
Ketika aku hendak meletakkan ponselku ke meja, tiba-tiba terdapat sebuah pesan yang masuk. Aku pikir itu hanyalah pesan dari Friska. Atau mungkin hanya dari Jastin? Kak Maven? Ya memang siapa lagi yang memiliki nomor ponselku. Hanya orang-orang itu saja. Lagipula aku tidak begitu sering bermain ponsel. Maksudku sangat jarang memegang ponsel. Sering kali aku belajar untuk tidak kebergantungan dengan ponsel.
Aku biasanya menggunakan ponsel jika ada yang mengirim pesan padaku, menelepon, atau tidak ya digunakan untuk mencari referensi tugas, materi, informasi, dan sepertinya hanya itu-itu saja. Aku tidak memiliki akun sosial media apapun. Instagram---dulu aku pernah membuat akunnya, tetapi sudah ku hapus akun itu sejak dulu. Facebook, twitter---pernah membuat akun bohongan atau fake, lalu sudah ku hapus juga. Sedangkan you tube pun aku menggunakan akun email Kak Savalas.
Bisa dibilang aku ini sangat jauh dengan dunia maya. Kegiatanku jika tidak melakukan apapun di rumah hanya sekadar menonton video di you tube, mendengarkan musik, membaca buku-buku milik Kak Savalas, kadang sering kali aku belajar bermain gitar semenjak kedatangan Kak Lesham ke rumahku waktu itu. Melihatnya lihai memainkan alat musik yang satu itu, aku menjadi iri. Aku ingin bisa memainkannya juga. Walaupun saat latihan sendiri kadang menyusahkan.
Notifikasi di layar ponselku sepertinya mati. Aku tidak melihat siapa yang mengirim pesan dan apa pesannya tanpa harus membaca pesannya langsung di whatsapp. Aku jadi penasaran. Akhirnya ku pencet aplikasi chating yang satu itu dan mataku tertuju pada nomor yang tidak dikenal. Sering sekali aku dikirimi pesan oleh nomor yang tidak ku simpan. Nomorku ini sepertinya memang nomor pasaran.
Jari jempolku menekan pesan teratas yang belum ku baca.
Say hai, percepat yuk. Temui gue di taman Palazon nanti sore.
Ini..., Kak Vante kan?
Ini nomor yang kemarin atau yang baru, sih?
Mungkin saja ini nomor lamanya? Ah entahlah. Setelah putus dengan Kak Vante dulu, aku langsung menghapus nomornya. Awalnya sih aku pengin banget block nomornya itu. Tapi setelah ku pikir-pikir itu terlalu berlebihan untuk ku lakukan padanya. Nanti dikira aku kebaperan lagi dengannya. Jangan sampailah.
Oke, nanti aku akan menemui Kak Vante setelah pulang sekolah. Aku juga akan titip salam kepadanya untuk semua anak Stigma yang akan berkumpul ria di hari Minggu nanti. Andai saja aku bisa ikut. Pasti aku tidak perlu menitipkan salam segala. Gara-gara memiliki masalah dengan beberapa dari mereka, aku yang jadi kesulitan.
"Melamun apa sih, Nad?" Mama tiba-tiba datang ke kamarku. "Ini udah mau jam tujuh lho. Kamu belum selesai juga siap-siapnya? Maven udah nunggu di depan," ujar Mama.
Aku langsung menarik tasku. Sebenarnya aku sudah selesai bersiap-siap sejak tadi. Tapi karena membaca pesan dari Kak Vante, aku langsung melamun deh. "Iya, Ma. Ini juga udah selesai kok." Aku menyengir.
"Hape kamu nggak dibawa?"
Oh, aku menoleh. Melihat ponselku yang tergeletak di meja belajar. Lalu menatap Mama dengan menggeleng pelan sambil tersenyum. Untuk hari ini aku tidak mau diganggu siapapun. Lebih baik aku tidak membawa ponsel sekalian ke sekolah. Jika nanti ada yang menanyakan tentangku, aku bisa berasalan dengan ponselku yang ketinggalan---walaupun sebenarnya sengaja ku tinggalkan.
"Lagi nggak ada fungsinya, Ma." Aku mengatakan dengan alasan. "Ya, udah. Kalau gitu Nadisha berangkat dulu ya, Ma. Bye," pamitku.
__ADS_1
"Hati-hati, ya." Mama memperingatkanku. Aku hanya mengangguk saja lalu bergegas pergi menghampiri Kak Maven yang katanya sudah menungguku di luar.
