
Langkahku semakin cepat sekarang.
Setelah dari gudang tadi, aku tak sengaja melihat Kak Lesham. Sepertinya yang ku lihat memang benar Kak Lesham. Aku tahu benar seperti apa dia bila dilihat dari belakang maupun samping. Aku tadi tak sengaja melihatnya di sekitar gudang. Apa dia juga melihatku dan Kak Vante tadi?
Kemungkinan Kak Lesham melihatnya.
Dia juga semakin mempercepat langkahnya. Bila aku berteriak memanggilnya, dia pasti akan langsung pergi menghindariku sekarang. Aku sangat butuh dia sekarang. Jangan sampai Kak Lesham pergi begitu saja sebelum aku mendapatkan satu fakta yang belum ku ketahui. Kak Lesham hanya satu-satunya sumber yang ku miliki sekarang. Dia yang tahu lebih banyak dalam segala hal daripada Friska ataupun Zelo. Karena itu, bertemu dengannya adalah hal yang sangat penting bagiku.
Kak Lesham melewati begitu saja kelasnya. Ku pikir dia akan ke kelasnya. Namun, kenyataannya dia masih berjalan lurus menuju ke lorong kelas duabelas. Aku tidak peduli jika nanti ada banyak kakak kelas cewek yang tak suka dengan kehadiranku. Aku akan menanggung resikonya. Akan lebih baik begitu daripada aku harus kehilangan jejak Kak Lesham yang sudah ku cari-cari sejak beberapa bulan yang lalu. Dan aku baru menemukannya sekarang.
XII IPA 5.
Kak Lesham masuk ke kelas itu. Aku berhenti melangkah. Ku kira tak mungkin bila aku ikut masuk ke kelas itu tanpa tujuan yang jelas. Aku akan menunggu Kak Lesham di luar saja. Daripada nanti aku ditanya-tanya oleh kakak kelas yang lain. Yang ada aku akan dikira sedang cari perhatian.
"Nyari siapa, Dek?" tanya seseorang tiba-tiba.
Aku sama sekali tak mengenalnya.
"Nggak, Kak. Itu, lagi nungguin Kak Sava. Ada perlu," kataku mencari alasan. Sementara Kakak kelas yang bertanya itu hanya mengangguk-angguk. "Apa perlu gue panggilin Savalas?"
Sontak aku menggeleng.
"Nggak usah, terima kasih, Kak." Aku tersenyum kaku.
"Ya, udah. Jangan lama-lama di sini. Nanti lo dikira caper," ucapnya mengingatkanku. Lantas ia pergi begitu saja. Semoga saja dia tidak berbicara apa-apa dengan Kak Savalas. Nanti aku akan terkena sidang lagi yang ada. Ah, itu harus ku jauhi sekarang.
Tak lama setelah itu, dari kelas XII IPA 5 keluar Kak Lesham, Kak Nehan, Kak Syden, dan Kak Maven. Aku mengernyit melihatnya. Sejak kapan Kak Maven dekat dengan mereka? Bukankah Kak Maven dan Kak Syden masih kelas sebelas? Apa hubungan mereka sebenarnya.
Tanpa berpikir panjang, akupun mengikuti mereka dari belakang.
Selama mengikuti mereka, aku tak tahu ke mana tujuan mereka. Tapi kelihatannya mereka berempat sama sekali sedang tidak bersahabat. Tatapan mereka sangat tajam. Mereka juga tak terlihat saling mengobrol bila seandainya mereka itu memang sudah akrab. Sebenarnya, aku semakin penasaran. Niatnya tadi aku hanya ingin menemui Kak Lesham. Tapi aku malah bertemu dengan kakak datar itu lagi. Padahal aku sudah sangat menjaga jarak agar tak bertemu dengannya lagi. Tapi kali ini aku terpaksa untuk bertemu dengannya.
Mereka berempat memasuki ruang Stig Cooking. Kak Maven yang masuk belakangan lantas menutup pintu ruang itu dengan cepat sambil menengok ke segala arah. Aku pun terpaksa menunduk di balik tanaman yang besar. Sembari mengendap-endap untuk menguping.
"Kelihatannya ada yang penting," kata Jastin. Aku melihatnya melalui jendela yang masih terbuka sedikit. Aku baru tahu bila Jastin juga akrab dengan mereka. Di sana terdapat Kak Jin yang sedang memotong sayuran. Mungkin dia sedang berlatih lagi. Katanya dia akan mewakili STANDAR dalam perlombaan yang akan diselenggarakan oleh restoran terkenal yang ada di Jakarta. Aku lupa apa nama restorannya. Berita itu ku dapat dari Friska semalam.
