Bena

Bena
BAB 16A


__ADS_3

Tahun ini adalah tahun terakhir aku berada di STANDAR---SMA Tanda Darma.


Pasalnya enam bulan berlalu dengan cepat. Bahkan sangat sampai aku tak sadar telah berganti tahun. Hari demi hari. Bulan demi bulan telah ku lalui tanpa masalah. Enam bulan yang lalu, Kak Lesham benar-benar melakukan apa yang telah dikatakan kepadaku. Aku tidak akan pernah lupa dengan perkataannya. Dia memenuhi keinginanku untuk menjauh. Sejak saat itu kami benar-benar kembali pada situasi awal. Aku seperti tak pernah mengenal sosok Kak Lesham. Nomornya pun sudah tidak terpakai.


Jangan pikir bila aku sesantai itu menjalani hari tanpa sadar. Aku sadar bila hari berlalu. Tapi aku tidak sadar bila berlalunya secepat ini. Benar-benar membuatku merasa lega. Meskipun sedikit terkejut, namun aku senang. Ternyata selama enam bulan ini aku telah lepas dari Kak Lesham. Mungkin bisa jadi aku akan lepas darinya untuk selamanya.


Beberapa hari setelah pertemuanku dengannya yang terakhir cukup membuatku risih. Aku masih tergiang ucapannya. Kejujuran tentang perasaannya. Begitu pula dengan tindakanku yang salah. Sangat salah sampai membuat semua yang membahagiakan berakhir.


Tapi ya sudah. Tidak apa-apa. Semua sudah berakhir. Tidak ada yang perlu disesalkan. Ini takdir.


"Hai, cantik."


Aku mendongak. Melihat seseorang yang telah lama menghilang dari penglihatanku kembali muncul. Senyuman menjengkelkannya kembali terukir. Melihatnya saja sudah membuatku ingin beranjak pergi darinya.


"Eitss, jangan pergi dulu." Dia menahanku. Aku tidak tahu maunya apa. Tetapi kesan terakhir dengannya setahun yang lalu cukup membuatku jengah untuk berurusan dengannya.


Aku mengembuskan napasku. "Ada apa? Gue pikir lo udah nggak sekolah di sini. Nggak pernah keliatan soalnya," kataku.


"Ciee nyariin, ya?" godanya.


"Apaan, sih. Cuma nanya doang," elakku.


Bisa kegeeran dia kalau aku bilang bahwa aku memang mencari dia. Tidak mencari sebenarnya. Tetapi lebih ke ingin tahu saja. Soalnya sudah lama sekali dia tidak pernah muncul di hadapanku. Seperti di telan bumi saja. Aku bahkan sempat berpikir bahwa dia telah pindah dari STANDAR karena saking tidak pernah ketemu dengannya.


"Iya, iya, yang cuma nanya doang." Dia terkekeh.


Lagi pula kenapa pula aku harus ingin tahu soal dia? Seharusnya aku tidak perlu berkata seperti itu tadi. Seolah dia merasa bahwa dirinya memang penting untukku. Jiwa geernya pasti sedang meronta-ronta di lubuk hatinya.


"Oh, ya. Kayaknya kita jodoh, deh."


Aku mengerutkan kening. Jodoh? Apa maksudnya, sih?


"Sok tahu banget, sih."


"Beneran lho. Kita itu sekelas. Gimana nggak jodoh namanya?"


"Cuma sekelas doang. Dulu waktu kelas sepuluh juga begitu, kan?" Aku balik bertanya.


"Yang kali ini beda dong," sahutnya.


"Sehalu lo aja, deh. Gue nggak ganggu. Oh, ya. Lo tahu Friska dimana, nggak? Dari tadi gue nggak liat dia," tanyaku.


"Friska lagi nangis di UKS."


Nangis?

__ADS_1


Kemarin dia masih baik-baik saja. Tidak punya masalah apa-apa. Kalaupun punya pasti dia akan bercerita kepadaku. Aneh sekali jika tiba-tiba Friska menangis sendirian di UKS. Biasanya juga mengajak aku. Sedetik kemudian aku menemukan satu poin. Aku menatap cowok di depanku dengan penasaran.


"Lo apain, Jas?"


"Eh, jangan nuduh gue dong."


"Ya, terus? Dia kenapa nangis?"


"Gara-gara nggak sekelas sama lo mungkin. Atau nggak dia lagi galau tuh gara-gara gue lebih milih nemuin lo daripada nemenin dia," jawab Jastin.


Jastin ini memang suka membuatku jengkel. Padahal kesan pertamaku dulu dengannya tidak seburuk itu. Memang dari anaknya saja sudah menjengkelkan. Mau disembunyiin dengan cara apapun pasti akan kelihatan juga seperti apa aslinya. Begitupun sekarang, aku sudah hafal betul bagaimana menyebalkannya sosok Jastin ini.


"Serius, Jastin. Friska kenapa?" Dengan sabar aku kembali bertanya padanya. Jangan sampai ini tanganku meremas-remas wajahnya karena saking jengkelnya. Semoga saja.


