
"Mau sampai kapan begini terus?"
Perkataan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tidak tahu dengan keinginan hatiku sekarang. Aku harus fokus ujian. Tetapi, kehidupanku diluar sekolah sungguh membuatku bingung. Dua tahun dan hampir menggenapi tiga tahun lamanya, aku masih memiliki hubungan dengan anak Stigma. Perasaanku sampai sekarang campur aduk. Aku menyukai Kak Vante. Aku senang melihat senyum Kak Lesham, dan aku tenang mendengar Kak Jin berbicara.
Kenapa harus tiga orang itu?
Bahkan sampai sekarang aku sukses melupakan perasaanku kepada Kak Nehan. Jika aku tahu resiko melupakan Kak Nehan akan seperti ini, lebih baik aku tidak melupakannya saja. Memilih salah satu dari tiga orang itu membuatku pusing. Aku sudah menjadi pacar Kak Jin. Tetapi pikiranku tak tenang setiap kali melihat Kak Vante, atau malah memikirkan tentang Kak Lesham.
"Gue suka lo. Suka beneran. Kenapa lo mempersulit hidup lo sendiri? Kita bisa bahagia kalau lo milih gue. Percaya, Nad. Gue nggak akan ngecewain lo. Bisa kan lo mikir ulang tentang ini? Masih ada waktu, Nad. Pikirkan baik-baik. Jangan membuat hidup lo jadi bahan percobaan."
Seolah-olah perkataan Kak Lesham adalah candu bagiku. Aku tak bisa melupakannya. Karena apa yang dikatakan olehnya semuanya benar. Aku bisa membuat hidupku mudah. Tetapi aku malah mempersulitnya. Aduh! Aku membuat seseorang berharap lebih padaku. Aku tidak punya perasaan lebih pada Kak Jin. Aku hanya baper saja jika berduaan dengannya. Sebatas itu.
"Akhirnya ketemu juga."
Aku mendongak, melihat Kak Jin dengan tampang yang sangat tampan. Dia memakai kaos putih yang dipadukan dengan jeans hitam yang panjang. Ganteng. Padahal cuma memakai kaos doang. Jantungku langsung berdetak dengan kencang. Selalu seperti ini jika bersama dengan Kak Jin. Tetapi kenapa perasaanku selalu melayang kepada Kak Vante? Didepanku sudah ada sosok pangeran. Nyatanya, fisik yang bagus pun tak membuat semua orang menyukainya.
"Kak Jin ngapain disini?" tanyaku. Lalu kenapa dia mencariku?
Dia menggandeng tanganku. "Vante ngajak double date," jawabnya.
Hah?
Pasti Friska yang sudah merencanakan semua ini.
"L-lain kali aja, ya, Kak? Dibatalin aja." Aku menolaknya langsung. Lagian, mana mungkin aku ikut dengan pakaian yang sebiasa ini. Maksudnya ini sudah sore hampir malam. Aku juga belum mandi. Belum juga membersihkan kamarku. Menyiram tanaman milik Papa. Dan juga aku belum meminta izin dengan Mama. Seharian ini aku berada di rumah Kak Lesham. Mana mungkin sekarang aku langsung keluar lagi.
Kak Jin mengernyit. "Kenapa?" tanyanya, dia membawaku ke belokan depan. Kulihat ada sebuah mobil merah. Mungkin mobilnya Kak Jin, bukan?
"Aku belum izin. Seharian ini aku juga udah keluar. Pasti nanti nggak dibolehin," alasanku. Ah, lebih tepatnya aku malas bertemu dengan Kak Vante. Itulah yang sebenarnya.
"Udah diizinin, kok."
"Kak?"
"Katanya boleh."
"Aku belum mandi, hehe."
"Mandi di rumah Kakak aja." Kak Jin masih terus membuatku bungkam.
__ADS_1
Aku menggaruk rambutku yang sebetulnya tidak gatal. "Kan nggak bawa baju, Kak."
"Makanya itu."
"Makanya?"
"Kita beli baju dulu."
Aku mematung.
Kak Jin benar-benar tak bisa terbantahkan. Gagal. Aku tidak bisa menolak untuk tidak bertemu dengan Kak Vante. Mood-ku pasti akan hancur jika bertemu Kak Vante nanti. Dari sekian banyak orang, kenapa double date-nya harus dengan Kak Vante? Seharusnya tidak perlu double-double date segala.
Aku masuk ke dalam mobil Kak Jin. Dia mengemudikan mobilnya dengan cepat. Bahkan aku sampai membaca surah Al-Fatihah berulang kali. Seakan-akan Kak Jin sedang dikejar seseorang. Tak menunggu waktu yang lama, mobil Kak Jin memasuki kawasan Mal. Dia membawa mobilnya ke basement. Aku menghela napas lega setelah akhirnya sampai di tempat tujuan.
"Tadi ngapain ngebut, sih?"
