Bena

Bena
BAB 5D


__ADS_3

"Ngelihat Kak Nehan sama Kak Inggrid gue jadi percaya sama kata-kata kalau 'jodoh itu cerminan dari diri kita'. Bayangin aja ya, Kak Nehan sama Kak Inggrid itu nggak ada bedanya. Sama-sama baik, pinter, membanggakan lagi. Cocok deh kalau mereka berdua jadian. Oh, iya, kalau seandainya rumor minggu lalu memang benar, gue berharap mereka balikan. Gimana menurut lo? Cocok, kan?" tanya Friska heboh sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.


Entahlah, di satu sisi aku juga tidak begitu suka. Namun, di sisi lain aku sedikit senang karena aku mendapat informasi baru. Tapi jika aku tahu informasinya begini, akan lebih baik jika aku bertanya ke Zelo saja yang sudah jelas-jelas bahwa dia tahu bila aku menyukai Kak Nehan. Dan sekarang, aku sedang tidak mood lagi. Aku juga tidak menyalahkan Friska soal ini. Lagipula, dia juga tidak tahu. Aku juga belum sempat memberitahunya. Antara belum memiliki waktu untuk berbicara dan ya memang aku malu untuk mengakuinya.


Aku mengangguk setuju. Meskipun hatiku berkata lain memang. Namanya juga cewek. Pasti begitu kan? Di luar bilang iya, di dalam bilang tidak.


"Nadisha Radka!! Please, deh! Lo itu nggak bisa bohong sama gue." Kata Friska membuyarkan lamunanku. "Gue tahu kalau lo langsung nggak mood setelah gue ngomongin Kak Nehan sama Kak Inggrid. Memang kenapa, sih? Lo ada masalah sama mereka? Atau jangan-jangan lo...," Friska menggantungkan kalimatnya sambil menunjukku heran tak percaya.


Matanya seketika membulat lebar. "Lo suka sama Kak Nehan, Nad? Jangan bilang iya." Dia menggelengkan kepalanya seolah mengatakan bahwa apa yang barusan dia katakana memang tidak benar adanya.


"Gue memang nggak pinter buat bohong. Apa yang lo omongin barusan benar, kok." Aku tidak memiliki alasan lain untuk berbohong. Lagipula dia juga sudah menebak lebih dulu. Dan tebakannya benar. Jika sudah seperti itu, masih bisakah aku berbohong?


Aku rasa sudah tidak.


"Kenapa nggak bilang dari awal kalau lo itu suka sama Kak Nehan, Nad? Tahu gitu gue nggak bakal dukung mereka balikan kali." Friska berbicara dengan pelan. Seakan-akan dia tahu bila aku tidak ingin orang lain mengetahui soal ini. Aku cukup berterima kasih atas kesadarannya ini. Entahlah, semakin mengenal Friska lebih dalam aku semakin nyaman dengannya. Semoga dia juga begitu.


Aku mengedikkan kedua bahuku. "Bukannya tadi lo udah bilang kalau jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri?" tanyaku, dan Friska-pun langsung mengangguk. "Setelah gue pikir-pikir..., gue bukanlah cerminan dari Kak Nehan versi cewek. Mungkin, memang benar kalau mereka itu cocok."


Friska dengan refleks langsung memelukku. "Ah, nggak begitu juga kali, Nad. Jangan pesimis begitu, dong! Kalau lo emang beneran suka sama Kak Nehan, ya udah berjuang. Gue dukung lo, kok."


"Tadi katanya dukung Kak Inggrid. Kenapa sekarang jadi dukung gue?" tanyaku agak heran. Friska memang plin-plan.


Sebelum menjawab, dia melepaskan pelukannya sambil menyengir kuda kepadaku. "Ya, masa gue lebih dukung orang lain daripada sahabat gue sendiri, sih? Ya, kali gue nusuk lo dari belakang."


Sahabat?

__ADS_1


Apa dia bilang barusan?!


SAHABAT!!


Apa aku tidak salah dengar?


