Bena

Bena
BAB 22A


__ADS_3

Karena Mama tidak masak, akhirnya aku terpaksa harus membeli mie instan di alfamart depan gang. Tumben-tumbenan Mama tidak menyetok mie instan. Biasanya malah kelebihan sampai berbulan-bulan semenjak Kak Savalas kuliah. Ya memang hanya dia yang menyukai mie instan. Sementara aku hanya makan mie saat Mama tidak masak saja. Seperti keadaan sekarang ini.


"Beli roti juga, ya, Nad." Mama kembali menimpali saat aku sudah hendak mengayuh sepeda. Aku menengok ke belakang, tepat ketika Mama baru saja keluar rumah dan mengawasiku. "Roti apaan, Ma? Roti tawar?" tanyaku.


Mama berjalan mendekat padaku. "Bukan," katanya. "Pembalut itu lho. Stock kamu udah habis, kan? Sekalian beli buat jaga-jaga. Nih Mama tambahin uangnya," ucap Mama sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna biru kepadaku. Kelihatannya akan ada kelebihan nanti. Lumayan untuk membeli cemilan buat stock.


"Udah, nih, itu doang?" Aku memasukkan uang pemberian Mama ke sako wallet yang ku kalungkan di leher. Kebetulan aku sedang memakai kaos putih dan celana panjang kain berwarna hitam. Memang ada saku celana untuk menaruh uang. Cuma aku takut jatuh saja nanti. Aku anaknya ceroboh. Jadi lebih baik aku mengantisipasinya dengan membawa sako wallet hitam milik Kak Savalas waktu SMP.


Mama diam sejenak. "Eumm...," agak lama berpikir hingga akhirnya aku bersuara lagi. "Cemilan, Ma, jajan. Gimana? Hehe," tawarku. Mama hanya mengiakan saja. "Ya, sudah terserah. Jangan lama-lama. Langsung pulang kalo udah beli. Jangan mampir-mampir," tambah Mama.


"Iya, Ma. Udah ya Nadisha berangkat dulu. Assalamualaikum," selaku sebelum Mama banyak bicara lagi dan aku tidak jadi berangkat.


"Waalaikumsalam, hati-hati. Jangan ngebut," ujar Mama.


"Asiap, Bos!"


Aku lantas mengayuh sepeda dengan pelan. Santai. Seperti apa yang Mama bilang dan suruh. Lagipula ini juga belum malam banget. Baru jam setengah tujuh malam. Aku juga belum lapar sekali. Jadi sambil menikmati angin malam, aku mengayuh sepeda. Sudah lama sekali aku tidak menggunakan sepedaku ini. Mungkin ada sekitar berapa bulan? Lama sekali. Aku lupa berapa bulan tepatnya.


Saat aku hendak memasuki area alfamart depan gang, aku tersentak kaget. Berhenti mengayuh sepeda. Mataku langsung tertuju pada sosok yang baru saja keluar dari alfamart bersama orang lain yang tak ku kenal. Mereka berdua bergandengan tangan sambil senyum-senyum satu sama lain. Lalu duduk di kursi depan alfamart. Tidak mungkin hanya sebatas teman, kan? Pasti lebih. Mana ada istilah teman jika; sang cowok menggandeng tangan sang cewek terus menerus tanpa dilepas.


Aku masih memperhatikan mereka dari jauh. Meneguk ludah dengan pelan karena takut ketauan. Aku bukannya kepo dengan urusan pribadi orang lain. Aku juga tidak begitu ingin tahu apa yang dilakukannya. Hanya saja ini tiba-tiba menjadi penting untuk ku ketahui. Bahkan bersifat wajib. Kesempatan melihat ini hanya sekali. Jadi aku harus terus memperhatikan mereka.


Cowok itu Kak Vante, yang notabene-nya pacar Friska? Kenapa aku malah bertanya sesuatu yang sudah pasti iya, coba? Intinya Kak Vante yang sudah punya cewek sedang jalan atau berduaan dengan cewek lain. Aku tidak mengenal cewek itu. Apa Friska tahu tentang ini? Apa aku perlu mengabadikan momen ini dengan divideo atau difoto? Tapi apa perlu sedetail dan seribet itu? Ah, apa tidak terlalu lebay?

