Bena

Bena
BAB 15B


__ADS_3

Seperkian menit aku hanya diam memperhatikan ke depan. Tanpa berbicara sepatah kata pun. Sementara Friska juga sama sepertiku. Dia tampak lebih kalem dan pendiam dari hari biasanya. Buktinya, tadi pagi dia sudah tidak berteriak heboh saat aku datang. Sedikit berubah.


"Kok tumben lo nggak berangkat sama Kak Lesham," ujar Friska tiba-tiba di jam pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Ida sedang menjelaskan di depan. Mungkin karena saking bosannya, dia jadi mengajakku mengobrol. Ternyata bukan karena sedang kalem atau pendiam.


Aku tersenyum palsu. "Emang udah nggak. Gue mau belajar mandiri," jawabku.


"Gaya lo, ah."


"Biarin."


"Seriusan cuma itu? Nggak ada sangkut pautnya sama Kak Tavis?"


"Nggak ada."


"Terus kenapa Kak Lesham bisa berantem sama Kak Syden sore itu?"


"Kok lo bisa tahu?"


"Semua orang juga tahu kali. Soalnya waktu itu Sohee lagi live instagram. Tepat pas Kak Lesham berantem sama Kak Syden. Gue nggak sengaja liat live-nya dia gara-gara nggak ada kerjaan." Friska meletakkan pulpennya dan memperhatikanku yang sedang terkejut. Aku bahkan tidak tahu jika saat itu ada orang lain yang menyaksikan pertengkaran itu. Padahal ku kira sudah sepi. Ah, aku ingat. Waktu itu kan ekstrakulikuler Stig Cooking masuk. Makanya Sohee bisa tahu soal kejadian itu.


Aku menghela napas. Menatap Friska dengan seadanya.


"Semua itu salah gue, sih," jawabku menjelaskan.


Memang benar, kan? Waktu itu aku yang menyuruh mereka berantem. Yang penting tidak mengajakku. Karena aku salah berbicara, akhirnya mereka berantem beneran. Semua bermula dari perkataanku yang tidak jelas. Kurang ada tambahan kata. Mereka jadi menyimpulkan perkataanku yang singkat itu.


"Kok bisa? Emang lo ngapain?" tanya Friska semakin penasaran. Aku pun hanya menggeleng. "Waktu itu Kak Syden ngotot pengin anterin gue pulang. Padahal gue udah sama Kak Lesham dan dia juga udah ditungguin Kak Tavis. Mereka tuh debat di depan gue. Nggak selesai-selesai tahu. Sampai akhirnya gue bilang ke mereka kalau mau berantem ya berantem aja. Asal nggak ngajak gue. Eh, mereka berantem beneran masa. Ya gue kaget lah. Niatnya mau pisahin mereka tapi malah bikin mereka berantem," jelasku panjang.


"Lo, sih, ngomongnya nggak benar." Friska menyalahkanku. Tapi memang benar. Aku yang salah. Aku yang memicu pertengkaran antara Kak Syden dan Kak Lesham. Perkataanku yang kurang itu membuat mereka salah paham dan langsung melakukan apa yang bukan maksudku.


"Gue takut waktu itu. Lo pasti juga bisa ngerasain kalau diapit dua cowok yang saling emosi."


"Sayangnya gue nggak pernah. Nggak ada yang rebutin gue, tuh."


"Terserah, deh."


Aku menutup percakapanku dengan Friska. Yang penting dia sudah tahu dan aku merasa lega. Sudah itu saja. Cukup. Sekarang tinggal menyelesaikan beberapa hal. Kak Syden sudah mulai menjauh dariku. Aku harap Kak Syden mulai dekat dengan Kak Tavis. Jika sudah begitu kini giliran Kak Lesham. Aku harus menjauhinya secara nyata. Bukan dalam hal antar jemput saja. Aku harus menciptakan jarak.


"Terus rencana lo ke depan gimana?" Friska bertanya lagi. Sayang aku tidak bisa menutup pembicaraan dengannya. Topik ini sedikit membuatku sensitif jika memikirkannya kembali.


"Ngasih jarak antara gue, Kak Lesham, dan Kak Syden biar mereka akur. Bantuin, ya?" pintaku sekalian.


Friska terlihat kaget dengan keputusanku ini. Tapi gimana lagi, aku tak bisa mengubahnya. "Lo seriusan mau jauhin Kak Lesham yang udah nempel sama lo? Nggak dipikir-pikir lagi? Kak Lesham itu hampir mendekati kata sempurna. Nggak gampang nyari cowok yang kayak Kak Lesham, Nad," bantah Friska tidak setuju.


"Makanya itu, Fris. Karena dia hampir mendekati kata sempurna artinya gue nggak pantes buat dia. Lagian Kak Lesham cuma anggap gue sebagai adiknya. Nggak ada perasaan lebih. Jadi jangan berharap, deh." Berbicara perasaan lagi membuatku jengah.


