Bena

Bena
BAB 12D


__ADS_3

Makan malam kali ini hanya ada aku dan Mama. Papa belum pulang kerja dan Kak Savalas tidak ada di Indonesia. Mendadak menjadi hening dan sunyi seperti ini. Aku sangat tidak menyukainya.


"Nad," panggil Mama.


Aku mendongak. "Hm?"


"Tadi yang nganterin kamu pulang siapa? Cowok baru lagi, ya? Mama kok nggak pernah liat wajahnya," tanya Mama. Sudah ku duga pasti Mama mengintipku dari jendela sewaktu pulang. Lagian ini juga Kak Syden kenapa memaksa untuk mengantar pulang segala, sih? Ribet kan jadinya. Pasti Mama akan menganggap yang tidak-tidak.


"Kakak kelas, Ma. Yang ngajar di Stig Cooking," jelasku. Sengaja tidak memakai nama agar Mama tidak mengingatnya.


Mama mengangguk-angguk. Dia menuangkan air ke gelasku. Entah percaya atau tidak, tetapi Mama belum sepenuhnya puas dengan jawabanku. Sebentar lagi pasti akan bertanya lagi. Seperti biasanya kan memang seperti itu.


"Dia pendek."


Eh? Apa kata Mama? Aku menatap Mama keheranan. Ku pikir akan bertanya lagi. Ternyata malah berkomentar.


"Tapi ganteng, sih." Mama masih membayangkannya. Lalu menatapku serius. "Kamu lagi nggak suka kan sama dia? Jangan-jangan kamu udah jadian lagi," ucapnya bebas.


"Apa, sih, Ma. Aku cuma temenan doang. Tadi tuh tinggal aku sama dia yang di sekolah. Terus dia kasian liat aku mungkin, sendirian nggak ada yang jemput. Makanya nganterin aku pulang. Udah deh, Ma. Jangan mikir yang nggak-nggak." Aku menjelaskannya panjang lebar. Jika tidak begini pasti Mama akan menerocos lagi. Sebagai ganti dari Kak Savalas. Banyak bertanya tentang hidupku.


Tapi, memang sih. Kak Syden dan Kak Lesham itu pendek dibandingkan dengan semua anak Stigma. Tentu yang paling tinggi adalah Kak Nehan. Meskipun aku bilang mereka pendek, namun aku masih berada di bawahnya. Wah, aku keliatan lebih mungil memang. Apalagi tinggiku jika bersama Kak Vante hanya sampai di lehernya. Bersama Kak Nehan sampai di bahunya. Tapi kalau bersama Kak Lesham maupun Kak Syden masih sampai di hidungnya. Terbilang cukup tinggilah aku ini.


"Lain kali ajak mampir biar Mama kenal."


Aku mengernyit. "Buat apa, sih, Ma?"


"Ya, kamu kan temannya banyak cowoknya gitu. Sekali-kali ajak mampir biar Mama bisa ngelihat siapa yang cocok buat kamu," jawab Mama serius.


Ini semua akan merujuk pada pacaran. Aku sudah paham betul maksud Mama. Memang kalau aku memilih untuk sendiri dulu kenapa, sih? Aku juga masih muda. Akan sia-sia hidupku kalau aku terus bersenang-senang. Setidaknya aku harus memiliki kesibukan sekarang. Supaya waktuku dengan Mama juga berkurang. Aku tidak ingin Mama banyak bertanya mengenai anak Stigma yang ujung-ujungnya memiliki maksud terselubung.


Mama membukakan kaleng kerupuk di depanku. Sengaja. Hari ini memang Mama tidak ke mana-mana. Jadi kegiatannya hanya memasak. Mulai dari membuat camilan hingga menggoreng kerupuk mentah yang telah dibelinya di pasar.


"Kata Sava kamu biar diantar jemput sama Maven aja. Mavennya udah tahu belum?"


"Udah kok."


"Terus nggak nungguin kamu tadi?"


"Nadisha udah ada yang antar jemput, Ma. Bukan Kak Maven tapi," jawabku.


Kali ini Mama mengernyit. "Cowok yang tadi?" tanyanya. Aku masih menggeleng untuk meresponnya.


"Terus yang mana?"


"Kak Lesham, Ma. Yang pernah ngajakin Nadisha keluar buat beli bahan masakan dulu. Nggak apa, kan?"


"Ya kalau kamu mau ya nggak apa-apa. Tapi---" Aku bergegas menyelanya. "Kak Savalas kenal sama Kak Lesham kok."


