Bena

Bena
BAB 4A


__ADS_3

Benar-benar, ya! Aku memang harus siap mental dan jiwa ketika berurusan dengan Kakak datar. Lagipula mengapa dia harus ada di sini?


Kurang kerjaan sekali, sih!


Ehm, apa dia juga ikut di ekstrakulikuler ini?


Jika seandainya dia beneran ikut dalam ekstrakulikuler ini, aku harus keluar segera. Aku tidak akan sanggup jika harus berhadapan dengan orang sepertinya. Suka mencari kesalahan orang lagi.


"Dikasih tahu malah bengong!" Aku kembali tersentak dibentak begitu. Tadi kata Kak Lesham yang mencariku adalah Kak Jin. Ini kenapa malah Kakak datar yang ada di sini. Selalu saja aku berurusan dengannya. Oke, ini ujian. Tidak masalah.


Kakak datar itu bersedekap dada di depanku. "Bengong lagi gue keluarin lo," ucapnya sambil membalikkan badan dan meninggalkanku. Dengan reflex aku langsung mengikutinya dari belakang. Kesan pertamaku memasuki Stig Cooking sangat-sangat luar biasa. Kukira ini seperti tempat les memasak. Semua alat dan bahan pun ada di sini. layaknya seperti tempat lomba-lomba master chef di televisi. Jujur saja aku terperangah melihatnya. Tempat ini benar-benar mengejutkan bagiku.


Selain tempatnya yang memang paket komplit, apapun ada. Di dinding-dindingnya pun terdapat berbagai jenis lukisan. Mulai dari yang biasa, tiga dimensi, hingga yang abstrak pun ada. Apa ini ruang untuk belajar memasak? Ataukah belajar melukis? Aku jadi heran sendiri.


Sambil mengikuti Kakak datar, mataku tanpa izin sudah menengok ke kanan-kiri sampai aku benar-benar kagum.


Eh, tunggu aku teringat sesuatu.


Selama beberapa kali aku bertemu dengan Kakak datar, aku sama sekali belum tahu namanya. Apa jangan-jangan namanya memang Syden seperti yang Zelo katakan. Secara kan semua sifat yang Zelo ceritakan sama seperti Kakak datar. Mungkin saja iya. Mana ada kan satu ekstrakulikuler anaknya memiliki sifat yang sama. Meskipun ada, tapi tidak mungkin akan sama persis. Pasti ada perbedaannya.


"Kak, nama Kakak beneran Syden?" tanyaku.


Kakak datar itu berhenti melangkah. Dengan seketika aku juga ikut berhenti. Dia membalikkan badannya dengan wajah dingin yang selalu dia tunjukan padaku. "Kenapa? Masalah?" tanyanya balik.

__ADS_1


Ya, Tuhan. Padahal aku hanya bertanya saja. Tetapi tanggapannya sungguh di luar dugaan. Ia terlihat tidak suka denganku. Tapi, apa dia orangnya memang seperti itu?


"Eh, bukan begitu, Kak. Aku kan cuma nanya," sergahku sebelum dia kembali meluncurkan kata-kata terbaiknya yang sangat kasar itu. Tapi, dia memutar bola matanya jengah. Ia melihat keadaan sekitar. Di ruang ini sangat sepi. Mungkin karena aku yang terlambat, jadi semuanya sudah pulang dan aku baru datang. "Lo," kata Kakak datar yang entah benar namanya Syden atau bukan.


"Iya, kenapa, Kak?"


"Lo telat satu jam lima menit."


"I---iya."


"Push up lima belas kali."


Aku terkejut mendengarnya. Yang benar saja! Aku push up lima kali saja sudah ngos-ngosan tidak kuat. Apalagi lima belas kali. Dia ini sebenarnya mau mengapakan aku, sih? Tidak jelas sama sekali.


"Bukan urusan gue."


Astaga, bahkan dugaanku dengan kenyataannya tidak jauh-jauh sekali. Dia memang begitu. Mulutnya asal saja.