Sudah lama sekali aku berteman dengan Zelo, tapi dia sama sekali tidak pernah memanggilku sebagai sahabatnya. Sedangkan dengan Friska, aku baru beberapa hari dengannya dan dia sudah menganggapku seperti itu. Apa aku boleh bahagia?


Iya, aku terkesan norak memang.


Tapi mau bagaimana lagi, aku memang begini orangnya.


Aku susah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Sekalinya aku mendapat apa yang aku mau, aku langsung berbahagia. Inilah aku, aku yang berbeda dari yang lain.


"Eh, lo kenapa diam aja? Keberatan ya kalau lo gue anggap sebagai sahabat? Nadisha, begini aja ya. Gue ini orangnya selow kok. Jadi kalau mau terbuka jangan takut. Kalau seumpama lo nggak suka sama kata-kata gue ngomong aja," tuturnya sedikit khawatir denganku. Aku rasa dia belum sepenuhnya tahu tentang aku. Aku bukannya takut untuk berkata jujur, bukan. Aku juga tidak takut jika apa yang aku katakan akan menyakiti orang lain. Aku hanya percaya, jika aku sudah berkata jujur, semuanya akan baik-baik saja. Pikirku selalu begitu. Karena aku ini hanya orang yang norak. Mendapatkan perlakuan atau perkataan yang belum pernah ku dapat atau ku dengar saja sudah membuatku kehilangan kata-kata. Entah mengapa, aku langsung terdiam begitu saja.


Aku hanya tersenyum.


"Ya, maaf. Habis lo itu lucu, sih."


"Lucu di mananya coba?"


"Nggak tahu juga, sih."


"Tuh, kannn! Malah nggak jelas."

__ADS_1


Aku mencubit pipinya kembali, "Aww, Nadishaaa! Kamu budek, ya? Kan udah gue bilang sakit. Pakai diulangi lagi. Anak siapa sih lo?" tanyanya sewot. "Anak manusia lah," jawabku seenaknya.


"Nadisha! Jangan nyebelin, deh! Cukup gue aja yang nyebelin, lo jangan ikut-ikutan. Nanti yang ada gue malah darah tinggi."


"Iya, iya."


"Iya, iya, aja kayak paham," ujarnya sambil mengercutkan bibirnya. Aku pun menarik wajahnya untuk menatapku. Sehingga mata kami langsung bertatapan seketika. "Fris, makasih ya. Gue rasa, lo itu adalah kunci jawaban dari semua pertanyaan gue selama ini. Gue udah percaya sama lo, dan..., semoga lo nggak mengkhianati gue nantinya."


Friska kembali memelukku erat. "Iiiih jadi pengen nangis, tahuu. Inget ya, Nad. Kalau perlu pegang kata-kata gue. Gue nggak akan pernah mengkhianati lo sampai akhir hayat sekalipun. Meskipun gue ini orang baru bagi lo, tapi rasa sayang gue ke lo udah nggak baru lagi. Pokoknya, kita harus sahabatan selamanya, janji?" Friska menyodorkan jari kelingkingnya padaku. Kamipun melepas pelukan kami dan akupun membalas jari janjinya itu. "Janji," ucapku.


"Eeeh, bentar-bentar. Kita udah sampai di sini tapi gue belum paham masa. Tadi lo bilang makasih untuk apa? Ulangi coba," suruhnya. Terkadang, dia juga menyenangkan. Namun juga kebalikannya, menyebalkan.


"Makasih untuk semuanya."


"Tuh kaaan! Jadi pengen pelukan laggiiii," rayunya sambil merentangkan kedua tangannya. Anak ini memang benar-benar..., ah! Aku senang telah mengenalnya.


Drrttt...


Ponselku yang berada di saku bajuku langsung bergetar. Aku bergegas untuk membukanya. Sementara Friska hanya melihatku saja tanpa berkata apapun.


Aku mengelus dadaku setelah membaca pesan yang masuk.


"Lo kenapa, Nad?" tanya Friska. Aku pun langsung memperlihatkan pesan yang masuk itu kepada Friska tanpa ragu-ragu.


Udah lama nggak ketemu lo, sekalinya ketemu malah jadi pacar orang

__ADS_1


"Itu beneran dari Kak Lesham?"


__ADS_2