
"Kak Syden?" tanyaku heran. "Bukannya yang ngajar itu guru, ya?"
Zelo kembali tertawa. Kali ini suaranya jauh lebih keras dari sebelumnya. "Hello, baby! Inget, deh. Ini itu STANDAR. Semuanya berbasis mandiri."
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Jika yang mengajar adalah Kakak kelas, maka itu adalah musibah bagiku. Apalagi jika pengajarnya itu cowok. Pasti akan canggung sekali. Aduh, semuanya berubah menjadi buruk sekarang. Haruskah aku memikirkan hal ini lagi?
Tapi aku tidak bisa.
Kelemahanku ada pada uang jajan.
"Memang ada apa dengan Kak Syden?" Aku mendekat kepada Zelo. Dia adalah sumber dari semua hal yang ingin aku tahu. Bagiku Zelo adalah pengganti google. Aku tidak perlu repot-repot membuka ponsel jika ingin tahu sesuatu.
Zelo menarik lenganku mendekat. Ia lantas berbisik. "Kak Syden itu bisa mendatangkan masalah. Setiap lo ketemu sama dia, lo akan punya masalah sama dia. Wuuussshh! Jangan tanya lagi. Mulutnya itu bagaikan cabai tahu, nggak? Pedasss bangettt."
Aku langsung menjauh dari Zelo. Ku tatap matanya. "Kenapa pakai bisik-bisik segala, sih?" tanyaku risih sambil mengecek telingaku.
"Ya harus, dong. Kalau nggak bisik-bisik orangnya itu gampang dengar. Setahu gue, Kak Syden itu selalu ngerasa kalau dia diomongin orang."
Aku terkekeh. Memang masih ada ya orang seperti itu?
"Aneh-aneh aja," balasku tidak percaya.
"Gue serius tahu!"
"Iya, terserah."
"Ya udah, kalau nggak percaya."
Kata-kata Zelo tadi..., entah mengapa malah mengingatkan aku kepada Kakak datar itu. Semua yang Zelo katakan sama persis dengannya. Ah, akan menjadi masalah yang sangat besar jika dia adalah Kak Syden yang Zelo maksud. Semoga bukan Kakak datar yang sedang kami bicarakan.
Aku masih ingin hidup.
____
Setelah pelajaran Matematika usai, Zelo mengajakku ke kantin. Kami ingin mencoba masakan di kantin. Jika sudah tahu bagaimana rasanya, aku tidak akan kembali ke kantin kecuali jika memang aku benar-benar membutuhkan. Semua ini kulakukan dari SMP. Aku dan Zelo sama-sama suka mencicipi makanan di suatu tempat. Tapi bedanya, aku hanya sekali sedangkan dia berkali-kali.
"Nad, gue ke toilet dulu, ya! Mules gue," kata Zelo ketika kami baru menginjakkan kaki ke kantin. Bahkan kami sama sekali belum duduk di kantin.
"Terus gue gimana?" tanyanya bingung, sekaligus panik.
Zelo mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Ia memberikanku cengiran anehnya. "Haaah, lo duduk di kantin nomor satu aja. Nanti gue nyusul. Bye!"
Belum sempat aku berkata iya, Zelo sudah lebih dulu pergi.
Aku melangkahkan kakiku menuju ke kantin nomor satu. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Zelo menyuruhku untuk ke kantin nomor satu. Dan dia bilang kalau dia akan menyusulku. Bila aku tidak berada di sana, dia akan kecewa padaku. Tetapi bila aku ke sana. Aku harus bagaiamana?
Teman saja yang ku punya hanya Zelo.
Bayangkan saja. Aku datang ke kantin sendirian. Melewati berbagai kerumunan. Apalagi di kantin nomor dua banyak sekali anak-anak cowok. Jaraknya tidak jauh dariku. Aku menguatkan diriku sendiri. Dengan canggung, aku menerobos kerumunan itu. Setelah sampai di kantin nomor satu, aku duduk di bangku paling tengah. Hanya bangku ini yang kosong. Yang lainnya sudah penuh.
__ADS_1
"Sendirian aja, Nad?"
Aku menoleh ke sumber suara. Melihat wajah orang yang bertanya kepadaku, aku langsung tenang. Masih ada orang yang ku kenal. Setidaknya aku bisa mengobrol dengannya agar tak kelihatan sendiri. Walaupun aku belum sepenuhnya akrab dengannya, kukira itu tidak akan menjadi masalah.
"Iya, sih, Kak."
Kak Lesham menarik kursi dan langsung duduk di depanku. "Mau gue temani, nggak?" tawarnya sambil mengedipkan mata genitnya.
Aku tersenyum sambil mengangguk.
Tiba-tiba aku teringat akan apa yang pernah aku ceritakan kepada Zelo beberapa hari yang lalu. Melihat ada Kak Lesham di depanku, aku memiliki niat untuk bertanya kepadanya saja yang sudah pasti dia memang anak Stigma.
"Mm, gue boleh nanya sesuatu nggak, Kak?"
"Nanya kenapa gue bisa tahu nama lo?" tanyanya kepadaku. Apa yang dia katakan benar sekali. Tetapi aku langsung menggeleng. Jika aku mengangguk, Kak Lesham pasti tidak akan menjawabnya. Dia mungkin akan langsung kabur. Aku memilih untuk menanyakan hal itu nanti saja. Sekarang. Yang ingin aku tahu adalah Stigma.
Iya. Aku ingin tahu apa itu Stigma.
"Terus mau nanya apa, cantik?" kata Kak Lesham sambil menyeringaku. Jujur saja, aku tidak suka dipanggil seperti itu oleh orang yang baru ku kenal. Tetapi karena aku butuh dia. Ah, ya sudahlah.