Bukannya menjawab, dia malah tertawa kecil. Memang minta dijitak itu keningnya agar lebih sadar. Ditanya malah tertawa tidak jelas. Obatnya mungkin sudah habis. Jadi kelakuannya tidak senormal biasanya. Murah senyum memang iya. Seperti Kak Lesham. Tapi itu lho, suka tertawa tiba-tiba tanpa alasan. Kan aneh. Lebih mending Kak Lesham daripada dia.


Jastin menepuk bahuku. "Jangan dulu lah, Nad. Masih tiga SMA kita ini. Kata orangtua nggak baik nikah muda. Nanti aja kalau umurnya udah matang. Gue pasti akan langsung lamar lo. Tenang aja. Rileks. Jangan dipikirin," tuturnya seenak jidat.


"Ngomong apa, sih? Gue nyusul Friska aja deh daripada harus ngomong sama lo," geramku.


"Takut diabetes, ya, karena gue manis?"


"Minum obat dulu, gih."


"Iya, Sayang. Perhatian, deh. Jadi makin suka," celutuknya entah sampai mana.


Aku jadi ngeri sendiri membayangkannya. Betapa Jastin selalu kekurangan obat setiap berhadapan denganku.


"See you, Sayang."


"Apaan, sih. Belum pacaran aja udah suka manggil sayang," gerutuku.


"Pacaran, yuk!"


____


Suara tangisan mulai terdengar semakin keras. Aku meneguk ludahku dengan kasar. Perasaan khawatir itu muncul sekarang. Friska tipikal orang yang periang, gembira, dan tak pernah sedih. Aneh sekali jika tiba-tiba dia menangis di sekolahan.


Aku membuka pintu UKS dengan pelan. Terlihat Friska masih menangis di kasur paling ujung. Perlahan aku masuk, menutup kembali pintu, lalu berjalan menghampirinya.


"Lo kenapa, Fris?"


"Mama Papa gue cerai, Nad," jawab Friska masih tersedu-sedu. Aku mencerna kata-katanya. Cerai. Satu kata yang cukup menakutkan. Kata yang bagiku sangat ku hindari. Sebisa mungkin aku tidak mendengar kata itu lagi.


Aku ikut sedih. Refleks aku memeluknya langsung saat Friska mulai membalikkan badan. Aku bisa merasakan air mata Friska yang mulai menetes di bahuku. Seragamku bagian bahu terasa basah. Kesedihan Friska kali ini sangat membuatku bingung harus bagaimana. Dia pasti sangat bingung harus melakukan apa. Aku tahu bahwa dia sedang rapuh.

__ADS_1


"Papa selingkuh sama wanita lain, Nad. Mama mergokin Papa di hotel kemarin. Papa belain selingkuhannya. Gue nggak tahu kenapa Papa sesayang itu sama selingkuhannya. Selama ini Mama selalu baik. Nggak ada cacat-cacatnya sayang sama kita. Lalu kenapa Papa lebih milih selingkuhannya? Apa kurangnya Mama gue, Nad?" jelas Friska makin emosi. Aku tidak bisa membayangkan betapa semrawutnya masalah yang datang pada Friska.


Aku ingin menenangkannya. Tapi aku bingung harus berkata apa.


"Gue nggak mau orangtua gue pisah. Gimana caranya biar mereka nggak jadi cerai, Nad?" Friska menggeram. Ada sedikit rasa jengkel, marah, sedih, dan takut dalam dirinya. Aku bisa merasakan itu dari pelukannya.


Friska melepas pelukan kami. Lalu memperhatikanku sejenak. "Apa gue boleh menginap di rumah lo untuk beberapa hari?" tanyanya.


Aku sedikit terkejut.


"Fris? Lo...."


"Gue cuma mau ngetes aja. Apa Papa sama Mama gue masih sayang ke gue atau nggak. Boleh, ya?"


Bagaimana aku bisa menolak? Dia terlalu rapuh untuk aku kecewakan dengan penolakanku.


Aku mengangguk sembari mengembangkan senyum. "Rumah gue terbuka untuk lo," kataku.


"Makasih."


"Iya, sama-sama."


"Nad...," panggil Friska. Kali ini lebih sendu. Aku sedikit cemas. "Iya?"


"Percaya nggak kalau selingkuhan Papa gue itu mukanya mirip banget sama Mama lo?" tanyanya.


__________


A/N:


Aku punya beberapa pertanyaan. Kalo gak keberatan dijawab, ya.



Aku lagi diambang kehilangan mood nulis. Boleh minta disemangatin, gak?


Pengin up tiap hari. Setuju gak kalau aku up tiap hari?


Kalo setuju up tiap hari. Mau berapa BAB perharinya?


Sampai disini, gimana perasaan kalian? Suka atau makin boring?


Menurut kalian, Nadisha cocok sama siapa? Vante, Lesham, Jin, Syden, Nehan, Jastin, atau Maven?


__ADS_1


Aku tunggu jawabannya, ya. Jawaban kalian itu sangat membantu💜


__ADS_2