__ADS_1


Eh.


Tapi aku lupa membawa ponsel. Aduh! Percuma juga. Jika aku kembali pulang mengambil ponsel, pasti Kak Vante dan ceweknya sudah pergi duluan. Nanti aku akan ketinggalan. Tidak. Aku akan tetap disini. Meskipun sudah ada beberapa nyamuk yang mengambil darahku, aku tak apa. Katanya berbagi itu indah. Ya, sudah. Sesekali aku menyenangkan hati nyamuk-nyamuk nakal ini.


Lama.


Makin lama.


Makin mesra.


Selingkuhan?


Aku negatif thinking sekali malam ini. Tapi yang mereka lakukan memang seperti orang pacaran yang sering aku lihat di televisi. Duduk berdua. Berdekatan. Tertawa kecil. Bercerita panjang lebar meskipun sedikit garing. Saling menyuapi. Ah, apalagi ya. Aku sampai lupa juga. Intinya yang kulihat sekarang tak beda jauh dengan yang kulihat di televisi. Ini versi aslinya. Begini banget, ya. Kalau tidak dilihat orang, pasti nasibnya ngelihatin orang. Lucu.


Aku memutuskan untuk menuju ke alfamart. Kak Vante menoleh saat aku melewatinya tepat di sampingnya. Aku berhenti di dekat tong sampah. Memarkirkan sepedaku. Ketika hendak berjalan masuk ke dalam, Kak Vante menghampiriku sambil merentangkan kedua tangannya. Aku berhenti mendadak. Agak terkejut. Pasalnya tadi kupikir dia tak menyadariku. Eh, ternyata salah berpikir.


"Gue mau ngomong," ucapnya. Aku mengangguk-angguk canggung tak berani menatap matanya. "Oke, ngomong aja," balasku.


"Nggak mau duduk?"


Aku melirik ke samping kanan-kiri, melihat beberapa orang yang memperhatikan kami. "Tapi jangan lama, ya," kataku dan dia mengangguk. Kak Vante menunjuk kursi di sebelah kiri yang masih kosong. Dia menyuruhku jalan duluan dan dia di belakangku.


Aku duduk tepat di depannya.

__ADS_1


"Mau ngomong apa?" tanyaku to the point. Lagipula, aku masih sedikit sakit hati dengan perkataannya waktu itu. Entahlah. Sesuatu yang menyakitkan memang susah dilupakan. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak mengingatnya kembali. Tapi memang tiba-tiba refleks mengingat.


Kak Vante menatapku lekat. "Gue minta maaf, gue nggak bener-bener jadi diri gue akhir-akhir ini. Udah itu aja. Gue balik dulu, ya. Lo hati-hati pulangnya. Sori nggak bisa nganterin. Bye, Nadisha."


Eh.


Aku tercengang.


"Maksudnya gimana?"


"Gue sedang bertopeng. Cukup benci kata-kata gue, ya, tapi jangan benci gue-nya."


Aku terdiam. Mencerna baik-baik perkataannya.


"Oh, iya. Soal yang lo liat tadi, ada baiknya lo lupain."


Setelah mengatakan itu dia langsung beranjak pergi dari hadapanku. Ini maksudnya bagaimana? Dia tiba-tiba minta maaf kepadaku dan berbicara begitu? Bertopeng? Tidak sedang menjadi dirinya sendiri? Aku pusing. Dia itu sebenarnya kenapa?


Ah. Daripada memikirkan Kak Vante lebih baik aku harus segera belanja dan pulang secepatnya untuk memberitahu Friska soal ini. Mana mungkin Kak Vante enak-enak berduaan dengan cewek lain sementara dia masih punya pacar?


Kenapa orang yang ku sukai adalah orang suka yang memainkan hati perempuan?


Aku sedih.

__ADS_1


Tapi memang yang terbaik adalah melupakan perasaan ini dan memulai menanam benih rasa pada orang yang baru. Harus. Bagaimana pun nanti alurnya, aku tidak bisa berdiam diri pada perasaan seperti ini. Aku harus segera melupakannya.


__ADS_2