
Sesuai permintaan Kak Syden. Akupun izin kepada Kak Lesham untuk pergi ke Stig Cooking sebentar. Jadinya bukan aku yang menunggu Kak Lesham. Tetapi dia yang harus menungguku. Mau tidak mau karena dia tetap kekeh ingin mengantarkanku pulang. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk pulang duluan. Masalah aku? Aku bisa naik taksi atau ojek.
Namun, Kak Lesham tetap Kak Lesham. Teguh pada pendiriannya. Dengan tidak enak hati akupun meninggalkannya ke ruang Stig Cooking. Aku berjalan menuju ke sana sekarang. Sebenarnya aku juga tidak tahu mengapa Kak Syden menyuruhku ke sana.
Setahuku jadwal ekstrakulikuler Stig Cooking sudah diubah lagi menjadi hari Selasa. Sedangkan sekarang masih hari Senin. Seharusnya aku datang ke sana besok saja. Bukan sekarang.
Langkahku mulai melambat sewaktu aku mendekati pintu Stig Cooking. Aku menghela napas sejenak. Lalu aku pun mulai memegang gagang pintu. Ketika aku hampir menariknya, ada suara percakapan dari dalam ruangan. Refleks aku melepas tanganku dari gagang pintu. Telingaku langsung terbuka lebar-lebar.
"Syden, aku nggak tahu harus gimana lagi biar kamu suka sama aku." Suara itu, aku belum pernah mendengarnya. Yang ku tahu pasti itu adalah suara cewek. "Kasih aku penjelasan. Kamu suruh aku ngaca aku juga udah ngaca. Aku fine. Aku cantik. Aku popular. Terus apa yang kurang?"
"Seperti yang lo tahu. Panditha seakan kembali lagi."
"Perlu berapa kali aku ngomong sama kamu? Dia bukan Panditha, Den. Kebetulan aja memang wajahnya mirip."
"Bagi gue Panditha kembali. Tanpa gue jelasin lo juga udah tahu. Gue akan mengejar dia lagi," kata Kak Syden memperjelas. Bahkan sampai di sini aku masih tidak paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
Lagi, aku mendengar nama Panditha.
Sebenarnya dia siapa, sih?
"Kamu mau ngulang kejadian dulu lagi? Move on, Den. Lihat aku."
"Gue udah lihat lo."
"Tapi hati kamu nggak, kan? Syden, dia hanya kebetulan kembar. Dia bukan Panditha. Nadisha tetaplah Nadisha. Kalian nggak bisa dong anggap dia sama."
Namaku juga ikut-ikutan. Dulu Kak Vante juga mengaitkanku dengan orang bernama Panditha.
Aku mendengar suara tawa dari dalam. Tentu itu adalah suara tawa Kak Syden. Hanya ada dia satu-satunya cowok di dalam. "Punya hak apa lo larang-larang? Mending lo pulang aja, Vis. Gue lagi nggak pengin diganggu," ujar Kak Syden seperti enggan.
"Syden, aku nggak---"
"Tavisha, lo tahu pintu keluar kan? Nggak perlu gue kasih tahu, kan? Lo boleh pergi sekarang." Kak Syden memotong cepat dengan ketus. Aku terkejut mendengarnya.
Sebentar, aku mengingat sesuatu. Tavisha, ya? Aku pernah mendengar nama itu dari Friska. Jika tidak salah dia adalah kakak kelas yang mengejar Kak Syden.
"Den, tolong."
"Perlu gue ajarin cara bedain pintu keluar dan jendela?"
"Oke. Aku pulang."
Mendengar itu aku langsung membalikkan badanku. Segera mencari tempat untuk sembunyi sebelum Kak Tavisha keluar dari ruang Stig Cooking.
Setelah Kak Tavisha keluar dari ruang Stig Cooking, aku juga ikut keluar dari persembunyianku. Aku pasti sudah menghabiskan banyak waktu dengan menguping pembicaraan Kak Syden dan Kak Tavisha. Pasti Kak Lesham sudah merasa lelah menungguku. Lupakan soal pembicaraan yang telah ku dengar barusan.
