
Jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Aku menghela napas dan mengembuskannya berulang kali. Dari pukul tiga sampai empat sore aku masih berada di halte. Menunggu Kak Savalas yang tidak keluar-keluar dari tadi. Sudah ku telepon berkali-kali tetapi ponselnya sedang tidak aktif. Aku ingin pulang duluan, tapi nanti malah Kak Savalas yang kebingungan mencariku.
"Adiknya Sava, kan?" tanya Kak Maven, anak dari Tante Muditta yang sering memiliki urusan dengan Mama. Aku mengangguk untuk menjawabnya. "Lo ngapain jam segini masih di sini bocil?"---bocil, bocah kecil.
Aku mengercutkan bibirku. Setiap menyapaku Kak Maven tidak pernah memanggilku dengan benar. Selalu saja dia memanggilku bocil. Ya, meskipun aku sadar diri jika aku ini memang bocah kecil. Tapi setidaknya dia tidak perlu memperjelas hal itu kan?
"Nungguin Kak Savalas, Kak," jawabku letih.
Kak Maven malah menertawaiku.
"Kenapa ketawa coba? Nggak ada yang lucu!"
Kak Maven mematikan mesin motornya. Lalu ia menepuk-nepuk motornya sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin. "Pulang, yuk! Gue anter pakai Moci, nih."
Aku mengernyitkan satu alisnya. "Moci apaan, Kak?"
"Moci, motor cintanya gue. Legendaris tahu. Warisan dari buyut gue," jelasnya bangga. Ia berhenti tersenyum dan menatapku. "Mau nggak, nih? Mumpung gue sedang berbaik hati dan tidak sombong."
"Mana ada orang baik hati dan tidak sombong ngaku sendiri," ujarku serius. Kak Maven langsung menyengir lagi. Cowok yang satu ini memang aku akui dia kurang waras. Mau bagaimanapun orang lain ke dia, dia tetap setiap untuk menyengir. Tidak ada bosan-bosannya. Aku saja yang jarang bertemu dengannya saja sudah bosan.
Kak Maven menepuk dada kirinya dengan tangan kanannya. "Itu zaman dulu. Kalau zaman sekarang harus bilang-bilang. Lo nggak tahu, sih. Sekarang tuh banyak orang yang tuli. Jadi gue harus bilang-bilang biar mereka tahu."
"Banyak penjelasan."
"Jadi ikut gue nggak?"
"Eh, iya, iya..., jadi, Kak!"
"Buruan naik," ucapnya. Dengan tergopoh-gopoh aku naik ke sepeda motor milik Kak Maven. Aku kira, Kak Savalas tidak akan marah jika aku pulang bersama Kak Maven. Mereka berdua cukup akrab. Dan ku rasa, ini tidak terlalu buruk.
Sepanjang perjalanan, Kak Maven tak henti-hentinya bercerita. Tentang STANDAR, dirinya sendiri, teman-temannya, guru-gurunya sampai penjual kantin juga dia ceritakan. Kak Maven memang orangnya selalu ceria. Tapi tak ku sangka jika dia tidak bisa berhenti berbicara. Walaupun satu menit saja. Namun tak masalah, dengan ceritanya aku jadi tahu lebih banyak tentang STANDAR.
"----lebih parahnya lagi, itu Mbak kantinnya marah kayak gila tahu, nggak. Dia ngelemparin gue sama temen-temen gue pakai gorengan cuma karena bedaknya diganti tepung terigu sama salah satu temen gue. Lo harus ketemu sama temen gue itu yang bandelnya minta ampun. Sampai-sampai, nih, ya gu----"
"Kak Maven tahu Stigma?" tanyaku memotong ceritanya.
