Bena

Bena
BAB 15D


__ADS_3

Kak Lesham meninggalkanku setelah membantuku menyebrang. Dia sudah pergi entah kemana. Yang pasti tidak kembali ke sekolah. Aku pikir, ada kemungkinan jika dia membolos. Tapi tidak begitu meyakinkan karena dia keluar sekolah tanpa membawa apa-apa. Tas juga tidak. Kendaraan juga tidak. Masa iya Kak Lesham bolos dengan naik angkutan umum?


Kurasa tidak.


Berhubung sedang antre, akupun menunggunya sambil makan roti di depan tokonya. Daripada lelah berdiri dan kelaparan lebih baik aku makan dulu. Meskipun toko ini letaknya di depan STANDAR, tetapi yang memenuhi toko ini bukan anak STANDAR. Lebih banyak dari anak SMA sebelah dan seberang. Mungkin, aku hanya satu-satunya yang dari STANDAR.


Walaupun toko ini sangat lengkap, namun dari pihak STANDAR sendiri sudah menyiapkan mesin fotocopy sendiri bagi siswa dan gurunya. Tak sekadar itu, berbagai alat tulis pun mulai diusahakan untuk dilengkapi. Semuanya sudah ada di koperasi sekolah. Dengan itu para siswa diharapkan tidak ada yang keluar dari sekolah hanya untuk fotocopy maupun membeli alat tulis.


Kebiasaan dari dulu jika ada yang izin keluar dengan alasan klise seperti itu ujungnya malah pada bolos. Karena jengah sendiri, akhirnya pihak sekolah mengeluarkan biaya untuk mengantisipasi siswa-siswi yang suka bolos. Bukan dengan pembangunan pagar yang lebih tinggi. Namun dengan dilengkapi kebutuhan para siswa di koperasi. Dengan begitu tidak ada lagi siswa yang izin keluar hanya untuk membeli alat tulis maupun fotocopy.


Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Tidak ada yang menarik perhatianku sama sekali. Alhasil aku kembali bangkit dan masuk ke dalam toko. Antre-nya sudah lumayan sedikit. Hanya tinggal dua sampai empat orang saja. Setelah itu baru giliranku.


"Anak STANDAR ya, Dek?" tanya si Mbak kasir yang berdiri tak jauh dariku. Aku hanya mengangguk saja. "Iya, Mbak," jawabku.


"Kok tumben keluar sekolah?"


"Mau fotocopy ini jadi seratus. Di koperasi nggak bisa soalnya. Mesinnya lagi pada diservis," jelasku yang dibalasi si Mbak kasir dengan anggukan.


Lalu aku menunggu hasil fotocopy-an sambil duduk. Seratus lembar lumayan banyak. Untung tidak bolak-balik. Jika saja tadi minta dibolak-balik atau diperkecil, aku akan menyuruh si Mbak ini mengantarkannya. Uang kembalian akan ku jadikan sebagai ongkos supaya aku tidak menunggu lama hasilnya.


Sepuluh menit berlalu. Sejak masuk ke toko ini aku hanya memandangi jam dinding yang ada di depanku. Melihat jarum jam yang terus saja berputar tanpa henti. Waktu berjalan begitu cepat. Sementara perasaan menghilang dengan sangat lambat, lama sekali. Sungguh berkebalikan dengan waktu. Antara waktu yang begitu kejam atau memang perasaan yang tidak mau dihilangkan.


"Ini, Dek. Kembaliannya udah saya taruh di dalam plastiknya," ujar si Mbak kasir. Tadi memang aku langsung menyerahkan lembar kertas itu sekalian dengan uangnya. Biar langsung dikasih kembalian tanpa tahu berapa harganya. Biasanya sudah ada nota sendiri di dalam plastik. Setahuku sih memang begitu.


Akupun mengambil hasil fotocopy itu dari si Mbak kasir. "Makasih, Mbak. Mari," kataku.


"Terima kasih kembali, Dek."


Aku bergegas keluar dengan cepat sebelum bel istirahat selesai. Perutku sudah tidak lapar lagi. Tetapi tetap saja, rasanya masih gugup di dalam hati. Ketika sejengkal tanganku baru saja menggapai gagang pintu, tiba-tiba ada seseorang yang menerobos masuk ke dalam dengan kencang hingga membuatku terhuyung ke belakang. Untungnya ada si Mbak yang lagi menyapu itu menahanku agar tidak jatuh.


Orang itu terangah-angah. Seperti sudah lari maraton. Keringatnya bercucuran disertai napas yang tidak beraturan. Aku meneguk ludahku kasar karena mendadak jadi kesulitan. Sudah gugup ditambah lagi dengan insiden ini. Lama-lama jantungku bisa sakit jika harus senam jantung terus.


"Lo ngapain, sih, lari-lari?" tanyaku pada Friska. Iya. Orang yang sudah menerobos masuk dengan kencang itu adalah Friska. Beruntung saja aku tidak kenapa-kenapa. Jika sampai aku jatuh, aku pasti akan marah kepadanya.