"Oh, oke. Nggak masalah."


Aku tersenyum. Setelah ini aku bisa diantar jemput Kak Lesham dengan mudah. Aku sudah mendapat izin Mama. Tentunya Papa juga akan memberiku izin setelah Mama. Papa orang yang mudah. Jadi kukira hanya Kak Savalas saja satu-satunya orang yang rumit menurutku.


Obrolanku dan Mama sudah berakhir. Mama sudah tidak lagi makan. Dia pergi ke dapur untuk mencuci piring dan peralatan bekas memasak tadi. Sementara aku masih makan sendirian. Hening. Hanya ada suara gemercik air dan suara piring yang sedang dicuci.


Ponselku bergetar. Akhir-akhir ini memang ponselku sering sekali bergetar. Sering ada pesan yang masuk. Biasanya, hanya Friska jika tidak ya Zelo yang suka mengirimkanku pesan. Tapi kali ini sepertinya mulai kembali berbeda.


Setiap kali aku membaca pesan darinya aku selalu menyunggingkan senyum tanpa sengaja.


Kini, aku menggeser layar ponsel. Lalu segera melihat isi pesan itu.


Habis makan temui gw ya. Di balkon kamar lo.

__ADS_1


Astaga. Yang pesan ini aku tidak bisa lagi tersenyum. Tanpa ikut membantu Mama, aku pun segera menyelesaikan makanku dan bergegas menghampiri Kak Lesham di balkon kamar.


Pertanyaanku satu; dari mana dia bisa naik ke balkonku?


Apa iya dia membawa tangga?


Kurang kerjaan sekali.


"Ma, Nadisha ke kamar dulu ya. Ada tugas dadakan, nih." Aku pamit kepada Mama sambil meneguk air minumku.


"Ya, sudah."


Itulah yang ku dengar sebelum aku menaiki tangga. Dengan cepat aku melangkah menuju ke kamar. Membuka pintu kamar dan segera membuka jendela kamarku. Benar. Kak Lesham memang datang ke rumahku.


Dia menyapaku sambil mengangkat tangannya melambai. "Hai," sapanya.


Aku keluar dari kamar melewati jendela dan kembali menutupnya. Kini, aku menatapnya aneh.


"Kakak naik apa ke sini?" tanyaku.


"Naik mobil."


"Ih, bukan. Maksudnya naik ke balkon pakai apa?"


"Manjat, sih."


Benar-benar nekat. Ku pikir benar bila dia membawa tangga ke rumahku.


"Terus mau ngapain?" Aku kembali bertanya sambil duduk di kursi yang ada di balkon. Biasanya kursi ini aku gunakan dengan Kak Savalas. Terlebih jika dia sedang mengintrogasiku.


Kak Lesham mengedikkan bahunya tanda tak tahu. "Nemuin lo nggak harus ada alasan, kan?"


Berhubung Kak Lesham di sini, aku akan menjelaskan soal tadi.


"Kak, tadi ngapain nunggu gue?"


"Emang kenapa?"


"Kan gue nggak jadi pulang bareng lo. Eh, malah bareng Kak Syden. Ya gue nggak enak aja."


Kak Lesham tertawa kecil. Sepertinya memang sulit membuatnya marah. Tapi harusnya aku bersyukur. Jika dia tidak marah, aku juga tidak bermasalah. Aku masih akan tenang.


"Santai aja," jawabnya.


Aku menunduk, malu. "Sori ya."


"Nggak apa."


Kemudian aku kembali mendongak. Kak Lesham masih menatapku. Oh, ya ampun! Mau sampai kapan dia terus melihatku seperti ini.


"Ada PR nggak?"


"Nggak ada, sih. Emang kenapa?"


"Nggak apa, cuma nanya. Biar kita makin lama ngobrolnya."


"Apaan, deh." Aku tersenyum sesaat. Lalu menolehkan kepalaku ke kiri untuk menatap lurus ke depan. Aku tidak ingin kontak mata lagi dengan Kak Lesham. Percuma, aku akan tertular virus senyumnya itu lama-lama.


Kak Lesham ikut menatap lurus ke depan. "Papa lo belum pulang?"


"Belum. Mungkin ada lembur," jawabku.

__ADS_1


"Kalau gitu gue temani sampai pulang, ya? Biar lo nggak kesepian."