Sekarang aku harus masuk dan keluar secepatnya dari ruang di depanku ini.
__ADS_1
Aku bergegas masuk ke dalam. Ku lihat Kak Syden sedang dalam keadaan tidak baik. Ruangan yang semula ku lihat baik-baik saja dan tertata rapi berbulan-bulan lalu sudah berubah. Sore ini tampak berantakan. Apa tempat ini dijadikan sebagai tempat gulat selama ekstrakulikuler diistirahatkan?
"Kak," panggilku pelan dan sangat berhati-hati.
Aku hanya tidak siap jika Kak Syden menyemburku. Karena aku terlambat. Lama. Juga karena sedikit perdebatan Kak Syden dengan Kak Tavisha yang berakhir dengan tidak baik. Pasti ada yang masih mengganjal di hati Kak Syden. Aku tidak siap jika harus jadi pelampiasannya.
Perlahan, aku maju mendekatinya karena dia tidak merespon panggilanku.
"Kak, kata Friska tad---"
Kak Syden bangkit dan memotong ucapanku. "Lo beresin semua ini sebagai hukuman," katanya mengejutkan.
Aku meneguk ludahku sadar sembaru melihat sekeliling. Ini yakin aku yang membereskannya sendiri? Ruangan ini cukup luas dan isinya juga banyak. Lagipula anggota Stig Cooking juga bukan aku saja. Ada banyak, kan? Kenapa tidak gotong royong saja?
"Katanya ada hal yang mau diomongin sama aku tadi," balasku mengalihkan.
Aku enggan bersih-bersih dan menata semua ini. Sendiri pula.
Kak Syden menoleh. "Lupa sama apa yang barusan gue bilang? Lo telat. Gue tunggu di luar. Selesai beres-beres temui gue di luar."
Aku celingukan mencari pintu lagi. Tadi kan aku niatnya hanya sebentar. Jika aku disuruh membereskan semua kekacauan ini yang ada aku akan pulang malam. Akan lebih baik jika aku kabur saja daripada harus berurusan dengan Kak Syden.
"Nggak ada pintu lain," kata Kak Syden lagi. Akupun mematung mendengarnya.
"Besok aja ya, Kak? Aku janji, deh. Sekarang aku harus pulang. Kak Lesham udah nunggu. Nggak enak kalau ngebiarin dia nunggu lama. Ya?" Aku memilih untuk meminta kelonggaran saja kepada Kak Syden.
"Suruh pulang aja."
"Nggak bisa, Kak."
"Kenapa?"
"Udah janji. Besok aja ya ini aku beresin? Aku minta kelonggaran, Kakak."
Kak Syden masih tampak tidak peduli. "Lo suruh dia pulang apa suruh nunggu. Sapu ada di ujung." Belum sempat aku membalas, Kak Syden sudah berjalan keluar.
Benar-benar menyebalkan. Suka sekali aku merasa kesulitan seperti ini.
Aku tidak bisa keluar jika belum menyelesaikan hukuman. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Kak Lesham menungguku. Pada akhirnya aku mengalah. Aku mulai mengambil ponselku. Mencari nama Kak Lesham dan mulai mengetik pesan untuknya.
Sori, Kak. Ada tugas baru di Stig Cooking. Kakak pulang duluan aja. Kurang lebih seperti itulah pesan yang ku kirimkan. Belum ada semenit Kak Lesham sudah membalasnya. Ku yakin bila Kak Lesham sedang menungguku dengan kebosanan yang ada.
Tanganku mulai menggeser layar ponsel. Membuka satu balasan pesan yang masuk dari Kak Lesham. Aku sedikit terkejut dengan isinya.
Semangat, calon pacar!
____
__ADS_1
Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Sebentar lagi malam akan tiba dan aku belum pulang.
Tubuhku rasanya lelah sekali. Aku harus membersihkan semua kotoran yang ada di ruangan ini. Mengembalikan dan menata semua barang yang tergeletak di lantai pada tempat asalnya. Dengan keterpaksaan aku melakukan semua ini sendirian. Aku jengkel sendiri rasanya. Jika begini terus gimana aku bisa bertahan di Stig Cooking.
