
"Nggak mau tahu, ya! Lo harus sebangku sama gue pokok! Harus! Sepuluh menit lagi gue sampai. Awas aja kalau lo udah sebangku sama yang lain. Gue bakal marah semarah-marahnya. Oke? Bye!" sambungan telepon pun terputus dengan sendirinya. Aku segera memasukkan ponselku ke dalam saku seragam. Aku tidak berpindah tempat. Katanya sepuluh menit lagi Friska akan sampai. Daripada aku menunggunya di dalam, lebih baik ku tunggu sekarang saja di sini. Lagipula ini masih pagi. Aku masih memiliki harapan untuk duduk di bangku paling depan.
Entah kenapa, aku ingin sekali bertempat duduk di depan. Kata Kak Savalas, setidaknya duduk di depan meskipun tidak tahu apa-apa daripada duduk di belakang tapi otak sama sekali tak berkembang. Semalam aku banyak diceramahi olehnya. Dan nanti sore Kak Savalas baru berangkat ke Korea. Yang mengantar Kak Savalas tentunya sudah pasti Mama-Papa, aku, dan si curut yang tiba-tiba ikutan. Siapa lagi jika bukan Friska. Dia sering sekali bertanya banyak hal tentang Kak Savalas.
Aku menduga bila Friska mulai menyukai Kakakku. Dia bahkan sudah berjalan lebih dulu sekarang. Sudah ada perkembangan karena Friska sudah mencuri nomor ponsel Kak Savalas secara diam-diam di ponselku. Awalnya dia mau minta secara langsung. Tapi karena aku sudah memperingatinya sejak awal, dia jadi enggan untuk meminta secara langsung.
Tapi juga percuma. Nomor Kak Savalas sudah ganti semalam. Mama yang meminta Kak Savalas ganti nomor. Ah, rasanya aku ingin tertawa sewaktu Mama membelikan nomor baru untuk Kak Savalas. Itu berarti usaha mencuri nomor tidak berguna. Tapi aku juga kasihan sih sebenarnya. Mau bagaimana lagi. Mama yang meminta. Bukan aku. Jadi ku rasa aku tidak salah.
"Bisa nggak jangan berdiri di sini? Berdiri juga ada aturannya. Nggak di sembarang tempat," ujar Kak Syden di hadapanku. Lagi, lagi dia memarahiku. Menganggap semua yang ku lakukan adalah salah. Bagaimana bisa aku bertahan diajar oleh Kak Syden di Stig Cooking selama setahun? Yang benar saja aku harus berhadapan dengannya setiap hari Rabu. Dalam artian aku akan selalu bertemu dengannya seminggu sekali. Meskipun hanya sekali dalam seminggu, tapi ucapannya juga akan selalu tergiang di pikiranku.
Seefek itu memang ucapannya.
"Kenapa sih, Kak? Jalan juga masih luas kok," bantahku. Ya, sekali-kali aku harus belajar membantah agar tidak dibegitukan terus.
Kak Syden malah bersedekap dada. "Iya, sih memang masih luas. Tapi lo nggak harus berdiri di tengah halaman sekolah juga. Mentang-mentang kurus bisa berdiri seenak jidat."
Eh?
Aku baru sadar bila aku berdiri di tengah halaman di mana ini digunakan sebagai jalur menuju ke parkiran belakang dan samping. Sungguh, aku benar-benar malu mendengar penuturan Kak Syden. Karena kenyataannya, ucapannya jauh lebih benar daripada bantahanku. Sepertinya aku harus belajar dengan orang yang biasanya tidak harus tunduk dengan Kak Syden?
Tapi, siapa orangnya?
Kurasa semuanya tunduk. Termasuk aku salah satunya.
Tunggu. Tadi dia bilang bagaimana? Mentang-mentang kurus. Begitu kan?
Seenak jidat berkata seperti itu kepadaku. Aku memang kurus. Tapi tidak harus diceploskan begitu saja. Memang dia pikir aku tidak tersinggung dengan perkataannya barusan apa?
"Udah ngumpul nyawanya?" tanya Kak Syden sambil menarik kerah seragamku menuju ke pinggir halaman yang dekat dengan taman. Aku yang ditarik paksa hanya bisa menghela napas dan mengikuti tarikannya itu. Sudah aku bilang jika aku belum ahli untuk membantahnya.
Kak Syden langsung melepaskan seragamku setelah sampai di dekat taman. Dia tak langsung pergi. Malah menatapku dengan penuh ilusi. Aku tidak tahu apa itu.
