
"Nadisha!! Lo kenapa, sih?! Dari tadi mondar-mandir mulu kayak kebingungan," celutuk Friska yang sekarang sedang duduk di depanku. Akupun juga tak tahu harus bagaimana. Aku punya masalah sekarang. Sedangkan Zelo sedang berada di kantor guru. Tadi katanya ada sesuatu yang perlu dibahas dengan Zelo. Namun, aku tak tahu sesuatu apa itu. Dan sekarang. Hanya tinggal aku dan Friska. Aku menatapnya sebentar. Aku ingin sekali cerita kepadanya, tapi aku belum begitu yakin jika dia tidak ember mulutnya. Bukan tidak percaya tetapi aku hanya jaga-jaga saja.
Friska menarik lengan tanganku. "Kalau ada masalah cerita. Jangan cuma mondar-mandir doang. Lo pikir dengan mondar-mandir masalah lo bisa kelar? Jujur aja nih, ya. Gue ini orangnya selow. Kalau lo mau cerita ya silahkan. Bebas. Tapi gue ingetin sama lo kalau gue ini orangnya nggak gampang tutup mulut. Bukan berarti gue ini ember, ya. Lo tahu sendiri, kan, kalau manusia itu suka khilaf? Tapi lo tenang aja. Selama lo percaya sama gue, gue juga bakal berusaha untuk nggak ngecewain lo."
Aku termangu.
"Gue nggak maksa lo buat cerita sama gue kok. Suer, deh!" Friska mengembangkan kedua pipinya. Tampak manis.
Kata-kata Friska tadi seolah adalah sihir bagiku. Aku merasa jika bercerita dengan Friska tidak ada salahnya. Lagipula dia juga temanku, bukan? Mana mungkin dia akan menusukku dari belakang. Lagipula juga, masalah ini juga tidak terlalu pribadi untukku. Selama tak menyangkut keluarga, aku rasa tidak masalah.
Akupun duduk di samping Friska. "Fris, lo tahu nggak siapa aja yang masuk dalam geng Seesaw?" tanyaku. Sebenarnya aku masih cukup penasaran dengan geng itu. Bukan cukup lagi. Aku memang sangat penasaran.
"Ya, tahulah! Lo pikir gue kudet sampai nggak tahu apa-apa? For your information, ya. Gue itu lebih tahu semuanya daripada Zelo," jawabnya semangar empat lima. Aku langsung terkekeh melihatnya. "Iya, iya, sori."
"Iya deh dimaafin."
"Ya, udah kasih tahu gue sekarang."
"Eh, bentar! Tunggu sebentar!" Friska seketika heboh. Dia langsung membuka ranselnya. Tangannya menorek-orek sesuatu yang ada di dalam tas. Aku hanya terheran-heran melihatnya. Tak lama, dia langsung menyodorkan sebuah kertas berwarna pink itu kepadaku. "Nih, baca biar lebih tahu," katanya. Akupun mengangguk dan langsung menerima kertas itu.
**SEESAW REV 2019
Inggrid Latrisia Trudy, $$r,L. [XII IPA 5]
Zara Addisthy, $$r. [XII IPS 1]
Raden Shaenettha, $$r. [XII IPS 3]
__ADS_1
Rebecca Ambar Nevira, $r. [XI IPA1]
Tavisha Glaurisvan, $r. [XI IPA 6]
Ocheanze Patriliand, $r. [XI IPS 7]
Jung Sohee Ayedda, $. [X IPA 2]
Tertanda,
Inggrid Lat, $$r, L**.
"$$r, L. itu apa?" tanyaku. Aku masih belum tahu maksudnya. Bukankah simbol $ selalu menunjukkan kepada uang. Tapi tidak mungkin jika itu artinya uang. Sangat tidak masuk akal.
Friska mengambil kertas yang ada di tanganku. "Ini itu kayak jabatan gitu lho, Nad. $$r, L. itu artinya Seesaw Revolution Pangkat 2 Leader. Intinya itu, jabatan paling tinggi di Seesaw. Kalau cuma $r itu hanya Seesaw Revolution. Beda lagi kalau cuma $, itu artinya Seesaw doang. Atau bisa disebut anggota baru."
Ah! Aku merasa bahwa aku sedang hidup di zaman yang sungguh aneh. Semuanya tak terasa biasa bagiku. Jangankan biasa, sederhana saja tidak. Sekarang, aku sedang berpikir. Untuk apa nama sandang seperti itu. Entahlah, aku sendiri juga sedang bingung dengan diriku sendiri. Di sisi lain aku ingin menjadi bagian dari STANDAR yang biasa dan tahu semua tentang STANDAR. Tapi belum genap setengah tahun aku sekolah, sudah banyak sekali hal yang tidak aku ketahui.