Pintu ruangan kembali terbuka setelah sekian lama. Kak Syden masuk untuk menghampiriku. Dia bersedekap dada dan memperhatikan sekelilingnya dengan perlahan. Matanya sangat teliti.
"Lumayan," ungkapnya.
Apa katanya? Lumayan? Sama sekali tidak menghargai usahaku ini.
Tapi ya sudah. Lebih baik aku diam. Jika aku membantah lagi, aku tidak akan pulang-pulang. Sungguh, aku sudah merindukam waktuku untuk rebahan di rumah. Kasur serasa sudah memanggilku untuk menggunakannya.
"Kalau gitu aku pulang dulu, Kak." Aku meletakkan kemoceng ke meja yang ada di belakangku. Seraya mengambil tasku dan bergegas melangkah. Namun tangan Kak Syden menghalangiku. Aku menoleh dengan heran. "Gue anterin," katanya.
"Eh, nggak perlu Kak. Aku bisa pulang sendiri. Terima kasih," tolakku.
Cukup di sekolah saja aku jengkel dengan Kak Syden. Untuk pulang sekolah jangan juga. Aku lelah menghadapinya. Dia benar-benar manusia yang membuat jengkel. Lebih dari Kak Vante.
Tangan Kak Syden memegang lengan tanganku. Aku terkejut. Mataku mentapnya meminta penjelasan. Tetapi dia menarikku keluar dari ruangan ini. "Motor gue nggak jauh dari sini," ucapnya.
Aku semakin bingung. Ini itu kesannya dia yang bertanya. Tapi dia pula yang menjawabnya.
Setelah menarikku sampai ke tempat di mana motornya berada, dia pun menyodorkan sebuah helm kepada. "Pakai," suruhnya.
Aku mengambil helm itu dan memakainya perlahan sembari mengamati. Aku tidak salah kan? Ini zaman di mana perkembangan sudah maju. Tapi Kak Syden masih menggunakan motor vespa merah. Aku kira motor ini sudah tidak ada lagi. Ku pikir anak Stigma hanya memakai mobil, jika tidak ya motor besar seperti milik Kak Vante.
"Jelek motornya?" Kak Syden mengejutkan lagi.
Aku menggeleng kaku.
"Naik."
Dengan kecanggungan aku naik ke motor vespa merah milil Kak Syden. Sementara Kak Syden mulai menyalakan mesin dan melajukan motornya pelan-pelan.
Motor Kak Syden masih terlihat baik. Jalan motornya pun lumayan.
Ketika aku dan Kak Syden hampir mendekati gerbang, aku membulatkan mataku lebar. Sesekali aku mengucek mataku ini. Aku menganga melihatnya. Seolah memang ini tidak nyata.
Kak Lesham masih duduk di depan mobilnya sambil tersenyum kepadaku. Saat motor Kak Syden melewati Kak Lesham, dia menyalakan klakson motornya. Kak Lesham hanya mengangkat tangan sambil berkata. "Yoi." Lantas, tangan itu kembali bergerak ke kanan dan ke kiri. Dia melebarkan senyumnya kepadaku sambil melambaikan tangannya.
Aku jadi tidak enak.
Kak Lesham tidak terlihat marah kepadaku. Dia masih tersenyum. Aku sudah menyuruhnya pulang tetapi dia masih menungguku. Sekarang dia juga harus melihatku pulang bersama Kak Syden. Betapa menyebalkannya aku.
Ponselku yang berada di saku seragam bergetar. Setiap ponselku bergetar pasti ada pesan yang masuk. Yang benar saja, Kak Lesham mengirimiku pesan.
Pulangnya boleh sama dia. Tapi senyumnya cukup ke gw aja. Hati-hati, Nad.
__ADS_1
Ku pikir dia akan marah kepada lewat pesan. Tapi kenapa dia malah mengirimiku pesan seperti ini? Jika aku jadi Kak Lesham, pasti aku sudah marah. Tapi kenapa dia tidak begitu?
Dia manusia bukan, sih?