"Lo bisa ngelakuin sekali, sisanya biar gue." Kata Kakak datar itu lagi. Aku menatapnya bingung. Kalau aku hanya melakukan sekali, buat apa tadi dia menyuruhku untuk push up lima belas kali jika ujungnya aku sekali dan dia empat belas kali. "Semenit lo nggak ngelakuin, lo yang empat belas kali," tambahnya yang membuatku langsung segera push up sebelum keputusannya berubah.


Akupun melakukannya sekali dan langsung duduk di kursi yang ada di sampingku. Aku menghela napas sejenak. Sembari melihat keadaan Stig Cooking secara perlahan. Aku sungguh ingin memuji tempat ini. Tapi nanti pasti Kak Syden yang jadi kegeeran. Aku akan memuji nanti saja setelah tidak bersama Kak Syden. Setelah urusan ini selesai semua.


"Kak Syden," panggilku sengaja.

__ADS_1


Ku pikir Kakak datar di depanku ini tidak akan menoleh jika ku panggil. Tapi ternyata dia menoleh. Berarti namanya benar-benar itu. Untuk tahu namanya saja susah sekali. Harus ngomong ini itu dulu baru tahu. Kak Syden jauh lebih parah daripada Kak Vante. Namun keduanya sama-sama menyebalkan.


"Kalau ngomong itu nggak usah diputus-putus. Kayak bisu aja lo," Kak Syden menatapku tajam. Aku sedang duduk di kursi, sedangkan Kak Syden sedang melakukan bagianku yang tadi. Yaitu push up empat belas kali.


Kak Syden kembali push up dan tidak memperdulikan aku. "Ngomong sama tembok aja lo. Gue nggak ngerti bahasa kode-kode lo," lanjutnya lagi.


Ingin sekali aku membantah ucapannya. Tapi selalu tak bisa. Entah karena apa. Setelah empat belas kali, Kak Syden langsung merebahkan tubuhnya di lantai senyaman mungkin layaknya sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


"Yang ngajar masak di sini itu..., Kak Syden, ya?" Aku kembali membuka percakapan di antara kami yang sempat hening gara-gara tadi. Tapi sungguh, aku tidak suka canggung dan hening seperti ini. Setidaknya bila aku bisa mengobrol dengan Kak Syden aku merasa lebih nyaman di sini.


"Kalau udah tahu nggak usah nanya," jawabnya super ketus. Dia benar-benar tidak tahu tempat. Rebahan di lantai saja bisa membuatnya istirahat dengan nyaman. "Tapi, bukannya Kak Jin juga?" tanyaku lagi. Aku memang tidak tahu malu. Ya, mau bagaimana lagi. Kalau aku tidak terus bertanya, pasti dia akan memilih untuk diam. Tampaknya Kak Syden memang menyukai hal-hal yang hening seperti ini. Aku bahkan tidak tahu dengan apa yang ku lakukan sekarang. Tujuannya pun aku juga tidak tahu.


Kak Syden menutup matanya perlahan sambil berkata. "Dia ketuanya, gue wakilnya. Kalau lo masih nanya pertanyaan yang nggak penting, mending lo pulang aja. Nggak ada gunanya juga lo di sini."


Tanganku tolong! Kak Syden ini memang minta di cakar-cakar. Ucapannya itu kenapa menyebalkan sekali. Aku sudah ingin memperbaiki hubungan yang bagus. Tapi kenapa dia selalu menghancurkan rencanaku, sih! Memang tidak bisa apa dia itu baik kepadaku sekali saja. Aku kan adik kelasnya. Apa dia tidak memiliki keinginan untuk ramah kepadaku sebagai kakak kelasnya yang baik seperti Kak Jin?


Ah, ya.


Selalu saja aku membawa orang lain saat memikirkan Kak Syden.


Aku harus sabar. Anggap saja di depanku ini hanyalah robot yang salah berbicara saja. Aku menghela napasku panjang. "Sebenarnya aku di sini ngapain, sih, Kak?"


"Ya, mana gue tahu."

__ADS_1


Ya, Tuhan. Benar-benar, ya!


__ADS_2