__ADS_1
Kak Lesham duduk di sebelah Kak Syden sambil memangku salah satu kakinya. "Vante harus putus sama Nadisha," ucapnya tiba-tiba.
Aku terkejut mendengarnya.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Kak Jin.
"Vante adu bibir sama Nazelo," Kak Maven angkat suara.
Bagaimana bisa mereka tahu?
Aku bahkan tak sadar bila selama di gudang tadi ada yang memperhatikanku. Berarti benar dugaanku. Kak Lesham sedang memata-mataiku tadi. Dia memang tidak pernah muncul lagi di depanku. Tapi ternyata dia selalu berada di belakangku. Memperhatikan semuanya. Begitu bukan?
Kak Syden menepuk bahu Kak Lesham sambil tersenyum. "Lo penguntit yang baik," tuturnya bangga.
Ucapan Kak Syden membuatku sedikit merasa tersedak. Berarti apa yang aku pikirkan mengenai Kak Lesham sebelumnya memang benar. Kak Lesham selama ini memang terlihat mengehindar dariku. Bahkan kami sudah lama tak bertemu. Namun, dia selalu tahu tentang aku. Sebenarnya apa tujuannya menjadi penguntit?
Sebentar.
Aku sepertinya menyadari sesuatu.
Apalagi mereka membicarakan tentang Kak Vante. Yang kategorinya dia juga anak Stigma.
Ah, ternyata aku mendapat satu fakta terbaru.
"Dia bahkan mendahului gue," ungkap Kak Maven curhat. Lalu ia menatap semuanya bergantian dan berhenti pada Kak Nehan. "Gimana, Han?" tanyanya pada intinya.
"Sejak awal kita buat semua ini serius. Nggak ada main-main. Tapi Vante udah melanggar satu larangan yang fatal. Gue nggak yakin kalau Nadisha bakal baik-baik aja setelah ini," ucap Kak Lesham dengan serius. Dia menjawab lebih dahulu daripada Kak Nehan. Semuanya hanya termangut-mangut kecuali Kak Nehan dan si Kakak datar itu. Jastin memukul meja di depannya pelan. Membuat semua mata tertuju kepadanya. "Gue setuju kalau Vante mengakhiri semuanya sekarang. Semakin lama, yang ada malah semakin banyak yang tersakiti," ujarnya entah membela siapa.
Kak Nehan memutar bola matanya jengah.
"Ngomong, Han. Jangan diam aja," suruh Kak Maven.
"Ngomong apa? Bukannya lo-lo pada udah tahu kalau Zelo itu adik gue? Lantas, apa yang perlu gue ungkapin?" Kali ini aku terkejut bukan main. Aku tidak salah dengar, bukan? Kak Nehan benar-benar kakaknya Zelo. Apa ini alasannya dia tidak mau membantuku untuk mendekati Kak Nehan? Bahkan dia selalu marah kepadaku bila aku membahas Kak Nehan dengannya.
Aku sudah dapat dua fakta sekarang.
__ADS_1
Siapa saja anggota Stigma aku sudah tahu.
Kak Nehan.
Kak Jin.
Kak Syden.
Kak Maven.
Kak Lesham.
Kak Vante.
Dan, Jastin.
Sudah lengkap tujuh bukan?
"Bang Out nggak bakal diem aja kalau sampai dia tahu soal ini, kan?" Jastin kembali bertanya. Sedangkan Kak Syden yang semula hanya diam langsung tersenyum. "Si pengecut bakal bertindak. Kita akhiri sekarang," ungkapnya kemudian.
Siapa itu Bang Out?
"Ekhem, ngapain lo di sini?"
Aku terlonjak kaget seketika. Jantungku seakan sudah mau lepas. Dasar! Kak Vante mengagetkanku saja. Aku mengelus-elus dadaku. Cowok ini memang hobi sekali mengagetiku. Ah, apa dia tahu sedang apa aku di sini? Aku harus pergi sekarang. Jangan sampai Kak Vante membawaku masuk ke dalam dan semuanya akan jadi kacau.
"Ngapain, pacar?" Kak Vante kembali bertanya lagi.
Aku menggaruk rambutku yang tak gatal sembari mencari sebuah alasan. Aku lantas tersenyum setelah mendapat sebuah ide. "Anting Bu Ida katanya jatuh di deket ruang Stig Cooking. Jadi, gue disuruh nyari. Tapi nggak ketemu, sih. Ya, udah. Gue pergi dulu, Kak."
"Tunggu," cegahnya.
Aku tak jadi pergi.
"Gue minta maaf," ujarnya. Aku tak melihat sesuatu yang bermain-main di matanya. Ku pikir, aku harus melupakan saja hal itu. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan bergegas pergi.
__ADS_1
Ku kira aku akan merasa lebih baik bila aku kehilangan memoriku sekarang.