Bena

Bena
BAB 16C


__ADS_3

MY NADISHA RADKA


Tulisan itu terpampang jelas di papan mading. Aku terpaku setelah membacanya. Setelah bel istirahat berbunyi, aku langsung ditarik Jastin ke papan mading untuk melihat sesuatu. Katanya sejak dia mengambil kursi dan meja tadi tulisan itu sudah ada disini. Tepat di depanku sekarang.


"Ini apa-apaan, sih," gumamku sambil memperhatikan tulisan itu. Namaku yang tulis besar dengan huruf kapital semua di lembaran kertas besar. Dugaanku si pelaku menulis namaku dengan spidol kelas yang sudah ditonjok-tonjokan ke tembok supaya tumpul, dan menghasilkan tulisan yang sangat besar. Niat sekali.


Tapi siapa, ya, yang kurang kerjaan melakukan hal seperti ini?


"Gue mau ngomong jujur sama lo," ujar Jastin tiba-tiba.


Aku mengernyit, lantas menoleh kepadanya heran. Tumben sekali dia izin untuk berbicara. Aku jadi penasaran dengan apa yang ingin dia katakan. Sejenak aku menghela napasku. Mengabaikan tulisan namaku yang terpampang sangat jelas itu demi mengurusi Jastin agar dia cepat pergi dari hadapanku.


"Mau ngomong apa?" tanyaku.


Jastin menggaruk tengkuknya. "Gue itu sebenarnya ..., gue .... ah! Susah banget, sih, gue ngomongnya," adunya.


"Penting banget, ya, kayaknya sampai bikin lo susah ngomong?"


Aku tidak bisa menebak apa yang akan Jastin katakan sekarang. Dia terlihat aneh. Aku lebih bisa menebak dia bila dalam keadaan tidak warasnya. Tapi jika sekarang, rasanya aku ingin angkat tangan saja. Susah ternyata kalau harus menebak orang yang sifatnya sedikit miring. Ya, tidak semiring itu. Tapi lumayanlah sedikit aneh dirinya itu.


"Banget!" Jastin menyeru dengan membara. Semakin membuatku terheran-heran.


"Ya tapi apa?"


Jastin mengembuskan napasnya, kedua tangannya memegang bahuku. Matanya menatap manik mataku. Aku menjadi gugup sekarang. Jantungku rasanya sedang lari maraton. Ini bukan karena suka ditatap seperti adegan-adegan film, tetapi aku jadi merinding. Kesannya Jastin seperti ingin berbicara serius. Entah seserius apa yang akan dikatakannya.


"Lo suka sama siapa, Nad?" tanya Jastin.

__ADS_1


Aku mengerjapkan mataku berulang kali. Ini maksudnya apa, ya? Kenapa jadi aku yang diintrogasi? Tadi bilangnya ingin ngomong serius. Bukan malah introgasi. Wah, benar-benar membuatku kesal. Jika tahu niatnya cuma bertanya, untuk apa tadi aku segugup ini.


"Pertanyaan lo nggak berguna banget."


"Ini berguna, Nanad. Lo lagi nggak suka sama gue, kan?"


"Ya, nggak lah."


"Alhamdulillah," imbuhnya.


Aku sama sekali tidak mengerti. Jastin tiba-tiba bertanya hal yang aneh kepadaku. Semuanya memang aneh sampai ke hidupku pun juga ikut aneh rasanya. Namun, sudah dua tahun aku hidup begini. Sudah lama sekali aku bertahan di kehidupan yang aneh. Mungkin lama-lama aku juga akan ikut aneh.


"Nad," panggil Jastin lagi. Aku berdehem dengan keras. Maunya apa, sih? Sejak tadi hanya memanggilku saja. Iya jika penting aku tidak masalah dipanggil beberapa kali pun. Sedangkan ini masalahnya sama sekali tidak penting. Buang-buang waktu saja.


Jastin menarik lengan tanganku. Matanya tak beralih dariku setelah beberapa detik berlalu. "Jadi pacar gue, ya."


Sadar. Jastin selalu bermain-main. Mungkin pernyataan barusan memang termasuk main-main. Salah satu dari rencananya untuk membuatku menjadi bahan mainannya. Jastin itu tipikal yang jauh sekali dalam kata serius. Jika sekarang dia serius, mungkin hanya sekadar akting belaka bukan watak yang sebenarnya.