Aku menghela napas.
"Kak Lesham anggota Stigma, kan?"
Kak Lesham menopang kedua pipinya dengan dua tangannya. Matanya lurus menatap iris mataku. Dia memperhatikanku penuh sekarang. "Iya. Nadisha cuman mau nanya itu aja?"
"Masih ada lagi, Kak."
Dia hanya tertawa tanpa merasa nyeri ataupun sakit karena cubitanku. Mungkin cubitanku kurang kuat. Makanya, sama sekali tidak berefek untuknya.
"Iya, iya, sori."
"Apa maksud dari Stigma, Kak?"
Selepas pertanyaan itu aku ucapkan, wajah Kak Lesham langsung berubah. Dia tak lagi ceria. Wajahnya seolah mengatakan kepadaku untuk tidak bertanya tentang hal itu. Namun, aku sudah terlanjur bertanya.
"Lo nggak punya hak buat tahu tentang itu, meskipun gue punya hak buat tahu tentang lo."
____
Aku menatap cowok di depanku ini dengan malas.
"Zelo Sayang, kapan mau tukeran nomor sama gue?"
"Sekarang aja, yuk! Hayuk!"
"Mumpung masih anget, beib."
Zelo mendorong cowok itu dengan keras. "Apa-apaan, sih! Jijik tahu nggak dengernya!" jawabnya ketus.
__ADS_1
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain. Melihat Zelo digoda Jastin sejak kemarin sangat membuatku jengah. Entah karena apa, setelah sekelas dengan Zelo, Jastin langsung mendekati Zelo.
"Bilangnya jijik tapi di hati senang."
Zelo langsung memelototi Jastin. "Apa lo bilang?!"
"Iya, lo cantik."
"Iiiihh Jastin! Mulut lo, yaa! Maunya apa sih lo?!"
"Kan udah bilang tadi. Gue mau nomor hape lo."
"Gue perjelas, ya. Nomor gue itu hanya untuk orang-orang ganteng. Bukan cowok modelan kayak lo," jawab Zelo ketus.
Jastin langsung berdiri. "It's okay Ms.Arrogant, no problem. I will ask you to give your number. And you must remember if i..., the perfect handsome." Jastin tak lupa mengedipkan matanya setelah itu. Membuat Zelo semakin bergidik ngeri. "Halah, mau pakai bahasa Inggris pun tetap nggak berpengaruh buat gue."
"Tapi berpengaruh buat hati lo."
"Najis."
"I love you too, baby."
"Mulut looo," seketika Zelo langsung memukul Jastin dengan buku yang dia pegang. Ponselku yang semula berada di atas meja langsung terjatuh gara-gara Zelo dan Jastin yang berisiknya luar biasa.
Aku langsung berteriak. "Tuh, kaan! Hape gueee."
Meskipun ponselku bukanlah ponsel yang bermerek mahal, akan tetapi ponselku itu adalah satu-satunya yang aku miliki. Jika sampai ponselku pecah, pasti Mama akan memarahiku. Bilang kalau aku itu ceroboh. Menjaga ponsel saja tidak bisa. Dan tentunya aku tidak akan dibelikan lagi.
Jastin dan Zelo terdiam.
"Eh, kok nggak ada suara pecah, sih?" tanyaku kemudian. Tadi aku melihat ponselku jatuh dari atas meja. Tetapi tidak ada suara benda yang pecah. Aku memandangi Jastin dan Zelo dengan tanda tanya yang banyak. Jastin yang berdiri di depan kami langsung membungkuk. Dia mengambil sesuatu dari bawah dan mengangkatnya sambil menyunggingkan senyum kepadaku.
Benda yang dia angkat itu pipih. Itu adalah ponselku.
Bagaimana bisa tidak pecah?
Aku yang penasaran langsung menengok ke tempat Jastin. Tidak ada apa-apa di sana. Seketika aku menatapnya. "Kok bisa?" tanyaku dengan mengambil ponselku yang dia bawa.
"Apa sih yang nggak bisa gue lakukan?"
Aku mengecek ponselku. Tidak ada satu goresan pun. Semuanya masih baik-baik saja. Ajaib.
"Sombong," celutuk Zelo. "Nggak apa-apa, kan, Nad?"
Aku menggeleng tanpa menatapnya karena masih terfokus pada ponselku. Kemudian aku mendongak. Tak sengaja mataku bertemu dengan iris mata Jastin begitu saja. Jastin hanya diam sambil memandangiku. Dia tersenyum. Kepadaku. Bukan kepada Zelo. Padahal tadi Zelo yang telah dia goda, tetapi sekarang kenapa tatapannya kepadaku?
"Thanks, ya, Jas." Aku membalas senyumannya. Bukan karena tadi dia menyenyumiku. Tetapi karena ingin berterima kasih saja. Tidak lebih dari itu. "Ngapain sih ngucapin makasih segala," sarkas Zelo masih dengan ketus.
"Ya karena dia bisa menghargai orang lain," Jastin menyahut.
__ADS_1
Tanpa sengaja kalimat terakhir Jastin itu mampu membuat Zelo terdiam. Aku pun sama. Aku juga ikut terdiam. Dalam hati aku berharap jika Zelo memang sadar akan hal itu.
"Lo pikir gue nggak?" bantah Zelo berbanding terbalik dengan apa yang aku pikirkan. Jastin mengusap wajahnya. "Aduh, lo tuh, ya. Bisa nggak kalau gue ngomong itu jangan dimasukin ke hati? Dasar cewek mainnya perasaan."