Aku refleks menatapnya. Mataku membulat lebar-lebar setelah mendengar apa yang barusan dia katakan.


"Papa gue bisa sampai jam sepuluh pulangnya. Mending Kakak pulang duluan aja. Lagian kan gue masih ada Mama," tolakku. Yang benar saja Kak Lesham akan tetap di sini sampai jam sepuluh. Jika ada warga yang melihatnya di balkon kamarku akan membuat masalah nantinya.


"Ya, udah. Gue pulang duluan sebelum Papa lo pulang. Tapi nanti," katanya.


"Iya."


Ya sudah tidak masalah. Yang penting tidak sampai jam sepuluh dia ada di sini. Setidaknya aku masih bisa menghela napas.


"Ada gitar, nggak?"


"Buat apa?"


"Buat dimainin lah. Kakak lo tuh mungkin punya," ujar Kak Lesham. Sepertinya dia memang benar-benar akan menemaniku. Niat banget sampai minta gitar biar semakin lama ada di sini.


Aku bangkit. "Bentar, gue ambilin punyanya Kak Sava."


Kak Lesham hanya mengangguk-angguk. Aku pun segera masuk kembali ke kamar. Lantas keluar menuju ke kamar Kak Savalas. Ini masalahnya aku tidak tahu di mana Kak Savalas meletakkan gitarnya. Sudah lama tidak dipakai.


"Kamu ngapain ke kamar Sava, Nad?" Mama tiba-tiba datang membawa setumpuk baju Kak Savalas.


Aku menggaruk rambutku. "Mau pinjam gitar. Tapi nggak tahu naruhnya di mana. Mama tahu, nggak?"


"Gitar?"


"Iya, Ma. Tahu dimana?"


"Sejak kapan kamu tertarik main alat musik?" Mama heran denganku.


Aku memang tidak menyukai musik. Itu bukan karena aku memang tidak suka sekali. Tapi karena suaraku yang fals, aku jadi tidak suka belajar menggunakan alat musik. Ku pikir percuma jika bisa memainkan alat musik tapi tidak bisa menyanyi dengan baik.


"Ada tugas, Ma. Tadi kan Nadisha udah bilang sama Mama." Aku kembali berbohong. Kebiasaan ini lama-lama.


"Oh. Bentar Mama ambilin," ucap Mama sambil meletakkan tumpukan baju itu di sofa. Mama bergegas ke kamar baju Kak Savalas. Tak lama Mama keluar sambil membawa gitar. "Mama mau keluar sebentar beli vitamin. Kamu jaga rumah, ya." Mama menyodorkan gitar itu kepadaku.


Aku mengangguk paham lantas melakukan gerak hormat. "Siap, Ma!"


"Sekalian itu baju Kakak kamu taruh di lemari, ya. Mama buru-buru."


"Eh, tapi, Ma."


"Asal taruh nggak apa, yang penting rapi!" kata Mama yang sudah berjalan keluar meninggalkanku. Alhasil aku pun menurut. Memasukkan semua baju Kak Savalas ke dalan lemari. Kemudian aku kembali menuju kamarku.


Ketika aku membuka jendela balkon, ternyata Kak Lesham masih ada di sana. Dia mengulurkan tangannya meminta gitar itu. Aku tersenyum sambil memberikannya kepadanya. "Mama keluar, jadi Kakak bebas mau berisik juga nggak apa," kataku.


Dia hanya tersenyum. Lantas mulai memetik senar gitar secara perlahan. Aku hanya duduk memperhatikan.


"Kalau suara gue ganggu tutup telinga aja, ya." Kak Lesham memperingatiku.


Aku menurut saja. Menutup telingaku yang satunya.


"NADISHA! ADA PAKET MEKDI, NIH. KAMU PESAN, YA?" teriak Mama yang langsung membuatku terkejut. Kak Lesham pun menghentikan kegiatannya. Aku kembali bangkit. "Sebentar, ya, Kak."


Namun, Kak Lesham menahanku. Aku refleks menoleh kepadanya. Dia tersenyum lagi. "Gue yang pesan, laper." Seketika aku hanya bisa mengerjapkan mataku berulang kali.


"NAD!"


"Eh, iya, Ma! Nadisha yang pesan, sebentar!" Aku melepas tangan Kak Lesham dan segera ke bawah. Benar-benar menguras tenaga saja. Kalau lapar kenapa tidak bilang? Aku kan bisa mengambilnya di dapur. Tidak perlu memesan makanan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2