"Kok diam aja, sih?" Pada akhirnya Jastin angkat suara lagi. Aku refleks tersentak karena pertanyaannya ini. Sejak tadi aku hanya terdiam sembari memikirkan tentang sikapnya yang semakin aneh ini. Ini hanya permainan, itu yang harus aku ingat. Semua yang dilakukan hanya sebatas bahan bercandaan. Aku tidak boleh menggunakan perasaan untuk membalasnya.


"Ya harus dijawab apa?" Aku memiringkan kepala, memberi sedikit jarak dengannya. "Bercandaan lo nggak lucu. Gue mau ke kantin dulu," timpalku.


Aku langsung membalikkan badan. Sudah dibilang jangan pakai perasaan. Jadi lebih baik aku memilih untuk menjaga jarak dengannya. Aku tidak mau ketularan virus aneh itu yang kelihatannya turun temurun dari Kak Vante ke Jastin. Keduanya sama-sama menyebalkan pula. Tak heran jika dua cowok itu segeng. Eh, omong-omong soal geng, Stigma apa kabar ya? Sudah lama aku tak lagi mendengarnya.


Apa mungkin Stigma memiliki anggota baru?


Secara kan yang tersisa hanya tinggal Jastin seorang. Semuanya sudah lulus. Hanya tinggal Jastin yang masih ada di STANDAR. Jika Stigma memiliki anggota baru, mungkin Friska sudah memberi tahuku. Tapi sampai sekarang pun seperti tak ada kabar sama sekali. Apa iya Stigma sudah bubar?

__ADS_1


Jastin melangkah mendahuluiku, lalu berhenti mendadak di depanku sambil merentangkan kedua tangannya. Dengan otomatis aku berhenti karena tidak ingin menabrak Jastin yang tiba-tiba menghalangiku itu. Dia mengenyir, sudah berubah ekspresi lagi. Aku mendengus jengah seraya mendekap kedua tanganku. Aku memberinya jeda itu menjelaskan maksudnya itu.


"Jangan pergi dulu. Dijawab yang tadi, Nad. Mau apa nggak?"


"Bercanda lo nggak lucu, Jastin. Gue nggak suka lo mainin perasaan. Udah, deh. Jangan ganggu gue," protesku langsung ke poinnya.


"Gue nggak lagi bercanda, nggak." Jastin menggeleng. "Gue serius. Lo mau jadi pacar gue atau nggak?" tanyanya ulang.


"Jastin, kan udah dibilang tadi nggak suka. Lo juga udah ngomong alhamdulillah. Terus ngapain sekarang ngajak pacaran? Tuh, kan. Pasti lo lagi ngerjain gue." Aku memandangnya jengkel. Jastin masih bersikekeh tidak mau membiarkan aku pergi. Lagipula apa yang harus dijelaskan, sih? Semuanya sudah jelas. Jastin hanya mempermainkanku saja.


"Dibilang serius juga. Gue emang nggak suka sama lo, Nad. Tapi gue pengin jadi pacar lo," kata Jastin.


Memang pacaran itu cuma bisa digunakan untuk ajang main-main apa?


Iya saat pengin dia bakal pacarin. Tapi jika sudah tidak pengin, pasti akan dilepas. Dibuang jauh-jauh. Semuanya berujung kekecewaan. Tentu aku sangat menjauhi semua itu karena memang aku sudah lelah. Lebih tepatnya aku bosan diberi harapan yang tidak pernah datang kepastiannya. Ditambah dengan kehadiran yang tiba-tiba hilang tanpa alasan.


Semua itu sudah cukup membuatku merasa bosan.


"Mau, ya?" Jastin masih berusaha menanyakan hal itu lagi.


"Lo pikir gue nggak punya hati, ya?"


"Punyalah. Makanya gue ajak pacaran biar hatinya berguna," balasnya asal.


"Aneh."


Aku mengernyit heran dengan Jastin. Tanpa menunggu dia lagi, aku pun menepis lengannya yang menghalangi jalanku. Lalu melangkah menuju ke kantin sebelum akhirnya dia kembali mengikutiku lagi. Bahkan untuk melarangnya mengikutiku sepertinya hanya dianggap sebagai angin lalu olehnya.

__ADS_1


__ADS_2