"Lah, lo kenapa dah? Gue kan lagi cerita asyik-asyik cerita. Kenapa lo potong, sih? Biasanya tuh orang kalau nanya nanti. Habis gue kelar cerita." Gerutu Kak Maven dengan kesal. Ya, bagaimana aku tidak memotong ucapannya coba? Dia saja kalau sudah ngomong lupa mengerem. Sampai-sampai kayak jalur tol yang panjangnya minta ampun tanpa ada pemberhentian sebelum sampai tujuan. Sekarang, aku kan yang disalahkan. Padahal dari halte sampai di tengah perjalanan seperti ini dia yang ngomong terus. Aku kapan dapat kesempatan jika bukan dengan cara memotong ucapannya seperti itu.
Aku mendesis. "Ya, habis Kak Maven ngomong dari tadi kayak nggak ada ujungnya tahu. Gue kan juga mau ngomong," jawabku membela diri sambil mengercutkan bibirku.
__ADS_1
Kak Maven tertawa. Sudah aku bilang kan kalau Kak Maven itu memang murah senyum murah menyengir. Sampai-sampai saat aku sedang kesalpun dia juga masih tetap menyunggingkan senyumannya dan terkadang malah tertawa. Padahal tidak ada sesuatu yang lucu. Sejak tadi aku hanya diam dan mendengarkan dia tertawa. Aku sama sekali tidak melawak. Namun, Kak Maven masih bisa tertawa. Aku rasa dia memang tidak sehat.
"Ya, elah! Ngomong tinggal ngomong aja susah," cibirnya. Sontak aku langsung memukul bahunya. "Gue udah ngomong dan lo malah marah-marah. Gimana, sih? Heran," keluhku.
"Ya, udah, sih. Sori," ujarnya enteng.
"Eh, Nad. Kemarin gue beli bakso," tambahnya. Aku mengangkat satu alisku ke atas. "Terus?" jawabku.
"Baksonya habis masa, hahaha." Kak Maven terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri meskipun itu sama sekali tidak lucu. Aku yang sedang dibonceng olehnya hanya bisa menatapnya dengan heran.
Sungguh demi apapun, Kak Maven memang tidak sehat.
____
Motor Kak Maven memasuki pekarangan rumahku. Setelah aku tahu bahwa Kak Maven sedang tidak sehat, aku tidak jadi menanyakan perihal Stigma kepadanya. Dia melanjutkan kembali ceritanya tadi dan seperti biasa, aku akan diam saja. Mendengar ceritanya yang panjang seperti dongeng pengantar tidur itu. Sesekali aku melihat ke kanan dan kiri supaya tidak mengantuk.
"Cil, sori, ya." Kak Maven mengatakan itu setelah aku turun dari motornya. Aku memberikan Kak Maven helm yang telah kupakai dengan keheranan.
"Maaf kenapa?"
"Sori kalau gue nggak bisa mampir. Lo kan tahu gue ini orangnya sibuk. Ada meeting ini itu. Jadi, gue langsung pulang aja, ya?"
"Tapi gue nggak nawarin buat mampir sih, Kak," balasku sabar. Jauh di lubuk hatiku, aku sudah ingin meremas-remas Kak Maven. Aku tersenyum dengan paksa lalu menghentak-hentakkan kakiku di tanah. Menunggu Kak Maven pergi daro hadapanku.
Kak Maven tersenyum lagi. Kau tahu? Ini sudah yang kesekian kalinya. "Memang bukan lo yang nawarin. Tapi nyokap lo biasanya nawarin. Mumpung orangnya belum nawarin, makanya gue tolak duluan."
"Ya udah, ya udah. Pulang gih, Kak. Thanks, buat boncengannya." Aku mengusir Kak Maven dengan mengibas-ngibaskan tangannya kepadanya. Dia malah memberiku kiss bye. Aku menatapnya heran seperti tadi. Lalu ia menyengir dan menyalakan mesin motornya. "Gue pulang dulu, ya, Cil. Sampaikan kiss bye gue buat Sava, nyokap-bokap lo dan juga..., buat lo. Jangan lupa doain gue semoga sampai tujuan dengan selamat dan santosa."
