungkin jika karena ia piket. Aku tidak akan percaya jika itu alasannya.


Kalau tugas?


Itu semakin membuatku tidak percaya. Kak Savalas bukanlah orang yang pemalas sampai tugas saja dia tidak sanggup untuk mengerjakan. Untuk kualitas otak sepintar Kak Savalas aku sangat meragukan jika ia masih menyontek jawaban teman-temannya.


Kalau pacaran?


Jangankan pacaran, gebetan saja belum punya. Padahal Kak Savalas cukup ganteng. Tapi entah mengapa sampai sekarang ia masih sendiri. Bahkan gebetan pun belum punya. Aku juga tidak tahu modelan seperti apa cewek yang Kakakku inginkan. Yang jelas, intinya bukan sepertiku. Itulah yang aku tahu.


Lalu apa tujuannya?


Apa dia mau menggantikan tugas Pak Kebon?


Entahlah. Memikirkannya saja membuatku pusing tujuh keliling.


Terdengar suara pantulan bola basket. Aku berhenti melangkah. Memperhatikan sekelilingku. Apa ada orang yang sepagi ini bermain basket?


Masih pukul 06.09 WIB. Bayangkan saja. Ini itu masih sangat pagi. Jarak rumahku ke sekolah hanya memakan waktu lima belas menit saja. Seharusnya aku masih bisa menonton televisi dulu di rumah. Nanti jika sudah pukul setengah tujuh barulah aku berangkat sekolah. Seharusnya memang begitu. Tapi ya sudahlah. Semua ini sudah terlanjur.


Kalau besok Kak Savalas masih mengajakku untuk berangkat sekolah sepagi ini aku tidak akan mau. Lebih baik aku naik angkutan umum saja daripada harus berangkat pagi bersamanya. Jika begini kan aku sendirian.


Suara orang bermain basket terdengar semakin keras. Aku semakin penasaran. Akhirnya aku memilih untuk mendatangi lapangan basket yang letaknya di belakang sekolah. Di STANDAR ada dua lapangan basket. Yang pertama ada di tengah-tengah sekolah, dan yang terakhir ada di belakang sekolah. Yang ada di belakang ini lebih luas dan nyaman pastinya.


Setelah aku sampai di lapangan basket, aku berhenti di samping pohon yang besar. Aku melihat seorang cowok sedang bermain basket sendirian. Dan dia bukan Kakakku. Aku memperhatikan gayanya dalam bermain basket. Cukup aku akui bila dia memang keren. Dia yang entah siapa aku juga tidak tahu. Bahkan aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Aku menghela napas. Memilih untuk kembali ke kelas saja daripada harus melihat orang yang bermain basket.


"Jangan pergi dulu," ucap cowok yang tadinya sedang bermain basket ketika aku hendak membalikkan badan. Aku mengurungkan niatku dan melihatnya menghampiriku sambil membawa bola basket itu di pinggang kirinya.


Dia mengulurkan tangannya ketika tepat berdiri di hadapanku. Cowok itu tersenyum. "Jastin. Sekelas sama lo," ucapnya tanpa ku minta.


"Nadisha Radka," ujarku sambil membalas uluran tangannya. "Kok gue nggak pernah lihat lo di kelas, ya, sebelumnya?" tanyaku.


Cowok bernama Jastin itu tertawa sambil melepas jabatan tangan kami. "Gue baru masuk hari ini. Kemarin-kemarin gue berkendala datang ke sekolah."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk mendengar perkataannya.


"Berangkat pagi mau ngapain? Ada piket?"


Aku menggeleng. "Nggak."


"Oh, kirain ada piket."


"Bukan. Kakak gue ngajak berangkat pagi."


"Emm, punya Kakak ya?" Aku hanya mengangguk saja tanpa berkata.


"Mulai sekarang kita teman." Jastin mengacak-acak puncak rambutku seolah kami sudah lama berteman.


____


"Please, deh! Lo nggak usah kebanyakan ngayal. Nggak mungkin ada banyak cowok yang tahu nama lo. Nadisha, lo itu bukanlah cewek yang populer. Jangankan populer. Punya sahabat juga gue doang." Zelo masih tidak percaya denganku. Aku sudah berkata jujur padanya. Memang akhir-akhir ini banyak sekali cowok yang mengenaliku. Mulai dari Kak Lesham, Kak Jin, Kakak datar di kantin, dan Kak Vante yang kemarin pagi itu. Aku punya banyak pertanyaan sekarang. Tetapi aku tidak memiliki satu orang pun yang bisa ku tanya sekarang. Zelo yang biasanya ku tanyai sekarang malah tidak percaya kepadaku.