Friska memangku wajahnya dengan dua tangan. "Kata siapa, sih? Nggak mungkin kalau Kak Lesham cuma anggap lo sebagai adik doang," elaknya lagi.


"Kalau dia punya perasaan lebih, nggak mungkin sampai titik ini dia cuma diem aja. Oke?" Aku kembali memperhatikan penjelasan Bu Ida yang telah lama ku abaikan karena Friska.


"Tapi, Nad ...."


"Intinya gitu. Nggak usah bahas dia lagi. Kita fokus sama penjelasan Bu Ida aja."


"Ya, lo ko---"

__ADS_1


"Jangan bilang ke Kak Lesham, ya. Ini rahasia kita," sahutku memotong ucapannya.


"Demi lo, nih, gue lakuin."


"Makasih."


"Iya, sama-sama."


____


Sesuai dugaan.


Kak Lesham menemuiku saat jam istirahat. Dia sudah berdiri di depan kelasku sembari bersiul.


"Ka---" Ucapanku terpotong saat Kak Lesham mengembangkan senyumnya. "Ayo," ajaknya.


"Kak Lesham duluan aja. Gue sama Friska mau ke perpustakaan dulu," tolakku.


"Nad, lo," ujar Friska berbisik, menegurku sambil menepuk tanganku pelan sembari tersenyum pada Kak Lesham. Aku menoleh kepadanya sambil tersenyum dan memiringkan kepalaku sekilas. Memberi kode lewat mataku. Berharap Friska tidak lagi menggangguku. Jika aku harus menjauh, itu artinya aku harus melakukannya sekarang.


Kak Lesham terlihat biasa saja. "Gue anterin, ya?" tawarnya.


Dengan cepat aku menggeleng sambil menyengir kuda. Jangan sampai Kak Lesham ikut denganku. Aku kan hanya berbohong agar dia menjauh dariku. Ini Friska juga kenapa tidak membantu.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Dari perpustakaan gue mau nganterin Friska ke ruang guru. Habis itu ke UKS ambil obat buat Friska," jawabku mengasal yang dibalas cubitan oleh Friska. Aku hanya meringis saja. Beruntung sekali aku tidak berteriak saat Friska mencubit lengan tanganku.


Ada kerutan di kening Kak Lesham. Sepertinya dia curiga.


"Mmm, Friska...," ucapanku menggantung karena bingung hingga akhirnya aku punya jawaban yang tepat. "Friska lagi datang bulan. Perutnya suka nyeri."


Lagi, Kak Lesham hanya mengangguk. "Ya, udah. Gue ke kantin duluan."


"Iya, Kak."


Setelah itu Kak Lesham pergi dari hadapanku dan Friska. Selama mengusir Kak Lesham, Friska sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Menyebalkan memang. Padahal sejak tadi aku membutuhkan bantuannya. Tetapi dia malah diam seolah menjadi seperti patung yang tak berguna.


Aku mengembuskan napas lega saat Kak Lesham sudah tak terlihat lagi di depan mataku. Setidaknya satu masalah sudah selesai. Walaupun belum sepenuhnya tuntas.


"Nadisha, lo tuh benar-benar, ya!" Friska tak percaya.


Aku mendengus. "Seharusnya lo tadi bantuin gue. Bukan malah diam aja kayak patung," kataku.


"Gue takut kalau ucapan gue nggak sesuai sama lo. Nanti malah tambah ribet. Ya, udah. Gue diam sembari mengiakan kebohongan lo itu." Perkataannya sedikit menyindir. Aku pun melihatnya dengan malas. "Gue juga terpaksa kali, Fris. Nggak dari kemauan gue. Udah, ya. Kita pergi sekarang," balasku.


Friska malah berdecak pinggang sewaktu aku hendak menarik lengannya. "Mau ke mana? Gue tuh laper. Seharusnya kita ngikut Kak Lesham aja ke kantin. Nggak usah beraksi sekarang juga."


"Di koperasi ada makanan. Beli di sana aja," ujarku memutuskan.


Sudah terlanjur berbohong dengan Kak Lesham. Jadi tidak wajar jika aku menyusulnya ke kantin sekarang.


"Mau dimakan di mana? Taman? Kelas? UKS? Apa di teras kelas?"


"Di perpustakaan aja."

__ADS_1


"Lo beneran mau ke perpustakaan?"


"Sekalian nyari novel baru. Ayo," ajakku memaksa tanpa menunggu persetujuannya yang lama itu.


____


Ketika bel berdering untuk yang ketiga kalinya, semua anak STANDAR langsung berhamburan memasuki kelasnya masing-masing. Sering kali para guru masuk kelas tepat waktu. Karena itu mereka semua buru-buru sebelum keduluan sama guru mapelnya. Begitupun dengan aku dan Friska. Kami sama-sama berlari menuju ke kelas yang jaraknya lumayan jauh dari UKS.