Ketika aku sampai di luar, mataku membulat dengan refleks. Sesekali aku menguceknya untuk mencoba menyadarkan penglihatanku ini. Setelah tidak ada perubahan dengan apa yang ku lihat, aku pun bergegas menghampiri orang yang kata Mama namanya adalah Kak Maven. Ya memang benar sih orang itu memakai moci---motor cintanya Kak Maven. Tetapi ini bukan Kak Maven.
"Kak Maven kemana? Kok jadi lo yang jemput gue? Pakai motornya orang lagi," cecarku keheranan. Lagipula mengapa juga dia berbohong? Eh, maksudku mengapa juga dia menjemputku segala dengan cara seperti ini. Kurang kerjaan sekali. Padahal sebelumnya dia memiliki banyak pekerjaan dengan cewek-cewek simpanannya itu.
"Emang kenapa kalau gue jemput pacar gue sendiri?" tanyanya dengan percaya diri yang tinggi. "Ada yang salah?" tambahnya.
Orang ini benar-benar nggak waras. Aku hanya menjadi pacar pura-puranya saja. Aku juga nggak tahu sebenarnya sampai kapan hubungan pura-pura ini akan berakhir. Pasalnya aku lupa membicarakan hal itu. Salahku sendiri yang sering lupa dengan hal yang belum terselesaikan.
"Cuma pura-pura," ralatku.
"Siapa bilang? Gue udah ngajak lo pacaran serius kok."
"Gue nggak merasa tuh." Aku mengelak. Tentu saja. Memang kapan aku mengiakan apa yang dia mau? Ku rasa tidak pernah ku lakukan.
Jastin berdehem. "Ya udah. Kalau begitu kita ulang aja gimana?"
"Pacarannya," jawabnya.
"Daripada lo ngajak pacaran beneran, mendingan kita selesaian ajalah pacaran pura-pura ini."
"Lo nggak mau pacaran sama gue?"
Aku diam. Jika aku menjawab 'nggak' pasti dia akan sangat kecewa padaku. Tetapi jika aku menjawab 'iya' itu artinya dia akan salahpaham dan tentunya akan kesenangan. Oke. Rasanya dua jawaban itu tidak berguna jika ku katakan pada Jastin. Aku tidak ingin membuatnya jengkel dan juga tidak ingin membuatku senang namun dia salahpaham.
Jastin mendekat padaku. "Lo masih berharap balikan sama Vante?" tanyanya.
Tentu saja tidak. Meskipun aku pernah merasa senang saat Kak Vante berkata akan mengambil aku dari Jastin, tetapi itu sudah tidak penting. Aku sudah mengabaikan itu. Jika semua dimulai dari permainan, artinya Kak Vante dan yang lainnya hanya bermain. Tidak ada kata serius. Setelah ku pikir matang-matang, aku akan menjauh dari anak Stigma setelah lulus SMA nanti. Aku tidak ingin memiliki hubungan dengan salah satu dari mereka.
__ADS_1
Sore ini aku akan bertemu dengan Kak Vante. Bukan untuk membahas masalah keseriusannya padaku. Aku hanya ingin mengetahui semua yang telah ku tanya-tanya sejak masih kelas sepuluh. Setelah itu aku akan pulang dan langsung melupakan semuanya. Lagipula jika aku memiliki hubungan dengan salah satu anak Stigma dan itu membuat yang lainnya tidak suka, lalu bertengkar, aku sudah tidak ingin melihat hal itu terjadi lagi di depan mataku secara langsung.
"Gue nggak berharap sama siapapun kok," kataku membenarkan. Sementara dia langsung mengernyit. "Termasuk sama gue juga?"
"Mungkin." Aku tersenyum.
"Kalau Jin?"
Tiba-tiba Jastin menanyakan tentang orang itu?
"Lesham gimana?" Dia menghela napas. "Gue kok merasa lo kayak punya harapan sama mereka berdua, ya?"
"Maksud lo apa, sih?"
"Yang satu ramah, baik, suka senyum. Dan yang satunya dewasa, pengertian lagi. Tapi kan lo udah dikecewaian sama Lesham, ya? Mana mungkin lo mau berharap lagi sama dia." Jastin bertingkah seolah sedang berpikir keras sambil mondar-mandir di depanku dengan memainkan mata dan jari tangannya. "Jadi..., apa harapan lo cuma sama Jin?"
Tebakan yang tidak seratus persen salah.
_____
Maemunah ada tantangan nih.
Kalau dari part 1-76 ini full komen per part-nya, aku bakal langsung up double. Tapi jangan komen 'next/lanjut/up' ya?
Gak usah buru-buru. Banyak soalnya, nanti kamu capek. Santai aja gapapa biar aku up-nya bisa lamaaa hehehe.
Maemunah emang ada aja maunya.
Jadi, sanggup gak nih?
__ADS_1
---spoiler part 19B-20C, semua pertanyaan selalu ada jawaban.