Aku sudah sering diejek Zelo dari dulu. Mulai dari sesuatu yang kecil sampai yanh besar. Terkadang apa yang aku inginkan itu juga selalu Zelo ejek. Katanya aku yang tidak pantas. Aku yang terlalu bermimpi tinggi-tinggi. Dan terkadang dia juga bilang kalau aku terlalu banyak berimajinasi.


Kalau ditanya aku sudah lelah atau tidak dibegitukan olehnya tentu saja jawabanku sudah.


Ketika aku masih kecil, aku sudah bersama dengannya. Dulu aku ingin sekali membalas perkataannya. Tetapi Mamaku selalu melarangku. Mama bilang, Zelo bersikap seperti itu karena Zelo tidak pernah mendapat kasih sayang seorang Ibu. Zelo sama sekali tidak pernah mengenal yang namanya ketulusan. Sejak Zelo lahir orangtuanya resmi bercerai. Ibunya tidak mau mengasuh Zelo. Akan tetapi, Ibunya lebih memilih untuk mengasuh Kakak Zelo yang saat itu umurnya sudah dua tahun. Sampai sekarang pun Zelo tak pernah bertemu dengan Ibunya.


Jangan kan Ibunya. Bertemu dengan Ayahnya yang mengasuhnya saja jarang. Ayah Zelo lebih banyak bekerja sampai larut malam. Terkadang sampai keluar kota berbulan-bulan. Karena itu, Zelo juga sering menginap di rumahku.


Sebab itu, sampai sekarang pun aku masih berusaha untuk tidak memasukkan ke dalam hati ucapannya itu.


Antara aku dan Zelo, akulah yang lebih beruntung darinya.


Aku bersyukur keluargaku masih utuh.


Aku berharap keluarga tetap utuh sampai nanti.

__ADS_1


"Saran aja, nih, Nad. Kalau ngayal itu boleh-boleh aja. Tapi jangan lima cowok lo embat juga. Apa perlu gue beliin kaca?" tanya Zelo dengan nada tinggi.


Perkataannya menyakitkan.


Tapi tak apa.


Zelo menyenggol bahuku. "Lo kenapa diem aja? Marah?"


Aku menggeleng.


"Nggak. Gue nggak marah."


"Bohong kan lo."


"Nggak, Ze."


"Au ah! Eh, kata Tante lo mau ikut ekskul masak, ya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Kali ini aku mengikut saja. Ku rasa suasana hati Zelo akan baik jika aku menuruti apa yang dia mau. Selagi tidak memberatkan bagiku, aku pikir itu baik.


Aku menatapnya. Buku yang semula ku buka langsung ku tutup.


"Bukan. Sebenarnya Mama yang nyuruh. Gue sih males ikut begituan," ungkapku. Semenjak Mamaku mendapat browsur STANDAR dari Kak Savalas, Mama langsung menyuruhku untuk ikut ekstrakulikuler memasak. Dengan alasan mumpung gratis. Kata Mama, aku ini harus sudah bisa memasak setelah lulus SMA. Mama bilang Mama ingin aku menjadi cewek yang pintar memasak. Karena hal itu, sekarang aku harus menjadikan ekstrakulikuler memasak itu ke dalam ekskul yang wajib. Kalau itu tidak aku laksanakan, Mama akan memotong uang jajanku selama setahun.


Cukup buruk bukan?


Tapi tidak masalah. Bagi siswa-siswi STANDAR minimal ekskul yang wajib diikuti adalah tiga ekskul. Aku masih memiliki dua peluang lagi.


"Dugaan gue sih lo nggak bakal bisa."


Tuh, kan. Apa yang aku bilang. Dia itu selalu mengejekku. Tidak bisakah dia membuatku semangat dulu?


"Gue yakin kok kalau gue pasti bisa. Selagi punya niat nggak ada yang nggak mungkin," ujarku. "Lagian gue lebih sayang uang jajan daripada keinginan gue sendiri. Setidaknya untuk sekarang," tambahku.


Zelo tertawa. "Maksud gue, lo nggak bakal bisa bertahan di sana selama yang ngajar itu Kak Syden."

__ADS_1


__ADS_2