Friska mengelap peluhnya dengan tangan. "Itu..., engg---mm..., Kak ...." Ucapannya menggantung dan tidak jelas. Aku jadi bingung sendiri. "Kenapa, sih? Ada apa? Ngomong yang jelas, Fris. Gue nggak ngerti," kataku.


"Makanya jangan lari-lari, Dek. Susah ngomong, kan, jadinya. Nih, minum dulu." Si Mbak kasir menyodorkan sebotol air minum kepada Friska. "Makasih, Mbak."


Dengan cepat Friska langsung menerimanya dan dilogoknya sampai habis. Benar-benar kekurangan cairan sekali. Perasaan tadi dia tidak sedang bermain lari-lari. Lalu kenapa harus lari-lari sekarang?


Dasar kurang kerjaan.


"Jadi kenapa lari-lari?" Aku kembali bertanya dengan topik yang sama.


"Itu, Nad! Gawat!"

__ADS_1


Tadi kurang kerjaan karena lari-lari. Sekarang malah ngomong yang tidak-tidak. Ini anak sebenarnya sedang kesambet apa, sih? Heran.


"Gawat apaan?"


"Kak Lesham."


"Iya, kenapa sama Kak Lesham?"


"Berantem sama Kak Syden, Nad!"


"Eh, kok bisa? Dimana?"


"Ya bisa dong! Kak Lesham nyamperin Kak Syden di kantin. Langsung dah baku hantam disana," jelas Friska.


Aku mengernyit tidak percaya. Masa iya Kak Lesham bisa seemosi itu? Padahal kan Kak Lesham yang ku kenal sangat sulit sekali untuk marah. Emosinya tidak mudah tersulut. Malahan dia murah sekali untuk tersenyum. Karena itu, aku tidak begitu yakin dengan berita yang dibawa Friska. Tidak mungkin sikap Kak Lesham bisa berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan cepat.


"Lo nggak main-main, kan?" Aku memastikannya lagi.


"LO KE KANTIN AJA, DEH! KEBURU BONYOK MEREKA!!" teriak Friska nyaring. Untungnya ini toko tidak dalam keadaan yang ramai. Bisa kabur pelanggan mereka jika Friska berteriak sekencang ini. "NGGAK TERIAK-TERIAK JUGA, DEK!" Si Mbak ikut berteriak.


"Itu Mbaknya juga teriak," elak Friska.


"Kamu, sih."


"Kok jadi saya?"


"Tolong kasih ke Bu Ida, ya, Fris. Gue pergi ke kantin dulu," ujarku sambil menyerahkan lembaran kertas itu pada Friska. Lalu pergi tanpa menunggu persetujuan darinya. Aku sungguh gugup sekarang. Kak Lesham dan Kak Syden tidak mungkin berantem lagi. Jika sampai iya apa yang harus aku lakukan?


"Eh, eh, kok jadi gue? Barengan dong ke sananya, elaaah."


Hanya sepotong itu yang ku dengar sebelum lari meninggalkan Friska. Aku menyebrang dengan cepat seolah aku sudah terbiasa menyebrang jalan. Entah kenapa bisa begitu, akupun juga tidak sadar. Refleks karena aku saking bingungnya.


Yah, ini gimana?


Perasaan kemarin sudah selesai. Ini kenapa malah berantem lagi, sih? Di jam sekolah pula. Apa mereka memang sengaja untuk mencari hukuman di sekolah? Sadar tidak sih sebenarnya?


Ah! Jadi aku kan yang kesal.


Tinggal sepuluh langkah lagi mungkin aku sudah sampai di kantin. Pandanganku lurus ke depan. Menangkap segerombolan orang yang berada di kantin. Aku berhenti sejenak. Seakan yang ku lihat di depanku ini memang seluruh anak STANDAR. Ramai sekali sampai tidak ada jalan untuk lewat.


Akupun mengembuskan napas dengan pelan-pelan. Mau mengelak bagaimana pun juga semua ini memang ada hubungannya dengan aku. Diantara Kak Syden dan Kak Lesham terdapat aku di tengah-tengah mereka. Aku yang membuat mereka tidak sejalur hingga emosi mereka meledak pada akhirnya.


Walaupun aku belum bisa memastikan bahwa yang di dalam segerombolan Kak Syden dan Kak Lesham, namun aku sudah tidak bisa tenang. Rasanya jantungku sudah jatuh ke usus dengan cepat. Susah sekali mengatur detakannya agar teratur kembali seperti semula.


"OOIII, NAD!! TUNGGUIN!!" Friska masih meneriakiku.

__ADS_1


Aku tak menghiraukannya. Daripada mengurusi Friska lebih baik aku segera menyelesaikan urusan di depanku ini. Aku berlari menuju ke segerombolan itu. Menerobos masuk secara paksa tanpa peduli dengan kemarahan mereka. Mau masuk secara halus juga tidak mungkin diberi izin. Hanya ini satu-satunya cara agar aku dapat masuk.