Aku menjawab dengan anggukan.
Setelah Kak Maven pergi, aku langsung menuju ke dalam rumah. Namun, ketika aku membalikkan badan ternyata Kak Savalas sudah ada di belakangku. Terkejut. Aku langsung menghela napas dan menatapnya tajam. Kalau sekarang dia sudah ada di rumah, berarti tadi dia pulang duluan, kan?
Itu artinya aku ditinggal begitu saja.
Tanpa memberitahuku.
Dan membiarkanku menunggunya.
Sangat jahat!
__ADS_1
"Udah pulang, ya?" tanyanya. Memang dia tidak lihat jika aku sudah berdiri di depannya. Apalagi ini lokasinya di rumah. Masih tidak sadar jika aku sudah pulang. Dasar absurd. Pertanyaannya sudah memiliki jawaban tanpa harus aku jawab. Aku hanya diam. Dengan segera aku menepis tubuhnya dan pergi.
Iya, aku marah.
Setidaknya jika dia pulang duluan, bisa 'kan memberitahuku dulu?
"Nadisha!" teriaknya.
Aku masih tidak peduli. Kak Savalas masih meneriakiku. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan menutupnya rapat-rapat. Saat ini aku sedang marah. Dan aku tidak ingin bertemu dengan Kak Savalas dulu. Mungkin, nanti saja.
Tiba-tiba Kak Savalas mengetuk-ngetuk pintu kamarku. "Lo marah?" tanyanya lagi.
Ya Tuhan. Kenapa Kak Savalas bertanya seperti itu lagi, sih?
"MENURUT LO??!"
Aku menjawabnya dengan teriakan juga. Dan tentu saja teriakanku lebih keras darinya. Untung Mama belum pulang sekarang. Jadi, Mama tidak akan tahu jika aku marah dengan Kak Savalas. Kalau saja Mama di rumah, pasti aku akan kena dimarahi.
"Keluar dong, Sha. Gue kasih tahu alesannya," Kak Savalas masih terus berbicara. Padahal aku ingin dia diam dulu. "Lo keluar atau gue dobrak, nih, pintu?" tambahnya.
Aku langsung bangkit dari kasurku dan melangkah menuju ke pintu kamar sebelum Kak Savalas mendobraknya. Aku trauma. Setiap apa yang kakakku katakana tidak pernah main-main. Semuanya memang benar akan dia lakukan. Aku takut jika dia benar-benar akan mendobrak pintu kamarku. Nanti yang ada Mama akan memotong uang jajanku. Sungguh, aku tidak rela hal itu terjadi padaku.
"Eeeh, jangaaan! Dasar, punya Kakak satu tapi hobinya ngancem," cibirku sambil membuka pintu kamarku. Dan ketika pintu kamarku terbuka, Kak Savalas langsung mengguyurku dengan air yang ia bawa menggunakan ember.
"Sadar, dong. Yang harusnya marah itu gue bukan lo," kata Kak Savalas sambil menatapku. "Lo yang ngirim pesan ke gue, kan? Coba cek sendiri."
Aku termangu dengan perkataan Kak Savalas.
Ku buka ponselku menuju ke Whatsapp.
Kk lo plg dlu y. Gw da krj klmpk, nt plgny nk ojk.
Dan benar. Aku terkejut melihatnya. Sejak kapan aku mengirimkan pesan itu kepada Kak Savalas? Bahkan tadi aku di sekolah sama sekali tidak membuka ponselku.
Lalu siapa yang mengirim pesan itu?
Pesan dengan tulisan yang benar; Kak, lo pulang dulu ya. Gue ada kerja kelompok, nanti pulangnya naik ojek.
Aku tidak pernah mengirim pesan dengan tulisan yang disingkat-singkat. Bahkan tidak pernah aku lakukan.
__ADS_1
"Udah sadar? Masih perlu gue guyur lagi nggak?"