
"MINGGIR LO SEMUA!" perintah seseorang itu membuat kerumunan siswa yang berada di koridor kelas sebelas menyusut. Mereka memberi jalan pada orang yang memberi perintah secara tiba-tiba itu. Aku yang baru saja hendak keluar kelas langsung terpaku. Begitupun dengan Friska. Kami berdua sama-sama penasaran dengan orang yang memberi perintah itu.
Perlahan sosok itu mulai terlihat. Aku mengenalnya. Sangat mengenal. Bahkan ini adalah orang yang sangat ku hindari dari dulu. Sudah bisa menebak siapa, kan?
Kak Syden dengan wajah datarnya.
Friska pun menyenggolku sambil menyengir. "Gue tebak Kak Syden pasti nyariin lo," katanya sok tahu.
"Pergi yuk," ajakku pada Friska. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi. Eh, tapi kenapa aku seyakin itu dengan ucapan Friska barusan? Kak Syden memang berjalan ke arahku. Tetapi belum tentu jika dia memang mencariku. Bisa saja dia hanya kebetulan lewat.
"Enggak. Gue masih pengin disini. Duh, nggak sabar deh," tuturnya gemas sendiri. "Lo jangan ke mana-mana, ya!" Dia memperingatiku. "Buktiin kalau omongan gue tuh nggak salah, oke?"
Karena Friska sudah menahanku dengan memegang lengan tanganku, ya sudah berakhir. Aku tidak punya cara lain untuk kabur. Lagi pula ini kenapa aku jadi sepede itu. Kak Syden hanya lewat saja, Nadisha! Tolong. Kondisikan pikiranmu dengan hal-hal yang baik saja.
Tiba-tiba Kak Syden berhenti di depan kami. Sepertinya percuma bila pikiranku ini menganggap bahwa Kak Syden hanya lewat di koridor ini. Nyatanya, omongan Friska seperti telah terbukti sekarang. Kak Syden berhenti di depanku dan Friska. Tidak mungkin jika tanpa alasan. Sekarang aku kalah. Friska yang menang dalam tebakan ini.
"Tuh, kan." Friska berbisik kepadaku sambil menggerak-gerakkan kakinya hingga menimbulkan suara.
Banyak pasang mata yang memperhatikanku. Kejadian seperti ini kembali lagi terjadi padaku. Padahal aku ini bukan siapa-siapa. Tetapi selalu saja menjadi sorotan karena tingkah anak-anak Stigma. Seharusnya mereka yang merasa malu. Tetapi ini malah aku yang malu.
"Nanti masuk ekskul, kan?" tanya Kak Syden.
"Masuk, Kak!" jawab Friska semangat.
Aku memperhatikan Kak Syden. Dia tampak tak berekspresi. Sudah biasa seperti itu, kan? Jadi aku tidak perlu memperhatikannya lagi. Itu yang harus aku lakukan mulai dari sekarang. Entah sekarang maupun di masa depan, Kak Syden tetap akan datar. Selamanya mungkin. Jangan berharap dia akan tersenyum sepanjang waktu. Karena rasanya akan mustahil untuk terjadi.
"Bukan lo." Kak Syden mengangkat dagunya---menunjukku secara spontan. Aku terkejut dengannya. "Eh, a-aku?" tanyaku ragu.
"Iyalah."
Friska melepas genggaman tangannya dariku. Ia langsung bersedekap dada. "Kak Syden nanya tanpa nama. Ya mana gue tahu kalau yang dimaksud itu Nadisha," ucapnya kesal.
"Lo yang kegeeran jadi orang," bantah Kak Syden tak mau disalahkan. "Kalau gue ke koridor kelas sebelas, ya artinya gue nyari Nadisha."
"Ya kan gue nggak tahu, Kak."
Aku ini kenapa selalu dibawa-bawa, sih? Heran. Punya masalah juga tidak. Tetapi selalu mendapat masalah dengan anak Stigma. Sebenarnya mereka mau apa, sih? Dari dulu nggak pernah selesai untuk nggak menggangguku.
"Punya mulut tapi nggak guna," ujarnya lagi. Kemungkinan yang satu ini memang ditujukan kepadaku.
"Ekskul, ya?" Aku balik bertanya dengan senyum yang dipaksakan. Melihat Kak Syden yang masih datar membuatku menyengir tanpa alasan. "Masuk, masuk kok," jawabku gugup.
Kak Syden mengangguk-angguk. "Nanti gue anter pulang."
__ADS_1
"Nggak usah, Kak. Makasih. Aku udah sama Kak Lesham," tolakku pelan-pelan. Aku takut menyinggungnya. Jujur saja berurusan dengan orang yang selalu datar seperti ini membuatku kebingungan. Aku tidal tahu dia seperti apa. Orangnya mudah tersinggung atau tidak. Penyimpan dendam atau tidak. Semuanya, aku tidak bisa menilai.
"Nanti Lesham nungguin lo, lama."
"Nggak kok, Kak. Kebetulan dia ikut latihan basket nanti sore." Ah, ya memang cukup kebetulan. Tapi ku rasa perihal itu sudah Kak Lesham rencanakan. Diam-diam tetapi Kak Lesham punya banyak rencana di otaknya.
Friska menganga. "Lo deket lagi sama Kak Lesham?" tanyanya tak percaya.