Yang ditanya hanya tersenyum. Padahal aku takut lho tadi. Cuma nggak berani saja untuk jujur. Saking cepatnya laju mobil tadi sampai aku lupa gimana caranya berbicara bahasa manusia.
"Habis ini nggak lagi, kok. Yuk!" Dia menggandengku, membawaku ke dalam Mal. Kak Jin langsung masuk ke bagian pakaian. Aku menurut saja. Dia membawaku ke rak atasan. Dia mengambil beberapa atasan, lalu di letakkan di depanku. Ketika tidak cocok dia akan mengembalikannya. Lagi. Dan begitu lagi sampai yang kesekian kalinya.
Kak Jin menarikku ke bagian dress. Disini dia mengambil dress berwarna putih pendek yang longgar. "Suka nggak?" tanyanya. Akupun mengangguk. Pilihan dress-nya memang bagus.
"Buat apa?"
"Aku nggak suka liat bahu kamu terbuka," tuturnya.
Entah mengapa, aku tersenyum mendengar ucapannya itu. Rasanya menenangkan. Begitu perhatiannya dia sampai tak ingin orang lain melihat bahuku. Kebetulan memang aku tidak pernah memakai dress yang bahunya kelihatan. Bukan karena malu, tetapi aku merasa tidak nyaman. Aku tidak sebiasa perempuan pada umumnya. Ternyata, seleranya Kak Jin sesuai dengan diriku.
"Mau pake sepatu apa high healss?"
"Menurut Kakak?"
"Senyamannya kamu aja."
Tadinya aku ingin bilang sepatu saja. Lebih enak. Tetapi aku mengurungkan perkataan itu. Kak Jin saja memahamiku. Masa iya aku tidak memahaminya? Yang kutahu, saat seorang gadis ingin berkencan, kebanyakan memakai high healss, eum, atau hanya untuk dinner ya? Entah. Aku lupa. Intinya, gadis itu berdandan seperempuan mungkin. Aku jadi ingin menirunya.
"High healss aja," kataku.
Kak Jin mengambil barang belanjaan, lalu menggandengku kembali setelah membayarnya. "Atau pake sendal aja?"
__ADS_1
"Kok sendal, sih? Kayak mau ke pantai aja," timpalku sambil tertawa kecil.
"Ya nggak apa. Sendal itu nyaman dipakainya."
"Tapi lucu tahu. Masa dress dipaduinnya sama sendal japit, sih." Baru membayangkannya saja sudah lucu. Apalagi jika aku memakainya beneran. Pasti aku tidak akan berhenti tertawa. "Bikin ngakak," tambahku.
Kak Jin ikut tertawa. "Bercanda, deh. Jadinya ini mau sepatu apa high healss. Nggak boleh bohong jawabnya."
"Tapi masa dari tadi Kakak terus yang bayarin. Nggak enak aku," kataku. Mau bayar sendiri juga lupa tidak membawa uang. Tidak mungkin juga aku menghutang di Mal, kan? Bukan tidak mungkin. Tapi mana ada begitu.
"Sekarang aku, lain kali baru kamu." Kak Jin mencubit pipiku. "Sepatu aja, ya? Kayaknya kamu bakal kecapekan kalau pake high healss. Gimana?" Aku hanya mengangguk.
Kak Jin membawaku masuk ke toko sepatu. Disana aku disuruh memilih sendiri. Sementara dia mencoba mencarikan model sepatu yang cocok untukku. Saat aku mencari sepatu yang bagus, aku malah menemukan sepatu yang sepertinya cocok untuk Kak Jin. Tidak sekarang. Mungkin nanti akan ku beli.
Aku disuruh duduk. Lalu Kak Jin mengambilkan beberapa model sepatu untukku. Menyuruhku untuk mencobanya. Mengejek kakiku yang ukurannya mini. Menghiburku. Ikut bernyanyi bersama musik yang disetel di Mal ini. Untung suaranya merdu. Aku semakin merasa tenang. Kak Jin bolak-balik mencarikanku sepatu, sementara aku hanya disuruh duduk manis. Aku merasa seperti diperlakukan bak puteri. "Jangan senyum mulu, nanti aku diabetes," ujarnya tiba-tiba. Akupun menjulurkan lidahku padanya. "Apa, sih? Nggak jelas tahu, Kak!" Walau dalam hati, aku merasa sangat senang.
Jiozhen Iseok Nagendra.
Dia begitu perhatian.
Tak begitu ingin dimengerti.
Namun, selalu mengerti.
Tak memaksa.
Tetapi selalu menenangkan.
Yakin mau melepaskan cowok yang seperti ini?
Tiba-tiba, aku ragu.
__________
Cuma mau ngasih tau kalo ada lapak baru di akun Peth Key, kalo gabut nungguin Bena bisa baca itu ya.
[Semoga hari-harimu menyenangkan]
__ADS_1