Setibanya di dalam segerombolan itu, aku berdiri kaku. Seperti yang Friska katakan. Semuanya benar. Kak Syden dan Kak Lesham masih baku hantam. Melayangkan pukulan satu sama lain. Tidak ada satupun orang yang berusaha untuk memisahkan mereka. Benar-benar tidak berperikemanusiaan. Ini yang sedang main pukulan orang. Bukan ayam yang hanya dipertontonkan.


Tidak ada sosok Kak Tavis sama sekali. Jangan kan Kak Tavis. Anak Stigma yang lain saja tidak terlihat sama sekali. Begitupun dengan Seesaw. Seakan orang-orang penting itu sedang lenyap untuk sementara waktu. Saat tidak dibutuhkan mereka selalu ada. Giliran dibutuhkan malah suka menghilang tak muncul-muncul. Menjengkelkan.


Aku tidak bisa diam. Aku geram melihat mereka yang saling menyakiti.


Sebelum Friska menghalangiku, akhirnya aku pun memberanikan diri untuk memisahkan mereka berdua. Dengan menepis lengan tangan keduanya disertai dorongan hingga aku terengah-engah. "Kak! Berhenti!" pintaku.


Keduanya tidak bergerak. Saling menatap satu sama lain hingga akhirnya mereka berdua serempak menatapku.


"Kalian apa-apaan, sih? Ini sekolah." Aku mengingatkan.


"Lo pergi aja, Nad. Lo nggak aman disini," kata Kak Lesham. Sedangkan Kak Syden memutar bola matanya jengah hingga pada akhirnya juga kembali menatapku. "Kecuali kalau lo mau kenapa-kenapa. Minggir sana!" ujarnya lantang.


Ketika Kak Lesham hendak melayangkan pukulan pada Kak Syden, aku refleks menahannya dengan dua tanganku. Dia tampak tak percaya dengan apa yang ku lakukan. Aku tidak melindungi siapapun. Aku juga tidak membela siapapun. Seolah sorot mata Kak Lesham menganggap bahwa aku berpihak pada Kak Syden.


"Gue cuma mau kalian damai," kataku lagi.


"Gue nggak bisa!" jawab Kak Lesham tegas padaku. Bahkan aku kehilangan kata-kata lagi. Perkataannya barusan membuatku terdiam bak patung.


"Asal dia minta maaf gue oke."


Kak Lesham menatap Kak Syden dengan tajam sambil menunjuknya. "Jangan mimpi. Bangun!"


Tak menjawab, Kak Syden sebatas mengukir senyum. Senyuman yang tidak bersahabat.


Tiba-tiba terdengar desakan dari arah belakangku. Aku langsung menoleh karena penasaran. Tak terduga sudah ada Friska di belakangku. "AAAKHH, YA, AMPUN! DIPISAHIN DONG KAKAK-KAKAK MEREKANYA. JANGAN CUMA DILIATIN. NGGAK BERPERIKEMANUSIAAN BANGET, SIH!" Friska heboh.


"Minggir!"


"Minggir woy! Bu Ida mau lewat, nih!"


Sesuai dugaan Bu Ida mendekat ke arah kami. Berhubung hari ini guru BK-nya sedang ada urusan alhasil Bu Ida yang menggantikannya. Itu sudah menjadi kebiasaan. Jika ada yang bermasalah dan Bu Ida yang datang itu artinya guru BK sedang tidak ada.


"Ibu nggak nyangka kalian bisa berantem di sekolah. Lesham, Syden, Nadisha, ikut Ibu ke ruangan!" tegas Bu Ida langsung setibanya di tengah gerombolan. Lantas membalikkan badan sambil berkacak pinggang. "Ini sudah jam pelajaran. Pada masuk kelas sana! Nggak ada penawaran lagi! Bubar!" tambah Bu Ida.


"IYA, BU." Segerombolan siswa-siswi itu serempak menjawab dan mulai berhamburan pergi satu persatu. Meskipun memiliki aura yang kalem, tetapi Bu ida cukup tegas orangnya. Aku jadi was-was.


"Saya ikut ke ruangan Ibu, ya?" izin Friska mendekatiku.


"Mau ngapain Friska? Kamu juga harus masuk kelas, kan?" tanya Bu Ida.


Friska hanya menyengir. "Ini mau nganterin fotocopy-an Ibu. Saya taruh di meja Ibu sekalian biar Ibu nggak repot-repot bawa. Hehehe."

__ADS_1


"Terserah."


Bu Ida tak menggubris lagi. Beliau sudah lebih dulu meninggalkan kami. Aku langsung ditarik Friska untuk mengekori Bu Ida. Sementara di belakangku terdapat Kak Lesham dan Kak Syden yang berjalan berjauhan tanpa menatap satu sama lain. Sepertinya, akan lebih susah menyatukan mereka kembali daripada menjauh dari Kak Lesham.


__ADS_2