Dasar aku! Bagaimana bisa aku lupa menceritakan semuanya kepada Friska? Setelah lepas dari Kak Syden, aku akan tetap berada di lubang buaya. Friska tidak akan melepaskanku sebelum aku menceritakan semuanya. Ini masalah. Datangnya juga dari anak Stigma.
"Ntar gue ceritain," kataku. Friska hanya mengangguk paham. "Oke, gue sabar."
"Nggak ada penolakan." Kak Syden melemparkan tatapan datarnya kepadaku.
Tiba-tiba seseorang datang dari belakangku. Dia langsung memeluk lengan kiri Kak Syden. "Eh, hai adik-adik manis. Lagi pada ngapain, nih? Seru kayaknya."
"Hai, Kak." Aku tersenyum canggung.
"KAK TAVIS YA AMPUN! CANTIK BANGET KALAU DILIHAT DARI DEKAT! AAA!" teriak Friska heboh kesenangan. Norak. Seperti belum pernah melihat orang yang cantik saja. Padahal di televisi juga banyak. Tinggal pilih aja ingin melihat yang mana. "Boleh minta foto nggak, Kak? Boleh, ya, ya?" pintanya dengan mengeluarkan ponselnya.
Kak Tavis mengembangkan senyum. Dia melepaskan pelukannya pada lengan Kak Syden dan memberi kode kepada Friska untuk mendekat kepadanya. "Sini," ucapnya.
"AAA! Mimpi apa gue semalam," ungkapnya. Lalu datang mendekat kepada Kak Tavis. Menyalakan ponselnya lalu memencet kamera. Mereka berdua asyik berselfie. Aku hanya diam mengarahkan pandanganku kepada mereka berdua. Lebih baik aku memperhatikan mereka daripada harus ditatap oleh Kak Syden.
Friska kembali padaku sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. "Katanya gue manis, Nad!" Lantas kembali menatap Kak Tavis. "Makasih ya, Kak!"
"Sama-sama."
Kak Tavis mengukir senyum lagi. "Nadisha apa kabar?"
"Baik, Kak."
Lalu pandangannya beralih pada Kak Syden. "Nanti pulang sekolah anterin aku pulang ya, Den? Sekalian Mama mau ketemu kamu," ujar Kak Tavis membuatku terkejut. Ini tidak salah? Ibu Kak Tavis ingin bertemu dengan Kak Syden? Hubungan mereka apa, sih? Katanya bukan pacaran. Tapi masa orangtua saling mengenal? Aneh.
Ah, untuk apa aku peduli. Ini bukan urusanku. Lebih baik aku pergi sekarang.
"Permisi Kak, aku pergi dulu ya." Tangan menarik Friska, tetapi tangan Kak Syden menahanku. "Ke kantin bareng gue."
"Syden, aku mau ngomongin hal penting sama kamu," sahut Kak Tavis.
"Nanti aja."
"Sebentar aja, ya?"
__ADS_1
"Maksa?"
"Oke, oke. Kalau kamu nggak mau sekarang, nanti pulang sekolah beneran anterin aku pulang ya. Sekalian nanti aku omongin." Kak Tavis menggenggam telapak tangan Kak Syden. "Mama juga udah kangen sama kamu, Den," tambahnya.
Jika sudah seperti ini memang seharusnya aku pergi.
"Lain kali," jawab Kak Syden menolak.
"Kamu ada acara?"
"Ada ekskul."
"Aku tungguin nggak apa."
"Gue nganterin Nadisha pulang."
Nadisha lagi? Astaga! Aku lagi.
"Eeh, nggak usah Kak. Aku sama Kak Lesham aja," tolakku lagi. Sepertinya memang Kak Syden sedang berusaha menjauh dari Kak Tavis. Tapi bukan aku juga yang seharusnya dibawa-bawa.
"Tuh, kan. Nadisha udah sama Lesham," ujar Kak Tavis masih berusaha.
Cewek sebaik dia seharusnya tidak perlu memohon seperti itu. Kak Tavis masih bisa mendapatnya yang lebih dari Kak Syden. Jika dia mau dia pasti hanya tinggal memilih saja. Banyak sekali cowok yang mengantre untuk menjadi pacarnya. Secara status sebagai anak Seesaw cukup membantu dirinya untuk menjadi lebih tinggi derajatnya di STANDAR.
"Kalau Nadisha nggak mau, belum tentu gue mau untuk nganterin lo." Jawaban Kak Syden benar-benar seenaknya.
Kak Tavis mengerutkan kening. "Jadi kamu lebih pilih Nadisha?"
"Bukannya lo udah tahu?" Bukannya menjawab, Kak Syden balik bertanya kepada Kak Tavis.
"Kak, semua ini nggak ada sangkut pautnya sama aku. Jadi, aku dan Friska permisi dulu ya." Lalu aku menatap Kak Syden, tepat di manik matanya. "Tolong lepasin tangan aku, Kak," pintaku.
Kak Syden tidak melepaskanku. Dia malah semakin mempereratkannya. "Ke kantin bareng gue," katanya.
"Friska-nya gimana?" Friska mengajukan diri.
"Ikut aja."
"Den, kamu bener-bener pilih Nadisha?" tanya Kak Tavis lagi.
Aku menggelengkan kepala. "Nggak, Kak."
"Iya," ucap Kak Syden sambil menarikku seenaknya. Meninggalkan Kak Tavis yang masih tidak percaya.
__ADS_1
Aku rasa, Kak Tavis semakin salah paham.