Tadi niatnya hanya bercanda dengan Kak Lesham. Namun apa daya. Akhirnya aku melakukan apa yang telah ku karang kepada Kak Lesham. Mau ke kantin nanti takut ketahuan. Kalau tidak ke perpustakaan, takut ketemu sama anak Stigma lain yang bisa memberi informasi kepada Kak Lesham. Daripada ketahuan berbohong akhirnya aku memaksa Friska untuk menemaniku ke tempat yang telah ku katakan tadi.


Hanya masuk saja dan tidak melakukan apapun. Tadi ke koperasi membeli jajan dan minuman. Lalu pergi ke perpustakaan untuk meminjam novel terbaru. Kebetulan aku sudah lama tidak membaca novel. Mau beli di toko buku tidak sempat juga. Lagi pula jika ada yang gratis kenapa harus beli? Aku pecinta gratisan sebenarnya.


Dari perpustakaan, ternyata aku tak sengaja melihat Kak Vante yang sedang dihukum oleh Bu Ida untuk menata buku-buku baru. Dia sempat memperhatikanku. Sudah kutebak jika anak-anak Stigma masih berkeliaran di sekitarku. Beralih dari Kak Vante---yang notabenenya sudah hampir ku lupakan, aku dan Friska menuju ke ruang guru.


Kebetulan Friska belum ulangan Geografi. Jadi Friska sedang meminta waktu untuk ulangan dengan guru mapelnya di dalam ruangan. Sedangkan aku hanya menunggu Friska di luar ruang guru sambil memegangi kantong plastik berisi makanan dan minuman yang telah kami beli di kantin. Setelah Friska keluar dari sana, kami pun berjalan menuju ke UKS untuk istirahat. Sembari memakan dan meminum apa yang ku bawa ke sini.


"NAD!!"


Langkahku dengan Friska terhenti dengan refleks setelah teriakan itu menggema di koridor kelas sebelas. Beberapa langkah lagi aku hampir sampai di depan kelas. Namun, sayang. Aku dan Friska malah menggubris teriakan dari Kak Lesham. Seharusnya aku tidak mempedulikannya dan segera masuk ke dalam kelas.


Kak Lesham mendekat ke arah kami. Sementara Friska berdehem di sampingku. "Mau jauh gimana lagi? Orang dia ngedeket terus," celutuknya.


Aku juga bingung. Setiap aku berusaha menjauh, yang ku jauhi malah semakin mendekat. Susah memang.


"Nih," ujar Kak Lesham sembari menyodorkan sekantong plastik kepadaku.


Aku mengernyit. "Ini..., apaan?" tanyaku penasaran.


"Makanan pasti," tebak Friska.


"Iya, makanan. Kan tadi kalian nggak ke kantin. Nanti dimakan kalau istirahat kedua."


"Cieee perhatian," sindir Friska sambil menyenggolku. Ini apa-apaan maksudnya? Kan tadi sudah ku bilang untuk membantuku menjauh. Bukannya malah ikut memojokkanku seperti ini.


Aku mendorong tangan Kak Lesham. Mengembalikan sekantong plastik itu kepadanya. "Sebelumnya makasih, Kak. Tapi kita udah makan, kok. Ini buat Kakak aja makanannya," tolakku.


Sejujurnya tidak tega untuk menolak. Tapi kan ingin menjauh. Jadi tega tidak tega ya tetap harus dilakukan.


"Gue juga udah makan." Kak Lesham kembali menyodorkan makanannya. "Cewek itu porsi makannya bisa tiga kali lipat dari cowok. Nih, ambil. Buat jaga-jaga aja," katanya memaksa.


"Iiiih Kak Lesham tahu banget, sih." Friska tersenyum sumringah. Jika masalah makanan saja langsung cepat menyambar. "Ambil aja, Nad. Rezeki nggak boleh ditolak. Iya kan, Kak?"


Kak Lesham hanya mengangguk sambil mengembangkan senyum. Setuju dengan pendapat Friska.


"Aku nggak janji bakal makan ini. Jadi buat teman Kak Lesham aja. Teman Kakak kan banyak, tuh." Aku kembali menolak. Lantas menarik lengan Friska untuk pergi bersamaku. "Tapi makasih, Kak. Kita masuk kelas dulu."


"Eeh, tapi," bantah Friska.


"Udah bel, Fris."


"Iya, iya."


"Oke, semangat belajar kalian."


Aku melirik Kak Lesham sekilas. Dia tersenyum kepadaku. Sudah ku tolak perhatiannya kenapa masih tidak marah, sih? Jika begini akan susah untuk menjauhinya. Tidak semudah yang aku rencanakan ternyata.

__ADS_1


__ADS_2