Friska mencolekku. "Beruntung banget, ya, si Sohee. Baru jadi kelas sepuluh udah masuk ke geng Seesaw. Uuiih, kesempatan dia tuh besar banget tahu buat pedekate sama geng Stigma. Tuh, kan! Jadi ngiri gue, Nad." Aku menatapnya miris. Jika saja tadi dia mengatakan itu di depan pacarnya, si Gensa, mungkin akan langsung termulainya perang dunia. Bisa-bisa malah langsung diputusin.
"Oh, jadi tujuan adanya geng itu cuman buat pedekate aja, ya?"
"Ya, nggak dong! Maksud gue tuh bisa dipakai buat pedekate juga, tapi tujuannya nggak itu. Mau tahu nggak tujuannya apa? Tujuan dibuatnya geng itu untuk membuat STANDAR go Internasional. Tapi sampai sekarang, STANDAR baru go Nasional. Itupun juga belum tentu semua orang Indonesia tahu. Khususnya yang bagian pelosok. Tapi nggak apa-apa. Selama Kak Inggrid masih jadi leader, gue yakin dia pasti bisa bawa STANDAR go Internasional." Friska berbicara banyak sekali. Aku mendapat banyak sekali informasi darinya. Setelah ku pikir-pikir, mengorek informasi dari Friska ternyata lebih mudah daripada Zelo. Jika di Zelo aku harus bisa mengontrol suasana hatinya agar tetap mau memberiku informasi. Tapi jika dengan Friska, aku merasa bebas sekali. "Memang kenapa dengan Kak Inggrid? Dia berpengaruh besar, ya?" tanyaku penasaran.
Friska mengangguk sambil bertepuk tangan seheboh mungkin. "Besar banget pengaruhnya, Nad! Gue kasih tahu, ya! Sebelum Kak Inggrid jadi leader, STANDAR itu nggak ada apa-apanya. Jangan kan go Nasional, terkenal antar sekolah dalam satu lingkup aja susah. Tapi setelah dipimpin Kak Inggrid, wuuihh! Jangan tanya hasilnya apa aja. Nggak kehitung deh pokoknya!"
"Lo harus tahu kalau orang yang paling baik di STANDAR itu Kak Inggrid. Dia nggak pernah marah sama sekali. Kalau lo minta bantuan ke dia, pasti langsung dibantuin. Nggak peduli dia kenal lo atau nggak. Karena prinsip hidupnya itu 'Hidup untuk membantu dan membantu untuk bahagia.'. Keren nggak tuh?" Aku mengangguk-angguk paham mendengar Friska yang dengan santainya berbicara apapun tanpa ku minta.
__ADS_1
Prinsip hidup Kak Inggrid luar biasa. Aku kagum dengannya. Meskipun aku belum pernah bertatap muka dengannya, tetapi cerita dari Friska sukses membuatku mengaguminya. Jika orang lain menganggapnya baik, itu artinya dia memang benar-benar baik bukan? Aku rasa begitu. Tapi memang pendapat sesame manusia tak pernah sama. Pasti ada yang tidak setuju dengan pendapatku barusan. Tapi tidak masalah. Itu hak masing-masing.
Kak Inggrid, aku rasa dia adalah cewek yang sangat sempurna. Meskipun tidak ada satupun manusia yang sempurna di dunia ini selain Tuhan kita sendiri. Tetapi, itu hanyalah perumpamaan.
"Keren banget, Fris. Oh iya. Dengan segala prestasinya itu, apa dia masih sendiri? Pasti udah punya pacar, ya?" Aku sangat tertarik membahas ini.
Friska menggeleng.
"Setahu gue sih nggak. Tapi dulu waktu kelas sepuluh Kak Inggrid pernah pacaran sama Kak Nehan," jawab Friska.
Apa aku tidak salah dengar?
Kak Inggrid pernah berpacaran dengan Kak Nehan!
Kenapa aku tidak tahu?!!
Oke, oke, tenang. Hanya pernah. Ingat. Hanya pernah. Itu artinya mereka tak lagi memiliki hubungan spesial. Aku masih memiliki kesempatan untuk mendekati Kak Nehan. Aku harus semangat. Semangat Nadisha!
Meskipun aku baru sekali bertemu Kak Nehan selama aku masuk di STANDAR, aku tidak masalah. Mungkin dulu aku tidak serius untuk selalu mencarinya. Namun, setelah ini aku akan lebih semangat untuk mengejar cintanya.
Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.
Aku yakin, aku pasti bisa.
"Tapi..., rumor minggu lalu sih katanya mereka balikan."
Seketika aku langsung ter-jleb. Seolah sebuah pedang langsung menusuk hatiku.
__ADS_1