"Makasih, Kak." Hanya itu yang bisa ku ucapkan sekarang. Bukannya semakin bisa untuk membantah, aku malah semakin tertunduk ke bawah olehnya. "Nggak usah bilang makasih kalau dari hatinya nggak ikhlas. Gue nggak butuh ucapan makasih dari lo," katanya ketus.
__ADS_1
Ish! Dia bisa membaca pikiran orang, ya?
"Gue ikhlas kok ngomongnya!" belaku.
"Gue? Udah lupa tata aturan, ya? Wajar sih. Udah jadi kakel soalnya." Kak Syden kembali mengoreksi kata-kataku. Seteliti itu dan seingat itu dia.
Aku hanya bisa menyengir kuda. "Bukan begitu, Kak. Aku kelupaan aja tadi."
Aku? Siapa dia sampai aku harus menggunakan 'aku' dan bukan lagi 'gue'. Meskipun dia bukan siapa-siapa. Tapi aku juga tetap tunduk kepadanya. Selalu serba salah. Itulah yang terjadi. Selalu menurut pula. Layaknya aku memang kembali bodoh sama seperti setahun yang lalu.
Tuh, kan!
Aku malah mengingat masa lalu lagi.
Gara-gara Kak Syden pasti.
"Nggak usah nyalahin orang tiba-tiba." Kata Kak Syden yang berhasil membuatku tercengang. Lalu dia pergi begitu saja dari hadapanku.
Kak Syden itu bisa membaca pikiran.
____
Selama pelajaran berlangsung aku hanya diam memperhatikan penjelasan guru. Jarang sekali aku serius mendengarkan seperti ini. Apalagi mata pelajarannya Matematika. Biasanya aku akan merasa suntuk. Tapi entah mengapa kali ini berbeda. Mungkin karena Kak Syden tadi. Omongannya selalu membuatku terkejut.
"Beneran, Nad?" Friska sejak tadi menggangguku terus. Bertanya soal Zelo lagi. Padahal aku sudah bilang kepadanya untuk tidak membahas Zelo lagi. Tapi dia malah seperti ini.
Dengan paksaan aku menoleh. "Apa?" tanyaku malas.
"Zelo pindah ke Jerman? Sejak kapan?"
"Udah lama, Fris."
"Kok gue nggak tahu?"
__ADS_1
"Gue aja yang sahabatnya nggak tahu. Apalagi lo yang dianggap musuh." Aku bercerita pada akhirnya. Friska mengangguk-angguk. "Iya juga sih. Secara kan gue musuh terbaiknya gitu, ya?"
Aku mengedikkan bahuku. Kembali fokus pada pelajaran. Ya ampun. Sekarang duniaku terasa sepi. Kak Vante yang sudah mulai menjauh. Kak Lesham yang sedang ku jengkeli. Kak Nehan, Kak Jin, dan Kak Savalas yang sudah lulus.
Kenapa orang-orang yang ku anggap baik malah sudah pergi. Sekarang hanya menyisakan orang-orang yang menyebalkan. Seperti Kak Syden misalnya. Juga Friska yang selalu menggangguku.
"Tahu nggak, Nad?" Friska kembali bersuara. Ini anak memang susah diam kalau sedang pelajaran Matematika.
"Apa?"
Friska mendekat ke arahku sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin. "Kak Sava follow IG gue masa. Ih, seneng," ujarnya.
Pertanyaannya sejak kapan Kakakku punya akun sosial media?
"Kak Sava nggak punya akun IG, Fris." Aku menjelaskan. Tapi Friska menggeleng yakin. "Punya kok. Malahan pengikutnya udah banyak," tuturnya.
Sebentar. Ini antara aku yang tidak tahu atau memang Kak Savalas menyembunyikannya dariku?
"Nad," panggilnya lagi.
"Apa?"
"Kalau gue jadian sama Kakak lo gimana?'
Aku terkejut bukan main. "Lo..., nggak lagi bercanda kan?" tanyaku memastikan.
Friska menatap lurus ke depan. Sejenak menghela napasnya. "Entah. Kayaknya, gue suka deh sama Kak Sava. Kasih izin, ya?"
Eh, serius?
"Boleh, ya?" pintanya lagi.
Aku tidak mungkin menolak. Lagipula belum tentu mereka jodoh. Bisa saja hanya sebatas dekat. Ya, sudah tak apa. Aku memberinya izin.
__ADS_1